ELENA

ELENA
Kembali (2)



"Maaf Mbak, tadi ban motornya bocor, jadi aku cari bengkel dulu buat tambal ban. Kirain sebentar enggak taunya lama. Terus ponsel aku juga lowbat, jadi enggak bisa hubungi Mbak Anye." Fortuna memberikan alasan kenapa sampai telat menjemput Elena. Gadis itu berbicara dengan menunduk karena takut dimarahi oleh Anyelir.


"Makanya punya handphone kalau malem itu di charge, jangan dipake buat nelpon gebetan terus."


Bukannya Anyelir yang menjawab malah Vio yang sibuk memberikan ceramah untuk Fortuna.


"Iya Mbak, biasanya juga di charge. Semalam ketiduran," jawab gadis berkacamata itu.


"Sudah, sudah. For, kamu bantu Melisa saja di belakang. Bikin pie sama salad buah," ucap Anyelir menengahi.


"Mbak enggak marah kan sama aku? Sekali lagi maaf ya Mbak," imbuhnya lalu segera bergabung dengan Melisa setelah mendapat anggukan dari Anyelir.


"Udah, lu enggak perlu khawatir. Enggak mungkin kan Ken nyulik anaknya sendiri?" ucap Vio yang melihat Anyelir berdiri di dekat jendela memandang ke luar.


Anyelir tampak menghembuskan napas dengan pelan. "Ini salah ku juga. Ponsel ku juga tadi lowbat, jadi tidak tau kalau bu Wati menghubungi," ucapnya sambil mendekat ke meja kasir.


"Nomor Ken enggak bisa dihubungi?" tanya Vio pada sahabatnya yang terlihat sedang memainkan ponselnya.


Anyelir menjawab dengan menggelengkan kepala. "Lagi pula sudah lama semenjak aku pindah, nomornya enggak aktif lagi," jawab Anyelir kemudian.


Vio menanggapi dengan manggut-manggut. Ia lalu mengeluarkan ponsel miliknya dari dalam laci meja kasir. Seketika matanya melotot lalu memandang Anyelir dengan ekspresi yang tidak bisa dibaca. Sesaat Anyelir pun heran dengan tingkah Vio.


"Ada apa?" tanya Anyelir.


Vio pun memasang tampang rasa bersalah. "Sor-sorry Nye. Tadi bu Wati juga menghubungi gue dan kirim pesan juga, tapi gue enggak tau. Ini gue baru buka pesannya hehehehe."


"Memangnya tadi enggak kedengaran saat ada telpon masuk?" tanya Anyelir.


"Gue silent," lirih Vio.


"Mama!" teriak Elena dari pintu masuk. Seketika Anyelir dan Vio melihat ke arah sumber suara. Ada perasaan lega karena yang dinanti-nati akhirnya berdiri dihadapannya.


Anyelir memeluk Elena dengan erat. "Kamu dari mana saja si Sayang? Mama khawatir tau," ucap Anyelir yang langsung mencubiti pipi anaknya.


Elena tergelak karena perlakuan mamanya. "Memangnya bu Wati enggak bilang sama Aunty For? tadi bu wati juga menghubungi no Mama sama Aunty Vio tapi enggak bisa."


"Iya bu Wati tadi bilang kok, Mama cuma khawatir aja kamu enggak pulang ke Mama," jawab Anyelir sambil melirik Ken yang berdiri di belakang Elena.


Omongan Anyelir membuat Ken merasa bersalah karena membawa Elena tanpa meminta izin terlebih dulu kepada Anyelir.


"Maaf. Aku enggak bermaksud buat kamu khawatir. Ini tadi secara spontan aku melakuka ini. Karena tau kamu enggak bisa jemput Elena maka aku berinisiatif menjemputnya," jujur Ken.


"Tunggu! Kenapa anda bisa tau kalau saya tidak bisa menjemput Elena?" tanya Anyelir sambil memicingkan matanya.


"Em...I--itu tadi secara enggak sengaja saya melihat kamu sedang berbicara serius dengan seseorang, maka aku pikir pasti akan lama dan saat itu sudah saatnya Elena pulang sekolah," jawab Ken tergagap.


"Mama, kita ngobrolnya di rumah aja yuk," ajak Elena.


Anyelir rasa ada baiknya juga ajakan Elena. Karena Anyelir ingin menanyakan alasan pria ini bersembunyi selama enam bulan sehingga membuat dirinya dituduh menyembunyikannya.


Anyelir mengangguk. "Vio, aku pulang dulu ya. Nanti seperti biasa kalau udah tutup kuncinya kamu bawa saja," pesan Anyelir.


Gadis yang tengah duduk di meja kasir itu pun mengangguk sambil mengangkat kedua jempolnya.


***


Di dalam rumah berlantai satu yang tidak terlalu besar namun tertata sangat rapi dan ada kesan sejuk karena sinar matahari bisa masuk dari berbagai arah dan juga beberapa tanaman hias yang diletakan di tempat yang tepat. Di sinilah Ken, Anyelir, dan Elena duduk di sofa di ruang utama.


Tak hanya menambah cantik ruangan, beberapa tanaman hias juga dapat menghilangkan nyamuk dari lingkungan tempat tinggal, serta membantu membersihkan udara di dalam rumah, sehingga sehat dan segar. Maka dari itu baik di dalam maupun luar rumah Anyelir banyak sekali tanaman hias baik itu benar-benar tanaman hias maupun tanaman hias yang merangkap sebagai tanaman obat.


Tak lupa pohon buah dan sayur mayur juga sudah mulai ditanam. Rumah Anyelir memang tidak besar tapi mempunyai halaman yang sangat luas. Bahkan ada kolam renang dan kolam ikan juga.


"Sudah Ma," jawab Elena tanpa melihat Anyelir yang mengajaknya berbicara.


"Kalau begitu, Elena bermain sendiri dulu bisa? Ada yang mau Mama bicarakan dengan Papa."


Elena mendongak melihat ke arah Anyelir lalu menganggukkan kepalanya. Ia lalu memberikan kecupan di pipi Ken kalau berdiri dan berjalan ke arah Anyelir melakukan hal serupa yang dilakukannya kepada Ken.


"Jangan lama-lama. Nanti kalau Mama sudah selesai bicara sama Papa, kalian temani Elena main ya," pinta Elena pada keduanya.


Anyelir mengangguk. "Iya. Mama janji tidak akan lama," jawab Anyelir.


Elena kemudian berlalu masuk ke dalam satu ruangan yang Anyelir khusus siapkan untuk tempat bermain Elena sekaligus tempatnya menaruh beberapa lukisan.


Setelah kepergian Elena, Anyelir tanpa basa-basi langsung menanyakan apa yang mengganjal di hatinya selama ini.


"Bisa Anda jelaskan kemana Anda pergi selama ini, dan kenapa muncul tiba-tiba di sekolah Elena Bapak Ken yang terhormat?"


Ken yang mendengar pertanyaan yang keluar dari mulut Anyelir pun tersenyum miring.


"Kok aku seperti suami yang sedang di interogasi oleh seorang istri karena lama tak pulang-pulang ya?"


"Sialan!" batin Anyelir. Rupanya ia salah memilih kata yang tepat untuk bertanya pada pria yang...kenapa makin hari makin terlihat tampan.


"Masalahnya karena tindakan Anda yang memilih kabur di hari pernikahan, itu berdampak buruk untuk seseorang," jawab Anyelir dengan kesal.


"Oh ya? seseorang itu siapa yang kamu maksud . Clara? Udahlah kamu enggak perlu mikirin Clara. Dia itu bandel, sudah disuruh mundur tapi tetap nekat," jawab Ken dengan santai. Punggung badannya ia rebahkan di kepala sofa.


"Saya tidak membicarakan wanita lain," ucap Anyelir datar.


"Terus siapa? Kamu? Harusnya kamu senang kan aku enggak jadi nikah dengan Clara, paling enggak aku enggak mengkhianati perkataan aku ke kamu waktu lalu."


Anyelir masih diam, ia memasang wajah yang sangat tidak bersahabat. Lalu ia menghembuskan nafasnya dengan kasar.


"Perlu Anda tau, Ibu A..."


"Udahlah Nye, sudah ada anak diantara kita, jangan pakai bahasa formal gitu. Panggil nama saja, atau Sayang, honey, Bee juga boleh," sela Ken dengan wajah konyolnya.


Anyelir makin jengkel dibuatnya. Bisa-bisanya pria ini makin enggak jelas setelah hilang selama enam bulan.


"Perlu kamu tau Ken,..."


"Nah, begini kan lebih enak di dengernya," sela Ken lagi.


"Bisa tidak menyela omongan dulu?


"Owh. Ok siap! jawab Ken dengan tangan ditaruh di pelipisnya seperti orang sedang melakukan upacara bendera.


Anyelir mencebik. "Gara-gara kamu, aku kena tampar ibu kamu."


Ken langsung menegakkan punggungnya. "Serius?" tanya Ken tak percaya.


❤️❤️❤️


Ada yang ngadu nih ceritanya? 😁😁🤭🤭


Cuaca mendung jadi bikin mager gaes...


Semoga suka ya


Thank you 😘