ELENA

ELENA
Visit



Senyum Anyelir masih terus tersungging di bibirnya. Seolah enggan untuk pergi.


"Cieee, yang lagi bahagia. Senyum teruuus," sindir Vio setelah melayani pembeli yang melakukan pembayaran. Ya, mereka kini sudah kembali ke Jakarta semenjak dua hari yang lalu.


"Seumur hidup aku baru ngerasain seperti ini Vi," ujar Anyelir sambil terus memandangi cincin yang tersemat di jari manisnya yang diputar-putarnya.


"Oh iya, lu kan jomblo dari lahir," ejek Vio.


"Ya ... ya, yang banyak mantannya. Kira-kira Dafa bakalan jadi mantan yang ke berapa?"


"Mantan terakhir dong," jawab Vio percaya diri. "Awal bulan depan, gue mau cuti tiga hari Nye, boleh?"


"Mau kemana memangnya?"


"Dafa ngajakin gue ketemu sama keluarganya."


"Cieeee otw lamaran nih," ledek Anyelir.


"Doakan saja cepet nyusul kalian. Eh, enggak deng. Kalau bisa gue sama Dafa yang duluan nikah, kalian kan udah punya Elena."


"Mau siapa yang duluan, aku enggak jadi masalah, yang penting pernikahan itu merupakan pernikahan yang pertama dan terakhir untuk kita," ujar Anye.


"Oohhhh Anye, aku jadi makin sayang deh," ucap Vio yang langsung memeluk sahabatnya itu.


"Aduuhhhh lepas Vio! Kamu mau bunuh aku ya? enggak bisa napas tau."


"Heheeee, Ya maaf." Vio langsung melepaskan pelukan kencangnya pada Anyelir.


"Udah ah, mau jemput Elena. Sekalian makan siang bareng Ken," ucap Anyelir berdiri lalu mengambil tasnya yang terletak di atas meja.


"Heeemm, gue juga mau makan siang bareng Dafa kali. Emangnya kalian doang yang bisa makan bareng."


"Daaahhhh." Anyelir segera keluar dari toko tak lupa membawa bekal untuk makan siangnya bersama Elena dan Ken nanti.


Pagi tadi saat Ken menjemput Elena untuk mengantarnya ke sekolah, Ken berpesan ingin makan siang bersama, tapi karena pekerjaan Ken yang padat maka Ken meminta Anyelir untuk datang bersama Elena ke kantornya, nanti Ken akan memesan makanan dan makan siang di kantor.


Namun, Anyelir mengusulkan agar tidak perlu memesan makanan. Ia akan memasak khusus untuk makan siang mereka di kantor nanti. Pastinya Ken setuju atas usul Anyelir itu.


***


Mobil putih milik Anyelir terparkir di depan sekolah Taman Kanak-Kanak Bina Nusa. Sudah banyak siswa yang keluar karena sudah dijemput oleh orang tua mereka. Anyelir keluar dari mobil lalu berjalan menuju ruangan khusus untuk memberitahu nama siswa yang akan dijemput.


Tidak menunggu lama, Elena keluar sambil berlari ke arahnya dengan menggendong tas bergambar kelinci yang berwarna biru muda.


"Mama!" teriaknya senang lalu meraih tangan Anyelir untuk dikecupnya. Anyelir membalas dengan mengecup puncak kepala Elena.


"Bau asem banget sih anak Mama," ucap Anyelir sambil mengendus-ngendus rambut dan leher Elena.


"Mama geli!" teriak Elena sambil tertawa kegelian. "Hari ini kan ada pelajaran olahraga, makanya Elena keringetan," ucap Elena membela diri.


"Iya deh. Yuk kita ke kantor Papa," ajak Anyelir menggandeng tangan Elena meninggalkan sekolah menuju mobilnya.


Setelah memastikan anaknya telah duduk dengan aman dan nyaman, Anyelir segera melajukan mobilnya menuju kantor Ken yang membutuhkan waktu kurang lebih empat puluh lima menit untuk sampai ke sana.


***


Tiba di kantor, Anyelir menggandeng Elena menuju resepsionis.


"Permisi Mba," sapa Anyelir pada resepsionis wanita yang sedang menebalkan bibirnya dengan lipstik berwarna merah terang.


"Ya, ada yang bisa saya bantu?"


"Saya ingin menemui Pak Ken."


"Sudah ada janji sebelumnya?"


"Sudah."


"Tunggu sebentar. Nama Ibu siapa?"


"Anyelir."


Resepsionis itu mengangguk lalu menekan tombol extension yang menghubungkan dengan extension yang ada di meja Dafa.


"Selamat siang Pak. Ada seorang wanita bernama Anyelir ingin bertemu dengan Pak Ken, katanya sudah buat janji."


" ... "


"Ibu, silahkan naik ke lantai lima puluh enam. Keluar dari lift akan ada Pak Dafa yang akan menunjukan ruangan Pak Ken."


"Terima kasih Mba." Anyelir berjalan menuju lift dengan menggandeng tangan Elena. Sedangkan tangan satunya ia gunakan untuk membawa tas yang berisi bekal makan siangnya dengan Ken dan Elena.


Tak menunggu lama, pintu lift terbuka. Anyelir dan Elena segera masuk ke kotak besi yang ternyata kosong itu. Tidak heran karena memang ini masih jam kerja, sehingga mungkin para karyawan masih di mejanya masing-masing.


Saat pintu lift akan tertutup, tiba-tiba ada tangan yang menahannya. Setelah berhasil ditahan, masuklah orang yang menahan lift itu yang ternyata seorang wanita yang sangat cantik. Anyelir duga wanita tersebut merupakan salah satu karyawan di sini. Dilihat dari pakaiannya yang memakai kemeja berwarna coklat muda yang dimasukan rapih ke dalam celana bahan berwarna coklat tua.


Wanita itu tersenyum pada Anyelir. Anyelir pun membalas dengan tersenyum dan menganggukkan kepala. Namun saat mata wanita itu mengarah kepada Elena, timbul sedikit kerutan di dahinya dan mata yang sedikit membulat.


Anyelir mengurungkan niatnya untuk menekan tombol angka lantai yang akan ia tuju, karena wanita itu ternyata sudah lebih dulu menekan pada lantai yang sama.


Hening. Itulah suasana yang menggambarkan suasana dalam lift. Sehingga tiba-tiba terdengar bunyi lift berhenti yang menandakan mereka telah sampai di lantai yang dituju.


Wanita itu keluar lebih dulu yang langsung bertemu dengan Dafa, karena Dafa sengaja menunggu kehadiran Anyelir dan Elena di depan pintu lift.


"Ngapain kamu berdiri di situ?" tanya wanita cantik itu.


"Sedang menunggu seseorang," jawab Dafa.


"Aku?" tanya wanita itu lagi.


Dafa menggeleng. "Mari Mbak." Dafa mempersilahkan Anyelir untuk mengikutinya.


Wanita itu mengikuti arah pandang Dafa yang tertuju pada Anyelir. Ia semakin yakin, bahwa ia tidak salah duga.


Anyelir tersenyum dan mengangguk ke arah wanita itu sebelum berjalan melewatinya.


Dafa membuka ruangan Ken dan mempersilahkan Anyelir dan Elena untuk masuk.


"Terima kasih," ucap Anyelir pada Dafa. Kemudian ia masuk ke ruangan yang besar itu.


Saat Dafa menutup pintu ruangan Ken, ada yang mencolek bahunya dari belakang.


"Itu yang namanya Anyelir? dan Anak kecil itu yang bernama Elena?" tanya wanita itu.


"Iya. Mau apa kamu datang ke sini?" tanya Dafa.


"Ck." Wanita itu berdecak. "Siang ini gue ada meeting bareng kalian, kalau kamu lupa."


"Meetingnya jam dua. Kenapa datangnya sekarang."


"Mau ngobrol dulu sama Ken. Udah lama gue enggak ngobrol sama dia."


"Ngobrolnya nanti aja, saat meeting. Sekarang pulang dulu aja. Lihat sendiri Ken lagi ada tamu spesial."


"Enggak masalah. Kita jadi bisa kenalan kan?" ucap wanita itu yang nyelonong melewati Dafa dan membuka pintu ruangan Ken.


"Maaf Pak. Wanita ini memaksa," tutur Dafa menyesal karena tidak bisa mencegah wanita itu agar tidak masuk ruangan bosnya.


Ken membuang nafasnya kasar. "Tidak apa. Kamu bisa kembali," ucap Ken pada Dafa.


Anyelir yang sedang menyiapkan makan siang mereka pun menghentikan kegiatannya dan beralih menatap wanita yang kini tengah berjalan mendekati Ken.


"Ada urusan apa kamu ke sini Clara?" tanya Ken dingin.


Clara tersenyum. Tadinya aku mau ngobrol sama kamu sambil makan siang bersama sebelum kita melaksanakan meeting. Tapi rupanya aku sangat beruntung karena sudah ada yang menyiapkan makan siang ternyata. Boleh aku bergabung?"


❤️❤️❤️❤️


Wah ... Mbak Clara ternyata muncul lagi gaes


Kira-kira dibolehin gak ya sama Ken, untuk ikut makan siang bareng Anyelir dan Elena? 🤔🤔


Jangan lupa tinggalkan jejak kalian berupa like, komen, vote dan hadiah sebanyak-banyaknya


Yang belum tekan Favorit jangan lupa ditekan ya ... supaya kalian tau kalau cerita ini update


Mohon maaf atas segala kekurangan 🙏🙏🙏


Sampai jumpa di part selanjutnya 😉


Terima kasih 😍😍😍😘