
"Aku sering melihat Elena pergi bersama laki-laki asing." ucap seorang laki-laki kepada seorang didepannya.
****
"Eleanor, ayo sudah belum?" teriak Elena dari ruang makan.
"Tunggu, lima menit."
Elena memilih untuk duduk kembali sambil memakan rotinya.
Hari ini Elena dan Eleanor memang akan berangkat ke kampus bersama karena Eleanor sudah resmi menjadi mahasiswa baru.
Terdengar suara berlarian dari atas tangga.
"Hati-hati kau bisa terjatuh." Elena memberi peringatan kepada Eleanor.
"Ayo kak, maaf aku lama." ucapnya setelah menuruni tangga terakhir dan segera berlari kecil ke arah Elena.
"Sudah?" tanya Elena sambil mengangkat kedua alisnya.
Eleanor mengangguk dan mengambil roti isi miliknya. Mereka berdua segera berpamitan dan pergi menuju tempat mereka belajar.
Dalam perjalanan Eleanor Hanya berdiam tidak mengatakan sepatah kata pun seperti biasanya. Elena menyadari bahwa Eleanor saat ini sedang gugup, karena hari pertamanya belajar di kampus.
"Gugup ya?"
Eleanor segera menoleh kearah Elena sambil menganggukkan kepalanya.
"Tumben sekali, dulu waktu kau masuk sekolah tidak pernah se gugup ini." ucap Elena bertanya-tanya.
Eleanor menghembuskan nafas nya perlahan, "Berbeda, kali ini aku merasa canggung sekali."
"Bukannya temanmu juga ada yang berkuliah disini?" tanya Elena memastikan.
Eleanor baru menyadari bahwa Helen juga masuk di universitas yang sama dengannya, kenapa dia lupa.
"Oh iya Helen." Eleanor sedikit tenang dan tersenyum lega mengingat Helen teman baiknya juga berasa di sekolah yang sama.
Elena hanya menggelengkan kepalanya tak percaya, tadi dia melihat Eleanor dengan ekspresinya yang takut, cemas, dan tegang. Lalu sepersekian detik kemudian berubah menjadi ceria dan tersenyum sepanjang jalan. Elena memilih tidak menghiraukan lagi sang adik. Dia segera mengalihkan pandangan dan menoleh kearah luar jendela mobil. Saat itu ia melihat Luciano dan Alfred berjalan bersama seorang gadis di sebelah mereka.
Tak mau ambil pusing Elena tidak memperdulikan hal itu.
****
Mereka sudah sampai di depan gerbang Universitas Brussels. Elena dan Eleanor segera turun dari mobil dan masuk ke dalam.
"Elena?" sapa seorang laki-laki tampan di sebelahnya.
"Hai."
Menyadari Elena bersama sang adik, Luciano segera menyapa Eleanor sambil tersenyum.
"Adikmu juga kuliah disini?" tanya Luciano.
"Iya, kau sendiri?"
"Aku mengantar adikku juga."
"Kau punya adik?"
"Lebih tepatnya sepupu."
Dua orang datang menghampiri Luciano sambil berlari.
"Ah kakak curang, bagaimana bisa berlari lebih dulu." ucap gadis berambut pirang disebelahnya.
Luciano hanya tertawa menanggapi ocehan Lucy.
Menyadari Luciano tidak sendiri, Lucy segera menyapa Elena dan Eleanor.
"Halo aku Lucy." ucapnya sambil mengulurkan tangannya.
Hal itu disambut baik oleh Elena dan Eleanor,
"Aku Elena, dan ini adikku Lucy." ucapnya membalas uluran tangan Lucy, begitupun dengan Eleanor.
Mereka tidak ada yang menyadari bahwa sedari tadi Alfred terlihat terkejut bertemu dengan Eleanor lagi. Tatapannya terlihat seperti bertemu dengan musuhnya.
"Elena apa kabar?" kali ini giliran Alfred membuka suaranya.
"Kabar baik." jawab Elena.
Eleanor baru menyadari bahwa sedari tadi ada Alfred bersama dengan Lucy dan Luciano.
Eleanor memicingkan matanya kearah Alfred, sebelum ia memutar bola matanya.
"Sial sekali aku bertemu denganmu pagi-pagi begini." ucap Eleanor pelan, tetapi cukup jelas di dengar keempatnya.
Elena segera memberi isyarat agar Eleanor diam.
Sedang laki-laki yang di maksud hanya tersenyum-senyum seperti orang gila.
"Beruntung sekali aku bertemu bidadari pagi-pagi begini." jawab Alfred dengan nada bercanda.
Eleanor segera memutar kepalanya menghadap kearah lain. Menyadari ketegangan diantara lainnya, Lucy berinisiatif untuk mengajak semuanya berjalan masuk.
"Iya, Kau sendiri juga baru?"
"Iya aku juga. Karena disini aku baru dan tidak mempunyai teman, apa aku boleh menjadi temanmu?" tanya Lucy dengan hati-hati.
"Tentu saja, akan lebih baik kalau kita menjaga hubungan baik untuk kakak kita." bisiknya kepada Lucy.
Lucy dan Eleanor berjalan dibelakang gerombolan Luciano, sambil menceritakan hal-hal yang menurut mereka baru.
"Kak Luciano dan kakak mu?"
"Iya." jawab Eleanor antusias.
Lucy tertawa mendengar pengakuan Eleanor. Mereka membicarakan banyak hal, sampai lupa bahwa mereka baru bertemu beberapa saat yang lalu.
"Kau bukan dari sini ya?" tanya Eleanor kepada Lucy.
"Iya aku dari Hasselt."
Eleanor mengangguk mengerti, "Di kotanya?"
"Bukan, tepatnya di sebuah desa bernama Kermt."
Eleanor mengangguk untuk yang kedua kalinya. Ia baru menyadari bahwa Lucy, Luciano, dan Alfred berasal dari keluarga biasa bukan bangsawan. Sebelumnya ia tidak menyadari hal itu. Karena wajah Luciano terlihat seperti seorang bangsawan, meskipun baju yang dipakainya terkesan sederhana tetapi hal itu tidak terlihat seperti baju orang kelas bawah. Mungkin memang wajah mempengaruhi semuanya.
Eleanor dan Lucy segera berpamitan dan masuk ke dalam aula.
"Eleanor." terlihat seorang gadis cantik berlari menghampiri Eleanor dan Lucy.
"Dari tadi aku mencari mu."
"Iya aku baru sampai."
Helen melirik kearah Lucy dan kembali kearah Eleanor seolah bertanya kepada Eleanor siapa gadis itu.
"Ini Lucy." Eleanor memperkenalkan Lucy kepada Helen.
Tangan mereka saling berjabat, "Aku Lucy."
Setelah pertemuan singkat tadi ketiganya langsung akrab di hari pertama. Lucy sangat senang mendapatkan teman baru di haru pertamanya. Andai ibu dan ayahnya disini, pasti Lucy segera menceritakan hal ini kepada mereka berdua.
****
"Terima kasih karena adikmu Lucy jadi punya teman di hari pertamanya."
"Terima kasih ke Eleanor saja jangan aku." balas Elena.
Mereka berdua akhirnya tersenyum dan saling menatap.
"Ehem, jangan lupa aku masih disini." ucap Alfred kepada keduanya.
"Dasar pengganggu." sela Luciano.
"Elena, bisa bicara sebentar?"
Tiba tiba seorang laki-laki datang menghampiri mereka dan mengajak Elena untuk berbicara sebentar. Luciano terlihat menatap Elena dan sesekali menatap kearah Alfred.
"Bisa nanti saja? Aku lelah ingin segera pulang kerumah."
"Aku ingin sekarang." sambil menarik tangan Elena dengan kasar.
Melihat hal itu membuat Luciano marah, Ia segera menghentikan pemuda itu dan menarik tangan Elena.
"Kau tidak usah ikut campur."
"Dia tidak mau, jangan dipaksa." ucap Luciano dengan nada ditekan.
"Sekali lagi, aku tidak ada urusan denganmu." Laki-laki itu kembali menarik tangan Elena dan tidak berusaha melawan.
Saat Luciano hendak menyelamatkan Elena, langkahnya ditahan oleh Alfred. Dan Elena juga mengisyaratkan agar Luciano berhenti mengikutinya.
Setelah berjalan cukup jauh dari Luciano dan Alfred. Elena segera menghentikan langkahnya dan memberikan diri untuk bertanya kepada Harry, laki-laki yang membawanya menjauh dari Luciano.
"Ada apa?" tanya nya dengan nada dingin.
"Aku tidak suka kau terlalu dekat dengan mereka."
"Kau siapa melarang ku?"
"Aku calon tunanganmu. Kau harus mendengarkan ku."
Elena menarik nafasnya, "Sebelumnya kau tidak perduli terhadapku, bahkan kau juga menolak pertunangan kita kan? Lalu kenapa kau seperti ini?" tanya Elena dengan tegas.
"A-aku," Ia berhenti sesaat sebelum melanjutkan ucapannya.
"Yang jelas aku tidak ingin kau terlalu dekat dengan dia." alibi Harry.
"Harry maaf, tapi kau tidak ada hak mengatur aku boleh berteman dengan siapa saja." ucap Elena sebelum meninggalkan Harry sendirian.
Harry menatap kepergian Elena dengan kecewa. Ia merasa bahwa saat ini Elena sudah terlalu jauh untuk bisa Ia miliki. Dia sangat menyesal dulu tidak pernah menghiraukan Elena, dan sekarang saat Elena sudah tidak ada perasaan untuk dirinya, dia baru menyadari bahwa kehadiran Elena sangat berarti untuk hidupnya.
Semua sudah terlambat, Dia sudah tidak menyukaimu.
...****************...