
Hari yang sangat dinanti-nantikan oleh Elena pun tiba. Ia sangat antusias sekali. Segala macam kebutuhan Elena sudah Anyelir siapkan. Tak lupa Elena membawa kamera polaroid yang dibelinya saat pergi ke mall bersama Ken dan Elena tempo hari. Anyelir membelikan kamera itu karena tadinya Elena ingin membawa ponselnya supaya bisa mendokumentasikan kegiatannya selama field trip berlangsung dan juga supaya bisa mengambil photo binatang yang akan ia temui. Namun karena sekolahnya tidak membolehkan murid-muridnya memegang ponsel, maka Anyelir membelikan kamera itu sebagai ganti ponsel. Anyelir memilih kamera polaroid supaya hasil jepretan buah hatinya nanti bisa langsung dicetak.
"Coba telpon lagi Ma. Papa lama banget," gerutu Elena.
Sedari sebelum subuh ia sudah siap, dan sekarang sudah tidak sabar menunggu Ken datang menjemput. Padahal waktu kumpul di sekolah itu jam 6, sedangkan sekarang masih jam 5 pagi tapi ia sudah gelisah.
"Sabar Sayang. Tadi Papa bilang udah mau berangkat ke sini." Tak lama terdengar deru mesin mobil berhenti di depan rumahnya. "Nah, itu Papa datang," ucap Anyelir.
Elena langsung bangkit dari duduknya kemudian berlari menghampiri Ken yang sedang berjalan ke arahnya.
"Papa lama banget!" ucap ya sambil mengerucutkan bibirnya.
Ken terkekeh karena merasa gemas dengan buah hatinya itu. "Anak Papa udah enggak sabar rupanya."
Tentu saja Elena sangat antusias dan tidak sabar ingin segera datang ke sekolah. Karena ini merupakan kegiatan pertamanya bisa pergi bersama teman-teman sekolahnya dan juga para guru dengan menaiki bus. Sekolah menyediakan satu bus untuk para murid dan guru. Sedangkan para orang tua dianjurkan untuk menaiki kendaraan pribadi masing-masing. Hal ini dimaksudkan dengan tujuan agar anak bisa mandiri, dan juga interaksi antar sesama murid dan guru tetap saling terjaga, karena di dalam bus nantinya mereka akan diajak bermain sambil belajar dan bernyanyi. Supaya anak tetap aktif dan tidak bosan atau jenuh karena perjalanan yang cukup menyita waktu.
Suasana halaman sekolah Taman Kanak-kanak Bina Nusa tampak sudah sangat ramai oleh para siswa yang akan mengikuti field trip dan juga para orang tua yang akan mendampingi putra putrinya.
Turun dari mobil, ada dua orang anak perempuan yang datang menghampiri Elena.
"Halo Elena, Om, dan Tante," sapa dua anak perempuan itu yang bernama Alesha dan Lucia.
"Hai!"
"Halo Sayang," sapa Anyelir pada dua orang teman Elena.
Sedangkan Ken hanya menanggapi dengan senyuman.
"Elena nanti kita duduk bertiga lho di dalam bus," ucap Lucia.
"Iya betul. Tadi kita sudah tanya pada Bu Safa," ucap Alesha kemudian.
"Benarkah?" tanya Elena yang antara tidak percaya atau merasa senang karena bisa duduk dengan dua orang sahabatnya.
"Kalau enggak percaya, tanya aja Bu Safa," jawab Alesha.
"Yaudah yuk, kita temui Bu Safa," ajak Lucia.
"Ma, Pa, Elena mau temui Bu Safa dulu ya?"
Baik Ken maupun Anyelir mengangguk. "Hati-hati Sayang. Jangan jauh-jauh ya, sebentar lagi kayaknya kita semua akan berangkat." Anyelir menasehati buah hatinya.
"Ok, Ma." Ketiga anak perempuan itu berjalan menuju ke arah para guru yang tampaknya sedang mengabsen para siswanya.
Setelah memastikan muridnya telah hadir semua dengan didampingi wali murid masing-masing tentunya, Pak Wahid selaku pemilik sekolah dan juga Bu Wati selaku kepala sekolah TK Bina Nusa, mengajak semua murid dan para orang tua untuk berdoa bersama sebelum keberangkatan.
Anak-anak mulai menaiki bus dan mulai duduk di bangku yang sudah ada namanya masing-masing. Elena duduk di bangku pertama satu deret dengan Alesha dan Lucia. Bus mulai bergerak meninggalkan area sekolah yang disusul oleh kendaraan para orang tua siswa.
***
Sampai di tempat tujuan, para murid dan guru di bagi menjadi dua kelompok. Masing-masing kelompok akan menaiki satu bus khusus pariwisata yang disediakan oleh pengelola kebun binatang tersebut.
Serunya berkunjung ke Taman Safari, para siswa dapat berinteraksi dengan satwa yang ada dengan jarak dekat, bahkan memberinya makan sekalipun. Sehingga tak perlu khawatir akan kepanasan atau kehujanan, serunya lagi mereka bisa memotret satwa dengan aman.
Sudah ada beberapa foto satwa yang tercetak melalui kamera polaroid milik Elena. Pemandu wisata dan juga salah satu guru dari TK Bina Nusa berkolaborasi menjelaskan tentang hewan yang melintas. Mulai dari namanya dalam bahasa Indonesia dan bahasa Inggris, tempat tinggalnya, makanannya dan cara hewan tersebut melindungi diri dari musuh.
Didalam kendaraan lain, tepatnya di dalam mobil Ken dan Anyelir turut menikmati pemandangan dan sesekali memberi makan pada satwa yang melintas. Ketika melihat tangan Anyelir menganggur, tidak lagi memberi makan para satwa, Ken dengan tidak membuang kesempatan langsung meraih tangan wanitanya untuk menyusupkan jari-jarinya yang sesekali ia kecup punggung tangan ibu dari anaknya itu.
"Sepertinya kita bukan sedang mendampingi anak field trip, tapi ...."
"Tapi?" Anyelir membeo ucapan Ken.
"Kencan pertama kita. Setuju?" Ken mengedipkan sebelah matanya pada Anyelir yang hanya bisa mengulum senyum sekaligus mengangguk.
Kini mereka sedang berada di arena baby zoo. Elena menghampiri kedua orang tuanya setelah ia puas mengambil gambar para bayi hewan lucu dan menggemaskan.
"Mama, Papa. Ayo kita foto dengan bayi macan itu," ajak Elena sambil menunjuk dua bayi macan yang sedang meminum susu melalui botol.
"Ayo," ajak Ken pada Anyelir dan Elena.
Mereka bertiga banyak mengabadikan momen hari ini dengan berfoto bersama dengan para bayi hewan yang lucu.
Malam harinya mereka menginap di hotel yang telah pihak sekolah sediakan. Meskipun Ken merupakan ayah dari salah murid yang tak lain adalah Elena, tapi karena Ken dan Anyelir belum menikah maka Ken harus memesan sendiri satu kamar untuknya. Karena kamar yang disediakan oleh pihak sekolah sesuai dengan jumlah murid.
Elena terlihat sedang memandangi sekaligus merapikan foto-foto yang berhasil diambilnya dari hasil jepretan melalui kameranya siang tadi. Ia tampak tersenyum senang.
"Tidur Sayang. Besok masih ada kegiatan yang lebih banyak menguras energi," ucap Anyelir mengingatkan putrinya.
"Iya Ma. Besok pasti lebih seru lagi ya Ma. Besok Elena harus menang dalam semua lomba!" ucapnya semangat.
"Meskipun tidak menang, Elena tidak boleh sedih atau kecewa ya, yang penting anak Mama sudah berusaha dan semangat. Kekalahan itu tidak memalukan, yang memalukan itu menyerah."
"Iya Ma, Elena enggak masalah kalau harus kalah, tapi Elena juga boleh optimis untuk menang 'kan?"
"Tentu Sayang. Mama akan selalu mendukung Elena. Tidur yuk."
Ibu dan anak itu menaiki ranjang. Tak lupa Anyelir mematikan lampu utama hanya menyisakan cahaya lampu temaram di atas nakas. Mereka berbaring dan saling memeluk seolah menyalurkan rasa sayangnya.
"Coba Papa dan Mama udah nikah, pasti sekarang kita bisa bobo bertiga di sini," ucap Elena yang terus memandangi wajah ibunya. "Kapan Mama sama Papa akan menikah?" tanya anak itu kemudian.
Anyelir tersenyum. "Nanti, kalau sudah saatnya pasti Mama sama Papa pasti menikah," jawab Anyelir.
Halo gaes....
Maaf banget akhir-akhir ini sering bolong update Elena.
Semoga suka ya dengan part ini meskipun gaje
Jangan lupa like, komen, vote, dan kasih hadiah yang banyak ya
Klik favorit juga supaya kalian tau kalau novel ini update
Sampai jumpa di part selanjutnya
Mohon maaf atas segala kekurangan
Terima kasih 🙏🙏🙏 😘💪😍🤗