ELENA

ELENA
Part 6



Elena tiba di rumahnya. Ia memarkirkan mobilnya di depan rumah. Waktu menunjukkan pukul empat sore, ia segera memasak untuk makan malam nanti.


"Kamu pintar memasak juga, ya. Nggak beda sama ibu kamu, loh, El." kata neneknya memuji.


"Iya, nek. Bisa memasak juga belajar sendiri, kok." ujar Elena tertawa samar.


"Kamu jangan berhenti berdoa, ya. Semoga orang tua kamu tetap akur. Nenek sedikit khawatir. Sekarang, kan, bisnis ayah kamu berjalan dengan lancar. Ibu kamu pun juga sama. Pasti ada ujiannya yang lebih besar dari sebelumnya. Apalagi sejak kamu kecil, mereka sering bertengkar." kata nenek merasa sedih.


"Iya, nek. Elena selalu berdoa yang terbaik untuk mereka." jawab Elena tersenyum.


"Nek, sebenarnya Elena lebih nyaman dengan hidup yang sederhana dan kasih sayang mereka tetap ada buat Elena. Ya, bukannya Elena tidak bisa menerima semua ini. Tapi, yang Elena butuhkan itu mereka ada buat Elena. Dalam hal kecil apapun itu, Elena begitu bersyukur, nek." tambah Elena tampak sedih.


"Semua orang memiliki jalan hidup yang berbeda. Saat kamu melihat itu tidak sama dengan mereka, karena kamu bukan mereka. Kamu adalah kamu yang mengerti arti hidupmu dengan jalan hidupmu sendiri. Bagian dari hidup adalah kamu yang pandai bersyukur." kata nenek menasehati Elena.


"Iya, Nek. Elena bersyukur karena Elena mempunyai nenek yang selalu menguatkan Elena."


Sembari berbincang-bincang dengan nenek. Masakan Elena sudah matang. Kini saatnya Elena memindahkan ke meja makan.


Waktu sudah petang, tiba saatnya Elena dan nenek makan bersama.


"Masakan kamu enak, loh, El. Nenek suka, deh." kata nenek memuji Elena.


"Makasih, ya, nak." tambahnya merasa bahagia.


"Sama-sama, Nek. Besok Elena masakin lagi, ya?" pinta Elena


"Memangnya kamu nggak pengen mencicipi masakan nenek? Sudah lama, loh, nggak makan masakan nenek." tanya nenek merasa diharapkan.


"Iya. Rindu banget malah." kata Elena tersenyum.


Elena segera mencuci piring setelah selesai memakan hidangan bersama neneknya.


Selang beberapa waktu, Elena sudah di kamarnya. Hanya merebahkan badannya yang lumayan capek sedari tadi tidak berhenti melakukan aktivitas. Namun, Elena banyak merasakan bahagia akan kehadiran neneknya. Jadi, segala penat berubah menjadi perasaan senang.


Satu jam Elena merebahkan badannya. Elena jadi ingin tidur. Sebelumnya Elena mengganti pakaian yang dikenakannya.


Merasa tak ada beban pada Elena, dengan mudah Elena tidur sangat nyenyak.


Waktu menunjukkan pukul lima pagi. Elena belum bangun dari tidurnya. Terlihat lelap saat Elena tidur.


"Eeelll..." panggil nenek mengetuk pintu kamar Elena.


"Siap-siap berangkat kuliah, El. Kamu berangkat pagi, loh. Nanti kesiangan berangkatnya."


Nenek segera membuka pintu kamar Elena ketika belum ada jawaban sebagai tanda jika Elena sudah bangun.


"Elena, bangun, nak." kata nenek membangunkannya.


"Ngantuk banget, Nek." jawab Elena dengan mata yang masih tertutup.


Buruan siap-siap berangkat. Kamu kesiangan, loh, nanti kamu telat." kata nenek memperingatkan.


"Elena nggak kuliah saja, Nek." jawab Elena tak ada semangat dalam dirinya.


"Loh, kenapa?"


"Hari ini sama nenek dulu. Elena pengen keluar sama nenek. Boleh, ya, nek?" pinta Elena memohon.


"Terus kuliahnya?" tanya nenek memastikan.


"Elena masuk besok. Lagian jadwal Elena tidak terlalu padat, kok, nek." jawab Elena sembari merapikan tempat tidurnya.


"Yaudah, kalo gitu." balas nenek menyetujui.


"Memangnya mau keluar ke mana, El?" tambah nenek bertanya.


"Ya, jalan-jalan, Nek. Mengelilingi kota. Kan, suasananya beda kalo perginya sama nenek." jawab Elena nampak gembira.


Nenek tersenyum melihat cucunya yang sudah dewasa ini.


"Iya, kamu mandi sana!" perintah neneknya berjalan keluar dari kamar Elena.


"Siap, Nek." jawab Elena bersemangat.


Nenek pun segera bersiap-siap untuk pergi keluar dengan Elena.


"Nek, Elena sudah siap, nih. Nenek sudah siap apa belum?" tanya Elena setelah sepuluh menit dari kamar mandi.


"Sudah, El. Bentar, nenek lagi mencari tas nenek, nih."


"Aku tunggu di luar, ya, Nek." kata Elena sembari menuju keluar rumahnya.


"Iya, El." jawab nenek seru.


Lima menit kemudian nenek sudah berada di luar. Tandanya mereka sudah siap berangkat. Mobil Elena yang sedari tadi dipanasi pun kini siap untuk melaju. Ia bergegas mengendarai mobilnya.


"Nek, sarapan di luar saja, ya. Tadi Elena, kan, bangunannya kesiangan. Jadi, nggak sempat nyiapin sarapan buat nenek." ujar Elena menjelaskan


"Iya, El."


"Eh, warung favorit nenek dulu, sampai sekarang masih jualan, ya?" tambah nenek bertanya.


"Oh, itu. Setau Elena jarang buka, sih, Nek. Tapi, coba saja ke situ." jawab Elena mengerti jika neneknya ingin ke warung itu. Warung favorit neneknya yang setiap menu makanan hampir disukai.


Mobil Elena melaju ke tempat warung itu berada.


Warung Bu Siti. Elena dan neneknya tiba di warung yang dituju. Segera saja Elena memesan makanan.


Seperti biasa, Bu Siti menghidangkan makanan dengan cepat dan ramah. Tak dihiraukan jika warung ini memiliki banyak pelanggan.


Elena dan neneknya segera memakan apa yang dipesannya tadi. Tak ada yang diperbincangkan selama mereka sarapan. Jadi, dalam waktu yang tidak lama Elena dan neneknya telah menghabiskan hidangannya. Elena pun segera membayarnya.


"Nek, Elena pengen ke taman yang dulu waktu Elena masih kecil sering pergi ke taman itu. Ke sana saja, ya, Nek?" pinta Elena agar neneknya menyetujui.


"Iya. Nenek juga rindu akan hal-hal kecil dulu." jawab nenek teringat masa lalunya.


"Elena rindu semuanya, Nek."


Tak terasa mereka sudah berada di taman, karena selama di perjalanan banyak yang diperbincangkan oleh Elena dan neneknya. Kemudian mereka segera turun dari mobil.


Tempat ini masih sama. Tak ada yang berubah dari sepuluh tahun yang lalu. Satu per satu pikiran Elena mengurai masa lalunya. Kenangan hangat tersimpan baik di memori Elena. Tak ada sedikit pun yang bisa dilupakan Elena. Sudah lama Elena tidak ke taman ini. Mungkin karena satu alasan yang membuatnya menjauh dari tempat-tempat yang terdapat banyak cerita di dalamnya. Hal ini terjadi karena semenjak Elena dekat dengan Khenzo.


"Elena, duduk di bawah pohon itu, ya" kata neneknya meminta dengan menunjuk tempat itu.


"Oh, iya, Nek."


Mereka duduk di bawah pohon yang teduh. Terlihat Elena dan neneknya memperbincangkan sesuatu.


"Nek, ayah sama ibu masih lama di sana, ya?" tanya Elena terlihat murung.


"Dalam waktu yang cepat mungkin sekitar lima bulanan. Tapi, jika tepat hari itu tidak jadi. Ya, mungkin ditunda jadi tahun depan."


"Oh." jawab Elena singkat.


"Kamu pengen mereka segera pulang, ya?" tanya nenek mencoba mengerti.


"Kangen banget, Nek." jawab Elena memelas.


"Kalo kamu ada masalah dan butuh tempat cerita, kamu bisa cerita ke nenek atau yang sedang dekat dengan kamu, El." ujar nenek menyarankan.


"Iya, Nek. Kalo soal permasalahan, Elena bisa menghadapinya sendiri."


Elena membalasnya dengan senyuman.


"Membicarakan tentang masa depan kamu. Sudah ada yang dekat dengan kamu, atau bisa jadi sudah menjadi calon kamu, El?" tanya nenek ingin mengerti.


"Elena tidak terlalu memikirkan hal itu, Nek. Fokus ke kuliahnya dulu." jelas Elena sederhana tanpa menceritakan apapun.


"Ada yang sedang dekat dengan Elena atau tidak? Siapa tau dikenalin ke nenek. Kan, calon buat cucu nenek." tanya nenek penasaran.


Elena diam saja. Dia bingung bagaimana menjawab pertanyaan ini. Elena merasa hubungannya tidak jelas. Namun, hubungan mereka tidak bisa dikatakan berakhir. Perasaan Elena semakin merasa digantung. Apalagi belakangan ini saat Elena melihat Khenzo selalu bersama wanita yang Elena juga tidak mengenalnya.


"El?" panggil neneknya.


"Eh, bagaimana, Nek?" jawab Elena sontak kaget.


"Kamu kenapa, El? Raut wajah kamu, kok, kelihatan banyak beban." tanya nenek agar Elena bisa menceritakan.


"E-enggak, kok, Nek." jawab Elena merasa kebingungan.


Neneknya memahami Elena jika tidak mau bercerita. Mungkin belum saatnya yang tepat.


"Di sini rame banget, ya, El. Dulu, tuh, nggak serame saat ini." kata nenek mencoba mengalihkan topik sebelumnya.


"Iya, Nek. Banyak anak kecil di sini. Bukan hanya anak kecil saja, sih. Orang dewasa pun juga banyak." balas Elena sembari memperhatikan keramaian disekitarnya.


"Tempatnya juga mendukung. Bikin tenang dan nyaman kalo di sini." tambah neneknya berpendapat.


"Nek," panggil Elena hendak bertanya.


"Iya?"


"Nenek nggak terburu-buru pulang, kan?" tanya Elena ingin tau.


"Nenek berkunjung ke sini sekitar satu mingguan. Sebenarnya pengen lama-lama di rumah kamu, El. Tapi, berhubung nenek harus mengendalikan para pekerja di rumah, jadi harus segera pulang. Kalo nggak gitu, usaha nenek nggak berjalan dengan lancar. Toh, sekarang yang mengatur semuanya nenek. Ya, semenjak kakek kamu nggak ada." jawab nenek menjelaskan.


"Kamu tenang saja, Elena. Nenek bakal balik lagi ke sini. Kalo nggak gitu, waktu liburan kamu juga bisa pulang ke rumah nenek." tambah nenek menyarankan.


"Iya, Nek. Elena balik ke rumah nenek saja, deh. Lagian nenek juga sudah datang ke rumah Elena." ujar Elena nampak tak terlihat sedih.


Nenek pun membalas dengan senyuman.


"Elena, nenek pengen pulang, nih. Badan nenek terasa pegal-pegal. Dari tadi duduk mulu. Sebelumnya nenek juga ngerasa capek, sih." ajak nenek tiba-tiba.


"Yaudah, ayo, Nek. Elena juga pengen merebahkan badan." jawab Elena setuju.


Mereka meninggalkan tempat ini dan bergegas pulang ke rumah.


Membutuhkan waktu sekitar dua puluh menit di perjalanan. Elena dan neneknya sudah tiba di rumah.


Elena hendak pergi ke dapur. Membuat minuman hangat untuk dirinya.


"Nek, Elena buat minuman, nih. Nenek mau, kan?" tanya Elena dari dapur.


"Enggak, Elena. Kamu pasti buat minuman dingin, kan."


"Elena buat minuman hangat, Nek. Ini perut Elena nggak enak. Mungkin Elena masuk angin, nih." jelas Elena.


"Minum obat, loh, El."


"Iya, nanti, Nek. Aku buatin minuman hangat juga buat nenek." kata Elena sembari mengambil dua buah gelas di rak.


Elena menuju meja makan setelah selesai membuat minuman hangat. Segelas teh ia berikan untuk neneknya dan yang satunya untuk diminum Elena sendiri.


"Ini, Nek. Diminum, ya." ujar Elena dengan menyuguhkan minuman yang diberikan untuk neneknya.


"Makasih, ya, Nak."


"Iya, Nek. Jangan lupa setelah ini nenek istirahat, ya." kata Elena mengingatkan.


"Kamu juga istirahat, loh." pinta nenek balik.


Sendiri, merenung, sepi. Sibuk dengan pikirannya. Bola matanya yang bulat tertuju menatap indah tenggelamnya matahari. Elena berada di lantai atas, seperti biasa senja adalah keindahan yang tidak bisa dilewatkan Elena, menjadi rutinitas yang harus dilihat akan kepergiannya. Hingga keesokan harinya dengan setia menunggu kedatangannya kembali.


"Elena," panggil nenek seru mencari keberadaan Elena.


"Eeelll," panggilnya terdengar jelas.


"Iya. Elena di atas, Nek. Bentar, ini mau turun." jawab Elena hendak turun.


"Lihat senja, ya?" tanya nenek mengerti kebiasaan Elena.


Elena tersenyum.


"Iya, Nek."


"Kalo sudah petang segera masuk dan Shalat Maghrib, ya." kata nenek mengingatkan.


"Iya. Elena ambil air wudhu dulu, ya."


"Yaudah, sana!"


Waktu menandakan saatnya Elena dan neneknya untuk makan malam. Menu makanan hari ini special buatan nenek untuk Elena. Sebagian pekerjaan dibantu Elena. Elena melakukan tugas yang ringan saja. Karena pinta neneknya, Elena tidak boleh terlalu ikut campur tangan.


Beberapa menit kemudian makanan sudah siap di meja makan. Elena segera mengambil porsi makannya yang dibuatkan khusus dari neneknya.


"Enak banget, Nek. Makanan buatan nenek itu ciri khas banget." ujar Elena menikmati masakan buatan nenek.


"Iya, dong. Namanya juga special. Jadi, semuanya harus pas dan nggak boleh ada yang kurang." balas nenek menjelaskan.


Elena membalas dengan senyuman. Kemudian mereka memakannya hingga tak ada yang tersisa di meja makan.


Elena segera mencuci semua yang ada di meja makan. Tidak terlalu banyak, hanya milik Elena dan nenek.


"Elena, nanti kamu tidurnya jangan malam-malam, ya. Segera istirahat jangan banyak begadang." pesan nenek hendak meninggalkan Elena menuju ruang tengah.


"Iya, Nek." jawab Elena seru hingga terdengar diseluruh ruangan rumah Elena.


Waktu menunjukkan pukul sembilan malam. Elena berada di luar yang tidak jauh dari kamarnya. Memandangi luasnya langit dengan banyak bintang berkelip. Digenggaman tangan Elena terdapat surat terbungkus dengan kotak kecil yang menutupi. Tetap ia genggam tanpa ingin membukanya. Yang ada hanya rasa takut hendak Elena ingin membuka surat itu.


"Elena, kamu di mana, Nak?" panggil neneknya mencari.


"Eh, nenek. Elena dari luar, Nek. Cari angin." jawab Elena hendak memasuki kamarnya.


"Dingin-dingin begini, loh, nggak baik." kata nenek mengingatkan.


"Iya, Nek. Tadi nggak lama, kok."


"Nenek belum tidur juga?"


"Nenek tadi mau tidur. Ya, sebelum tidur lihat kamu dulu. Memastikan sudah tidur apa belum. Eh, ternyata belum juga."


"Ini Elena mau tidur, Nek." ujar Elena sembari menutup tirai jendelanya.


"Yaudah, nenek pergi mau tidur juga."


"Iya, Nek."


"Awas, loh. Besok bangunnya jangan sampai kesiangan." tambah nenek memperingatkan.


"Iya. Elena juga nyalain alarm, kok." jawab Elena santai.