ELENA

ELENA
Menginap



Selama Elena dirawat Ken dan Anyelir menjaganya bersama, hal ini membuat Elena semakin bahagia karena bisa tidur bertiga walaupun tidak dalam satu ranjang. Tentu saja, karena kalau menginap Anyelir akan tidur berdua dengan Elena di ranjang rumah sakit yang cukup luas untuk ditempati oleh dua orang. Sedangkan Ken, ia akan tidur di sofa yang ada dalam kamar rawat Elena. Karena Elena dirawat di kamar VIP sudah barang tentu kamarnya sangat luas dengan fasilitas lengkap di dalamnya seperti satu set sofa besar, televisi layar datar lima puluh lima inchi ditambah satu buah mini kulkas.


Sudah tiga hari Elena dirawat, kondisinya jauh sudah membaik. Dan untuk pelaku juga sudah tertangkap, Ken memilih menyerahkan kepada pihak berwajib. Pelaku yang ternyata rival Ken dalam bisnis yang juga ayah dari teman Elena yang bernama Donela.


Lucas mengetahui Elena anak kandung Ken, saat dia mengantar anaknya ke sekolah, tanpa sengaja melihat Ken mengantarkan Elena, dari situ ia mencari informasi dan hasilnya menunjukan bahwa anak yang diantar setiap pagi oleh Ken merupakan anaknya. Masa bodoh dengan pertanyaan istrinya kenapa Ken sudah punya anak sedangkan setahunya Ken belum menikah, yang ada dalam pikirannya adalah bagaimana caranya membalas sakit hati yang ia peroleh dari seorang Kenneth Piera Kaswel.


Diduga Lucas sangat kecewa karena Ken memutuskan kerjasama dengan perusahaan kecilnya, dan yang lebih membuatnya sakit hati adalah perkataan Ken yang ditujukan padanya saat itu.


"Saya tidak akan membuang percuma uang yang saya punya hanya untuk bekerjasama dengan perusahaan yang bahkan tidak mau maju. Hanya ingin ditopang oleh perusahaan-perusahaan besar. Saya dapat pastikan jika pemikiran Anda tidak berubah, maka bersiaplah menerima kehancuran yang Anda ciptakan sendiri."


***


Elena sudah diperbolehkan pulang hari ini. Ken bisa dikatakan seperti seorang suami dan ayah yang siaga. Ia dengan cekatan membawakan tas Anyelir yang berisi pakaian sambil menggendong Elena menuju mobilnya yang berada di parkiran rumah sakit. Setelah mendudukkan Elena di kursi penumpang di depan ia lalu membukakan pintu belakang mobilnya kemudian mempersilahkan Anyelir untuk masuk yang disambut decakan kecil dari bibir Anyelir.


Setelah dirinya siap di kursi kemudi, ia segera membawa kendaraan roda empatnya membelah jalanan bergabung dengan kendaraan lain yang sama-sama berjuang melawan kemacetan yang tidak bisa dihindari di kota megapolitan ini.


Selama perjalanan mereka ditemani dengan celotehan Elena. Ia yang bertanya ini itu pada Ken. Ia juga sudah tidak sabar ingin segera selesai pembangunan ER Gallery, ingin mengajak teman-teman sekolahnya berkunjung ke sana.


"Papa malam ini nginep aja di rumah," ucap gadis cilik bermata bulat itu tiba-tiba saat mereka sudah sampai di depan rumah Anyelir.


Anyelir segera keluar mobil lalu membuka pintu depan untuk menggendong Elena. Namun, segera dicegah oleh Ken.


"Biar aku yang gendong," pintanya. Ken lalu turun dan langsung menggendong Elena. Berjalan mengikuti Anyelir yang membimbing ke kamar.


"Elena tidur bareng Mama aja ya," ujar Anyelir.


"Tapi bareng Papa juga ya Ma," pinta Elena. Anyelir langsung melihat ke arah Ken yang sedang menggaruk tengkuknya. Kebiasaan Ken kalau sedang gugup.


"Kalau mau Papa temani, Elena tidur bareng Papa di kamar Elena," jawab Anyelir yang langsung disambut wajah cemberut Elena.


"Memangnya enggak boleh tidur bareng Ma? di rumah sakit boleh. Teman-teman Elena juga mama sama papanya tidur satu kamar," protes Elena.


Ken dan Anyelir jadi serba salah dan bingung harus bagaimana menjelaskannya pada buah hati mereka.


"Gini aja, Elena sekarang bobo sama Mama, biar Papa tidur di rumah Papa aja, besok baru Elena menginap di rumah Papa gimana?" usul Ken pada buah hatinya.


Elena menggeleng, matanya sudah berkaca-kaca. Anyelir yang melihatnya pun akhirnya mengalah.


"Ya sudah Papa boleh tidur bareng di kamar tapi Papa tidurnya di sofa ya, seperti di rumah sakit."


Elena langsung melirik ke arah ranjang. Pikirnya ranjang Mamanya sangat luas, bisa ditiduri oleh 4 orang, kenapa hanya bertiga papanya malah di suruh tidur di sofa. Kalau di rumah sakit Elena bisa mengerti karena ranjangnya hanya cukup untuk dua orang, lagi pula tangan Elena waktu itu masih terpasang infus, jadi kalau memaksa tidur bertiga di ranjang rumah sakit dikhawatirkan tangan Elena yang terpasang infus akan tertindih atau tertekan badan papanya.


"Papa tidurnya enggak bisa diem Sayang, takutnya kamu nanti tertindih Papa," ucap Ken seolah tau apa yang Elena fikirkan. Elena kemudian mengangguk dan tersenyum.


Anyelir menyerahkan kaos dan training panjang pada Ken, yang sebelumnya diambilnya dari lemari. "Pakai ini. Silahkan bersih-bersih dulu pakai kamar mandi di kamar ini saja, biar aku sama Elena pakai kamar mandi yang di kamar Elena," ucap Anyelir lalu meminta Elena untuk turun dari gendongan Ken dan membawanya ke kamar Elena untuk bersih-bersih dan ganti baju.


Ken melihat penampilannya di cermin. Ia bertanya - tanya dalam hatinya.


Kenapa Anyelir punya kaos sebesar ini


Apa dia sengaja menyiapkan baju dan celana untukku?


Ah jangan pede kamu Ken


Bisa saja Anyelir memang punya banyak stok baju dan celana model begini


Untuk dipakai saat santai gitu


Suara ketukan di pintu membuyarkan pikirannya yang sudah melayang entah kemana. Ken segera membuka pintu kamar mandi dan muncul dihadapannya gadis cantik yang terlihat lebih segar karena sudah mandi.


"Mama kemana Sayang?" tanya Ken pada putrinya yang langsung meminta gendong.


"Ada di dapur, lagi masak makan malam untuk kita."


Ken segera melangkah ke dapur untuk menemui Anyelir. "Kenapa tidak memesan makanan saja, Kamu pasti lelah," ujar Ken yang melihat Anyelir sedang bergelut dengan peralatan masaknya.


"Cuma masak nasi goreng tidak akan membuatku kelelahan Ken," jawab Anyelir sambil menaruh nasi goreng ke masing-masing piring. Tak lupa ia taburi bawang goreng di atasnya dan juga irisan tomat sebagai pelengkap. Telur ceplok yang telah siap pun diletakan di atas nasi goreng dalam piring.


"Nah selesai. Ayo makan!" ajaknya sambil membawa ketiga piring yang telah diletakan di atas nampan ke ruang makan.


Ken menurunkan Elena dan mendudukkannya ke kursi. "Elena mau disuapin Papa," pinta Elena.


"Tidak Sayang, makan sendiri ya. Papa juga harus makan," ucap Anyelir. Sontak saja Elena langsung cemberut.


"Enggak apa-apa. Sini Papa suapi Elena dulu, baru nanti Papa makan." Ken mencoba menengahi.


"Gimana kalau Papa suapi Elena, Trus Mama suapi Papa," ucap Elena seenaknya. Anyelir yang sedang mulai mengunyah akhirnya tersedak hingga batuk-batuk. Ken segera memberikan gelas yang telah diisi air sebelumnya.


Anyelir langsung meminum air itu. Wajah Anyelir sangat merah. Entah merah karena tersedak atau karena ucapan Elena tadi.


Hai.... Elena update malem banget nih


Gak papa ya semoga masih bisa dinikmati


Oh ya aku mau minta tolong nih, tengoklah novel baruku yang berjudul "Pengganti yang Dinanti"


Baru up satu bab sih, intip-intip aja dulu sekalian kasih like, komen, vote dan juga hadiah emmm jangan lupa tekan favorit juga biar tau kalau update


Jujur aku akan merasa senang jika kalian yang baca novel aku tuh kasih komen tentang isi novelku itu biar aku makin semangat dan juga bisa buat motivasi aku juga lho


Tapi yang cuma membaca dan tidak meninggalkan jejak tak apa deh, aku tetap berterima kasih karena masih mau baca novelku


Maafkan atas segala kekurangan


Akhir kata sekian dan terima gaji 🙏🙏😘😘😘😍