ELENA

ELENA
11. Ketertarikan



Langit senja menghiasi kota Brussels, warna orange menyatu dengan langit matahari mulai terbenam dan digantikan bulan. Tidak terlihat kabut yang menutupi langit dan malam ini juga Alfred dan Luciano berpamitan kepada Bibi Jane. Setelah mengatakan berita bahagia kepada Bibi Jane, beliau turut bahagia mendengar nya, berkali-kali Bibi Jane meminta agar Luciano tinggal bersama nya.


"Bibi, kita pamit dulu ya terimakasih kasih sudah memberikan tumpangan dan makanan yang enak," Ucap Luciano sambil melambaikan tangan


"Nanti aku akan mengajak Ayah di Ibu berkunjung kemari," Lanjut Alfred menyambung ucapan Luciano


"Iya anak-anak sampai jumpa, jangan lupa kau harus tinggal disini ya," ucapnya sambil tersenyum dan membalas lambaian tangan Luciano dan Alfred


"Kau sudah berpamitan dengan kakak gadis galak itu?" tanya Alfred


"Siapa?" Luciano balik bertanya


"Kemarin kita bertemu,"


"Oh Elena? Sudah, Dia bilang akan menunggu ku di stasiun,"


"Wah...aku sudah tidak meragukan pesona mu lagi,"


"Memang aku se tampan itu," Jawab Luciano percaya diri


Alfred segera memalingkan wajah nya dan berdecih.


"Kalau ku lihat akhir-akhir ini kau sudah jarang sekali menggoda para gadis. tidak seperti biasanya." Lanjut nya


"Benarkah? Mungkin karena kau jarang bersama ku jadi kau tidak tahu,"


"Yang kulihat kemarin saat kau menungguku pun kau tidak sedang mengobrol dengan gadis-gadis. Tidak seperti sebelumnya." Jawab Luciano menjelaskan


"Entahlah mungkin karena seseorang menegurku,"


"Siapa?" tanya Luciano lagi,


"Ada seseorang." Jawab Alfred seadanya.


"Kau sakit hati dengan ucapannya?"


"Tidak, menurut ku justru Dia berkata benar."


Melihat jawaban Alfred yang enggan membahasnya membuat Luciano pun mengurungkan niatnya untuk bertanya lebih lanjut


Setelah berjalan kaki cukup jauh, akhirnya mereka sampai di stasiun. Terdengar riuh keramaian dari stasiun. Suara Orang tua, anak muda, dan anak-anak pun terdengar di penjuru stasiun. Dari jauh seorang gadis melambaikan tangan nya menyambut kedatangan mereka, Elena memanggil Luciano dan Alfred untuk duduk di kursi penumpang.


Luciano segera duduk di samping Elena "Apa kau sudah lama menunggu Elena?"


"Tidak terlalu lama." Jawabnya.


"Tidak terlalu lama apanya, kita menunggu disini setengah jam yang lalu." suara dari sebelah Elena tiba-tiba menyauti.


Luciano dan Alfred yang terkejut langsung menoleh ke sumber suara, ternyata yang berbicara adalah Eleanor.


"Kau memang pemuda pertama yang sudah berhasil membuat kakak ku menunggu," Lanjutnya lagi.


Elena segera mencubit tangan Eleanor pelan agar Dia menghentikan nya. Eleanor pun terlihat kesakitan, hal itu membuat Alfred tertawa puas.


"Makanya jadi anak jangan usil, lihat sendiri kan." ejek Alfred kepada Eleanor


Eleanor hanya melirik Alfred jengah, malas meladeni laki-laki itu. Entah kenapa setiap kali Eleanor bertemu dengan Alfred Dia sangat malas melihatnya seperti dendam terhadap laki-laki itu.


Luciano segera mengehentikan Alfred agar tidak terus mengejek Eleanor dan jika itu terjadi mungkin akan ada perang tiba-tiba.


"Mungkin satu minggu lagi, kita akan bertemu lagi hari itu." Luciano menjawab sambil tersenyum kepada Elena.


"Aduh, Luciano jangan lama-lama nanti aku merindukan mu." Suara Alfred menjawab menggantikan Elena, Alfred sengaja mengejek keduanya.


Mereka ber empat tertawa bersama. Selang beberapa waktu kemudian kereta yang di naiki Luciano dan Alfred akan berangkat. Luciano segera berpamitan kepada Elena dan Eleanor begitu pun Alfred.


Tak di sangka kepergian Luciano dan Alfred sudah beberapa menit yang lalu,


"Ternyata keberadaan laki-laki itu yang membuat ramai." Ucap Eleanor dalam hati,


Tak sengaja Elena mendengar suara pelan Eleanor, Ia yang terkejut mendengar itu pun langsung menoleh ke adiknya.


"Kau menyukainya?"


"Ha? Menyukai siapa?"


"Teman Luciano,"


"Tidak, mana mungkin."


"Baiklah." Elena hanya tersenyum mendengar jawaban adiknya yang terkesan terkejut dan bingung menjawabnya.


"Ternyata Dia sudah besar." ucapnya dalam hati.


Perjalanan mereka masih cukup panjang, Luciano dan Alfred memutuskan untuk tidur sebentar. Sebelum itu mereka memakan roti yang sudah di bawakan Elena, Elena memberikan dua potong roti untuk masing-masing dan teh hangat untuk menemani perjalanan panjang mereka.


"Ternyata rasa roti orang bangsawan terlihat beda ya." Alfred memasukkan potongan roti terakhir ke mulut nya


"Beruntung sekali jika bisa menikahi seorang bangsawan," lanjut nya lagi.


"memang kita bisa?" pertanyaan Luciano membuat Alfred hanya terdiam dan tersenyum.


"Kau menyukainya?" Tanya Luciano tiba-tiba.


"siapa?"


"Eleanor."


"Gadis tadi? mana mungkin aku menyukai gadis kasar dan cerewet seperti dia."


"Tapi Dia cantik kan?" Tanya Luciano menggoda,


"Ya sedikit."


"Kau tidak tertarik kepadanya?" jangan-jangan Dia gadis yang kau ceritakan itu ya? Gadis yang menarik perhatian mu. Kurasa Dia juga seumuran dengan Lucy."


"Memang aku pernah mengatakan nya? Kapan itu?" Alfred malah balik bertanya dengan wajah bertanya tanya, Dia sengaja bertanya lagi agar Luciano menghentikan obrolan tentang Eleanor.


Luciano hanya menyipitkan matanya dan tidak meladeni nya, Dia lebih memilih tidur daripada berdebat dengan Alfred.


"Apa iya aku menyukai gadis itu?" Tanya nya sendiri dalam hati.


...****************...


...Halo ini LovelyHyuck semoga kalian suka dengan karya amatir ku ya, mohon dukungan nya. Terimakasih...