
Tangan Anyelir mengepal. Terangkat, ingin mendorong Ken tapi, yang terjadi justru sebaliknya. Kepalan tangan itu terbuka mendarat tanpa daya pada d@da bidang Ken. Anyelir terbuai dengan sentuhan lembut yang Ken berikan. Perlahan ia memejamkan mata, mulai menikmati manis dan lembutnya yang Ken tawarkan melalui bibirnya.
Anyelir merasakan bagaimana ia membenci sekaligus menyukai di waktu yang sama. Ia tak berdaya pada sentuhan yang ia terima.
Ken menghisap bibir bawah Anyelir lalu menyesapnya. Menimbulkan sensasi yang membuat Anyelir meremas d@da bidang Ken dan diiringi dengan erangan pelan yang keluar dari mulut Ken.
Ken lanjut mencicipi tiap sudut bibir Anyelir dengan penuh perasaan dan kelembutan. Penuh dengan kesan manis dan juga mendebarkan. Membuat Anyelir pasrah saja melayang dalam ciuman itu.
"Tuan, eh ... maaf."
Seketika Anyelir membuka matanya kemudian mendorong Ken dengan keras hingga tautan bibir mereka terlepas dan badan Ken membentur dashboard.
"Awhh!" Ken meringis merasakan nyeri pada tangannya karena benturan yang lumayan keras. Ken berdiri menghadap mang Asep yang berdiri di belakangnya saat tadi Ken mencium Anyelir dalam keadaan membungkuk. Sedangkan Anyelir, ia tidak berkutik, tubuhnya menegang, wajahnya pucat tetapi ada semburat merah jambu di kedua pipinya.
"Tuan tidak apa-apa?" tanya Mang Asep karena ia memang melihat Ken terjungkal dan berakhir membentur dashboard.
"Tidak apa-apa. Ada apa Mang?"
"Oh itu, apa masih ada barang yang perlu saya bawa Tuan?"
"Tidak ada."
"Baik. Kalau begitu saya permisi. Silahkan Tuan lanjutkan yang tadi," ucap Mang Asep lalu meninggalkan Ken dan Anyelir yang sama-sama terdiam karena syok dan juga malu perbuatannya dipergoki oleh orang lain.
Anyelir langsung saja keluar dari mobil berjalan melewati Ken. Saat sudah berada di dalam rumah, ia berhenti. Anyelir baru ingat kalau ia sedang bukan berada di rumahnya. Ia mencari Elena tapi buah hatinya itu tidak terlihat, bahkan ibu dari Ken juga tidak ada di sana. Vila ini terasa sepi.
"Ayo aku antar ke kamar. Elena sudah tertidur di sana," ucap Ken yang berdiri di samping Anyelir. Lalu Ken mengajak Anyelir menuju kamar yang di dalamnya sudah ada Elena yang sedang tertidur di ranjang.
"Ini kamar kamu dan Elena, kamarku ada di sebelah. Mandi dulu saja, pakaian yang tadi dibeli sudah aku taruh di sofa," ucap Ken sambil membuka pintu kamar.
Anyelir mengangguk kemudian masuk ke kamar lalu ia berbalik untuk menutup pintu tapi karena Ken masih berdiri di depan pintu, ia pun mengurungkan niatnya. Sambil mengerutkan dahi ia bertanya," Kenapa?"
Ken berdeham dan menggaruk lehernya yang tidak gatal untuk mengurangi rasa gugupnya.
"Maaf ... tadi aku khilaf. Aku harap kamu enggak marah."
Anyelir menunduk, menyembunyikan rona merah di pipinya. Padahal ia sudah melupakan kejadian tadi, tapi Ken malah mengungkitnya. Ia merutuki kebodohannya yang menikmati ciuman itu. Bukannya marah lalu dan mendorong Ken sebelumnya atau paling tidak dia bisa menghindar malah yang terjadi ia ikut terbuai sentuhan lembutnya, bahkan sempat membalas meskipun masih kaku.
"Tidak apa. Aku juga minta maaf tadi sudah mendorongmu. Lain kali jangan main sosor aja, paling enggak harus izin dulu sebelum berbuat," ucap Anyelir sambil menatap tajam pada Ken.
Ken terkekeh. "Berati ada kesempatan untuk kita mengulanginya lagi? Okay, lain kali aku akan izin terlebih dulu. Kalau sudah izin sudah pasti diizinkan bukan?"
Anyelir melotot pada Ken, ia segera menutup pintu dan tak lupa menguncinya. Ia bersandar sejenak di belakang pintu untuk menormalkan laju detak jantungnya sangat cepat.
"Mama."
Elena menoleh pada Elena yang sudah duduk di atas tempat tidur.
"Sudah bangun Sayang?" Anyelir menghampiri putrinya lalu memberikan pelukan dan juga kecupan di puncak kepala Elena.
"Hemm."
"Masih ngantuk rupanya anak Mama," ucap Anyelir karena mendengar Elena hanya bergumam.
"Elena lapar Ma," ucapnya yang masih betah berada dipelukan ibunya.
"Mandi dulu yah. Nanti Mama buatkan makan malam."
Elena mengangguk kalau turun dari tempat tidur kemudian menuju ke kamar mandi tapi kemudian ia keluar lagi dari kamar mandi menghampiri Anyelir.
"Baju sama handuknya belum Ma. Sikat giginya juga mana?"
Anyelir tersenyum kemudian ia menyerahkan handuk, baju berikut sikat gigi yang tadi telah ia siapkan pada Elena.
Anyelir kemudian keluar kamar lalu menuju ke dapur. Ternyata di sana sudah ada Bi Enjum yang sedang memasak untuk makan malam mereka yang sangat terlambat.
Karena merasa ada orang yang berjalan ke arahnya, Bi Enjum pun menoleh. " Astagfirullah! Non bikin Bibi kaget wae ih."
Anyelir tersenyum dan merasa bersalah karena membuat wanita paruh baya itu kaget.
"Maaf Bi. Lagi masak apa Bi? Aku bantu ya. Oh ya nama Bibi siapa?"
"Iya Non, tidak apa-apa, soalnya kan Bibi biasa cuma berdua sama Mang Asep. Tadi lupa kalau ada Nyonya sama Tuan muda ke sini. Panggil aja Ni Enjum Non. Ari nama Non teh saha?
Anyelir mengangguk. "Anyelir," ucapnya sambil mengulurkan tangan pada Bi Enjum. "Aku bantu ya Bi."
"Eh, tidak usah Non. Ini sebentar lagi juga selesai. Bibi cuma buat nasi goreng, soalnya tadi Tuan Ken kasih taunya mendadak, jadi Bibi tidak sempat belanja."
Anyelir duduk di kursi dekat dapur. Karena ia sendiri tidak tau harus berbuat apa. Sebenarnya ingin segera mandi tapi harus tunggu Elena selesai baru nanti ia mandi.
"Lebih baik mandi saja dulu Non, biar nanti kalau sudah selesai bisa langsung makan," ucap Bi Enjum sambil memotong bakso untuk campuran nasi goreng.
"Iya nanti tunggu Elena selesai," jawab Anyelir.
"Elena itu si Neng cantik itu ya? Itu anaknya Non Anye?" tanya Bi Enjum ingin tau.
"Iya Bi."
"Pantesan geulis pisan mirip Mamanya. Tapi mirip Tuan Ken juga sih. Eh, Non Anye itu siapanya Tuan Ken?"
"Calon istri," jawab Carol dari arah kamarnya.
"Eh, Nyonya. Maaf Nya," ucap Bi Enjum merasa tidak enak karena banyak bertanya pada Anyelir.
Anyelir yang mendengar jawaban Carol seketika membeku. "Apa yang barusan Mami katakan?" tanyanya dalam hati.
"Ma, Papa dimana?" tanya Elena yang menghampiri Anyelir.
"Sedang mandi mungkin. Mama mandi dulu ya. Kamu di sini bareng Oma dan Bi Enjum." Anyelir kemudian masuk ke kamarnya untuk mandi.
"Eh cucu Oma udah wangi nih. Sini Sayang, Oma mau bikin roti panggang buat ganjel perut, sambil menunggu nasi goreng matang."
Elena menghampiri Carol. "Elena mau bantu Oma," ucapnya yang ikut mengambil selembar roti tawar untuk diolesi mentega.
"Boleh. Hati-hati, ya," ucap Carol.
"Nyonya cucunya udah gede aja. Emang Tuan Ken kapan nikahnya kok Bibi enggak tau?"
"Kepo kamu Jum," jawab Carol sambil meletakan roti yang sudah diolesi mentega ke alat pemanggang.
❤️❤️❤️
Hai...ketemu lagi kita
Wah mulai ada kemajuan nih
Semoga suka dengan part ini😘😍
Maafkan segala kekurangan 🙏🙏🙏
Jangan lupa tinggalkan jejak kalian, dukung terus author biar makin semangat untuk up dengan cara like, komen,. vote, dan kasih hadiah ya....
Jangan lupa tekan favorit supaya kalian tau kalau cerita ini update
Terima kasih ❤️😘😍😘❤️