
RSU Kartika. Elena tiba di rumah sakit untuk membeli obat panas. Tanpa periksa ke dokter, Elena hanya membeli obat saja. Elena tidak betah lama-lama di rumah sakit, maka dari itu hanya membutuhkan obat saja. Lima menit kemudian pesanan Elena siap, Elena segera mengambil obatnya dan membayarnya.
Rumah Elena lumayan dekat dengan rumah sakit. Jarak dari rumah sakit tidak memakan waktu lama menuju rumah Elena.
Beberapa menit kemudian Elena tiba di rumahnya. Elena segera mengambil makan sebelum meminum obatnya. Dalam jangka waktu yang cukup lama, Elena merasa pusing. Mungkin karena efek dosis obat yang tinggi. Elena cukup lelah hingga akhirnya tertidur pulas.
Waktu menunjukkan pukul 04.35 AM. Elena mempersiapkan diri untuk ibadah shalat shubuh. Selesai shalat, Elena menyiapkan untuk berangkat kuliah nanti. Tidak lupa Elena membawa obat. Meskipun badan Elena masih terasa lelah, tetapi Elena tetap berangkat kuliah. Ketika Elena hendak membuka lemari, Elena melihat kotak kecil yang di dalamnya terdapat surat. Tak lain, Elena teringat kejadian tadi malam. Dari sikap Khenzo yang dingin dan cuek membuat Elena bingung. Namun, Elena tak mau ambil pusing. Karena apapun itu alasannya mereka sudah tidak ada hubungan yang dekat. Elena yakin, jika Khenzo pastinya sudah memiliki kehidupan yang baru.
Tak terasa waktu menunjukkan pukul 06.00 AM, saatnya Elena sarapan dan meminum obatnya. Tiba saatnya Elena berangkat kuliah, Elena pun bergegas mengendarai mobilnya.
Di perjalanan menuju kampus, Elena terjebak kemacetan. Mobil Elena berhenti selama lima belas menit. Elena hanya bisa diam mematung di dalam mobil. Saat Elena melihat mobil disebelahnya sepertinya tak asing lagi. Kaca jendela mobil Elena pun dibuka, mencoba memperhatikan dengan jelas. Tampak bukan hanya satu orang di dalam mobil itu. Disebelahnya terdapat wanita yang seumuran dengan Elena juga. Ternyata pengendara mobil itu adalah Khenzo. Lantas siapa wanita yang ada disebelahnya. Bagaimana tidak jika Elena menyimpulkan wanita itu adalah kekasih Khenzo. Jika bukan, atau mungkin yang sedang dekat dengan Khenzo. Pikiran Elena beralih pada surat yang diberikan dari Khenzo. Apa mungkin ini ada kaitannya dengan wanita itu. Apa coba, setelah sekian lama berpisah dan tiba-tiba memberi surat tanpa menjelaskan apa maksud dari surat itu. Lagian saat itu ada waktu untuk berbicara langsung. Jika tidak, kan, bisa bertemu lagi dilain waktu untuk membicarakan semuanya. Tak lama kemudian mobil Elena harus berjalan karena kemacetan sudah mulai berkurang.
Tiba di kampus, Elena segera turun dari mobil dan terburu-buru masuk karena jam sudah terlambat. Tepat berada di pintu depan, Elena tidak bisa masuk begitu saja. Ada senior yang menghentikan langkah Elena. Saat Elena tau apa yang akan dilakukan seniornya, Elena hanya menunduk. Tak lain, Elena pasti akan mendapatkan hukuman. Tepat berada di depan Elena, Elena sedikit melirik nama yang terpasang pada jas hitamnya. Aldrian Febrialdi. Elena melihat jelas namanya.
"Kenapa bisa terlambat?" tanyanya tegas tanpa basa-basi.
"Terjebak macet di jalan." jawab Elena menunduk.
"Berangkat terburu-buru?" tanyanya lagi.
"Tidak. Kemacetan hari ini tidak seperti biasanya." jawab Elena menjelaskan.
"Itu yang jatuh obat kamu?" tanyanya dengan menunjuk obat yang ada di bawah Elena, dekat kakinya.
Elena langsung melihat dan memastikan jika tasnya terbuka atau tidak, "eh, iya." jawab Elena hendak mengambil obatnya.
"Panas?" tanya senior itu yang mendahului saat Elena hendak mengambil obatnya.
"Iya, tadi malam." jawab Elena singkat.
"Hmmm... ini mungkin karena capek, hanya butuh istirahat saja. Tapi, sudah mendingan, kok." jawab Elena menjelaskan dan meyakinkan. Elena menyadari jika wajahnya terlihat pucat.
"Jangan banyak alasan. Istirahat saja di UKS. Kondisi kamu seperti ini terlihat jelas tak bisa menerima hukuman untuk melaksanakannya." kata senior itu dengan gaya bicara yang bukan semacam perhatian.
"Elena menurut, lalu menuju lantai dua dengan jalannya yang terlihat lemas. Seniornya mengikuti Elena, memastikan jika Elena baik-baik saja. Saat berjalan pada pertengahan tangga, penglihatan Elena memburam. Semakin lama hitam, pastinya Elena sudah tidak bisa menahan daya tahan tubuhnya. Lima menit kemudian Elena terjatuh mengguling. Segera saja Aldrian Febrialdi melakukan tindakan. Untuk itu, Elena cukup tidak parah lukanya. Seniornya segera membawa Elena untuk pengobatan luka ringan tangannya dan kepala bagian pelipis.
Aldrian Febrialdi pergi meninggalkan Elena. Tak membutuhkan waktu yang lama, Elena pun tersadar. Elena merasa pusing dan nyeri di tangannya.
Terdengar suara pintu terbuka. Dibawakannya secangkir teh hangat oleh Aldrian untuk Elena. Elena mengingat-ingat siapa orang itu. Melihat Elena bingung, seniornya segera memperkenalkan diri.
"Aku yang berada di pintu depan tadi. Namaku Aldrian Febrialdi, panggil saja Aldrian." ujarnya memperkenalkan diri.
"Nih, minum dulu tehnya," dengan menyodorkan teh hangat sembari membantu Elena duduk.
Elena pun meminumnya dan segera berbaring kembali. Tak banyak bicara, Elena hanya diam karena kondisi tubuhnya benar-benar lemas. Aldrian juga tak banyak bicara, dia memperhatikan Elena. Melihat kondisi tubuhnya, tak mungkin dia bertanya banyak pada Elena.
Waktu sudah cukup untuk menemani Elena istirahat. Saatnya Aldrian mengerjakan tugas yang ada di kampus, "kamu istirahat saja di sini. Aku pergi dulu mengerjakan tugasku. Nanti aku susul lagi ke sini." kata Aldrian menjelaskan.
Elena hanya mengangguk sebagai jawaban.
Hari sudah sore, Aldrian selesai mengerjakan tugasnya. Elena masih di tempat yang sama. Sesuai yang dikatakan Aldrian jika akan kembali menemui Elena untuk melihat keadaannya.
Aldrian tiba di UKS, segera saja melihat kondisi Elena, terlihat nyaman dalam tidurnya, "tetap juga cantik saat tidur," batinnya menatap Elena.
Aldrian memperhatikan betul kondisi Elena. Wajahnya tampak semakin pucat dari sebelumnya saat pagi tadi. Langsung saja Aldrian memastikan suhu tubuhnya. Badannya terasa panas. Tanpa bicara apapun, Aldrian segera membawa Elena ke rumah sakit.