ELENA

ELENA
Penjelasan



Ken tak habis pikir, Maminya bisa sampai hilang kendali seperti itu. Kini Ken pulang ke rumah orang tuanya untuk menjelaskan perihal dia yang tiba-tiba menghilang dan juga akan membawa beberapa barang-barang yang ia perlukan untuk di rumah barunya.


Kini Ken menempati rumah barunya yang jaraknya tidak jauh dari rumah Anyelir. Sudah sekitar tiga bulan ia membeli rumah itu, tapi baru ditempati sekitar satu minggu yang lalu.


Ken memasuki rumah orang tuanya dan langsung mendapati Maminya yang sedang duduk di meja makan. Bukan untuk makan tetapi seperti sedang melamun dengan berbagai macam roti juga pie buah di atas meja di hadapannya.


Setelah kejadian ia menampar Anyelir, Carol merasa bersalah tapi ia malu untuk mengakuinya apalagi untuk meminta maaf. Roti dari rose bakery pun menjadi langganannya, setiap hari ia beli beberapa roti dan pie juga salad di toko kue milik Anyelir dengan meminta orang untuk membelikan untuknya.


"Mam," panggil Ken dengan memegang tangan Carol.


Carol tersentak segera ia memeluk orang yang memanggilnya, saat tau kalau itu Ken. Tak lama ia mengurai pelukannya lalu tangannya beralih ke telinga Ken dengan tujuan memberikan pelajaran pada anaknya yang seenaknya bikin dia dan suaminya malu.


"Aduh! Sakit Mi!" teriak Ken.


"Rasakan!


"Ken, kamu udah pulang?" tanya Danial yang muncul dari belakang rumah.


Mendengar suara suaminya, Carol lalu melepaskan tangannya dari telinga Ken. Ken segera menggosok-gosokan tangannya ke telinganya yang sudah memerah.


"Sudah Pi, tapi bukan untuk pulang, Ken ini datang untuk klarifikasi masalah kepergian Ken juga mau meminta tanggung jawab Mami," ucapnya lalu duduk di salah satu kursi meja makan tersebut.


"Tanggung jawab Mami!?" tanya Carol yang tidak mengerti apa maksud ucapan anaknya.


"Kita bicarakan di ruang keluarga saja," perintah Danial yang segera berjalan ke ruang keluarga dan diikuti oleh Ken juga Carol.


Setelah mereka duduk Carol sudah tidak sabar dengan apa yang akan Ken sampaikan.


"Cepat beritahu Mami dan Papi, apa yang membuat kamu jadi laki-laki yang pengecut dengan kabur di hari pernikahan," ucap Carol cepat.


"Mi, Pi, Ken bukan kabur atau menghindar. Sebenarnya Ken sudah bicara langsung dengan orang tua Clara dan juga Clara sendiri, bahwa Ken enggak bisa melaksanakan pernikahan itu. Tapi mereka tidak peduli kan? buktinya masih saja nekat melaksanakannya meskipun Ken sudah membatalkan. Nah pas hari itu juga Christ mendapat masalah terkait kasus penggelapan dana di tempat kerjanya, karena dia tidak mau membuat uncle dan aunty cemas, maka ia meminta bantuan pada Ken."


"Tapi, harus gitu enggak kasih kabar sama Mami dan Papi. Kamu seneng ya kalau Mami jantungan?" ucap Carol yang masih dengan nada jengkel.


"Ken enggak sempat kasih tau siapa-siapa. Saat sampai di New York ponsel Ken ada yang nyuri. Beruntung hanya ponsel saja yang dicuri. Karena sibuk membantu Christ membereskan masalahnya, Ken jadi enggak sempat nelpon Mami dan Papi."


"Terus gimana sekarang? masalah dengan Clara gimana?" Kini Danial yang bersuara.


"Masalah dengan Christ sudah beres, Masalah kebakaran juga sudah Ken selesaikan, itu murni karena korsleting listrik, dan Ken sudah bicara lagi untuk yang terakhir kalinya pada orang tua Clara."


"Jadi kamu menemui mereka dulu baru ketemu Mami sama Papi?"


Ken menggeleng. "Lebih tepatnya setelah menemui mereka, Ken menemui Anyelir dan Elena setelah itu baru Ken menemui Mami sama Papi."


"Bener-bener kamu Ken," geram Carol.


"Ken mau minta kejujuran Mami. Apa benar Mami menemui Anyelir dan menuduh dia menyembunyikan Ken lalu dengan teganya Mami menamparnya, apa itu benar?" tanya Ken dengan mata tidak dialihkan kemana-mana.


"Enggak semuanya benar," jawab Carol gusar.


"Lalu yang benar yang seperti apa?" tanya Ken lagi.


"Mami itu enggak sengaja ketemu wanita itu di toko kue."


Ken masih menunggu jawaban Maminya, namun nyatanya Carol tetap bungkam.


"Mami enggak akan minta maaf. Wajar dong kalau Mami berpikiran seperti itu," elak Carol.


Ken membuang nafas pendeknya. "Ok kalau Mami enggak minta maaf sama Anyelir dan Elena, Ken tidak akan menemui Mami lagi," ancam Ken.


"Sudahlah Mi jangan keras kepala. Lagi pula Ken benar, Anyelir tidak bersalah. Minta maaf biar Mami bisa dekat dengan Elena juga. Mami bilang sendiri ingin cepat punya cucu," ujar Danial yang tidak ingin anak dan istrinya larut dalam perdebatan.


"Coba Mami renungkan baik-baik. Anyelir wanita yang baik, lagi pula dia sudah memaafkan Mami tanpa Mami minta maaf kepadanya," ujar Ken.


"Ken, kapan kamu akan kembali ke kantor. Jangan andalkan orang lain untuk mengurus perusahaan."


"Tenang Pi. Ken memang tidak pergi ke kantor, tapi semua urusan kantor Ken yang handle dengan bantuan Dafa dan Joni tentunya," jawab Ken.


"Ya tapi Papi lebih senang kalau kamu ada di sana selama jam kantor," ujar papinya lagi.


"Mulai besok Ken sudah balik ke kantor kok Pi."


"Syukurlah." Danial merasa lega karena putranya telah kembali. Mungkin besok atau lusa ia perlu bicara dengan orang tua Clara mengenai pembatalan pernikahan anak mereka.


***


Ken menyeret kopernya. Setelah diputuskan ia hanya membawa beberapa baju untuk ditaruh di rumah barunya. Meskipun di sana sudah ada beberapa setel baju, tapi untuk baju ke kantor ia perlu membawanya.


Saat melewati ruang keluarga ternyata kedua orang tuanya masih duduk di sana. Carol yang melihat Ken akan pergi dengan membawa koper segera menghampirinya.


"Kamu beneran mau tinggalin Mami?" tanya Carol saat sudah berdiri di depan anaknya.


Ken menggeleng. Lalu ia memegang kedua tangan Maminya. "Ken enggak ninggalin Mami. Ken hanya pindah rumah saja Mi. Ken pindah rumah dekat rumah Anyelir. Ken ingin ikut menjaga Elena, Ken tidak ingin Elena merasa seperti tidak mempunyai ayah, karena Ken tau bagaimana perasaan Elena saat pertama kali bertemu Ken."


Air mata Carol sudah mengalir dengan lancangnya tanpa bisa dicegah. Ken kemudian memeluk maminya, mencoba menenangkannya. "Ken sayang Mami," bisiknya.


Ken beralih ke papinya setelah mengurai pelukannya. Ia memeluk papinya.


"Ken usahakan setiap weekend akan berkunjung ke sini," ucapnya sambil menepuk pundak papinya.


"Memang di mana rumah baru kamu?" tanya Danial.


"Tidak jauh dari rose bakery."


Carol kemudian mencebik. "Kalau tau rumah kamu di daerah itu Mami enggak akan mengeluarkan air mata Mami," ucap Carol kesal.


Ken dan Danial sama-sama terkekeh.


"Lagian Mami lebay banget. Ken juga sudah dewasa Mi. Masa mau pergi ditangisin," ledek Danial.


"Sudah sana pergi. Besok-besok Mami saja yang berkunjung. Sekalian Mami mau ketemu cucu Mami," ucap Carol sambil berlalu meninggalkan dua pria yang dicintainya.


❤️❤️❤️


Terima kasih pada para pembaca setia novel ini


Sampai jumpa di bab berikutnya 😘😘😘