
"Elena, ada apa na, Ibu dengar dari tadi suara dari kamarmu berisik?"
"Maaf ibu, aku sedang mencari buku ku."
Elena terlihat gusar, sambil mencari-cari keberadaan buku berwarna hitam miliknya.
"Aku ingat aku membawanya, tapi kenapa tidak ada dimanapun."
Buku itu sangat penting baginya, banyak hal yang dia tulis disitu termasuk cerita sedih dan senangnya bahkan ada beberapa pelajaran yang sengaja ia tulis di buku itu.
"Malu sekali kalau sampai ada yang membacanya." ucapnya sambil menangkupkan kedua tangan ke wajahnya.
Dia berfikir keras, dimana dan bagaimana bisa dia meninggalkan buku hitam miliknya.
"Apa mungkin aku meninggalkannya saat bersama Luciano?!"
"Bodoh, bagaimana bisa." Elena terlihat frustasi dan akhirnya memutuskan untuk bertemu dengan Luciano.
"Ibu aku izin keluar sebentar." sebelum menjawab pertanyaan ibunya dia segera berlari keluar rumah. Dia ingat hari ini ada jadwal Luciano latihan bersama yang lain, Elena memang tidak ikut latihan ini karena dia sudah ada latihan khusus.
Elena segera berjalan dengan cepat menuju gedung opera, sesekali ia berjalan sambil menabrak seseorang. Ia hanya ingin cepat sampai dan menanyakan bukunya. terkadang dia juga terlihat kelelahan berjalan. Rumahnya memang sedikit cukup jauh dari gedung Opera La Monnaie. Akhirnya dia sudah berada di depan gedung besar putih itu, ia segera masuk dan mencari seseorang yang mungkin mengetahui dimana bukunya.
Setelah mencari cukup lama, akhirnya dia bertemu dengan laki-laki yang dimaksud. Laki-laki tinggi berambut coklat, dan terlihat tampan walau dari belakang, bau parfumnya menyeruak tercium di hidung Elena. Gadis itu segera menarik nafas dan menepuk pundak Luciano.
"Elena, ada apa?" Luciano terlihat senang Elena menghampirinya.
"Bisa bicara sebentar?"
"Tentu." mereka berdua berjalan menjauhi keramaian.
"Kemarin apa aku meninggalkan sesuatu?" tanya Elena ragu.
"Sesuatu?" Luciano hanya mengerutkan dahinya tidak mengerti.
"Mungkin kau menemukan buku warna hitam milikku?"
"Ah, buku itu? Iya aku yang menemukannya."
Elena terlihat lega mengetahui bahwa bukunya sudah ia temukan.
"Sekarang dimana?"
"Dirumah."
"Kenapa kau tak membawanya." tanya Elena gemas.
"Kupikir hari ini tidak ada jadwal mu latihan, jadi aku meninggalkannya dirumah." ucap Luciano dengan wajah tidak berdosa.
"Kau tidak membaca isinya kan?" Elena terlihat menyipitkan matanya harap-harap cemas kalau Luciano membuka bukunya.
"Tidak."
"Syukurlah."
"Tapi tidak tahu kalau Alfred menemukannya dan membacanya."
Elena terduduk lemas mendengar pernyataan Luciano. Benar, Alfred laki-laki itu pasti sudah membacanya karena pasti dia berfikir itu milik Luciano. Mau taruh dimana wajahnya saat bertemu Alfred, karena didalam buku itu terdapat banyak cerita tentang Luciano.
"Bisa kita ambil sekarang?"
"Aku kan masih berlatih."
"Biar aku yang izinkan kepada Maestro Philip. Kau tunggu disini."
Luciano tersenyum melihat Elena berlari menjauh, ia berhasil membohongi Elena. Sebenarnya ia sudah berpesan kepada Alfred agar tidak menyentuh buku milik Elena.
...----------------...
Setelah berhasil meminta izin maestro Elena segera menarik tangan Luciano.
"Ayo kita harus cepat sebelum Alfred membacanya."
"Memang ada apa didalam buku itu?" tanya Luciano.
"Kau tidak perlu tahu."
Hal itu berhasil membuat Elena berhenti mendadak dan membuat mereka saling bertabrakan.
"Jangan terlalu percaya diri." ucap Elena ketus.
Luciano hanya tertawa melihat wajah Elena yang sudah memerah, seperti sedang marah dan malu. Elena menghentakkan kakinya dan pergi meninggalkan Luciano yang masih menertawakannya.
"Menyebalkan."
"Memang kau tau rumahku dimana?" teriak Luciano.
Elena segera menghentikan langkahnya dan berputar menghampiri Luciano, wajahnya terlihat tidak bersahabat membuat Luciano bergidik ngeri kalau-kalau Elena menerkamnya.
"Makanya kalau jalan yang cepat."
...----------------...
Akhirnya mereka sudah sampai dirumah sederhana milih Bibi Anne. Elena melihat sekeliling rumah yang terlihat jauh berbeda dari rumahnya.
"Rumahnya tidak sebesar rumahmu ya? Ini rumah Bibi Alfred aku hanya menumpang sebentar disini." ucap Luciano dengan tulus.
"Rumahnya bagus, terlihat nyaman."
Luciano hanya tersenyum mendengarnya, "Tunggu disini sebentar," ucap Luciano sambil mengarahkan Elena duduk dibangku kayu depan rumah.
"Halo Elena cantik, apa kabar?" Bukannya Luciano yang keluar malah Alfred yang keluar.
"Ada apa kesini?"
"Tidak aku hanya-"
"Ini bukumu." Luciano terlihat menyerahkan buku hitam milik Elena dan secangkir teh hangat.
"Di minum dulu, aku sudah membuatkannya."
Alfred terlihat membelalakkan matanya lebar,
"Itu bukumu?" ucapnya sedikit gelagapan.
"I-iya, kau sudah membacanya?" Elena bertanya dengan ragu, dia harap Alfred menjawab tidak.
Alfred segera melirik Luciano dengan dengan ragu dan dibalas lirikan tajam.
"A-aku tadi membacanya sedikit, benar hanya sedikit saja hanya satu kalimat."
Luciano terlihat memukul lengan Alfred sampai yang empunya meringis kesakitan. Dan Elena hanya tersenyum terpaksa sambil menundukkan kepalanya.
"Maaf aku tidak tahu, aku kira itu milik Luciano." ucap Alfred sangat bersalah dan bersiap bersujud di kaki Elena, tapi dengan sigap Elena menghentikannya.
"Aku kan sudah bilang jangan sentuh buku ini."
"Maaf aku hanya penasaran, aku tidak tahu kalau ini bukumu. Tadi aku hanya membaca satu kalimat lalu ku tutup kembali. Aku sedikit ingin tulisannya seperti ini, Laki-laki tinggi, berambut coklat, dan bermata bi-"
Elena segera membekap mulut Alfred agar tidak melanjutkan ucapannya. Elena sangat malu saat ini, dia tidak bisa menyembunyikan rasa malunya. Pipinya mulai memanas dan ia merasa pasti pipinya sangat merah saat ini.
Elena sudah tidak mau berlama-lama disana ia segera berpamitan pulang.
"Aku pulang dulu." Ucapnya sambil menundukkan kepalanya.
"Biar aku antar." tawar Luciano.
"Tidak usah, aku bisa sendiri."
"Memang kau ingat jalannya?"
"INGATTT. AKU PERNAH KE DAERAH SINI SEBELUM NYA." ucapnya lantang.
"Hati-hati."
"Maafkan aku Elena." ucap Alfred keras, agar terdengar oleh Elena.
Tidak perlu dihindari, takdir bisa datang dari mana dan bagaimana saja.
...****************...