
Setelah ajakan makan malam kemarin, Harry semakin sering datang ke rumah Elena entah sekedar mampir atau mengobrol dengan ayah Elena. Sebenarnya Elena sedikit terganggu dengan kehadiran Harry. Entah mengapa dia sedikit tidak nyaman, Harry terlihat sangat berbeda. Ia lebih perhatian kepada dirinya.
"Mengapa dulu saat aku mencintai nya dia seperti tidak perduli kepadamu." keluh Elena.
"Sekarang saat aku mencintai orang lain, dia bersikap aneh."
Seperti saat ini, lagi-lagi Elena diajak pergi keluar oleh Harry. Sampai Elena pun tak ada waktu untuk bertemu dengan Luciano. Karena saat mereka berpapasan pun Harry ada di sebelah Elena dan selalu mengancam akan berbuat sesuatu kepada Luciano.
"Elena sudah siap?" ucap Ibunya lembut dibalik pintu.
"Ibu, aku tidak enak badan. Bisa Ibu suruh Harry pulang saja?" jawab Elena dengan nada suara lemas.
Ibunya segera membuka pintu dan menghampiri Elena yang sedang terbaring di atas tempat tidur nya.
"Ada apa sayang?" tanya ibunya khawatir.
"Tidak tahu Bu, badanku terasa lemas."
Ibunya segwra memeriksa suhu tubuh Elena dan benar saja suhunya sedang tinggi.
"Kau demam. Sebentar aku panggilkan ayahmu supaya kau dibawa ke rumah sakit." ucap ibunya sebelum keluar meninggalkan Elena. Wajahnya terlihat sangat khawatir.
Selang beberapa menit, Ibunya kembali bersama Ayahnya dan Harry. Wajah semua orang terlihat khawatir melihat Elena yang terbaring lemah dan tubuhnya yang sedikit menggigil.
"Paman, biar aku yang membawa Elena ke rumah sakit." ucap Harry sambil bersiap menggendong tubuh Elena.
"Iya, nanti kita akan menyusul." ucap Ayah Elena.
"Cepat bawa Elena ke rumah sakit, sebelum keadaannya semakin memburuk."
Harry segera menggendong tubuh Elena sambil menuruni tangga dan segera berjalan cepat menuju ke arah mobilnya di parkir.
Elena hanya memejamkan matanya, dia tidak perduli kalau saat ini tubuhnya dan Harry sangat dekat. Ia tidak ada tenaga untuk berjalan sendiri.
****
Setelah perjalanan yang tidak terlalu jauh, akhirnya Harry dan Elena sampai di rumah sakit Brussel. Rumah sakitnya sangat besar dan termasuk yang terbaik di kota nya. Harry segera berlari dan meminta tolong agar dokter segera memeriksa Elena.
****
Saat ini Harry, Eleanor, Ibu dan Ayah Elena sedang menunggu sampai Elena tersadar kembali.
Eleanor melihat Elena yang perlahan membuka matanya Ia merasa sangat senang akan hal itu. Segera Ia memanggil Ayah dan Ibunya juga Harry.
"Kau sudah sadar Elena?" tanya Harry khawatir.
Elena hanya mengedipkan matanya perlahan sebagai jawaban.
Semua orang merasa lega karena kesadaran Elena sudah kembali.
Selang beberapa jam Ayah dan Ibunya pamit pulang ke rumah karena ada urusan mendadak yang harus mereka selesaikan.
"Ayah dan Ibu akan pulang ya, kau disini jaga kakak mu." pesan sang ayah kepada putri kecilnya.
"Iya Ayah, Ibu. Kak Harry tidak pulang?" tanya Eleanor sambil mengalihkan pandangannya ke arah Harry yang sedari tadi memandang wajah Elena lekat.
"Aku disini saja." balasnya, Ia tetap tidak bisa mengalihkan pandangan dan rasa khawatirnya.
"Harry kau pulang dulu saja. Kau terlihat lelah karena semalaman disini."
"Tapi Bibi," ucapnya sedikit berat.
Ayah dan Ibu Elena menganggukkan kepalanya bersama. Hal itu membuat Harry menghembuskan nafasnya pelan dan setuju untuk pulang bersama mereka.
****
Sudah satu minggu Luciano tidak melihat Elena berlatih. Sejak pertemuan mereka di restoran malam itu Luciano memang sengaja menjauhi Elena. Bukan tanpa sebab, yang Ia lakukan demi agar Elena tidak disakiti oleh Harry, bahkan saat mereka bertemu pun Harry selalu ada di samping Elena seperti tidak pernah bisa jauh dari gadis itu.
"Luciano kau sudah tahu kabar Elena?" tanya Sofia gadis yang sering bersama Elena.
"Ada apa?"
"Elena sedang di rumah sakit, hari ini kita semua ingin menjenguknya. Kau mau ikut?"
Luciano terkejut mendengar kabar bahwa Elena jatuh sakit, pantas saja Ia tidak pernah melihat Elena. Bahkan saat ada Harry pun Ia tidak melihat keberadaan Elena.
"Dia sakit apa?"
"Tidak tahu. Jadi kau ikut atau tidak?" tanya Sofia sekali lagi.
"Iya." ucap Luciano singkat.
"Baiklah, nanti pulang latihan kita berangkat bersama." Sofia tersenyum melihat ajakannya berhasil, Ia pun segera berpamitan dan berjalan menjauh dari Luciano.
"Akhirnya aku berhasil." ucapnya senang.
****
Setelah jadwal latihan mereka selesai, semua orang segera menuju kearah rumah sakit tempat Elena dirawat.
"Kau sungguh tidak tahu Elena sedang sakit?" tanya Sofia.
"Tidak." jawab Luciano ditengah lamunannya memikirkan Elena.
"Aku kira kalian berteman dekat."
Frank menyadari kalau Luciano sedang tidak nyaman berbicara dengan Sofia, segera mendekat kearah Luciano dan menarik Luciano agar bergabung dengannya meninggalkan Sofia sendiri.
"Frank, aku kan belum selesai berbicara dengan Luciano." teriak Sofia.
"Luciano aku bawa dulu." balas Frank.
Setelah Frank berhasil menyelamatkan Luciano dari Sofia, Ia merangkul sambil menepuk pundak Luciano pelan, seakan mengetahui apa yang Luciano pikirkan.
"Dia akan baik-baik saja." ucap Frank menenangkan.
"Aku juga berharap begitu." jawabnya sedikit lesu.
"Kau tidak tahu Dia sakit apa?" tanya Luciano pada Frank.
"Aku dengar katanya demam nya cukup tinggi. Kau benar tidak tahu akan hal itu?" tanya Frank.
"Kalau aku tahu aku tidak mungkin bertanya."
Frank hanya tersenyum kikuk, benar juga yang dikatakan Luciano.
"Kalian ada masalah?" akhirnya Frank memberikan diri untuk bertanya kepada Luciano.
Luciano menoleh dan menggelengkan kepalanya tanpa membuka suaranya.
"Apa karena Elena sudah mempunyai tunangan?" seakan tidak uasa dengan jawaban Luciano, Frank bertanya kembali dan pertanyaannya tepat sasaran.
"Calon." ralat Luciano.
"Aku mendengar Harry tidak mencintai Elena, Ia juga mempunyai kekasih."
Luciano segera menoleh kearah Frank, apa Dia tidak salah dengar? Apa yang sebenarnya direncanakan Harry.
"Tidak mungkin, kalau tidak cinta mengapa akan menikah?"
Frank hanya mengangguk bahunya tidak tahu. Sebelum akhirnya mereka melanjutkan perjalan dengan diam dan tidak ada yang berbicara.
****
Saat ini Luciano sedang berada di dalam ruangan serba putih tempat Elena dirawat gadis itu terlihat masih lemas, meskipun sudah banyak tersenyum dan berbicara tidak bisa dipungkiri bahwa wajahnya masih terlihat lemah. Saat ini pandangan Elena dan Luciano bertemu, tatapan mereka seolah mengisyaratkan bahwa mereka merindukan satu sama lain. Luciano hanya ingin memeluk Elena untuk saat ini, menenangkan gadis itu bahwa Ia akan segera sembuh.
"Aku ingin berbicara sebentar nanti, bisa?" ucap Elena tanpa suara kepada Luciano.
Luciano menganggukkan kepalanya semangat. Belum sempat mereka berbicara berdua, terlihat Harry memasuki ruangan sambil membawa sebuah kantong yang bisa diperkirakan berisi obat. Harry tidak terkejut melihat kedatangan teman-temannya juga teman Elena.
"Ibuku dimana?" tanya Elena sesaat setelah Harry masuk.
"Aku menyuruhnya pulang, biar aku yang menjagamu."
Harry menaruh kantong berisi obat di atas nakas di sampiing tempat tidur Elena. Ia baru menyadari bahwa Luciano sedang berdiri di pojok ruangan, melihat hal itu membuat Harry sedikit marah, wajahnya memerah.
Setelah beberapa saat teman-temannya pun berpamitan untuk pulang, tetapi tidak dengan Luciano dia tetap menunggu sampai teman-temannya pergi.
"Kenapa kau masih disini?" tanya Harry dengan nada tinggi.
"Aku ingin berbicara dengan Elena, bisa kau tinggalkan kami?"
Melihat jawaban Luciano, rahang Harry seolah mengeras. Ia segera menarik Luciano keluar dan tidak mendengarkan suara Elena yang berteriak menghentikan mereka.
"Apa yang ingin kau bicarakan?" tanya Harry dengan nada tinggi.
"Tidak ada urusannya denganmu."
"Tentu saja ada, Elena calon tunanganku."
"Masih calon kan. Lagi pula bukannya kau sudah memiliki kekasih lain?"
"Jaga bicaramu. Kau tidak ada hak mendekati Elena."
Brakkk!!
Terdengar suara benda terjatuh dari ruangan Elena dirawat, Luciano dan Harry segera berlari menuju sumber suara. Mereka terkejut melihat Elena sudah terjatuh dan tidak sadarkan diri.
...****************...