
Menjelang hari pernikahan tiba, pastinya banyak yang harus dipersiapkan, maka tidaklah heran apabila Anyelir dan Ken harus pintar-pintar membagi waktu antara urusan bisnis dengan persiapan pernikahannya. Walaupun orang tua Ken dan kedua sejoli Vio dan Dafa turut andil dalam mempersiapkan hari bahagia Ken dan Anyelir, mengingat pernikahan mereka yang akan diselenggarakan dua bulan mendatang.
Sore ini Ken datang ke rumah Anyelir bersama dengan dua orang temannya yang merupakan seorang perancang busana sekaligus juga wedding organizer.
"Kamu tinggal lihat saja yang ada di katalog," ucap Meli menyerahkan beberapa katalog yang berisi berbagai macam model baju pengantin. Mulai dari kebaya, gaun pengantin sederhana hingga gaun pengantin yang glamor.
Anyelir menerima katalog itu lalu membukanya dan mulai melihat-lihat baju seperti apa yang akan ia kenakan saat pesta nanti. Karena kalau untuk acara akad nikah ia sudah ada baju kebaya yang Carol berikan untuknya.
Carol memberikan kebaya miliknya pada Anyelir. Karena menurutnya kebaya yang ia miliki masih sangat bagus hanya tinggal diberi sentuhan sedikit saja supaya terlihat lebih modern dan elegan. Kebaya warna putih gading yang dikenakan saat pernikahannya tiga puluh enam yang lalu akan dikenakan oleh menantunya dalam waktu dekat.
"Aku bingung, semuanya terlihat sangat bagus," keluh Anyelir masih setia membolak-balikkan katalog.
"Pilih yang sesuai dengan selera mu Honey, asalkan jangan terlalu terbuka," pesan Ken pada kekasihnya.
"Justru itu. Semua gaun yang ada di sini hampir semuanya sesuai selera ku," jawab Anyelir.
"Akan aku tunjukkan beberapa model gaun yang aku bawa. Siapa tau ada yang cocok," ucap Meli lalu membuka koper yang ia bawa dan mulai mengeluarkan satu per satu gaun yang ia bawa untuk ditunjukkan ke Anyelir dan Ken.
"Ah, yang ini aku suka," ucap Anyelir menunjuk pada gaun berwarna merah maroon dengan model sederhana.
"No! bagian dadanya terlalu rendah," tolak Ken.
"Kalau masalah itu nanti bisa disesuaikan dengan keinginan," ucap Meli.
"Benar bisa?" tanya Ken. Meli mengangguk dengan penuh keyakinan. "Bagaimana Honey? masih mau lihat-lihat atau mau yang ini saja, hanya saja bagian dada jangan terlalu rendah," ucap Ken pada Anyelir.
Anyelir tampak berpikir. "Tapi aku menginginkan warna gold," ucap Anyelir.
Meli akhirnya menunjukan beberapa contoh warna pada Anyelir. Kemudian Anyelir memilih warna yang sesuai dengan keinginannya.
"Deal ya? modelnya seperti ini tapi dadanya tidak terlalu rendah dan warnanya seperti ini." Meli memastikan agar tidak ada kesalahan dan membuat Ken dan Anyelir puas tentu saja.
"Deal. Satu lagi aku ingin yang seperti ini," ucap Anyelir menunjuk gaun yang lainnya. "Warnanya aku minta blue sky," pinta Anyelir.
"Ok. Kita ukur dulu badannya."
Meli mulai mengukur Anyelir, supaya gaun yang dipesan nanti bisa pas sesuai dengan bentuk tubuh Anyelir. Sambil melihat Anyelir diukur badannya oleh Meli, sekarang giliran Ambar yang menyerahkan katalog berisi dekor pelaminan yang akan mereka pilih.
Ken mulai membuka satu per satu, lembar demi lembar katalog yang menyuguhkan gambaran kemewahan dekorasi pernikahan.
"Kamu ingin tema apa hun?" tanya Ken pada Anyelir.
"Tema klasik aja, lebih simpel tapi terkesan mewah," jawab Ambar yang tiba-tiba saja menyahut pertanyaan Ken.
Ken mendengus. "Yang ditanya siapa yang jawab siapa," kesalnya.
Ambar tertawa. "Namanya juga penjual ya harus nawarin jualannya toh?"
"Ya, aku juga menginginkan tema klasik white pearl decoration ya Mbak," ucap Anyelir.
"Ah, cucok! Bagaimana Pak Ken apa Anda setuju dengan pilihan sang Nyonya?" Ambar menanyakan pada Ken dengan nada bercanda.
"Aku ikut saja yang penting pastikan semuanya aman dan tidak membuat kami kecewa. Dan satu lagi, semuanya harus berjalan dengan lancar," ucap Ken mengingatkan Ambar dan juga Meli.
"Siap Pak Bos. Tempatnya mau di mana?"
"Pelan-pelan kalau minum itu," ucap Ken memperingati Anyelir.
Bukan tanpa sebab Anyelir tersedak setelah mendengar jawaban calon suaminya. Tentu saja tempat itu mengingatkan kejadian enam tahun yang lalu. Yang mana membuat Anyelir memilih untuk mengundurkan diri dari tempatnya bekerja. Anyelir sempat bertanya-tanya dalam hatinya apakah nanti kamar yang akan mereka tempati merupakan kamar dimana kesuciannya terenggut oleh calon suaminya ini?
Sebenarnya Anyelir masih merasakan ketakutan dan kegelisahan apabila mengingat malam itu. Namun, ia hanya bisa berdoa dalam hati semoga saja hal itu tidak menimbulkan trauma untuknya yang bisa membuat kacau malam pertama setelah pernikahannya.
Tidak. Anyelir tidak berpikir bahwa harus melakukannya di malam setelah pernikahan. Hanya saja yang ia takutkan bayang-bayang ketakutannya saat malam itu hadir saat harus bermalam di tempat yang membuat hatinya hancur.
"Untuk bridesmaids ada berapa orang?" Pertanyaan Ambar membuyarkan lamunan Anyelir.
Anyelir tampak berpikir untuk menghitung siapa saja yang akan menjadi bridesmaids nanti. "Dari keluarga kamu ada enggak?" tanya Anyelir pada pria tampan yang sedang memandang penuh cinta pada dirinya.
"Siapkan saja untuk sepuluh orang. Adik sepupuku banyak yang ingin menjadi bridesmaids," ujarnya.
"Ok, siapkan lima belas gaun untuk bridesmaids," ucap Anyelir pada Ambar.
"Siap! Nanti mereka bisa datang ke tempat kami untuk mengukur badan dan juga model gaun yang mereka inginkan."
"Ok, nanti aku hubungi mereka. Tugas kamu hubungi para sepupu," perintah Anyelir pada Ken.
"Ah, kita hampir melupakan putri kecil kita," ucap Anyelir karena belum memilih gaun untuk putrinya pakai di hari bahagia mereka.
"Tenang saja. Untuk Elena sudah aku siapkan gaun khusus yang cantik dan lucu dan pastinya cocok untuk si Tuan putri yang cantik," ucap Meli memberitahu.
Semua sudah deal dan mereka berharap sesuai dengan apa yang mereka inginkan. Karena baik Anyelir maupun Ken menginginkan pernikahan ini merupakan pernikahan yang pertama dan yang terakhir untuknya.
Untuk masalah undangan mereka sudah memesan pada ahlinya sesuai dengan keinginan mereka, hanya tinggal menunggu hasilnya dan membagikan pada lima ribu tamu undangan. Tadinya Ken menginginkan undangan online saja tetapi Carol memarahinya. Katanya tidak sopan kala mengundang dengan undangan online, biar bagaimanapun juga Carol tetap orang Indonesia yang menjunjung tinggi nilai span santun.
Kalau untuk masalah menu makanan dan kudapan yang akan disuguhkan di hari pernikahan nya nanti semua diambil alih oleh Carol yang berkolaborasi dengan Enyak. Mereka sangat senang bisa terlibat dalam hal mempersiapkan hati pernikahan anaknya. Padahal Enyak tidak ada hubungan darah dengan Anyelir, tetapi ia sangat menyayangi Anyelir sehingga rela dan menawarkan diri untuk terjun langsung ke dalam urusan catering.
❤️❤️❤️
Semoga suka dengan part ini
Updatenya jarang karena ya memang author juga punya urusan real life jadi mohon untuk dimaklumi 🤭🙏🙏🙏
Like dari kalian membuatku makin bersemangat
Komentar kalian menunjukan antusiasnya kalian dalam membaca novel ini
Vote dan hadiah yang kalian berikan membuat aku merasa dicintai dan dihargai
Sekecil apa pun bentuk dukungan dari kalianitu sangat berharga bagiku dan aku sangat berterima kasih
Semoga selalu menjadi pembaca setia dan selalu suka karya-karyaku
Mohon maaf atas segala kekurangan 🙏🤭
Sampai jumpa di part selanjutnya
Terima kasih 😍 😘 banyak