ELENA

ELENA
Part 3



Dokter segera menangani Elena. Aldrian terlihat khawatir. Mungkin Elena sering menyepelekan rasa sakitnya. Tapi, bukan saat yang tepat untuk memikirkan hal ini sekarang.


"Keluarga Elena?" panggil dokter mencari.


"Iya, saya." jelas Aldrian.


"Maaf, permisi, Dok. Elena yang dimaksud siapa, ya? Elena Daniela Resfandi?" tanya Khenzo yang tiba-tiba muncul di samping Aldrian.


"Iya. Nama pasien Elena Daniela Resfandi. Apakah anda saudaranya?" tanya dokter memastikan.


"Sa-saya teman lamanya, Dok. Tapi, cukup dekat dengan pasien."


"Mari keluarganya atau yang bersangkutan ikut ke ruangan saya." ajak dokter.


"Saya, Dok." jawab Khenzo dan Aldrian kompak.


"Baik. Kalian boleh ikut semua." kata dokter menyetujui.


Mereka mengikuti dokter menuju ruangan. Tiba di dalam ruangan mereka segera duduk di tempat yang disediakan.


"Menyangkut yang dialami pasien, membutuhkan pengawasan yang baik. Pasien tidak mengidap penyakit apapun. Tapi jika dibiarkan, pasien bisa menderita penyakit yang vatal. Pasien tidak boleh stress dan terlalu capek. Itu adalah hal utama untuk menjaga pasien agar tetap baik-baik saja. Pola makannya juga harus dijaga." kata dokter menjelaskan.


"Lalu bagaimana dengan pengobatan Elena, Dok?" tanya Khenzo.


"Apa butuh dirawat di rumah sakit dulu, Dok?" tambah Aldrian bertanya.


"Boleh dibawa pulang. Akan tetapi, obat yang diberikan dari rumah sakit harus diminum dengan teratur." jelas dokter.


"Jika keluarga pasien setuju untuk dibawa pulang. Maka tunggu tiga jama lagi untuk pengurusan pasien dan perubahan pasien sekarang." tambah dokter menjelaskan.


"Baik, Dok." jawab Aldrian.


"Mas Khenzo, hari ini jadwalnya cu-," kata dokter belum selesai karena isyarat mata Khenzo mengehentikan.


"Iya, Dok. Nanti administrasinya segera diurus." jawab Khenzo santai.


Aldrian mengira Khenzo ini aneh. Seperti ada sesuatu yang disembunyikan. Mencoba ingin mencari tau. Tapi sepertinya tidak dengan menanyakan langsung pada Khenzo.


"Btw, aku urus dulu administrasinya. Nanti, aku kembali lagi ke sini." kata Khenzo menjelaskan lalu meninggalkan Aldrian.


Aldrian masuk menuju ruangan Elena. Melihat kondisi Elena tampak membaik.


"Boleh kita di luar sebentar?" tanya Khenzo yang tiba-tiba masuk ke ruangan Elena.


"Eh, sudah kembali." jawab Aldrian tidak sadar kehadiran Khenzo tiba-tiba.


Khenzo hanya mengangguk.


"Yaudah. Ayo keluar." ajak Aldrian sembari keluar dari ruangan.


"Sebenarnya cuma mau ngobrol santai aja. Ntar, kalo di dalam takutnya ngganggu Elena." jelas Khenzo.


"Oh, iya. Aku Aldrian, senior di kampus. Belum kenal dekat sama dia. Baru tadi pagi tau kalo namanya Elena." jawab Aldrian memperkenalkan diri.


"Oh, gitu. Aku Khenzo, teman Elena seangkatan dulu." kata Khenzo singkat.


"Kok, tadi bisa di sini. Tau kalo Elena sakit, ya? Perasaan dari tadi yang tau kejadian ini cuma aku." tanya Aldrian penasaran.


"Hmmm... tadi aku menghubungi Elena tidak ada balasan. Mencari di rumahnya juga tidak ada siapa-siapa. Rumahnya sepi. Aku tanya teman kampusnya, katanya dia sakit. Yaudah, aku langsung ke sini." kata Khenzo mencari alasan yang tepat.


"Oh, gitu. Hmmm... ada nomor hp, kan?" Nanti jika Elena ada apa-apa, aku bisa dengan mudah untuk memberi kabar. Ya, karena aku lihat sepertinya kamu dekat dengan Elena." ujar Aldrian meyakinkan.


"Sorry, ponselku ketinggalan di rumah. Nomorku baru. Jadi, nggak hafal nomornya." jawab Khenzo mencari alasan yang tepat. Feeling Khenzo jika Aldrian memastikan apa Khenzo benar-benar menghubungi Elena.


"Okey. Gini aja, ini nomorku. Simpan, ya. Barang kali kita nanti sama-sama membutuhkan." kata Aldrian dengan memberi kertas kecil yang berisi nomor ponselnya.


"Iya." jawabnya dengan menerima kertas yang diberikan oleh Aldrian.


"Oh, iya. Bagaimana nanti dengan pulangnya Elena?" tanya Aldrian mencari pendapat.


"Kamu tau alamatnya, kan?" tanya Khenzo balik.


"Terakhir yang aku tau, orang tuanya di luar negeri, mereka sibuk dengan pekerjaannya. Ya, nggak tau juga, sih, mereka sudah di Indonesia apa belum. Mendingan kamu mengantar Elena ke rumahnya saja. Masalah alamat, ntar, gampang." ujar Khenzo menjelaskan.


"Kenapa nggak kamu saja?" tanya Aldrian merasa bingung.


"Sorry, bukan maksudnya aku nggak mau. Tapi, aku ada urusan penting dan itu sekarang. Jadi, kamu saja, ya?" jawab Khenzo merasa bersalah.


"Oh, gitu. Iya, gapapa. Biar aku saja yang mengantar Elena." kata Aldrian santai.


"Yaudah, aku pergi dulu. Makasih, sudah membantu Elena." kata Khenzo berpamitan.


"Okey. Jangan lupa save nomornya." ujarnya mengingatkan.


Khenzo mengacungkan jempolnya sebagai jawaban dan beranjak pergi meninggalkan rumah sakit.


Aldrian masuk ke ruangan Elena untuk bersiap-siap pulang. Elena terlihat pulas saat tidur, mungkin karena memang membutuhkan waktu istirahat yang cukup. Terdapat tas kecil Elena di samping tempat dia tidur. Aldrian penasaran dengan isi ponsel Elena. Aldrian pun mengambil tas Elena. Membuka ponselnya, tertuju pada log panggilan. Tidak ada nama Khenzo yang baru saja menghubungi Elena. Hanya ada kontak kosong yang tak ada namanya. Berada pada log panggilan teratas. Aldrian mengira jika mungkin nomor itu adalah Khenzo. Segera Aldrian tambah dalam kontak ponselnya dan memberi nama Khenzo. Kemudian, ditaruhnya kembali dalam tas Elena.


Selang beberapa menit, dua orang perawat masuk ke dalam ruangan. Salah satu memberi tau jika pasien sudah boleh dibawa pulang. Satunya membantu Elena yang sudah bangun dari tidurnya untuk dipindahkan ke kursi roda.


Selama perjalanan pulang, Elena diam saja. Kemudian Aldrian bertanya pada Elena tentang kondisi tubuhnya.


"Kamu harus banyak istirahat. Jangan terlalu capek. Pola makannya dijaga." tambah Aldrian mengingatkan.


"Iya," balasnya tersenyum "tau alamat rumahku dari mana?" tanya Elena penasaran.


"Oh, itu. Dari teman kamu."


"Si-?"


"Rumah kamu sebelah mana?" tanya Aldrian memotong karena sudah tiba di alamat rumah Elena.


"Seberang jalan, pagar hitam, nomor rumah 03 itu." jelas Elena dengan menunjuk arah rumahnya.


Tiba di depan rumah Elena. Elena mempersilakan Aldrian untuk masuk dengan membantu Elena berjalan.


"Kamu duduk di sini dulu, ya. Aku mau ke kamar mandi."


Aldrian segera duduk dan menunggu Elena keluar dari kamar mandi. Beberapa menit kemudian Elena berada di depan Aldrian.


"Ini adanya air putih. Maaf, aku nggak bisa buatin minuman. Di rumah juga nggak ada siapa-siapa." kata Elena sembari meletakkan air putih di meja.


"Nggak perlu dibawain minuman kali. Kamu juga masih lemas, butuh istirahat. Hmmm... yaudah makasih, ya."


"Btw, di rumah sendirian, yang lain pada ke mana?" tanya Aldrian menambahkan.


"Orang tuaku lagi ada urusan di luar negeri. Pekerja atau yang bantuin aku di rumah lagi pada liburan. Ya, sebenarnya aku tidak terlalu membutuhkan mereka untuk membantu aku. Hanya saja, keberadaannya untuk menemaniku biar nggak sendiri. Ada tidaknya mereka tak berpengaruh bagiku, aku juga tetap merasa sepi. Lagian yang aku butuhkan itu orang-orang yang seharusnya ada di sekitarku, orang tua." jawab Elena memelas.


"Kapan mereka pulang?" tanya Aldrian ingin mengerti.


Elena mengangkat bahunya, "belum ada kabar juga."


"Kamu sakit nggak ngabarin mereka?" tanyanya lagi.


"Aku, kan, nggak kenapa-kenapa. Diatasi sendiri juga sembuh. Percuma kalo aku ngabarin, mereka juga nggak akan pulang. Yang ada, malah aku diberi saran dari mereka kali." jelas Elena tidak setuju.


"Setidaknya kamu, kan, ngabarin mereka." kata Aldrian membujuk Elena.


"Percuma aku ngabarin mereka. Toh, mereka juga nggak ada waktu buat aku." balas Elena tersenyum pahit.


"Tapi, kamu nggak benci dengan orang tua kamu, kan?" tanya Aldrian memastikan.


"Ya, enggak, lah. Biar bagaimanapun mereka, aku tetap menyayanginya." jelas Elena.


"Bagus kalo gitu. Btw, kamu istirahat sana. Aku pamit pulang dulu." kata Aldrian berpamitan.


"Iya. Masih, sudah nolongin." balas Elena berterima kasih.


"Sama-sama. Besok lebih baik istirahat saja dulu. Kalo mau masuk lebih baik jangan memaksakan diri sendiri." saran Aldrian pada Elena.