ELENA

ELENA
23. Elena



Hari-hari Luciano berjalan dengan biasa. Ia masih sering bertemu Elena saat latihan bersama, terkadang ia juga masih sering memikirkannya.


Semua seperti kembali asing, baginya Elena mempunyai tempat tersendiri di hatinya.


"Wajahmu makin muram saja." goda Frank kepada Luciano. Frank sudah mengira bahwa masalah Luciano adalah tentang gadis "itu". Gadis yang ketahuan melihat Luciano diam-diam dan pergi saat ketahuan. Karena sejak saat Frank menyuruh Luciano untuk mengejar Elena saat kembali wajahnya terlihat kecewa dan marah.


Luciano hanya tertawa menanggapi itu, saat ini dia sedang tidak ingin bercanda.


"Aku tidak tahu ini membantu atau tidak, tapi kalau kau suka ungkapan lah." ucapnya sambil menepuk pundak Luciano


"Kurasa Frank benar, aku harus berbicara lagi kepadanya."


......................


Elena bersiap-siap untuk menuju aula. Saat ini dia kebagian mengajari anak-anak yang baru saja gabung minggu lalu. Setiap enam bulan Opera La Monnaie memang menerima murid anak-anak sekolah. Mereka mendapatkan pelatihan selama satu bulan. Dan saat ini giliran Elena yang melatih.


"Selamat siang semuanya. Kakak akan mulai ya latihannya." ucapnya sambil tersenyum.


"Kita berlatih lagu Libiamo, ne’ lieti calici."


Elena menyuruh mereka semua untuk menarik nafasnya panjang dan menghembuskannya secara perlahan, dan melakukan pemanasan yang lainnya. Setelah dirasa pemanasannya cukup Elena mulai memberi aba-aba agar mereka mulai bernyanyi.


Libiamo, libiamo ne' lieti calici, che la bellezza infiora


E la fuggevol, fuggevol ora s'inebriì a voluttà


Libiam ne' dolci fremiti che suscita l'amore


Poichè quell'occhio al core onnipotente va


Libiamo, amore, amore fra i calici più caldi baci avrà


Ah! Libiam, amor fra' calici più caldi baci avrà


Tra voi, tra voi saprò dividere il tempo, mio giocondo


Tutto è follia, follia nel mondo ciò che non è piacer


Godiam, fugace e rapido il gaudio dell'amore


È un fior che nasce e muore, nè più si può goder


Godiam! C'invita, c'invita un fervido accento lusinghier


Ah! Godiamo! La tazza, la tazza e il cantico, la notte abbella e il riso


In questo, in questo paradiso ne scopra il nuovo dì


Mereka menyanyikan berulang sampai tidak ada kesalahan. Sebenarnya hari ini dia sudah ditugaskan bersama seseorang tetapi entah kenapa orang itu tidak kunjung datang.


"Maafkan aku terlambat." ucap seorang laki-laki yang baru datang sambil terengah-engah.


Saat menoleh ke sumber suara, Elena terlihat terkejut melihat siapa yang akan menemaninya melatih anak-anak ini. Begitupun dengan laki-laki yang baru saja sampai itu. Benar laki-laki itu adalah Luciano laki-laki yang dengan mati-matian Ia hindari dan ternyata saat ini mereka dipertemukan kembali.


"Tidak apa, kau bisa memperkenalkan dirimu dulu." ucap Elena sambil berdeham dan mempersilahkan Luciano berada di depannya.


"Kak, kau tampan sekali."


"Kak, aku menyukaimu."


Teriakan-teriakan terdengar ramai menyambutnya, ia hanya tersenyum lalu mengenalkan diri.


Elena terlihat canggung berdiri di sebelah Luciano. Dia segera menenangkan diri dan melanjutkan tugasnya.


Saat ini mereka sedang duduk sedikit berjauhan. Latihannya sudah selesai setengah jam lalu, tetapi mereka memilih untuk beristirahat sebentar. Suasana sangat dingin dan canggung tidak ada dari mereka yang membuka suara. Sesekali Elena melirik Luciano yang tengah menutup matanya. Sempurna, satu kata yang dapat mendeskripsikan Luciano. Elena menyunggingkan senyumannya.


"Jangan melihatku lama-lama nanti kau suka." ucap Luciano sambil tersenyum. Matanya masih belum terbuka tapi dia mengetahui kalau Elena sedang memperhatikannya. Memang hebat.


Elena terlonjak kaget dan memalingkan pandangannya ke sembarang arah, hal itu membuat Luciano tertawa.


"Kenapa? Aku terlihat tampan ya?" ucapnya menggoda.


"Jangan terlalu percaya diri." jawab Elena ketus.


Hal itu membuat Luciano terkekeh kecil, baginya saat ini Elena terlihat sangat lucu dan menggemaskan.


Luciano menggeser duduknya agar lebih dekat dengan Elena.


"Aku merindukanmu." ucapnya tulus.


"Aku sudah-"


"Iya aku mengerti, kau sudah mempunyai calon tunangan." potongnya dengan cepat.


Luciano menghembuskan nafas kasar, dan menatap kearah Elena.


"Jadi gadis yang saat ini sedang duduk di sebelahku sudah tidak bisa dimiliki ya?" tanyanya ragu.


"Kalau jadi teman bagaimana?"


Elena menatap kearah Luciano, dan disambut hangat oleh tatapan laki-laki bermata biru itu.


"Maaf, sebenarnya aku tidak berniat menjauhi mu. Aku hanya tidak ingin ada kesalahpahaman diantara kita."


Luciano mengangguk mengerti. Dan dia terdiam tidak tahu harus menjawab apa dan merespon bagaimana.


"Bagaimana calon tunanganmu? Apa dia baik padamu?" tanya Luciano mengalihkan pembicaraan.


"Iya dia cukup baik."


"Bagaimana kalian bertemu?"


"Dia teman kecilku."


Lagi-lagi Luciano hanya menganggukkan kepalanya mengerti.


"Pasti senang bisa menikahi teman masa kecil. Tidak perlu mengenal lagi."


Elena terdiam sebentar mendengar ucapan Luciano, "Sebenarnya aku tidak-" ucapnya terpotong karena ia melihat Harry dari kejauhan.


Elena segera berpamitan kepada Luciano dan pergi meninggalkan laki-laki itu. Elena hanya tidak ingin menambah masalah dengan Harry.


Luciano terlihat bingung melihat Elena pergi dengan terburu-buru hingga melupakan buku yang dibawanya. Saat Luciano hendak mengembalikan buku Elena, dia melihat Elena sudah menghilang dari pandangannya. Dan Luciano tak mengambil pusing dengan kepergian Elena, toh dia akan bertemu lagi lusa. Ia segera beranjak dari tempat duduknya dengan membawa buku berwarna hitam milik Elena.


Aku senang bisa duduk dan berbicara denganmu lagi.


...****************...