ELENA

ELENA
Part 4



Elena segera masuk ke dalam rumahnya, ia bergegas menuju kamarnya untuk tidur. Seperti biasa yang dilakukan, Elena mengganti pakaiannya sebelum tidur. Hendak membuka lemari, Elena melihat kotak kecil, pikirannya pun beralih saat masa sekolahnya dulu.


Dua tahun silam waktu itu berlalu. Pikiran mengambil alih kenangan yang berlalu. Begitu cepat semua berakhir sebelum kita terikat dalam satu cinta. Aku dan kamu adalah satu yang terbagi menjadi dua. Pada hakikatnya kita disibukkan dengan kehidupan masing-masing. Sebelum kita pernah bersatu, seakan kamu tinggalkan lebih dulu dengan waktu yang benar-benar belum berakhir. Terlihat abu setelah perpisahan ini, tertinggal mengenang dan setelahnya memupuk harapan baru. Namun, hanya angan yang melintas pada dua raga ini. Batinku, kita memang belum siap untuk sama-sama pergi. Ntah, apalagi yang akan terjadi. Jika memang sudah waktunya aku melepaskanmu, aku harus benar-benar siap kehilanganmu, dengan caramu, dan dengan ikhlasku.


"Aaaaaa...," jeritan Elena sangat keras.


Ia menuju ke arah jendela dan ternyata hujan sangat deras. Tak disadarinya jika suara petir itu menyadarkan lamunannya. Hingga waktu larut malam, Elena segera memejamkan matanya.


Waktu menunjukkan pukul lima pagi. Saatnya Elena bangun dari tidurnya. Ia segera mengambil air wudhu dan melaksanakan ibadah shalat shubuh. Setelahnya Elena bergegas untuk mandi.


Di dapur, Elena mengambil dua buah roti untuk dibawanya ke kampus. Karena waktu sudah siang, maka dari itu Elena tidak bisa sarapan di rumah.


Ia segera keluar dan mengendarai mobilnya. Untung saja Elena tidak terjebak kemacetan. Tidak membutuhkan waktu lama, Elena tiba di kampusnya.


Pagi ini, Elena sempat bertemu dengan seniornya. Melihatnya tersenyum, Elena pun menyapanya.


"Kak." sapa Elena tersenyum.


"Jangan masuk dulu!" kata Aldrian memberi isyarat Elena untuk berhenti.


"Kenapa, Kak?" tanya Elena kembali menuju arah Aldrian.


"Gapapa. Hmmm... mau nanyain kondisi kamu. Gimana, sudah enakan?" tanya Aldrian perhatian.


Tatapan Elena heran, "sudah baikan, kok."


"Syukurlah. Oh, iya, panggil saja aku Aldrian." katanya meminta.


"Loh, kok, gi-?"


"Jangan sungkan, El. Kita di sini itu sama saja." potong Aldrian menjelaskan.


"Oh, iya, kak. Eh, Aldrian maksudnya." balas Elena membenarkan.


Mereka pun tertawa bersama.


"Yaudah, buruan masuk sana!" kata Aldrian menyuruh Elena kembali.


Elena segera masuk untuk mengerjakan tugasnya. Sebelum memulai mengerjakan tugasnya, Elena mengambil kotak makannya yang berisi roti dan melahapnya.


Tugas yang dikerjakan Elena pun selesai. Waktu sudah siang, saatnya jam makan siang. Elena pergi keluar untuk mencari makan siang. Hendak Elena pergi, langkahnya terhenti karena ada suara yang memanggil namanya.


"Elena!" panggilnya seru.


Elena membalikkan badannya dan mencari sumber suara itu di mana.


"Mau keluar, ya?" tanya Aldrian dari kejauhan.


"Iya, beli makanan." jawab Elena tanpa mengajaknya untuk makan bersama.


"Aku ikut, ya?" tanya Aldrian semacam permohonan.


"Boleh." balas Elena dengan anggukan.


"Beli diseberang kampus apa keluar?" tanya Aldrian.


"Di luar saja, ya. Kalo di sini mulu bosan." ujarnya meminta.


"Iya. Aku nurut kamu saja. Lagian ini, kan, aku ngikut kamu." jelas Aldrian.


"Yaudah, ayo berangkat." ajak Elena.


"Naik mobilku, ya?" tanya Aldrian semacam perintah.


Saat perjalanan Elena banyak melamun. Lagi-lagi Elena memandangi luar kaca jendelanya. Mobil Aldrian yang sedari tadi melaju dengan kecepatan 100 km, kini menjadi lambat karena mobil depannya sedang belok menuju rumah sakit. Pandangan Elena tertuju ke depan. Melihat mobil yang ada di depannya sepertinya tak asing lagi. Elena memperhatikannya hingga siapa orang yang ada di dalam mobil itu. Dilihatnya ada seorang wanita di sebelah pria yang mengendarai mobil itu. Elena seperti mengenal wanita itu. Melihat mobilnya, Elena mengira mungkin mobil itu milik wanita itu. Apa mungkin yang ada di dalam adalah Khenzo.


"Ah, kenapa aku jadi memikirkan ini," batin Elena mengutuk dirinya sendiri.


"El, kenapa? Kok, kaya susah gitu?" tanya Aldrian memperhatikan Elena sedari tadi.


"Masa, sih?" jawab Elena tak percaya


"Mikirin apa, sih? Ada masalah?" tanyanya lagi.


"E-enggak. Cuma bingung aja."


"Kenapa?"


"Enggak, kok. Eh, itu, tuh. Tempat yang kita tuju depan situ, loh." kata Elena menunjukkan.


"Okey."


Tiba di tempat makan yang dituju Elena. Elena pun segera mencari tempat duduk yang nyaman. Aldrian meminta Elena untuk tetap duduk, lalu Aldrian yang memesan makanan.


"El, hmmm... kamu sedang dekat dengan siapa?" tanya Aldrian kembali setelah memesan makanan.


"Aneh, deh." balasnya dengan tertawa samar.


"Maaf, kalo lancang." kata Aldrian merasa bersalah.


"Enggak, kok. Santai aja." ujar Elena menenangkan.


"Susah banget ditebak, ya." kata Aldrian menyimpulkan.


"Apanya?" tanya Elena dengan wajah polosnya.


"Kamu, lah."


"Kamu, tuh, yang susah ditebak orangnya. Sejak awal aku lihat kamu, sepertinya kamu orangnya dingin dan cuek. Ternyata argumenku selama ini salah." kata Elena menilai.


"Semua orang beranggapan sama kaya kamu. Tapi, nggak ke semua orang aku kaya gini." balas Aldrian membenarkan.


"Jadi, ini bisa dibilang special, ya?" tanya Elena meledek.


"Nggak jadi special jika kamu masih ada hubungan dengan orang lain." balas Aldrian menanggapi dengan candaannya.


Ini bukan semacam lelucon lagi. Karena yang dirasakan Elena adalah faktanya. Pikiran Elena teringat tentang Khenzo kembali.


"El?" panggil Aldrian.


"Eh, iya." jawab Elena kaget.


Pelayan sudah datang dengan berbagai makanan dan minuman. Mereka segera memakannya dengan lahap. Selang beberapa waktu, mereka merasa kenyang setelah menghabiskan sepiring makanan dan segelas minuman. Merekapun segera kembali ke kampusnya.


"Makasih, ya." kata Elena sembari turun dari mobil Aldrian.


"Sama-sama makasihnya kali, El." sahut Aldrian.


"Iya, deh, gitu. Yaudah, aku masuk dulu, ya?" ujar Elena bergegas masuk.


"Okey." balas Aldrian menyetujui.


Aldrian dan Elena sibuk mengerjakan tugasnya. Apalagi Aldrian disibukkan dengan tugasnya sekarang, menyiapkan acara kegiatan alam untuk seluruh peserta yang ada di kampus. Ya, meskipun kegiatan ini diselenggarakan masih dalam waktu yang lama lagi, tapi Aldrian mempersiapkan betul kegiatan yang diselenggarakan nanti. Harapan Aldrian, kegiatannya berjalan dengan lancar.


Hari ini Elena pulang lebih awal. Tugas-tugasnya sudah diselesaikan Elena lebih cepat, sejak tadi pagi. Elena terburu-buru untuk pulang, karena menyambut hangat kedatangan neneknya. Sudah lama Elena menahan rindu pada neneknya hingga terbalaskan berujung temu. Sebelum langsung pulang menuju rumah, Elena mampir untuk membeli beberapa makanan yang dibelikan khusus untuk neneknya. Elena tidak sabar untuk segera pulang. Ia pun bergegas mengendarai mobilnya.