ELENA

ELENA
Sedikit lebih dekat



Anyelir menggeliat, ia mencoba membuka perlahan matanya yang terpejam entah sudah berapa lama. Namun, segera ia menutup kembali matanya ketika cahaya matahari dari balik jendela menyapa penglihatannya.


"Sudah bangun?" suara bariton menyapa indera pendengarnya. Anyelir segera menoleh ke sumber suara. Di sana Ken tampak hanya mengenakan handuk sebatas pinggang. Dada bidangnya ia biarkan terekspos dengan sempurna. Belum lagi rambut yang sedikit basah membuat Anyelir tanpa sadar menelan ludahnya.


Ken mendekati Anyelir karena dilihatnya, ibu dari anaknya itu diam saja tidak memberikan respon. Ken melambaikan tangannya di depan wajah wanita yang tetap terlihat cantik meskipun baru bangun tidur.


Anyelir tersadar sekaligus kaget. Ia pun reflek menepis tangan Ken.


"Ngapain kamu di sini!?" tanyanya sinis.


"Ini kamarku, jadi aku bebas melakukan apapun di sini. setelah mandi, aku lihat kamu sudah bangun. Maka dari itu aku tanya, eh tapi kamu malah melamun," jawab Ken.


"Pakai bajumu!" perintah Anyelir sambil memalingkan wajahnya.


Ken tersenyum. "Kenapa? bukannya tadi kamu sempat mengagumi tubuh ini kan? Silahkan pandangi dengan puas, aku kasih gratis kok." Ken sengaja menggoda Anyelir. Ia tahu Anyelir malu melihatnya hanya memakai handuk sebatas pinggang.


"Cepatlah Ken!" ucapnya lagi.


"Ok ok." Ken menyerah, kemudian ia berjalan menuju walk in closet.


Melihat Ken sudah tidak ada di hadapannya, Anyelir mengedarkan pandangannya. Ia mencari keberadaan Elena karena ia sadar kini tidak sedang berada di kamarnya.


Semalam setelah mendapat telpon dari Elena yang mana hanya suara tangisnya yang ia dengar, Anyelir segera ke rumah Ken. Saat itu Elena takut dengan suara petir, karena biasanya saat mendengar suara petir Anyelir langsung menemani Elena tidur. Sedangkan semalam Elena tidur di kamar Ken, tapi setelah Elena terlelap, Ken kembali menyelesaikan pekerjaannya yang masih tertunda di ruang kerjanya, sehingga saat mendengar suara petir, Elena tidak mendapati siapa pun di sekitarnya, alhasil ia menelpon Anyelir melalui ponsel Ken yang tergeletak di nakas.


Karena sudah cukup larut malam, sehingga Ken meminta Anyelir menginap saja dan tidur bersama dengan Elena di kamar Ken tentunya. Sedangkan Ken sendiri tidur di kamar tamu. Maka tak heran apabila pagi ini ketika bangun tidur Anyelir mendapati Ken di dalam kamar ini.


"Melamun?" tanya Ken mengagetkan Anyelir.


"Di mana Elena?" Anyelir balik bertanya untuk menutupi rasa gugupnya.


"Ada sama Mami. Katanya mau bantu Mami siapin sarapan," jawab Ken.


Ken terlihat sangat tampan padahal hanya menggunakan kaos rumahan dan celana pendek saja. Tapi terlihat makin mempesona di mata Anyelir.


Anyelir turun dari ranjang. "Boleh aku pinjam kamar mandi?"


"Ya silahkan. Handuk, baju ganti dan yang lainnya sudah aku siapkan," ujar Ken sambil menyisir rapi rambutnya di depan cermin.


"Tidak. Aku hanya ingin cuci muka," jawab Anyelir.


"Lebih baik sekalian mandi. Setelah ini aku ingin mengajak kalian ke suatu tempat."


"Tapi aku tidak bawa baju ganti."


"Sudah aku katakan, semuanya sudah tersedia termasuk ... pakaian dalam."


"Memangnya kamu tahu ukuran milikku?!"


Ken menyeringai memandang Anyelir dari balik bahunya. "Aku sudah memastikannya semalam ... ouch." Pukulan cukup keras meluncur di punggung Ken. "Sakit Nye."


"Apa kamu bilang?" ucap Anyelir sambil terus memukuli Ken dengan brutal.


"Stop stop! Aku bercanda." Setelah Ken mengatakan itu barulah Anyelir berhenti memukuli pria yang telah membuat pipinya semerah tomat.


"Tolong jangan salah paham. Setelah Elena menginap pertama kali, aku pikir supaya praktis aku siapkan saja baju dan keperluan Elena yang lain di rumah ini, jadi sewaktu-waktu menginap tidak perlu membawa ganti. Saat membeli semua keperluan Elena aku pun teringat kamu, maka dari itu aku membeli beberapa baju berikut **********. Karena aku enggak tahu ukurannya, maka aku beli beberapa dengan ukuran yang berbeda." ucap Ken panjang lebar.


Pipi Anyelir sudah sangat merah bahkan mungkin ungu saking malunya mendengarkan penjelasan Ken. Bisa-bisanya Ken menyiapkan keperluannya hingga pakaian dalam.


"Sudah tidak perlu malu begitu. Aku bahkan sudah pernah memegangnya mungkin, walaupun dalam keadaan setengah sadar. Maafkan aku," ujar Ken penuh sesal.


"Aku pakai kamar mandinya," ucap Anyelir cepat, lalu segera melesat masuk ke kamar mandi dan segera menutup pintu kamar mandi dengan kencang.


Setelah menutup pintu, Anyelir bersandar di belakang pintu itu. Ia sedang mencoba menormalkan kinerja detak jantungnya yang sangat tidak beraturan. Berhadapan dengan Ken seperti tadi membuat jantungnya ribut.


Segera ia mandi setelah mendengar teriakan Ken dari balik pintu.


"Mandi yang bersih. Kami tunggu di ruang makan!" teriak Ken.


***


"Pagi Mi, pagi Sayang," ucap Ken pada Carol dan Elena di dapur.


"Sudah. sedang mandi Sayang," jawab Ken sambil mencium puncak kepala putrinya.


"Kamu mau jus atau susu Ken?" tanya Carol yang sedang menyiapkan susu untuk Elena.


"Kita sarapannya apa pagi ini Ma?"


"Ditanya bukannya langsung jawab malah balik bertanya," ucap Carol.


"Hehe. Tadi Mami kan tanya mau jus atau susu, Ken harus tahu dulu sarapan apa pagi ini, kalau nasi Ken minta jus."


"Mami buat sandwich dan onigiri."


"Aku mau susu kalau begitu," ucap Ken cepat.


"Pagi," ucap Anyelir pelan. Sekarang ia sudah mandi dan tampak begitu cantik dengan baju yang ia pakai, meskipun tidak ada polesan make up di wajahnya. Ken senang akhirnya Anyelir mau memakai baju yang telah Ken siapkan.


"Pagi Ma."


"Pagi."


"Pagi Anye."


Mereka bertiga kompak membalas salam Anyelir. Anyelir berjalan menghampiri Carol.


"Maaf Tante, karena bangun telat jadinya Tante yang membuatkan susu untuk Elena."


"Mulai sekarang panggil Mami," perintah Carol.


"Baik Tan ... eh Mami."


Ken tersenyum mendengar itu. Hatinya menghangat ketika maminya mau membuka hatinya untuk Elena dan Anyelir.


"Ya sudah, ayok kita langsung saja ke meja makan. Mami sudah siapkan sandwich dan onigiri."


"Maaf Mami jadi merepotkan, mungkin kami langsung pulang saja," ucap Anyelir.


"Mama," ucap Elena memelas.


"Kamu tidak mau menghargai Mami yang sudah menyiapkan ini dari pagi?" tanya Carol.


"Bukan begitu. Ka ...."


"Sudah-sudah. Tidak ada penolakan." Carol langsung meraih tangan Anyelir lalu digandengnya menuju ruang makan.


"Nah, sekarang kamu duduk di sini. Nikmati sarapanmu." Carol menyeret salah satu kursi lalu mendudukan Anyelir di sana.


Setelahnya baru Carol duduk di seberangnya. Elena duduk di sebelah kiri Carol, sedangkan Ken duduk di kursi utama.


"Kamu mau apa Sayang?" tanya Carol pada Elena.


"Biar Anye saja Mam," ucap Anyelir yang siap mengambilkan apa yang Elena mau.


"Kamu sarapan saja yang banyak. Biar ada tenaga. Elena biar Mami yang urus. Lagi pula ini tidak merepotkan," ucap Carol lalu mengambilkan apa yang diinginkan Elena.


Mereka pun akhirnya sarapan dengan tenang, tentu saja diselingi tawa karena tingkah dan juga ocehan Elena.


❤️❤️❤️


Akhirnya mereka seperti keluarga sungguhan ya 🤭🤭


Maaf ya kemarin gak update....kira-kira hari ini mau double up enggak nih?


Terima kasih yang masih setia mengikuti cerita ini...


Sedikit dukungan dari kalian sangat berharga buat aku 😍


Ayo biar aku semangat update


kasih like, dan komentar yang banyak ya