
Setelah sarapan, Ken mengajak Carol, Anyelir, serta Elena pergi ke suatu tempat. Kini mereka dalam perjalanan dengan Ken yang memegang kemudi dan Anyelir duduk di sampingnya.
Sebenarnya Anyelir tadi ingin duduk di belakang, tapi Carol memaksanya untuk duduk di depan, sedangkan dibelakang ditempati olehnya dan Elena.
Selama perjalanan, Anyelir banyak diam sesekali tersenyum apabila putrinya sudah berbuat ulah yang membuat mereka semua tertawa.
"Papa kita mau pergi ke mana sih?" tanya Elena yang sudah merasa bosan karena sudah satu jam lebih mereka belum sampai ke tempat tujuan.
Sebenarnya perjalanan bisa ditempuh dengan waktu tidak sampai satu jam. Namun, karena kota Jakarta terkenal dengan kemacetannya, apalagi mereka pergi saat weekend begini sudah pasti padat merayap jalanan disinggahi oleh kendaraan.
"Sabar Sayang, sebentar lagi sampai kok," jawab Ken sambil melihat putrinya melalui spion tengah tapi tetap fokus mengemudi.
"Kamu mau ajak kita piknik atau apa Ken?" tanya Carol yang ikut kesal juga.
"Bukan piknik sih, Ken cuma ingin memberikan kado spesial untuk putri Papa yang cantik."
"Kenapa Elena dapat kado? Elena enggak sedang ulang tahun."
"Anggap saja kado ulang tahun yang telat. Maaf ya Sayang, Papa belum pernah ikut merayakan ulang tahun kamu," ucap Ken dengan penuh sesal sambil melirik ke arah Anyelir dan Elena bergantian.
"Elena belum pernah ngerayain ulang tahun," ucapnya lirih.
"Kenapa memangnya Sayang?" tanya Carol penasaran. Karena kalau mengenai biaya pesta ia yakin pasti Anyelir bisa mengatasinya, bahkan ia yakin ibu dari cucunya itu bisa membuatkan pesta yang sangat meriah untuk Elena.
Elena melihat ke arah Anyelir terlebih dulu sebelum bicara. "Ehmmm ... Elena ingin enggak hanya merayakan berdua mama tapi, juga bareng papa. Meskipun saat itu Elena belum tau di mana papa berada tapi Elena yakin suatu hari nanti pasti bertemu. Jadi, saat hari ulang tahun Elena, kami lewati seperti hari-hari biasanya." Ada jeda sejenak sebelum ia melanjutkan ucapannya.
"Aku tetap senang karena setiap hari Mama selalu memberi Elena hadiah, dari hadiah yang kecil sampai hadiah yang tidak ternilai harganya. Mama selalu membuat masakan dan kue yang enak-enak setiap hari untukku, Mama juga selalu membelikan baju dan sepatu atau apa pun yang aku minta, Mama juga selalu sabar dan sayang sama aku," ucap Elena dengan mata berkaca-kaca.
Elena lalu menghambur memeluk Anyelir dari belakang. "Terima kasih Ma, sudah mau merawat dan menyayangi Elena," ucapnya diiringi Isak tangis.
Mendengar penuturan dan juga mendapat dekapan hangat dari sang buah hati membuat hatinya nyeri sekaligus berbunga-bunga.
Carol serta Ken melihat ketulusan cinta diantara keduanya. Ada rasa sesal dan sedih bercampur dalam hati Ken setelah mendengar penuturan Elena. Mengapa Tuhan tidak mempertemukan mereka sejak dulu.
***
Kini mereka telah tiba di lokasi tujuan. Saat keluar dari mobil, yang pertama kali mereka lihat adalah sebuah bangunan seperti museum yang masih dalam tahap pembangunan.
"Tempat apa ini?" tanya Anyelir.
Tak hanya Anyelir, Elena dan Carol pun merasa penasaran, untuk apa jauh-jauh mengunjungi sebuah bangunan yang masih belum selesai ini.
Ken menghampiri Elena dan menggendongnya. "Ini hadiah dari Papa untuk putri Papa yang cantik dan pintar."
Elena yang tidak mengerti maksud Ken hanya bisa diam, sambil sesekali melihat ke arah bangunan.
"Kamu mau memberikan rumah untuk Elena? Tapi, sepertinya ini bukan rumah," ujar Carol.
"Ini memang bukan rumah. Tempat ini nantinya akan Ken beri nama ER Gallery. ER diambil dari nama Elena Rose."
"Jadi, tempat ini nantinya buat simpan lukisan Elena Pa?" tanya Elena antusias.
"Benar Sayang, nanti kamu juga bisa bekerjasama dengan seniman lain untuk memenuhi galeri ini. Atau kalau Elena hanya ingin lukisan Elena saja yang ada di sini juga tidak masalah," tutur Ken.
"Terima kasih Pa." Elena memeluk Ken sangat erat. Ia sangat senang, keinginan memiliki galeri sendiri akhirnya terwujud.
"Ken, apa ini tidak berlebihan?" Anyelir merasa pemberian Ken terlalu besar untuk anak seusia Elena.
"Tidak. Ini belum seberapa dibandingkan dengan ketulusanmu yang mau mempertahankan Elena meskipun tidak ada seseorang di samping kamu."
"Itu sudah tugasku dan naluri hati seorang ibu," jawab Anyelir.
"Maka, aku pun mempunyai naluri sebagai seorang ayah," balas Ken.
"Papa rasa untuk saat ini jangan dulu Sayang. Kamu lihat sendiri kan, kalau tempat ini belum selesai di kerjakan. Papa khawatir nanti kita terkena bahan bangunan atau sesuatu yang menimpa kita."
"Sudah tau belum selesai dikerjakan, kenapa mengajak kita ke sini?!" tanya Carol kesal.
"Maaf Mi, tadi Ken pikir meskipun belum selesai tapi kita tetap bisa masuk, ternyata setelah Ken lihat, tidaklah aman kalua kita tetap nekat masuk."
"Terus setelah ini kita kemana? Mami udah capek nih, pengen duduk tapi bisa menikmati suasana."
"Bagaimana kalau kita ke vila saja?" tawar Ken.
"Boleh deh Mami setuju. Giman Nye, kamu mau ikut kan?" tanya Carol.
"Emm ... Sebaiknya aku sama Elena pulang saja, enggak enak juga sama Vio dan yang lain. Belum pamit."
"Alah, itu si gampang. Kamu bisa menelponnya nanti saat sudah sampai vila atau kamu telpon sekarang," ujar Carol.
"Iya Ma, kita belum pernah kan jalan-jalan bareng oma?" Elena menimpali.
"Tapi kita enggak bawa baju ganti," ucap Anyelir yang langsung mengatupkan bibirnya ketika teringat apa yang terjadi tadi pagi. Ia merasa sangat terpaksa dan juga malu memakai pakaian yang Ken sediakan untuknya.
"Kita bisa membelinya nanti," ucap Ken sambil berlalu ke mobilnya yang kemudian disusul oleh Carol. Karena Elena sudah berada dalam mobil, mau tak mau Anyelir pun ikut masuk mobil dan terpaksa menyetujui idenya Ken untuk membawa mereka ke vila.
***
Mereka tiba di vila jam delapan malam, karena sebelumnya mereka mampir ke butik langganan Carol untuk membeli keperluan mereka.
Saat sampai di vila, mereka disambut hangat oleh Mang Asep dan Bi Enjum. Mereka merupakan suami istri yang dipercaya mengurus vila keluarga Ken. Jadi sewaktu-waktu Ken atau keluarganya datang seperti saat ini, kondisi vila rapi dan bersih, bahkan untuk bahan makanan pun sudah tersedia.
"Elena tidur Ken," ucap Carol.
"Biar Ken yang gendong Mi. Mami langsung masuk aja, mandi dulu."
"Gimana dengan Anyelir, rupanya ia juga tertidur. Apa Mami bangunkan saja?" tanya Carol yang melihat Anyelir masih terlelap di kursi penumpang.
"Biar saja Mi, takutnya dia masih lelah. Ken bawa Elena dulu ke kamar, nanti Ken balik lagi untuk gendong Anyelir."
"Ya sudah. Mami ke dalam duluan ya."
Ken menggendong Elena dan menidurkannya di salah satu kamar yang ada di vila itu. Vila yang Ken miliki mempunyai halaman yang cukup luas dengan kolam renang yang besar. Bangunan vila pun cukup besar. Vila ini mempunyai 5 kamar yang cukup luas. Setelah memastikan Elena tidur dengan nyaman, Ken keluar kamar untuk kembali ke mobilnya.
Ken membuka pintu mobil. Lalu ia sedikit membungkuk untuk melepaskan sabuk pengaman yang masih melingkar di tubuh Anyelir. Di saat bersamaan Anyelir terbangun, tatapan mereka bertemu.
Mata Ken lalu beralih pada bibir merah Anyelir. Tiba-tiba pikirannya menjadi ngelantur. "Dingin-dingin gini, enak nih kalo dapet yang anget-anget sekaligus kenyal. Khilaf sedikit boleh kali ya," gumam Ken.
Tanpa pikir panjang Ken segera memajukan wajahnya, kemudian yang ia rasakan hanyalah hangat dan kenyal bibir Anyelir terasa di bibirnya. Karena merasa tidak ada penolakan, Ken pun menginginkan lebih. Ia mencoba mencecap rasa manis yang disajikan oleh bibir Anyelir.
❤️❤️❤️
Halo .... Akhirnya bisa up juga
Maaf kemarin gak bisa double up ya
Semoga kalian masih suka sama novel ini
Please tinggalkan jejak berupa like dan komentar biar aku semangat untuk up
Maafkan segala kekurangan
Sampai jumpa di part selanjutnya
😘😘😍😍