
Hari ini dewi fortuna berpihak pada Ken. Bagaimana tidak? kekacauan yang ia perbuat seketika terselesaikan tanpa ia harus bersusah payah mengerjakannya atau juga harus menyewa orang untuk membersihkannya. Semua terselesaikan dengan baik oleh Anyelir.
Belum lagi sarapan gratis yang sederhana namun membuat perutnya kenyang dan hatinya senang. Ditambah pemandangan indah nan elok yang bisa ia nikmati saat sarapan sampai mengantarkan Elena ke sekolah.
Selesai sarapan Elena merengek untuk diantarkan oleh Ken dan juga Anyelir. Alhasil Anyelir pun duduk di kursi penumpang dengan kemudi Ken yang ambil alih. Mereka bersama mengantar Elena ke sekolah. Setelahnya Ken mengantar Anyelir ke toko roti, baru setelah itu ia berangkat menuju kantor.
Tiba di kantor, Ken langsung disuguhkan dengan banyaknya pekerjaan yang menanti. Wajar saja karena selama kurang lebih enam bulan Ken tidak datang ke kantor. Meskipun ia masih tetap mengontrol dan melimpahkan sebagian pada Dafa.
Berjam-jam Ken tenggelam dalam pekerjaaan, baik itu berupa penandatanganan report, meeting, maupun peninjauan beberapa proyek yang sedang berlangsung dan juga yang baru akan dimulai.
Waktu tak terasa cepat bergulir hingga saatnya jam pulang tiba Ken masih berkutat dengan laptopnya. Tepat saat Ken akan menutup laptopnya pintu ruangan terbuka, muncullah seorang wanita yang telah melahirkannya.
"Kamu belum pulang?" tanya Carol melenggang masuk ke ruangan Ken lalu duduk di sofa.
"Ini baru mau pulang," jawab Ken mendekat ke arah Carol lalu memberikan ciuman di pipi sang ibu.
"Kalau begitu, cepatlah, Mami ikut," ucap Carol yang menimbulkan kerutan di dahi Ken.
"Kenapa? enggak boleh Mami ke rumah kamu?" tanya Carol setelah melihat ekspresi anaknya yang terlihat heran.
"Boleh Mi. Mami menginap? Bagaimana dengan Papi?"
"Iya Mami mau menginap. Papi kamu kan siang tadi berangkat ke Tokyo. Memangnya kamu tidak tahu?"
Ken baru ingat tadi papinya mengabarkan akan ke Tokyo untuk mendampingi beberapa karyawan yang ikut pelatihan.
"Aku lupa. Baiklah, kita pulang sekarang Nyonya?"
Carol lalu berdiri. Mereka segera keluar ruangan lalu menuju dapan lobi, karena mobil Ken sudah disiapkan oleh asistennya.
"Thanks Dafa," ucap Ken setelah menerima kunci mobil.
Dafa mengangguk. "Hati-hati Bos. Mari Nyonya," ucapnya sambil membukakan pintu mobil dan mempersilahkan Carol masuk.
Ken duduk di kursi kemudi, setelah memastikan Carol telah memakai seat belt-nya ia segera melajukan mobilnya berbaur dengan kendaraan lain yang memadati ibu kota sore ini.
***
"Ma, bolehkan aku menginap di rumah papa lagi. besok kan sekolah libur," tanya gadis cilik yang sedang memakan es krim strawberrynya.
"Elena sudah bosan ya sama Mama, sudah enggak sayang Mama lagi?" tanya Anyelir sengaja memasang wajah sedihnya.
Elena segera menghampiri Anyelir untuk memberikan pelukan hangatnya. "Elena sayang Mama, dan Elena enggak akan bosan dengan Mama. Elena enggak jadi menginap di rumah papanya, Elena mau temani Mama saja," ucapnya lalu mengurai pelukannya.
Anyelir tersenyum, ia jadi merasa bersalah karena sudah membuat putrinya bersedih. "Mama bercanda kok Sayang, Elena boleh menginap di rumah papa kapan saja Elena mau," ucapnya tulus.
"Kalau Elena menginap di rumah papa bos, Aunty boleh dong ya tidur bareng Mama malam ini," sela Vio.
"Boleh tapi, siapin jatah es krim untuk Elena ya," jawab Elena.
Vio mendengkus. "Kecil-kecil sudah pintar negosiasi."
Saat mereka tertawa mereka dikagetkan dengan kedatangan Ken dan Carol. Vio yang sadar diri lalu menyingkir dan menuju ke meja kasir.
"Papa," lirih Elena. Sebenarnya Elena sangat senang saat melihat Ken datang tapi saat ia melihat sosok yang ada di belakang Ken, tiba-tiba ia menjadi membeku. Tak jauh beda dengan apa yang dialami Elena, Anyelir pun merasakan hal sama seperti Elena.
"Silahkan duduk," Ajak Anyelir kepada Ken dan Carol dengan canggung.
"Hei anak Papa kenapa diam aja? Enggak mau peluk Papa?" tanya Ken heran yang melihat Elena hanya diam saja melihat dirinya datang. Biasanya Elena akan berteriak senang dan langsung memeluknya atau meminta Ken untuk menggendongnya.
Elena hanya tersenyum kecil lalu ia menghampiri Ken lalu memeluk pria tampan itu.
"Kasih salam ke Oma Sayang," pinta Ken apada Elena.
"Elena." Anyelir bersuara supaya Elena mengikuti apa yang Ken ucapkan.
"Sore Oma," sapa Elena tapi masih diam berdiri di samping Ken.
"Sore," balas Carol sambil mengulurkan tangannya untuk meraih Elena.
Elena melihat ke arah Anyelir dan Ken bergantian. Setelah mendapat anggukan dari Anyelir,. barulah Elena menyambut tangan Carol. Carol kemudian menarik Elena ke dalam pelukannya. Carol memeluk Elena dengan Erat sambil menciumi kepala Elena.
Hatinya menghangat, ia masih tidak percaya bahwa ia telah mempunyai cucu yang sangat cantik seperti Elena. Bagaimanapun Elena adalah cucunya, jadi ia berusaha untuk menerima Elena, lagi pula itu bukan salah Elena kan hadir di luar nikah.
***
Anyelir masih teringat ucapan Carol sore tadi saat menemuinya di toko roti.
"Maaf telah menuduhmu yang tidak-tidak, aku tidak berpikir panjang saat mengetahui wanita yang sering anakku ceritakan ada di xchadapanku."
"Apa kau tidak keberatan Elena memanggilku Oma? Ah, kau juga boleh memanggilku Mami."
Secepat inikah ia diterima di keluarga Ken? Ah...kau sangat percaya diri sekali Nye tentu saja ibunya Ken berkata seperti itu karena di hadapan putranya saja.
Malam ini Anyelir merasa sendiri lagi, memang kenyataannya sendiri karena setelah pertemuan dengan omanya sore tadi, Elena pun terus menempeli Carol. Bukankah itu bagus sehingga Elena tidak merasa hanya memiliki dirinya.
Sudahlah lebih baik aku mulai mencatat apa saja yang harus dibeli untuk mendukung rumah belajar.
Anyelir mulai mencatat apa saja yang yang diperlukan untuk mendukung aktivitas rumah belajarnya. Ia juga mulai memeriksa beberapa lamaran yang sudah ada. Ia membuka lowongan untuk beberapa staff pengajar yang diperuntukkan di rumah belajarnya nanti.
Saat sedang terhanyut dalam pekerjaannya, tiba-tiba ponselnya berdering, segera ia ambil benda kotak dan pipih itu lalu melihat siapa nama yang tertera dalam layarnya.
"Ken?" Ia kemudian melirik pada waktu yang tertera dalam ponselnya menunjukan pukul 22.00. "Ada apa Ken menelpon malam-malam begini," gumam Anyelir dalam hati.
Segera ia menggeser layar untuk menjawab panggilan telpon tersebut.
"Halo."
Hening, Anyelir menunggu jawaban dari seberang sana. Setelah beberapa detik Anyelir kembali bersuara.
"Ken?"
Tak juga ada jawaban. Anyelir mulai resah dan berpikiran yang tidak-tidak. Saat akan memutuskan sambungan telponnya, tiba-tiba terdengar suara diseberang sana meskipun sangat lirih.
"Mama."
"Elena? Ada apa Sayang?" tanya Anyelir khawatir.
Bukannya menjawab, Elena malah terdengar seperti menangis, tentu saja membuat hati Anyelir bertalu begitu cepat. Mengapa anaknya menangis tengah malam seperti ini, dan kemana Ken? mengapa Elena malah menelpon dirinya?
Tanpa bisa menunggu, Anyelir akhirnya keluar dari kamar setelah menyambar kunci mobilnya di atas nakas. Ia bergegas menuju mobilnya yang terparkir di garasi. Tujuannya tak lain tentu saja rumah Ken.
❤️❤️❤️
Halo Elena hadir kembali...maaf ya kemarin tidak update 😔
Aku usahakan setiap hari akan update 1 bab tapi untuk waktunya aku enggak bisa nentuin
Semoga kalian masih setia membaca novel ini
Terima kasih atas dukungannya selama ini
Jangan lupa like, komen, vote, juga hadiahnya ya...
Thank you 😘😘😘