ELENA

ELENA
Part 1



Beberapa memang layak untuk diperjuangkan.


Beberapa memang seharusnya untuk diikhlaskan.


Bukan karena tak lagi cinta, namun karena cinta harus dibiarkan pergi.


 


Elena Daniela Resfandi, wanita cantik dan berkulit putih dengan penampilan sederhana berada di sekolahnya dulu. Tepat mengadakan reuni dengan teman seangkatan.


 


Sejak kita berhenti di sini, beberapa menarik perhatianku tetapi tidak ada yang menetap. Ya, meskipun kamu tidak menetap juga, tetapi perpisahan apapun tentang kita, kamu tetap beradu di pikiranku. Meskipun itu bukan lagi cinta, tapi kamu meninggalkan apa yang tidak bisa aku hapus begitu saja.


"El, buruan ngumpul sini! Kamu diam mulu, sih. Kebiasaan mikirin orang, nih." panggil Bela seru, seketika membuyarkan lamunan Elena.


"Eh, iya. Semua sudah pada ngumpul, ya?" tanya Elena menghampiri Bela.


"Semua sudah pada ngumpul, sih. Tapi ada satu orang yang belum datang. Bentar lagi pasti datang orangnya." jawab Bela berjalan menuju tempat perkumpulan.


Terlihat semuanya menyapa ramah dengan seseorang yang baru saja tiba. Elena memperhatikan siapa orang itu. Tepat ketika sudah berada di dekat Elena berjarak sekitar satu meter. Elena membelalakkan matanya, tampak terkejut saat melihat siapa yang baru datang. Khenzo Sinji Hosiko. Elena mengira dia tidak hadir. Namun, ternyata "huft," tukas Elena dalam hati. Saat Khenzo tepat berada di depan Elena untuk bersalaman, terlihat diam memaku. Namum, setelahnya terlihat biasa-biasa saja seakan tidak ada yang mengganjal di hatinya. Kemudian melanjutkan bersalaman dengan sebelah Elena.


Sepuluh menit kemudian acara dimulai. Elena tampak diam saja, sepertinya tidak bisa berhenti memikirkan sesuatu.


"Elenaaa, aku kangen banget sama kamu. Kamu dari tadi kayanya diam, deh. Kamu nggak kangen apa sama aku?" panggil teman dekat Elena tiba-tiba.


"Emilyyy," jawab Elena memanggil dan memeluknya.


"Kamu dari dulu tetap sama, ya. Kalo sama aku selalu bawel." kata Elena memandang wajah Emily.


"Aku itu teman dekat kamu. Maka dari itu aku bawel. Gimana cara nunjukin perhatian kalo aku cuek sama kamu?!" jawab Emily menggerutu.


"Kamu, tuh, ya. Selalu aja. Aku bilangnya satu kali, jawaban kamu seribu kali." kata Elena sambil mencubit teman dekatnya itu.


"Eelll, sakit tauuukkk!" ucap Emily kesal.


"Iya-iya. Aku nyubitnya juga nggak lama, kok."


"Yaudah. Ayo kita bareng sama mereka!" ajak Elena menuju taman.


"El, minum dulu, nih. Cappucino kesukaan kamu." Emily menyodorkan minuman untuk Elena yang seketika membuyarkan lamunannya.


"Eh, i-iya." jawab Elena gugup karena kaget dan tersadar dari lamunannya.


"Kamu dari tadi kenapa, sih? Pikiran kamu dari tadi nggak di sini, deh." kata Emily curiga.


"Hmmm," bingung "mungkin aku kebawa capek, jadi aku diam saja." ujar Elena menjelaskan.


"Kamu sakit, El?" tanya Emily khawatir.


"Enggak. Cuma kerasa capek aja." jawab Elena singkat.


"Coba aku lihat," menyentuh jidat Elena "El, kamu bohong. Badan kamu panas tinggi. Kita pulang duluan aja. Ayo, ke dokter dulu?" ajak Emily dengan wajah panik.


"Emily sayang... coba tenang dulu, ya. Aku ini baik-baik saja. Ntar, panasnya juga turun." kata Elena meyakinkan.


"Kamu, tuh, kebiasaan. Kalo sakit susah banget diobatinnya. Sakit juga nggak ngerasa sakit!" kata Emily kesal.


"Jangan marah-marah gitu, dong. Apa nggak kasian sama aku?" tanya Elena memelas.


"Habis kamu susah banget dibilangin. Yaudah, kita duduk aja di sana. Kamu harus istirahat!" ajak Emily tegas.


Elena mengikuti arah Emily. Mereka duduk di tempat yang tidak terlalu ramai sembari bertukar cerita. Namun, Elena banyak diamnya karena kondisi badan yang tidak mendukung.


Reuni sudah hampir selesai. Kini acara penutupan telah tiba. Sebagian ada yang lepas menahan rindu. Sebagian ada yang tak sanggup menampung rindu kembali. Selang beberapa waktu acara telah selesai. Mereka berpelukan dengan teman dekatnya masing-masing. Sebagian berjabat tangan.


Elena bergegas pulang. Namun, beberapa detik kemudian langkahnya berhenti. Sosok laki-laki memanggilnya, Khenzo.


"Simpan dan baca! Terserah kamu bacanya kapan." jelas Khenzo menyodorkan kertas terbungkus kotak kecil kemudian pergi meninggalkan Elena begitu saja.


Elena memasukkannya ke dalam tas. Lalu, menuju parkiran tempat mobilnya. Dalam perjalanan Elena memikirkan apa yang ada dalam surat itu.