
"Kenapa lu Nye, keliatan 4G." Vio melihat sahabatnya seperti ada sesuatu yang sedang dipikirkan.
"Memangnya aku sinyal internet," ucap Anyelir memutar bola matanya dengan malas.
Vio mencibir. "Orang kalau kagak gaul gini nih. 4G itu gelisah gundah gulana gitu," jelas Vio yang tak lupa memamerkan deretan gigi putihnya.
"Kenapa? cerita dong, siapa tau bisa menambah masalah," ucap Vio lagi yang berusaha bercanda agar sahabatnya itu tidak lagi murung.
"Sabtu malam, orang tua Ken ingin datang ke rumah untuk melamar aku secara resmi," jelas Anyelir.
"Bagus dong! Kenapa malah lu keliatan sedih gitu?" tanya Vio curiga. Pasalnya bukannya sahabatnya ini sudah menerima Ken saat ayah dai Elena itu melamarnya di Bali, kenapa orang tua Ken ingin melamar secara resmi malah terlihat sedih.
"Gimana aku enggak sedih Vi. Ada orang yang akan melamar aku, sedangkan aku sebatang kara." Anyelir memejamkan matanya, menyesali ucapannya yang salah menurutnya. "Ralat, maksudku, aku enggak punya orang tua atau wali yang akan mendampingi aku saat mereka datang nanti," ucap Anyelir lirih.
Anyelir membayangkan seandainya neneknya masih hidup atau bahkan orang tuanya juga masih ada di dunia ini, mungkin acara lamaran nanti akan sangat ramai dan sudah pasti ia akan menyambutnya dengan hati yang berbunga-bunga.
Di satu sisi, ia sangat senang dan merasa diakui karena keluarga Ken ingin datang untuk melamarnya yang itu artinya dirinya diterima dengan baik oleh keluarga kaya raya itu.
Namun, di sisi lain ia juga merasa sedih dan kecewa, mengapa saat hari dan momen bahagianya, tidak ada satu pun keluarganya yang bisa menyaksikan. Mengapa Tuhan selalu mengambil orang-orang yang ia sayangi.
Usapan di pundak dan di punggungnya membuat Anyelir tersentak. Ia menoleh ke arah sahabatnya dengan padangan yang mengabur. Ia merasakan tubuhnya ditarik dan mendapat pelukan dari sahabatnya itu.
"Udah, lu enggak perlu sedih gitu. Kan ada gue Nye. Gue juga keluarga lu 'kan?" Vio menenangkan Anyelir dengan mengusap lembut punggung wanita berambut pirang itu.
Anyelir mengurai pelukannya, lalu menghapus air mata di pipi dengan punggung tangannya.
"Terima kasih Vi," ucap Anyelir. Bibirnya melengkung ke atas meskipun tipis sekali.
"Dan lu nggak perlu khawatir soal wali. Ntar gue bilang ke enyak sama babeh biar bisa jadi wali lu saat lamaran sekaligus nikahan lu. Gue yakin mereka akan siap sedia buat lu."
Anyelir merasa terharu, ia baru menyadari bahwa definisi keluarga itu tidak hanya mereka yang memiliki hubungan darah, dan ia merasa beruntung bertemu dengan Vio menjalin persahabatan meski sempat terputus lima tahun karena Anyelir harus pergi ke New York.
"Boleh enggak kalau aku ikut kamu pulang. Aku juga ingin bertemu enyak sama babeh," pinta Anyelir.
"Boleh dong. Ajak Elena juga, pasti enyak sama babeh seneng kalian berdua dateng, apa lagi kalau sampai menginap."
"Menginap semalam, aku rasa enggak jadi masalah."
***
Sore harinya Anyelir, Vio, dan juga Elena pulang ke rumah Vio. Anyelir sudah menghubungi Ken bahwa ia dan Elena akan menginap di rumah Vio, sehingga besok pagi tidak perlu ke rumah untuk menjemput Elena.
Kedatangan Anyelir dan Elena membuat enyak dan babeh sangat senang, mereka sudah menganggap Anyelir seperti anaknya sendiri, begitu juga dengan Elena sudah dianggap seperti cucu sendiri. Apalagi enyak yang sudah sangat menginginkan kehadiran cucu.
"Nambah Nye, jangan malu-malu kalau di sini. Penghuni rumah ini sudah malu-maluin," ucap Vio yang disambut dengan senyum di bibir Anyelir.
"Yang malu-maluin itu lu. Udah umur berapa kagak nikah-nikah. Coba waktu itu lu terima lamaran anaknya pak lurah. Enyak udah punya banyak cucu," ujar Enyak.
"Emangnya Vio mesin pencetak anak?!"
Semua orang yang ada di ruang makan tergelak mendengar ucapan Vio kecuali Elena. Tentu saja karena Elena tidak mengerti apa yang tengah orang dewasa di sekitarnya itu bicarakan.
"Ini Enyak yang masak?" tanya Elena tiba-tiba pada enyak sambil menunjukkan tahu ditangan kanannya yang telah ditusuk menggunakan garpu.
"Iya Neng cantik. Kenapa? Neng cantik suka?"
"Suka. Ini enak. Mama nanti masak kayak gini ya di rumah," pintanya.
"Elena belum doyan makanan pedas, mungkin nanti kalau Elena sudah besar, Enyak boleh masakin balado terong untuk Elena."
"Pasti, doain Enyak panjang umur, biar bisa liat Neng cantik nikah."
"Emaknya dulu Nyak yang mau nikah, anaknya mah masih lama," celetuk Vio.
"Habis emaknya, giliran ku yang nikah." Kini Babeh ikut menggoda Vio.
"Tenang aja Beh. Doain aja, secepatnya Vio nikah, kalau perlu ngelangkahin Anyelir."
Begitulah seterusnya, ruang makan itu tak pernah sepi dari ledekan, gurauan serta nasehat yang keluar dari mulut empat orang dewasa di ruangan itu. Sedangkan Elena dengan asiknya tanpa peduli orang di sekitarnya, ia makan dengan lahap apa saja yang disuguhkan oleh Enyak kepadanya. Baik itu pisang goreng, puding mangga, kue pancong. Semua singgah ke dalam perut Elena.
"Terima kasih Vi, aku seperti menemukan kembali keluargaku," ucap Anyelir saat mereka sudah berada di kamar.
Anyelir dan Vio masih ngobrol-ngobrol santai di kamar sambil melihat-lihat album foto. Sedangkan Elena sudah tertidur lelap setelah ikut membantu Enyak mengupas kulit telur yang telah direbus untuk dimasak besok pagi.
"Kan memang kita keluarga Nye. Kamu lihat sendiri 'kan Reaksi Enyak sama Babeh saat diminta jadi wali di lamaran sekaligus nikahan lu."
Anyelir mengangguk. "Waktu itu bukannya Dafa mau lamar kamu Vi, yang kamu minta cuti dua hari itu 'kan?"
"Gue aja belum cuti lu gimana sih? masih muda udah pikun. Bulan depan jadinya. Enyak sama babeh belum gue beritahu."
"Lho kenapa?"
"Entar mereka pasti berisik, terutama Enyak sudah pasti setiap pembeli yang datang bakalan dikasih tahu."
"Itu artinya mereka senang Vi, karena anaknya akhirnya laku juga," canda Anyelir yang langsung ditimpuk bantal oleh Vio.
"Udah ah, ayok tidur," ajak Anyelir.
Ketika Anyelir akan berbaring, ponselnya berdering. Ia pun segera menyambar benda pipih itu di atas nakas. Ia pun melihat nama yang tertera di layar lalu menggeser layar tersebut.
"Halo, ada apa?" tanya Anyelir yang jujur cukup khawatir mendapat telepon dari Ken malam-malam begini.
"Kangen," ucap Ken di seberang sana dengan santainya tanpa memperdulikan dentuman jantung wanita yang menerima panggilannya. Hanya karena satu kata yang diucapkan oleh Ken, rupanya mampu menghentikan waktu di sekitarnya dalam beberapa detik.
Hai gaes....
Jumpa lagi dengan Elena
Maafkan karena kemarin tidak update dan hari ini pun update di tengah malam begini
Mohon maklumi ya karena anak aku lagi sakit, ini pun nulis nyolong2 sambil usap-usap, kadang elus-elus, kadang gosok-gosok, eh sama aja ya? 😁😁😁
Intinya mah, mohon doanya ya supaya anaku cepet sembuh
Semoga suka dengan part ini
Jangan lupa tinggalkan jejak kalian berupa like, komen, vote, dan hadiah sebanyak-banyaknya
Sampai jumpa di part selanjutnya
Terima kasih 😘😘 😍