ELENA

ELENA
26. Pelukan



“Kemarin kau mencari ku?” Tanya Elena kepada seorang laki-laki yang sedang duduk bersantai.


“Kau mengejutkan ku.” Luciano sedikit terkejut dengan kedatangan Elena, pasalnya Ia tidak melihat gadis itu latihan hari ini. Tapi kenapa tiba-tiba muncul disebelahnya.


Elena sedikit tersenyum melihat Luciano terkejut “Maafkan aku. Jadi ada apa?” lanjutnya sambal mengambil duduk disebelah Luciano.


“Aku hanya mengkhawatirkan mu, karena 3 hari kemarin aku tidak melihatmu.”


“Beberapa hari kemarin memang aku sedang focus belajar. Jadi aku meminta izin beberapa hari.”


“Kenapa tidak bicara padaku?”


“Ha?”


“Aku mengkhawatirkan mu, saat aku datang kerumahmu aku diberi tahu bahwa kau sedang di Rumah Sakit.”


“Aku hanya menjalankan pemeriksaan rutin saat itu, maaf kalua itu membuatmu khawatir.” Ucap Elena pelan sambal menyembunyikan perasaannya yang saat ini tidak karuan.


“Tidak, seharusnya tidak usah meminta maaf. Aku mengkhawatirkan mu hanya karena kau teman latihanku.”


Elena langsung mengangkat kepalanya tidak percaya dengan yang Ia dengar baru saja. Senyumnya hilang seketika dan jantungnya yang berdegup tak karuan karena perhatian Luciano tiba-tiba mendadak berdegup kencang karena rasa malu dan marah.


“Ah, begitu. Baiklah terima kasih sudah mengkhawatirkan ku. Lagi pula aku sudah meminta izin Maestro Phillip untuk tidak mengikuti latihan.” Elena segera bangkit dari duduknya dan pergi meninggalkan Luciano sendiri.


Luciano melihat kepergian Elena dengan nanar. Sebenarnya Dia ingin sekali menahan gadis itu agar tidak pergi dan tetap bersamanya untuk sementara waktu. Tetapi langkahnya terhenti Dia tidak bisa apa-apa, mengingat Elena sudah tidak bisa dimiliki.


*****


Saat ini Elena sedang duduk di tepi kasurnya, matanya melihat kosong kearah tembok. Dia sudah tidak bias menangis lagi setelah setengah hari menangis. Air matanya sudah kering. Di saat Elena sudah yakin bahwa hanya Luciano yang Ia inginkan, tetapi laki-laki itu malah menghancurkan harapannya.


“Sudahlah untuk apa menangisi laki-laki sialan itu.” Ucapnya pada diri sendiri sambal menyeka air matanya.


“Astaga aku berbicara apa.” Setelah Dia sadar kalua ucapannya begitu kasar. Elena segera merutuki kebodohannya dan memukul pelan mulutnya.


Ia segera menarik nafas dan turun kebawah. Matanya terlihat masih sembab tapi Ia tak ambil pusing dengan itu, Dia sudah menciptakan kebohongan yang sudah dipikirkan matang-matang.


Dan benar saja saat Ia sampai di ruang keluarga, Eleanor bertanya ada apa dengannya.


“Mata kakak kenapa?”


“Aku habis membaca buku.”


“Se sedih itu sampai kakak menangis?” tanyanya lagi.


“Iya, ceritanya sangat sedih. Sampai mataku tak bias berhenti menangis.”


“Aku juga ingin membacanya. Bisa pinjamkan kepadaku?” Ucap Eleanor dengan berharap.


Elena terkejut mendengar permintaan adiknya. Ia segera menoleh kepada Eleanor.


“Tumben sekali. Cara bicaramu kepadaku juga terlihat tidak seperti biasanya.” Elena ganti bertanya kepada sang Adik. Pasalnya Eleanor memang kalau berbicara tidak sopan seperti ini kepadanya.


“Aku ingin mencoba menjadi adik yang baik.” Ucapnya cukup serius.


“Oh jadi selama ini kau memang mengakui kalau kau bukan adik yang baik ya?” Tanya Elena menggoda.


“Banyak tanya. Sudah aku lelah berbicara denganmu.” Eleanor bangkit dari duduknya.


Elena tertawa puas melihat Eleanor yang marah. Setidaknya itu sudah cukup untuk menetralkan perasaanya.


“Sepertinya aku melewatkan sesuatu.” Suara wanita paruh baya menghentikan tawa Elena.


“Ibu.”


“Ada apa?”


“Itu Eleanor lucu sekali. Dia mengaku kalua dia bukan adik yang baik.” Elena kembali tertawa mengingat wajah merah padam Eleanor karena marah kepadanya.


“Senang ya bias menggoda adik sendiri?” tanya Ibunya.


“Tentu.”


“Kalian jangan sampai bertengkar.” ucap Ibu nya kembali sambil membuka koran diatas meja.


Ibunya hanya tersenyum menjawabnya sambil mengusap pelan tangan Elena yang melingkar di bahunya.


****


“Apa aku salah bicara ya pada Elena?” tanya Luciano dalam hati.


“Kurasa tidak, aku hanya menghargai calon tunangannya.”


Hal-hal itu lagi dan lagi mengganggu pikiran Luciano, saat ingin berbaikan malah Dia yang membuat Elena menjauh lagi. Pikirannya sedang kalut, dia benci dengan semua yang terjadi.


"Hei El-" ucapannya terhenti saat melihat Elena memalingkan wajahnya.


Luciano tetap mengikuti Elena tepat dibelakang gadis itu, sampai yang diikuti berhenti berjalan dan berbalik.


"Bisa berhenti mengikuti ku? Aku risih melihatmu."


"Tidak bisa, aku akan mengikuti mu sampai kau tidak marah kepadaku."


Elena hanya diam dan melanjutkan langkahnya. Luciano segera berjalan disebelahnya.


"Kau marah kepadaku?" tanyanya.


"Untuk apa aku marah kepadamu." jawab Elena ketus.


"Karena aku menyebutmu teman kan?"


Seketika Elena berhenti berjalan dan menatap tajam kearah Luciano.


"Jangan terlalu percaya diri."


Luciano terdiam sesaat mendengar jawaban Elena. Dia sesekali menghembuskan nafasnya berat. Elena tak ingin menunggu Luciano yang terlalu lama berbicara, Ia segera membalikkan badan dan hendak pergi meninggalkan Luciano yang masih dengan pikirannya sendiri.


Melihat Elena akan pergi, Luciano dengan cepat menahan tangan Elena.


"Sebenarnya saat itu aku ingin mengatakan bahwa aku sangat mengkhawatirkan mu." ucapnya sambil menundukkan kepalanya.


"Kau sudah mengatakannya kan? Lalu mau apa lagi?" ucap Elena sedikit emosi.


"Bukan hanya itu, aku juga ingin mengatakan bahwa aku merindukanmu."


Elena terdiam mendengar jawaban Luciano, perasaan yang tadinya hanya kesal dan marah mendadak perasaan itu menghilang dan menjadi hangat. Hanya itu yang ingin dengarkan dari Luciano, dia mengakui dia juga sangat merindukan laki-laki itu. Setelah sekian lama ia ingin melupakan laki-laki itu. Tetapi justru malah Dia tidak pernah berhasil melupakannya.


"Kenapa?" tanya Elena ditengah keheningan.


Luciano mendongakkan kepalanya dan meminta Elena untuk menjelaskan maksudnya.


"Kenapa baru sekarang mengatakannya? Aku sudah menunggu cukup lama, kenapa baru kau katakan." ucap Elena dengan bahu yabg sedikit bergetar. Iya, Elena menangis.


"Maafkan aku, aku takut merusak hubunganmu. Saat aku kembali aku hanya ingin bertemu denganmu, ketika aku mengetahui bahwa kau sudah memiliki calon tunangan, hatiku sungguh hancur saat itu. Dan saat melihatmu terlihat selalu menjauhiku membuatku mengurungkan niatku untuk berbicara kepadamu." jelas Luciano dengan panjang.


Hal itu membuat tangisan Elena semakin kencang, bahunya terlihat naik turun dengan cepat.


"Hei berhenti menangis, aku disini." ucap Luciano menenangkan.


"Aku boleh memelukmu?" tanyanya dengan ragu.


Elena melihat kearah laki-laki didepannya dengan tatapan tidak percaya. Bagaimana mungkin saat ini pun dia masih menanyakan hal itu.


"Kenapa harus bertanya."


Luciano segera memeluk Elena dan menenangkan gadis itu, berkali kali dia mengusap lembut kepala Elena. Sangat nyaman hingga Luciano enggan melepaskan nya. Ia merasa seperti pelukan yang dari dulu ia rindukan dari Ayah dan Ibunya ada dalam pelukan Elena.


Bahkan ketika Elena ingin melepaskan pelukannya, Luciano segera memper erat pelukannya dan tidak mengizinkan gadis itu untuk melepaskan pelukannya.


"Biarkan seperti ini sebentar." ucapnya lembut tepat di telinga Elena.


Saat ini yang aku butuhkan hanyalah pelukanmu, tetaplah seperti ini untuk sementara waktu.


...****************...