ELENA

ELENA
Bali (1)



Setelah acara menginap saat kepulangan Elena dari rumah sakit, membuat hubungan Ken dan Anyelir semakin dekat. Mereka jadi sering saling menginap, bahkan Anyelir dan Elena sudah beberapa kali menginap di rumah orang tua Ken. Namun, perlu diketahui meskipun mereka sering tukaran tempat untuk menginap, mereka tidur secara terpisah di kamar masing-masing.


Ternyata kedekatan mereka diikuti juga dengan kedekatan Vio dan Dafa. Bahkan mereka sudah mengumumkan sebagai pasangan kekasih. Hal ini membuat Ken merasa kalah cepat dengan Dafa dan merutuki dirinya yang seperti pecundang tidak berani maju mendapatkan Anyelir seutuhnya.


Weekend ini Carol dan Danial berencana merayakan ulang tahun Carol yang ke 65 di Bali. Carol mengatakan pada Ken untuk membawa serta Anyelir dan Elena. Ah tak lupa Dafa dan Vio juga tidak ketinggalan Carol undang.


Maka dari itulah saat akan mengantar Elena ke sekolah, Ken memberitahu Anyelir perihal undangan maminya.


"Bagaimana? mau kan memenuhi undangan itu?" tanya Ken pada Anyelir.


Anyelir mengangguk. "Kebetulan Elena ada undangan di acara pameran yang diselenggarakan oleh seniman di Bali."


"Pas kalau gitu. Aku juga boleh kan mendampingi Elena nantinya?" Ken ingin sekali diperkenalkan sebagai ayah kandung Elena di depan umum.


"Tentu saja," jawab Anyelir.


"Mama, Papa. Aku sudah siap. Ayok sarapan," ajak Elena pada Ken dan Anyelir yang sedang duduk di ruang tamu. Anyelir dan Ken memang sengaja menunggu Elena untuk sarapan bersama, setelah sebelumnya Elena mengeluh sakit perut, sehingga harus ke kamar mandi dulu.


***


Hari itu pun tiba. Mereka sedang berada di bandara untuk bersiap berangkat ke Bali. Elena sangat antusias karena selain merayakan ulang tahun omanya, ia juga menghadiri pameran tidak hanya ditemani mamanya, tapi papa, oma, opa, dan juga om Dafa serta aunty Vio.


Mereka tiba di bandara Ngurah Rai pukul satu lewat lima belas menit. Karena sudah lewat jam makan siang, mereka segera saja mencari restoran terlebih dulu untuk mengisi perut yang sudah meronta-ronta.


Setibanya di restoran, mereka langsung menuju meja yang telah dipesannya. Elena tampaknya mengantuk. Ia terlihat tertidur dalam pangkuan Ken. Untung saja mereka memesan meja yang lesehan, sehingga memudahkan Ken menyelonjorkan kakinya karena Elena cukup berat untuk di pangku.


Anyelir merasa kasihan pada Ken. Ia pun menawarkan diri untuk gantian memangku Elena, tapi tentu saja ditolak oleh Ken.


"Kamu makan saja dulu, nanti kala kamu sudah selesai gantian kamu yang mangku Elena dan aku makan," ucapnya saat makanan yang dipesan sudah tersusun rapih di meja.


"Iya Nye. Kamu isi dulu perut kamu. Biarkan saja Ken, dia ka laki-laki harus bisa tahan," ucap Carol.


"Emmm apa Elena dibaringkan saja di lantai, nanti bisa dialasi jaket," usul Anyelir.


"Tidak Nye. Aku tidak akan membuat Elena sakit. Sudah kamu makan yang banyak," ucap Ken.


Anyelir mulai menyantap makanannya. Ia merasa kasihan pada Ken, karena belum makan, Elena juga, tapi Elena sedang tidur jadi tidak apa, nanti saja makannya. Anyelir kemudian menggeser piring milik Ken lalu menyodorkan sendok yang sudah berisi nasi dan juga lauk pada Ken. Ken hanya bisa memandangi sendok di hadapannya dan Anyelir bergantian.


"Buka mulutnya," pinta Anyelir. Ken tersenyum lalu ia pun menerima suapan dari Anyelir. Anyelir juga sambil makan dari piringnya sendiri. Jadi bergantian, ia menyuap sendiri lalu menyuapi Ken. Hal itu mendapat perhatian dari semua orang yang ada di meja tersebut. Termasuk Carol yang menanggapinya dengan senyum-senyum. Lain halnya dengan Danial yang sengaja berdeham dengan keras. Sedangkan Vio langsung nyeletuk. "Enak bener yang suap-suapan, padahal belum ada status yang jelas. Gue sama Dafa yang punya status juga kagak pernah suap-suapan," ledek Vio.


"Vio, jangan ganggu anak Tante ya!"


"Kamu ngiri aja Vio. Kode tuh Dafa," ujar Danial.


"Sini Yang, aku suapi. Biar kayak mereka," ujar Dafa sambil membawa tangannya ke depan mulut Vio.


"Ogah! Bisanya ngopy kegiatan orang. Kagak kreatif," jawab Vio.


"Ya udah kalau enggak mau disuapi, maunya apa? Ditiduri mau?" tanya Dafa pada cewek berponi itu.


"Eh."


Anyelir menulikan pendengarannya. Ia tetap menyuapi Ken, meski wajahnya sudah merah padam. Sedangkan Ken, ia merasa tertohok dengan ucapan Vio. Benar sekali apa yang Vio katakan. Dirinya dengan Anyelir belum mempunyai status yang jelas. Mereka dekat, sering bersama itu karena ada Elena di tengah-tengah mereka. Sebenarnya Ken ingin segera melamar Anyelir, tapi ia takut Anyelir akan berpikiran bahwa ia melakukan itu karena Elena. Padahal, tanpa Anyelir sadari sebenarnya Ken sudah mencintainya sebelum mereka bertemu di New York.


Elena bangun tepat saat Anyelir dan Ken sudah menghabiskan makanannya. Sekarang Anyelir menyuapi Elena, sambil berbincang ringan mengenai, toko kuenya yang sekarang semakin maju pesat, ER Gallery yang tinggal proses pengecatan, dan juga tentang koleksi perhiasan Carol. Para lelaki segera menyingkir, terutama Ken kalau maminya sudah bicara tentang koleksi satunya itu. Katanya itu semua buat investasi, bukan karena ingin pamer seperti toko mas berjalan. Tetapi, memang benar apa yang Carol katakan. Buktinya sebanyak apapun koleksi perhiasannya, ia hanya memakai cincin kawinnya saja. Kecuali kalau ia menghadiri suatu acara, sudah pasti ia menggunakan perhiasan lainnya, tidak semua dipakai. Karena ia hanya memakai satu kalung sederhana saja semua mata tertuju padanya.


Setelah selesai, mereka segera menuju ke Mandapa, A Ritz Carlton Reserve. Resort mewah yang menghadap ke Sungai Ayung ini berjarak 2 km dari Neka Art Museum dan 4 km dari pusat Ubud. Dilengkapi jendela setinggi langit-langit, kamar mandi marmer, dan karya seni Bali, suite mewah menawarkan Wi-Fi gratis, smart TV, minibar, dan ruang keluarga, ditambah fasilitas untuk membuat kopi dan teh.





Carol memesan lima kamar. Sudah bisa diketahui kan pembagian kamarnya. Tentu saja Carol dengan Danial, Anyelir dengan Elena, sedangkan Ken, Dafa, dan Vio menempati kamar mereka masing-masing.


"Kita ketemu saat makan malam ya," ucap Carol.


Yang lain hanya mengangguk karena kelelahan dan juga ingin istirahat, karena mereka punya waktu satu minggu berada di sini. Namun, kemudian Vio tiba-tiba menyeletuk.


"Aku mau langsung berenang boleh kan Tante?"


"Ya ... terserah kamu. Pokoknya nanti malam harus kumpul," jawab Carol.


"Oke!" sahut Vio.


"Elena juga mau berenang ya Ma sama Aunty Vio."


"Boleh Sayang tapi kita ke kamar dulu ya."


Elena mengangguk. Mereka kini tengah berada di kamar masing-masing.


❤️❤️❤️


Hola.... ketemu lagi hari ini hehehehe ✌️😁


Gimana menurut kalian cerita Elena ini? Membosankan?


Biasa aja


Menghibur


Lumayanlah buat baca-baca


Ayok dong kasih komentarnya... kayaknya makin dikit aja yang baca...


Bahkan yang komen juga itu-itu aja lho orangnya


Walopun aku gak balas komen kalian, tapi aku selalu baca kok


Kalau misal cerita Elena ini membosankan apa aku tamatin aja kali yak 🤔


Soalnya aku juga ada novel baru sih judulnya


"Pengganti yang Dinanti"


Pasti kalian belum mampir ya ... ke novel baruku hiks sedih, tapi gak papa, walopun belum ada yang mampir, bab nya akan terus bertambah kok.


Nanti kalau bab nya udah banyak jangan lupa mampir ya 😍😍😍


Mohon maaf atas segala kekurangan


Terima gaji 😘😘😍😍🙏🙏🙏