
Perjalanan pulang Elena tak membutuhkan waktu yang lama, dengan cepat Elena sudah tiba di rumahnya. Ia segera membersihkan rumahnya, kemudian menunggu kedatangan neneknya.
Sejak kecil, Elena begitu dekat dengan neneknya daripada orang tuanya. Elena tampak lebih akrab dengan neneknya.
Bel rumah berbunyi, menandakan jika neneknya telah tiba. Dengan senang hati, Elena bersemangat membuka pintu untuk menyambut neneknya.
"Neneeeeekkk..." kata Elena sembari memeluk erat neneknya.
"Uh, cucu nenek." balas neneknya dengan senyum bahagia di wajahnya.
"Elena kangen banget sama nenek."
"Nenek juga kangen banget sama kamu, nak."
"Bagaimana kabarnya, nek?" tanya Elena melepas pelukannya beralih menyeka air matanya.
"Alhamdulillah, baik-baik saja. Cuma kesepian nggak ada kamu, Elena."
Elena memeluk neneknya kembali. Selepas itu Elena mengajak neneknya masuk ke dalam.
"Nenek, istirahat dulu, ya. Elena buatin teh hangat dulu." kata Elena dengan perhatiannya.
"Nggak perlu repot-repot, El." jawab neneknya meminta.
"Neneeekkk, cuma buat minuman untuk nenek. Enggak berat, kok. Lagian nenek juga nggak merepotkan sama sekali." balas Elena merasa tidak keberatan.
"Yaudah, iya, Elena." balas neneknya tersenyum.
Elena pergi menuju dapur. Lima menit kemudian Elena membawakan segelas minuman untuk neneknya.
"Ini, nek. Segera diminum. Enggak panas, kok." kata Elena sembari meletakkan di meja depan neneknya duduk.
"Makasih, ya, nak."
Elena mengangguk dengan senyuman menghiasi wajah cantik Elena.
"Nenek mau Elena memasak apa?" tanya Elena hendak memasak buat neneknya.
"Cap cay, ya. Nanti Elena masakin buat nenek, ya?"
"Nenek boleh bantu?"
"Ini buatan Elena khusus untuk nenek. Jadi, nenek istirahat saja." kata Elena menyarankan.
Nenek tertawa melihat sikap cucunya, "kamu itu, loh, memangnya nenek di sini untuk duduk manis saja?" ujar nenek menggelengkan kepalanya.
"Elena tidak melarang nenek untuk beraktivitas. Tapi, ini masih hari pertama nenek di sini. Jadi, nenek istirahat saja dulu. Toh, nenek juga lama di perjalanan." kata Elena menjelaskan.
"Baiklah, nenek istirahat." jawab neneknya menyetujui.
"Yaudah, nek. Elena keluar dulu, ya. Belanja bahan-bahannya, karena stok di kulkas sudah habis." jelas Elena hendak pergi.
"Iya, hati-hati di jalan, ya." tambah nenek memperingatkan.
Rumah Elena tidak begitu jauh dengan pusat perbelanjaan. Tempat yang terjangkau, jadi dengan mudah untuk membeli berbagai kebutuhan. Elena segera memilih bahan-bahan yang dibutuhkan, lumayan banyak tapi tidak membutuhkan waktu lama bagi Elena. Segera saja Elena menuju kasir untuk membayarnya.
Bahan-bahan yang dibutuhkan Elena telah terpenuhi. Selesai membayar di kasir, Elena mengambil belanjaannya yang sudah dalam kantong plastik. Hendak Elena pergi meninggalkan tempat ini, Elena melihat Khenzo juga berada di sini. Sepertinya Khenzo juga sedang belanja kebutuhan dapur. Dilihatnya Khenzo tidak sendiri di sini, di samping Khenzo ada wanita yang sedang mengambil sayur, Khenzo membantu membawakannya. Elena teringat jika wanita itu yang pernah dilihatnya bersama Khenzo waktu lalu. Kenapa wanita itu selalu bersama Khenzo? Sedekat itukah mereka? Elena hendak memotret mereka berdua, tapi ponsel Elena tidak ada. Elena bingung mencarinya, mengingat di mana terakhir kali Elena menggunakan ponselnya.
"Oh, iya. Tadi aku menghubungi nenek dan tempatnya di...," kata Elena sembari berjalan mencari ponselnya.
"Iya, di situ." gumam Elena melihat ponselnya di tempat Khenzo berada, Elena tidak jadi mengambilnya.
Terdengar suara nada dering ponsel Elena. Khenzo dan wanita di sebelahnya tertuju pada ponsel itu, lalu melihat orang disekitar sini mencari siapa pemilik ponsel itu. Khenzo menatap Elena kaget. Elena segera berjalan menuju tempat ponselnya berada, di atas rak yang terdapat bahan-bahan dapur.
"Oh, ini ponsel kamu, ya?" tanya wanita itu tanpa mengetahui siapa Elena.
Elena hanya mengangguk dan segera menerima panggilan masuk pada ponselnya.
"Iya, nek. Ini Elena sudah selesai belanjanya. Sudah mau pulang, kok, nek." jawab Elena pada neneknya yang sedang menghubungi Elena.
Saat Khenzo hendak menyapa Elena, Elena sudah pergi. Khenzo mengerti, mungkin Elena beranggapan jika yang di sampingku ini sedang dekat denganku.
"Huft, kamu salah paham, El." batin Khenzo lirih.