
Pesta pernikahan Ken dan Anyelir berlangsung sangat meriah. Bagaimana tidak? pesta yang dihadiri oleh ribuan tamu undangan tentu saja membuat ballroom hotel Semeru makin ramai. Tamu yang seolah tidak ada hentinya itu tentu saja membuat kedua pengantin harus berdiri cukup lama guna menerima ucapan selamat dari mereka yang hadir.
Tak jarang beberapa dari mereka turut menyumbangkan lagu untuk kedua mempelai. Menjelang pukul empat sore kedua pengantin baru bisa duduk dengan santai di pelaminan. Ken tak henti-hentinya menatap Anyelir penuh dengan kekaguman.
"Bisakah tatapannya diarahkan ke yang lain?" Anyelir merasa malu apabila ditatap sedemikian rupa oleh pria yang statusnya sudah menjadi suaminya itu.
Ken terkekeh. "Kenapa? aku maunya menatap bidadari hatiku ini," jawab Ken yang makin mendekatkan jarak mereka.
"Ken! Please, masih banyak orang."
"Memangnya kenapa? aku hanya ingin lebih dekat dengan jantung hatiku," ucapnya. Ken menggeserkan tubuhnya hingga tidak ada jarak diantara mereka. Tentu saja sambil terus memandang ke arah istrinya.
"Kamu cantik," bisiknya di telinga Anyelir. "jadi enggak sabar."
"Ken!"
"Pengumuman, maaf Pak , pujaan hatinya mau saya bawa dulu untuk berganti pakaian," ucap Vio yang datang bersama para bridesmaid.
"Aku juga udah boleh ganti 'kan?" tanya Ken karena sudah merasa tidak nyaman dengan pakaian pengantin yang dikenakannya.
"Boleh dong, tapi gantian ya. Kalau Anyelir kan perlu dibantu untuk berganti pakaian, sedangkan Bapak sambil merem pun jadi," jawab Meli yang ikut menjemput sang pengantin wanita untuk berganti pakaian.
Setelah berganti pakaian dengan pakaian yang lebih santai namun tidak dapat menutupi aura yang terpancar dari sepasang pengantin baru. Ken dan Anyelir masih menemui beberapa tamu undangan yang datang.
"Mau makan sesuatu?" tanya Ken pada sang istri saat mereka sedang duduk di kursi dekat dengan meja makanan.
Anyelir mengangguk. "Aku ingin buah," jawabnya sambil melambai ke arah berlawanan dengan dirinya yang ternyata putri cantiknya tampak sedang mencari keberadaan mereka.
Ken menoleh ke arah pandang Anyelir. "Aku akan ambilkan untuk kalian." Ken pun berlalu ke arah meja yang berisi buah-buahan segar yang dipersiapkan untuk para tamu. Kemudian mengambilnya dan menaruhnya ke dalam dua piring kecil.
Anyelir tersenyum ketika putrinya berlari kecil ke arahnya. "Mama kan udah pernah bilang, jangan berlari nanti tersandung," peringatnya pada sang putri.
"Elena cari Mama dan Papa dari tadi," ucap Elena yang langsung duduk di pangkuan Ken lalu menerima piring kecil berisi buah yang Ken sodorkan untuknya. Elena memakannya dengan lahap, tak lupa ia juga menyuapi sang papa.
"Kenapa Elena cari Mama dan Papa?" tanya Ken menggoda putrinya.
"Takut Elena ditinggal pergi," jawabnya santai sambil terus mengunyah.
"Memangnya Mama sama Papa mau pergi kemana?" tanya Anyelir.
"Gak tau," ucap ya sambil mengangkat kedua bahunya. "Kata Aunty Vio kalau orang sudah menikah, mereka akan pergi ke bulan. Memangnya nanti rumah kita pindah ke bulan?" tanya Elena dengan polosnya.
Anyelir dan Ken berdecak bersamaan. Namun juga terkekeh mendengar penuturan putri kecilnya. Mungkin maksud Elena pergi berbulan madu. Ah, memang dasar Vio itu tidak bisa apa mengontrol ucapannya apalagi pada anak sekecil Elena, ia mana mengerti apa yang dimaksud dengan bulan madu.
Bisa-bisanya ia dengan seenaknya memberitahu pada putrinya berita yang bahkan Anyelir dan Ken sendiri belum membahas tentang rencana bulan madu. Ada terlintas keinginan Anyelir untuk pergi ke suatu tempat bersama dengan Ken saat sudah menjadi suami istri yang sah, namun kalau mengetahui tempat yang ingin dituju Anyelir, entah itu apakah masih bisa dikatakan bulan madu.
"Jangan dengerin omongan Aunty Vio. Elena mau makan yang lain selain buah? Cake mungkin?" tanya Anyelir mengalihkan Elena.
Jam tujuh malam Anyelir sudah berada di salah satu kamar hotel yang disiapkan khusus untuk mereka. Anyelir merasa lega karena bayangannya di mana pada malam setelah pesta pernikahannya ia akan menempati kamar yang masih membuatnya merinding apabila mengingat kejadian enam tahun yang lalu tidak menjadi kenyataan.
Ternyata Ken lumayan peka terhadap perasaan wanita yang sudah menjadi istrinya ini, sehingga Ken meminta untuk kamar pengantinnya bukan di kamar pribadinya di hotel Semeru melainkan kamar lain yang pastinya kenyamanan dan fasilitasnya tentu saja sepadan dengan kamar pribadinya.
Anyelir sedang mengeringkan rambutnya yang basah setelah mandi. Ia memilih memakai piyama tidur seperti biasa. Padahal Vio dan juga ibu mertuanya sudah menyiapkan lingerie untuk ia pakai di malam pertamanya ini. Ah, apakah malam ini bisa dikatakan malam pertama? sedangkan dirinya sudah mempunyai Elena yang mana Ken adalah ayah kandung anaknya. Entahlah, yang pasti Anyelir masih merasa canggung dan malu apabila memakai pakaian mini dan tipis itu sekarang.
Saat hendak naik ke atas ranjang king size yang bertabur mawar merah yang dibentuk hati, terdengar bunyi klik pertanda ada seseorang yang membuka pintu kamarnya. Anyelir mengurungkan niatnya untuk menaiki ranjang dan memilih menunggu seseorang itu muncul. Tak lama, wajah yang telah ia nantikan muncul di balik pintu. Ia tersenyum lega karena suaminya lah yang kini ada di hadapannya. Berjalan menghampiri suaminya yang terlihat sangat lelah. Ken meminta Anyelir untuk masuk ke kamar terlebih dulu karena ia masih menemui beberapa teman serta koleganya. Setelah mereka semua pamit barulah Ken menyusul istrinya.
"Mau berendam air hangat?" tanya Anyelir yang dijawab dengan anggukan oleh Ken.
Sambil menunggu Ken selesai berendam, Anyelir mengambil benda pipih di atas nakas untuk melihat foto-foto pernikahannya yang dikirimkan oleh sahabatnya. Saat sedang asik melihat-lihat galeri tanpa sadar ada tangan yang membelit pinggangnya. Ia menoleh ke samping yang mana Ken sedang menatapnya dengan senyum menawannya.
Anyelir menyentuh rahang Ken. "Sudah selesai?" pertanyaan yang tak perlu dijawab sebenarnya, karena siapapun sudah tau jawabnya.
"Huum."
"Aku pikir, kita akan bermalam di kamar privat milikmu."
"Aku ingin tempat yang berbeda untuk malam pertama kita."
Anyelir menautkan kedua alisnya. "Malam pertama? kalau ini malam pertama, enam tahun yang lalu malam apa dong?"
"Ya. Ini malam pertama kita setelah sah menjadi suami istri sehidup semati. Sedangkan yang lalu merupakan makam bersejarah kita yang membuat takdir kita dipertemukan dan memperoleh seorang putri yang cantik dan pintar seperti mamanya."
"Dan posesif seperti papanya," ucap Anyelir menambahkan.
Mereka saling menatap. Sangat jelas besarnya cinta diantara keduanya. Makin lama wajah mereka semakin mendekat, saat jarak tinggal dua senti, tiba-tiba terdengar ketukan dari pintu. Seketika mereka menjauhkan wajah masing-masing. Ken berusaha tak menghiraukan, tapi makin lama ketukan itu berubah menjadi gedoran. Ken akhirnya menyerah, ia melangkah untuk membukakan pintu dan ingin sekali memarahi orang yang telah mengganggu kesenangannya.
Saat pintu terbuka, tiba-tiba seorang gadis kecil langsung berlari masuk dan menaiki ranjang. Ya siapa lagi kalau bukan putri tercintanya. Mau tak mau Ken menutup kembali pintu itu dan menguncinya.
"Elena kenapa tidak tidur bareng Oma?" tanya Ken pada putrinya yang sedang memeluk erat sang ibu.
"Elena ingin tidur bareng Mama sama Papa emang enggak boleh yah?" tanya Elena mendongakkan wajahnya pada Anyelir.
"Boleh Sayang. Kita tidur sekarang?" tanya Anyelir yang langsung disetujui oleh Elena.
Wajah Ken terlihat lesu, namun bagaimanapun ia tetap membaringkan tubuhnya di ranjang. Mereka tidur bertiga dengan Elena berada ditengah-tengah mereka.
"Sepertinya malam ini bukan malam pertama kita, tapi juga malam bersejarah untuk kita," ucap Ken, yang ia tau istrinya belum tertidur.
"Yah,. aku setuju," jawab Anyelir sambil terkekeh melihat wajah nelangsa Ken.
Ken bangun dari tidurnya lalu duduk bersandar. "Apa perlu kita menciptakan sejarah baru, dengan bermain di sofa?"
Anyelir melotot mendengar ucapan Ken. "Segera tidur Ken! tidak usah macam-macam, kalau kamu enggak ingin malam sejarah ini disaksikan oleh putri kita."
Bisa-bisanya Ken mengajaknya bermain di sofa dimana terdapat Elena yang tidur dikamar yang sama.
TBC
Jagan lupa kasih dukungan untuk aku
Dengan cara like, komen, vote dan hadiah yang banyak ya
bintang lima jangan lupa
Jadikan favorit juga novel ini ya
Mohon maaf atas segala kekurangan 🙏 🙏
Sampai jumpa di part selanjutnya 👉
Terima kasih 😘 😘 😍 😍