ELENA

ELENA
Keracunan



Anyelir beserta yang lain sudah pulang dari vila ke rumah masing-masing. Mereka juga sudah memulai aktivitas seperti biasa. Kini Anyelir sedang mengajarkan pada beberapa karyawan barunya yang ia rekrut beberapa hari lalu karena ia kewalahan dengan penjualan yang terus meningkat sedangkan ia hanya mengandalkan Melisa dan Sania untuk membantunya di dapur. Karyawan barunya ada enam orang yang mempunyai tugas masing-masing. Mereka dibagi menjadi tiga tim. Masing-masing tim terdiri dari dua orang.


Tim pertama khusus untuk membuat bakery dan pastry. Tim kedua membuat aneka puding dan tim yang ketiga khusus untuk membuat salad. Untuk Sania dan Melisa mereka membantu di dapur dan juga di depan dengan Fortuna secara bergantian. Saat sedang mencuci tangan tiba-tiba ponsel Anyelir berdering. Ia lalu mengambilnya dari kantong celana dan segera menerima panggilan itu karena saat dilihat nama yang tertera pada layar adalah nama Bu Wati yang merupakan salah satu guru yang mengajar di sekolah Elena.


Anyelir bergegas menemui Vio di meja kasir.


"Vi, tolong kunci mobil sama tas," ucap Anyelir meminta Vio untuk mengambilkan kunci mobil dan tasnya yang ia letakan di laci meja kasir.


"Ada apa? Lo panik gitu?"


"Elena muntah-muntah terus pingsan, sekarang sedang di periksa di rumah sakit," jawab Anyelir sambil menerima apa yang ia minta dari Vio.


"Terus gimana keadaannya?"


"Belum tau, ini aku mau langsung ke sana. Titip toko ya."


"Hati-hati Nye, jangan ngebut. Kabari gue kalau udah tau keadaan Elena," pesan Vio.


Anyelir mengacungkan jempolnya kemudian berlalu menuju mobilnya.


Saat tiba di rumah sakit ia segera menuju IGD, karena tadi Bu Wati mengirimkan pesan bahwa Elena sedang ditangani dokter di IGD.


Saat masuk ke ruang IGD Anyelir langsung mendapati Elena yang sedang terbaring lemah di brankar dengan jarum infus yang terpasang di tangan kirinya.


Anyelir menghampiri buah hatinya. Ada rasa nyeri di dada saat melihat putrinya dalam keadaan seperti itu. Ini untuk pertama kali Elena masuk ke rumah sakit. Sedari kecil Elena jarang sekali sakit, kalaupun sakit paling hanya demam biasa yang langsung membaik dengan meminum obat dan dikompres dengan air hangat.


"Bu Anye." sapa Bu Wati yang duduk di sebelah ranjang tempat Elena berbaring.


"Bagaimana keadaan Elena Bu?" tanya Anyelir khawatir sambil menggenggam tangan putrinya yang bebas dari infus.


"Alhamdulillah sekarang sudah lebih baik Bu."


"Anda ibu dari pasien Elena?" tanya dokter yang tiba-tiba menghampiri Anyelir.


Anyelir mengangguk. "Betul Dok. Anak saya kenapa Dok?"


"Anak ibu diduga keracunan makanan, tapi untungnya tadi anak Ibu sempat muntah-muntah jadi racun yang ada di dalam tubuhnya keluar dan sisanya sudah kami keluarkan dari tubuhnya. Sekarang yang penting minum obat yang teratur."


"Maksud Dokter, anak saya keracunan makanan itu bagaimana saya belum paham. Apakah ada racun dalam makanan yang anak saya makan atau anak saya makan makanan yang mungkin sudah tidak layak sehingga menyebabkan keracunan?"


"Kami masih menunggu hasilnya. Dugaan sementara ada racun yang sengaja dimasukan ke dalam makanan yang anak Ibu makan. Namun, lebih baik kita tunggu hasil lab nya supaya lebih jelas. Permisi." Dokter itu lalu pergi setelah menjelaskan kepada Anyelir yang justru membuat Anyelir makin bertanya-tanya.


"Bu Wati bisa menjelaskan kronologinya?" tanya Anyelir.


"Kalau menurut yang saya ketahui, saat jam makan bersama Elena makan sosis yang ia bawa juga minum susu. Tidak lama, muka Elena pucat lalu muntah-muntah dan pingsan. Maka dari itu langsung saya bawa ke rumah sakit baru setelahnya saya menghubungi Bu Anye," jawab Bu Wati.


Sosis? Perasaan tadi aku menyiapkan bekal untuk Elena itu telur gulung. Kenapa jadi ada sosis?


***


Elena kini sudah berada di ruang rawat. Kondisinya sudah membaik, tinggal menunggu pemulihan saja. Anyelir masih setia duduk di samping ranjang sambil mengusap-usap kepala Elena. Sedangkan Bu Wati sudah pulang sejak Elena dipindah ke ruang rawat.


Anyelir mengeluarkan gawainya dari dalam tas. Ia berniat untuk mengirim pesan pada Vio, untuk menyusulnya ke rumah sakit sambil membawa pakaian untuknya dan Elena.


To Vio :


[Vi, nanti tolong bawain baju ganti buat aku dan Elena ya]


[Ke rumah sakit Permata]


Tidak lama Anyelir mengirim pesan pada Vio, ponselnya bergetar, tanda bahwa ada pesan masuk.


From Vio :


[Ok. Elena sakit apa Nye? Tapi enggak kenapa-napa kan?]


To Vio :


[Keracunan Vi. Alhamdulillah langsung ditangani dokter jadi sekarang tinggal pemulihan]


From Vio :


[Kok bisa? Memangnya Elena makan apaan?]


To Vio :


[Nanti aja ceritanya]


From Vio :


[Ok deh. Gue ke sana sekarang]


"Ma," lirih Elena.


Anyelir langsung menghampiri putrinya. "Ya Sayang Mama di sini. Ada yang sakit? Mau minum?"


"Minum," jawab Elena dengan lemah. Anyelir segera mengambil botol minum yang ada di meja lalu menuangkannya ke dalam gelas. Ia lalu membantu putrinya untuk duduk bersandar. Anyelir juga membantu Elena untuk minum, karena kondisi Elena yang masih lemah. Setelahnya diletakan gelas kosong itu di atas meja.


"Mananya yang sakit Sayang?" tanya Anyelir lagi yang dijawab dengan gelengan oleh Elena.


Anyelir tersenyum. "Tadi kata Bu Wati Elena makan sosis?"


Elena mengangguk. "Sosis ya pahit Ma. Nanti Mama jangan bawain bekal sosis lagi ya," ucap Elena.


"Memangnya Elena dapat sosis dari mana? Mama tadi bawain bekalnya itu telur gulung lho."


"Eh, iya tadi bekal dari Mama tertinggal di mobil Papa," jawabnya sambil tersenyum meskipun masih terlihat sayu dan sedikit pucat wajahnya.


"Elena minta dari teman sosis itu?" tanya Anyelir.


Elena menggeleng. "Tadi Bu Safa kasih kotak bekal itu ke Elena. Katanya dapat dari orang suruhan Papa."


Orang suruhan Ken? Enggak mungkin kan Ken mau meracuni anaknya sendiri?


Anyelir mengembuskan nafas pelan. "Ya sudah, nanti Mama coba tanyakan ke Papa."


"Elena ngantuk Ma."


"Ya sudah tidur lagi ya." Anyelir membantu Elena untuk berbaring lalu mengusap-usap kepala Elena dengan sayang.


Tak lama nafas Elena mulai teratur yang menandakan bahwa ia sudah tertidur. Terdengar suara pintu terbuka, lalu munculah Ken dengan wajah paniknya ia menghampiri Anyelir yang duduk di dekat ranjang.


"Apa yang terjadi? Bagaimana kondisi Elena?" tanyanya yang kentara penuh dengan kekhawatiran.


"Sssttt." Anyelir memberi peringatan agar Ken tidak berisik. Lalu ia menunjuk sofa dengan dagunya, memberitahu untuk berbicara di sana saja.


Ken mengangguk lalu menuju sofa dan duduk di sana. Anyelir mengikuti lalu duduk di sampingnya.


"Ada yang menaruh racun pada makanan Elena, dan makanan itu dari kamu."


Ken mengernyit. "Makanan dari aku?"


"Elena bilang bekal makannya tertinggal di mobil. Lalu enggak lama ada orang yang mengantar makanan untuk Elena atas suruhan Tuan Ken. Itu kamu kan?"


"Aku belum mengerti. Gini, aku aja enggak tau kalau bekal Elena tertinggal. Dan aku juga enggak merasa menyuruh orang untuk mengirimkan makanan untuk Elena," sanggah Ken.


"Terus kenapa kamu bisa tau Elena ada di sini?" tanya Anyelir penuh selidik.


"Tadi perasaanku enggak enak, gelisah gitu. Makanya aku memutuskan untuk izin pulang. Lalu aku sengaja ke toko untuk menemui kalian, tapi Vio bilang kalau Elena ada di rumah sakit. Terus aku langsung ke sini. Vio juga menitipkan sesuatu untuk kalian. Katanya baju untuk ganti," ucap Ken sambil menunjuk tas yang ada di ujung sofa.


Anyelir mengangguk. "Terima kasih. Lalu siapa orang yang sudah mengaku sebagai suruhan kamu?"


"Nanti aku coba hubungi seseorang untuk menyeledikinya. Sekarang bagaimana Elena?" tanya Ken.


"Sudah lebih baik. Racun dalam tubuhnya sudah dikeluarkan. Hanya butuh istirahat dan minum obat."


"Syukurlah," ucap Ken lega. "Kamu jangan terlalu lelah, biar aku saja yang menjaga Elena. Kamu pulang saja," pinta Ken.


Anyelir menggeleng. "Kita sama-sama jaga Elena kalau kamu mau."


Ken tersenyum. "Ya, aku mau."


❤️❤️❤️


Halo....jumpa lagi dengan Elena.


Hari Senin harus semangat ya...💪💪💪


Maaf 🙏🙏🙏 kemarin enggak bisa update karena seharian enggak di rumah, ada acara gitu


Semoga suka ya ...


Jangan lupa dukung terus author dengan cara like, komen, vote dan beri hadiah sebanyak-banyaknya biar makin semangat nih update nya 🤭🤭🤭😍


Jangan lupa tekan juga Favorit biar kalian tahu kalau cerita ini update


Mohon maaf atas segala kekurangan 🙏🙏🙏


Terima gaji 😍😘