
Pagi hari, semua guru dan siswa TK Bina Nusa yang didampingi oleh para orang tua, berkumpul di tempat diadakannya perlombaan. Elena sudah siap dengan seragamnya yaitu kaos lengan pendek berwarna kuning dengan bawahan celana cargo pendek berwarna hijau army. Sengaja ia meminta Anyelir untuk mengepang dua rambutnya. Begitu juga dengan Anyelir dan Ken yang tampak siap dengan kaos yang sama dengan yang dikenakan oleh Elena. Hanya saja, Ken memakai celana cargo pendek berwarna hitam, sedangkan Anyelir memakai celana cargo panjang berwarna cream. Mereka sengaja memakai baju yang sama khusus untuk hari perlombaan yang diadakan hari ini. Memakai baju kembaran merupakan ide dari Elena yang beralasan supaya kompak dan lucu. Beruntung, Elena memilih warna kuning untuk baju yang dikenakan untuk seragam, kalau saja warna yang dipilih itu warna pink, tentunya Ken akan dengan berat hati memakainya, karena walau bagaimanapun juga ia tidak ingin membuat kecewa buah hatinya yang sudah dengan antusias menyiapkan baju seragam untuk mereka.
"Elena siap?" tanya Anyelir pada putrinya yang tampak serius mendengarkan Bu Wati yang sedang menjelaskan mekanisme jalannya perlombaan.
"Siap!!" jawabnya dengan lantang.
Perlombaan pertama bertema gotong royong, yang mana lomba ini akan melibatkan siswa dan kedua orang tuanya. Pertama si ibu diminta mengisi air dalam ember yang sudah dilubangi di beberapa bagian, tugas si ibu adalah menjaga agar air tidak keluar dari lubang sehingga ember tetap akan terisi air sampai para ayah dan anak menyelesaikan tugasnya.
Untuk para ayah bertugas mendampingi dan membantu anak yang akan mengumpulkan bola dalam keranjang lalu berjalan melewati jembatan gantung yang terbuat dari papan kayu lalu mengambil bendera sebanyak-banyaknya yang ditempel disepanjang jembatan. Kemudian mereka di minta menyusun balok sesuai dengan gambar yang mereka dapat dari kertas yang akan dibagikan di awal perlombaan.
Bu Wati telah selesai menjelaskan cara melakukan lomba pertama. Elena pun telah menerima kertas yang di dalamnya ada gambar rumah yang artinya di akhir permainan Elena beserta papanya harus menyusun balok agar bisa berbentuk menjadi rumah. Waktu yang digunakan untuk perlombaan pertama ini adalah lima belas menit.
Pluit telah berbunyi, pertanda perlombaan dimulai. Anyelir segera mengisi air ke dalam ember miliknya hingga penuh, ia lalu berusaha menutupi lubang yang ada pada ember itu dengan kedua tangannya. Sedangkan Ken dan Elena kini tengah mengumpulkan bola dalam keranjang sebanyak-banyaknya. Setelah itu keranjang berisi bola akan diletakkan di atas meja yang telah diberi nama para siswa. Kemudian Ken menggendong Elena di atas kedua bahunya untuk naik ke atas jembatan kayu yang tingginya kira-kira dua meter. Setelah berhasil memijak salah satu kayu, Elena dengan hati-hati mulai berjalan dan mengambil bendera yang ditempelkan pada tali jembatan. Elena melepas satu persatu bendera yang dilaluinya lalu menjatuhkannya supaya Ken dapat mengumpulkannya. Elena tidak menghitung berapa jumlah bendera yang ia dapat yang terpenting ia bisa segera menyusun balok hingga menjadi rumah lalu segera menemui sang mama dan tugasnya akan selesai.
Elena berhasil melewati jembatan kayu yang bergantung itu lalu ia segera menuruni tangga yang terbuat dari tali yang dibuat seperti jaring laba-laba. Sesampainya di bawah, Elena berlari ke arah Ken untuk mengambil balok sesuai bentuk yang dibutuhkan untuk membuat bangunan rumah. Tampak beberapa siswa ada yang sedang bersusah payah menjaga keseimbangan melewati jembatan kayu, ada pula yang sudah menyusul Elena yang sedang menyusun balok beserta ayah mereka.
Elena tampak pesimis, karena bangunannya belum tampak seperti rumah. Beberapa balok yang dibutuhkan masih ia cari. Sedangkan Ken bertugas menyusun balok-balok tersebut tak lupa menyemangati putrinya.
"Ayo Elena! kamu bisa!" teriak Ken saat menyemangati buah hatinya.
Elena berhasil menemukan beberapa balok yang dibutuhkan, segera ia berlari ke arah Ken untuk menyerahkan balok-balok tersebut. Ken menerima kemudian menyusunnya dengan hati-hati.
"Cari yang berbentuk segitiga. Tiga buah ya," perintah Ken pada Elena.
Elena kemudian mencarinya, ia sudah menemukan dua buah kurang satu buah lagi. Tadinya ia ingin menangis karena ia sudah berpikir pasti akan gagal. Namun ia teringat akan perkataan Anyelir padanya saat sebelum tidur. Seketika semangatnya bangkit. Akhirnya ia menemukan apa yang dicarinya. Bergegas menuju papanya lalu memberikannya untuk disusun. Setelah selesai mereka berlari ke arah Anyelir untuk membunyikan lonceng pertanda ia telah selesai melakukan tugasnya. Disusul beberapa anak lainnya yang juga tampak sudah menyelesaikan lombanya.
Berlanjut ke lomba kedua, ketiga dan terakhir. Sepertinya Elena sudah bisa menebak, siapa yang akan menjadi juara umum pada perlombaan kali ini. Senyum ceria terukir di wajah cantik Elena saat namanya disebut untuk naik ke atas panggung guna menerima medali tanda juara perlombaan.
Elena meraih lima medali sekaligus. Empat medali diraih atas juara pertama masingmasing dari ke empat perlombaan, dan satu medali lagi merupakan medali atas juara umum.
"Anak Mama memang hebat," ucap Anyelir saat Elena menghampirinya setelah menerima medali di atas panggung.
"Mama juga hebat. Berkat Mama aku jadi semangat," jawab anak perempuan yang dikepang dua itu.
"Mama doang nih yang hebat, yang bikin semangat. Papa engga?" ledek Ken pada putrinya.
Elena mendekat dan mengulurkan tangannya pada pria tampan yang tampak berkeringat, karena kegiatan menyenangkan yang dilakukannya hari ini. Ken menggendong Elena lalu mengecup kedua pipi chubby putrinya.
Mendengar ungkapan sang buah hati, tak terasa pemandangannya mengabur karena genangan air yang menumpuk pada kedua bola matanya. Hatinya bagai taman yang sedang ditumbuhi bunga-bunga yang bermekaran. Ken tidak menyangka, bahwa ia akan merasakan momen seperti ini. Momen dimana ungkapan cinta dan kasih dari seorang anak kepada ayahnya, dan kata-kata itu ditujukan padanya.
***
Mereka kini dalam perjalanan pulang. Elena memilih ikut di mobil bersama Ken dan Anyelir. Sepertinya karena kelelahan, Elena tertidur di kursi belakang selama perjalanan.
"Kalau lelah istirahat saja dulu. Biar aku yang menggantikanmu menyetir," ujar Anyelir.
"Tidak apa. Lelahku akan hilang yang penting tangan ini jangan pernah lepas," ucap Ken sambil menunjukan tangannya yang bertautan dengan tangan Anyelir.
Anyelir mengulum senyumnya saat Ken membawa tangannya untuk dihadiahi kecupan yang mendarat di punggung tangannya.
"Siapkan diri dan waktumu minggu depan," ucap Ken pada wanita cantik di sampingnya.
"Untuk apa? tanya Anyelir curiga.
"Mami sama papi ingin ke rumah untuk melamar kamu secara resmi," jawab Ken dengan santainya.
Sedangkan Anyelir justru gelisah dan merasa sedih secara bersamaan.
❤️❤️❤️❤️
Hai....Elena kembali nih membawa banyak medali🏅🏅🏅
Semoga suka dengan part ini
Jangan lupa tinggalkan jejak kalian berupa like, komen, vote, dan hadiah yang banyak
Jangan lupa klik favorit supaya kalian tau kalau novel ini update
Mohon maaf atas segala kekurangan 🙏🙏
Sampai jumpa di part selanjutnya
Terima kasih 😘😘😍 😍