ELENA

ELENA
Part 7



Sesering apapun bentuk tindakan rasa sayang seseorang, jika tak ada rasa cinta di dalamnya tak akan mampu membalas dengan sebuah rasa sayang juga. Sebab cinta adalah dua perasaan yang satu, bukan kisah kasih tulus yang maknanya hanya pada satu insan.


Langit pagi ini tampak mendung, terlihat mencegah harapan sebagian orang akan sinar mentari. Seperti juga harapan sang pemberi kasih sayang yang tulus untuk dirinya, Elena.


"Elena," sapa Aldrian dari belakang mengikuti Elena.


"Eh," balas Elena menoleh ke belakang dan tersenyum.


"Kemarin nggak masuk, kenapa?" tanya Aldrian yang sudah berada di samping Elena.


Elena tersenyum sebelum menjawabnya. Lebih manis lagi melihat wanita ini tersenyum. Lesung dagunya terlihat lebih jelas lagi. Bola matanya berbinar, jatuh tenang terjebak dalam tatapan matanya.


"Aku kedatangan tamu, dia nenek aku. Kemarin lusa beliau tiba di rumah. Jadi, sehari kemarin buat jalan-jalan dengan nenek." jawab Elena menjelaskan.


"Cieee, sudah temu kangen, nih." ujar Aldrian dengan candanya yang membuat Elena sedikit malu.


"Ih, kenapa, aih?!" balas Elena dengan memperlihatkan wajah kesalnya.


"Eh, ngambek. Beneran ngambek nggak, tuh?" ledek Aldrian mengerti jika Elena hanya pura-pura kesal.


"Tau, ah!" tukas Elena meninggalkan Aldrian begitu saja.


Aldrian hanya menggelengkan kepalanya dengan senyum di bibirnya saat melihat tingkah laku Elena.


Aldrian pun berjalan menjauh meninggalkan tempat ia berada sebelumnya.


Waktu sudah siang. Di luar, Aldrian tidak melihat Elena sama sekali. Mencari ke sana ke mari Aldrian belum menemukan keberadaan Elena. Di tempat keramaian Elena juga tidak ada. Aldrian menebak, mungkin Elena sedang menyendiri.


Di taman belakang.


"Tumben sendirian?" tanya Aldrian sembari duduk di samping Elena.


"Hmmm... iya."


"Kenapa, marah karena tadi, ya?" tanya Aldrian merasa bersalah.


"Enggak. Lagi pengen ke sini aja. Suasananya menenangkan."


"Menyendiri?"


"Enggak juga, sih. Nyari tempat yang sepi aja."


"Bagus kalo gitu."


"Hah, apanya?!" tanya Elena kaget.


"Ih, mikirnya jangan aneh-aneh. Maksud aku itu berarti keberadaan aku di sini enggak mengganggu kamu."


"Oh, gitu. Kirain apa?!"


"Apa hayooo?" ledek Aldrian.


"Ih, otak kamu mainnya ke mana-mana, tuh." tukas Elena merasa kesal.


"Lah, kamu yang bilang. Aku, kan, cuma tanya." kata Aldrian santai.


"Iya, terserah." jawab Elena memasang wajah malas.


"Jangan ambil hati gitu, dong." pinta Aldrian memelas.


"Kamu, sih. Bikin bete!" jawab Elena kesal.


"Yaudah. Aku minta maaf, ya?"


Elena tertawa melihat sikap Aldrian seperti anak kecil.


"Apa yang lucu?" tanya Aldrian dengan wajah polosnya.


"Itu, tuh. Wajah kamu." jawabannya tetap tertawa.


"Iya, manisnya." kata Aldrian melihat tawa Elena yang terlihat tambah manis dan cantik.


"Kok, manis, sih," ujar Elena menatap Aldrian "siapa bilang kamu manis?" tambahnya merasa bingung.


"Hah? Siapa juga yang bilang aku manis?" jawabnya yang semakin membingungkan.


"Dasar! Nggak nyambung banget, sih, kamu."


"Iya, nih. Lagi cari cara gimana buat nyambunginnya."


"Apanya?" tanya Elena terlihat bingung.


"Kamu."


"Nggak jelas banget, deh." kata Elena dengan menggelengkan kepalanya.


Dilihatnya jemari Elena menggenggam sebuah kotak kecil.


"Apa ini, El?" tanya Aldrian mengambil dari tangan Elena.


"Jangan diambil! Itu bukan apa-apa." jawab Elena tegas dengan mengambilnya kembali.


"Berarti banget, ya?" tanya Aldrian tidak mengerti.


"Kamu nggak perlu tau." jawab Elena singkat.


Tampak wajah Elena melihat kotak kecil itu berarti bagi dirinya. Rasa penasaran Aldrian muncul, ingin sekali melihat apa isi kotak kecil itu. Seperti ada sesuatu yang berusaha dipendam Elena.


"El, sudah siang. Ayo keluar beli makan." ajak Aldrian memecahkan keheningan.


Tak ada tanggapan dari Elena, hanya diam saja. Seperti tak ada niatan untuk beranjak dari tempat ini. Aldrian pun menarik tangan Elena untuk segera pergi keluar mencari makanan.


"Ih, aku bisa jalan sendiri!" kata Elena melepaskan tangan Aldrian.


"Kamu, sih, dari tadi diam mulu."


"Masa, sih?"


"Terserah kamu aja, deh." kata Aldrian merasa kesal.


"Gitu aja sewot." ujar Elena mengakak.


"Lanjutin aja tertawanya." jawabnya datar.


Kali ini Aldrian dan Elena mengendarai motor. Merasakan panas di bawah terik matahari. Namun, merasakan suasana yang baru. Bersendau gurau terlihat mereka sedang bahagia.


Tanpa disadari Elena. Ada seseorang yang memperhatikannya dengan jelas. Pikirannya menangkap bahwa Elena dan Aldrian terlihat sangat bahagia. Mereka begitu dekat. Seakan tidak adanya Khenzo saat ini, itu tidak menjadi beban bagi Elena. Gurat wajah laki-laki ini terlihat sedih. Namun, apa daya yang bisa dilakukan Khenzo. Jika pun hubungan Khenzo dan Elena tetap bertahan sampai sekarang, mungkin tidak untuk nantinya.


"Mau makan di tempat yang lain?" tanya Aldrian hendak sampai ke tempat makan seperti biasanya.


"Enggak, ah. Di tempat yang biasanya, ya."


"Okey."


"Eh, mampir dulu di RSU Kartika, ya. Beli obat, kepalaku rada pusing."


"Loh, nggak enak badan, ya?"


"Gapapa, kok. Cuma pusing aja."


Tiba di RSU Kartika


"Kamu tunggu di luar, kan?"


"Hmmm... aku temenin kamu masuk."


"Oh, yaudah, ayo!"


Elena terjatuh karena tertabrak seseorang.


"El, kamu gapapa?" tanya Aldrian memastikan.


"Maaf, nggak sengaja." ucapnya meminta maaf dengan membantu Elena berdiri.


"Iya, gapa--," balas Elena belum selesai.


"Elena?"


"Khenzo?"


Mereka tampak kaget melihat keberadaan masing-masing.


"Kamu? Siapa namanya? Oh, iya, Khenzo." kata Aldrian mengingat namanya.


"Ka-kamu kenal dia?" tanya Elena bingung.


"Iya, kita saling kenal." jawab Khenzo tiba-tiba.


"Sejak kapan?"


"Sejak kamu pernah dirawat di rumah sakit ini. Dia juga nolongin kamu, El."


"Hah?! Jadi, yang kamu maksud orang yang ngasih alamat rumah aku itu orangnya Khenzo?" tanya Elena tidak percaya.


"Iya, El."


"Oh, makasih, ya, Khen." ucap Elena pada Khenzo.


"Iya, sama-sama." balas Khenzo tersenyum.


Jadi, tanpa Elena menduga. Khenzo juga masih perhatian sama Elena. Merasa bodohnya Elena, kenapa sampai tidak tau, sih.


"Kamu ngapain di sini?" tanya Aldrian penasaran karena setiap Aldrian di rumah sakit selalu bertemu Khenzo.


"Hmmm... a-aku nemenin dia di sini." jawab Khenzo dengan menunjuk seseorang dari kamar mandi, wanita yang selalu menemani Khenzo.


"Oh, pacar, ya."


"I-tu,"


"Eh, yaudah ayo, beli obat." ajak Elena merasa tidak nyaman.


"Duluan, ya." kata Aldrian bergegas pergi mengikuti Elena.


Khenzo hanya diam saja. Tampang wajahnya bergulat kesedihan. Ada kalanya Elena tau mengapa ia memberi jarak pada hubungan ini, tapi bila nanti saat yang tepat. Aku tau Elena, nantinya kau akan menyimpan kenangan ini dengan baik, kau akan beri rasa sayangmu untukku lebih dari apa yang aku tau.


"Sudah, El?" tanya Aldrian setelah Elena memesan obatnya.


"Nunggu lima menit lagi. Nanti tinggal bayar." jawab Elena sembari duduk di samping Aldrian.


"El, kenapa nggak periksa saja?"


"Ini cuma sakit kepala ringan, kok. Ntar, setelah minum obat juga sembuh." jawabnya enteng.


"Jangan kebiasaan menyepelekan gitu." kata Aldrian tidak terima.


"Mbak Elena..." panggil salah satu apoteker.


"Sssttt! Tuh, obat aku sudah siap." jawab Elena tidak mendengarkan perkataan Aldrian.


Aldrian dan Elena beranjak pergi dari RSU Kartika. Mereka menuju tempat makan yang bisa ia kunjungi.


"Yeeey! Akhirnya sudah sampai. Aku laper banget, nih." kata Elena bersemangat.


"Yuk, buruan masuk! Pesan semua menu yang ada di sana, El!" ujar Aldrian terkekeh.


"Ya, nggak gitu juga kali!" umpatnya kesal.


"Serius amat, sih." kata Aldrian mengacak rambut Elena.


"Iiihhh! Berantakan, nih." ujar Elena sembari merapikan rambutnya.


Dilihatnya wanita di depan Aldrian tetap cantik dalam keadaan apapun. Memakan lahap makanan kesukaannya. Tak ada yang membuat wajah Elena berubah dalam ekspresi apapun, yang ada malah semakin terlihat cantik dan manis.


"Woi! Nggak nafsu makan apa?!" tanya Elena mengagetkan.


"Dasar! Merusak pemandangan, deh." jawabnya sadar.


"Pemandangan apa coba?" tanya Elena melihat sekelilingnya.


"Cewek cantik, tuh." jawab Aldrian santai.


Suara tawa Elena terdengar sangat kencang.


"Kenapa, El?" tanya Aldrian tidak mengerti.


"Kamu doyan sama ibu-ibu, ya?" tanya Elena nyengir.


"Bukan itu yang aku lihat. Orangnya tadi itu... mungkin sudah keluar kali, ya." jawab Aldrian mencari alasan yang masuk akal.


"Bilang aja iya. Susah amat, sih." balas Elena tidak percaya.


"Sorry, ya. Banyak cewek di luar sana yang aku tolak, El. Masa iya, sih, aku mau sama ibu-ibu?" umpatnya tidak terima.


"Ih, pede amat, sih."


"Emang faktanya gitu." kata Aldrian merasa menang.


Tak terasa mereka telah menghabiskan makanannya. Tak ada yang dilakukan lagi selain membayar makanan yang dipesannya.


Dibalik kaca spionnya, Aldrian memperhatikan Elena. Tampak diam seperti memikirkan sesuatu.


"Mikirin apa, sih? Kok, galau gitu, sih." tanya Aldrian dengan perhatiannya.


"Bingung."


"Kenapa?"


"Nanti malam, kan, pengen keluar sama nenek. Tapi, nenek pasti nggak mau karena nggak suka pergi malam-malam. Lagian juga nggak akan ngizinin kalo aku keluar malam."


"Emang biasanya kalo keluar gimana?"


"Biasanya, sih, sama Pak Dedi. Dulu pekerja di rumah aku sebagai sopir. Tapi, berhubung aku tidak telaten setiap harinya diantar dan dijemput, apalagi aku bisa melakukannya itu sendiri. Jadi, Pak Dedi sudah tidak bekerja di rumah aku lagi. Lagian aku juga melatih kemandirian. Ya, apa-apa sekarang jadi sendiri, deh."


"Gimana kalo aku antar aja?" tanyanya tidak keberatan.


"Kamu nggak sibuk?"


"Jelas-jelas aku menawarkan. Ya, enggak, lah."


"Beneran nggak keberatan?"


"Enggak, Elenaaaaa."


"Yeeey."


"Jam berapa nanti?"


"Sekitar jam tujuh, ya?"


"Okey."