ELENA

ELENA
Wedding Day



"Mama, kenapa Papa lama enggak main ke sini?" tanya Elena sepulang dari sekolah.


Anyelir meletakan tas sekolah Elena, membantu melepas sepatu dan seragam sekolah sang buah hati. "Anak Mama kangen Papa?"


Elena mengangguk, ia memakai baju santai yang telah ibunya siapkan. "Kangen banget malah. Emang kita enggak boleh video call sama Papa?"


"Belum boleh Sayang. Sabar ya, besok juga kita ketemu Papa," ucap Anyelir tersenyum. Ia lalu mengambil sisir dan ikat rambut dari tempat aksesoris milik sang buah hati. Ia mulai menyisir rambut panjang putrinya. Sepertinya rambut Elena menurun dari rambutnya, yang lurus, halus dan berwarna sedikit kecoklatan. Karena rambut kalau Ken sedikit bergelombang. Kalau soal wajah, jangan ditanya. Semua orang juga akan langsung tau dan bisa menebak bahwa Elena itu putri kandung Ken. Karena wajah mereka bagaikan pinang dibelah dua.


"Tapi ketemunya besok cuma sebentar. Malamnya, enggak boleh tidur bareng Papa sama Mama," ucap Elena sambil mengerucutkan bibirnya.


"Kata siapa enggak boleh?"


"Semuanya bilang begitu. Oma, Opa, Aunty Vio, Enyak, Om Dafa," ucap Elena mengadu pada sang ibu. "Katanya Mama sama Papa enggak boleh diganggu karena capek setelah pesta pernikahan nanti. Padahal Elena kan cuma ingin tidur bareng," ucap Elena masih setia dengan wajah cemberutnya.


Anyelir tersenyum lalu mengecup puncak kepala putrinya dengan sayang. "Kita makan siang dulu yuk. Mama buat cumi goreng tepung lho."


Seketika mata Elena berbinar, pendar kebahagiaan terasa nyata melalui pancarannya. Terang saja, karena cumi goreng tepung merupakan salah satu makanan kesukaan Elena. Sebenarnya tidak hanya cumi goreng tepung, karena hampir semua yang Anyelir masak, selalu dijadikan makanan favorit bagi Elena.


"Ayok Ma," ajaknya pada sang ibu dengan menarik tangan Anyelir untuk mengikuti langkahnya menuju ruang makan. "Elena sangat lapar," ucapnya saat tiba di meja makan.


Setelah putrinya duduk, Anyelir segera menyiapkan nasi dalam porsi kecil lalu menaruhnya di hadapan Elena. "Makan yang banyak Sayang," ucap Anyelir lalu ia pun segera mengambil untuk bagiannya.


"Kalau Mama suruh aku makan yang banyak, kenapa nasinya cuma segini?" ujar Elena sambil menunjukan nasi yang disiapkan oleh ibunya.


Anyelir tertawa lalu membawa tangannya untuk mengelus rambut anaknya. "Mama sengaja ambil sedikit dulu, takutnya nanti enggak habis kan mubazir Sayang. Kalau Elena mau nambah nanti Mama ambilkan. Sekarang habiskan dulu nasi yang sudah Mama siapkan. Ok?"


Elena mengangguk paham. "Ok Ma." Mereka pun makan siang hanya berdua karena enyak dan Vio sang sahabat sedang pulang ke rumahnya terlebih dulu. Malam nanti baru kembali lagi ke rumah Anyelir bersama dengan babeh. Supaya besok pagi bisa berangkat bersama menuju hotel Semeru. Anyelir tak menyangka kalau statusnya akan berubah menjadi seorang istri dari Kenneth Piera Kaswel yang merupakan ayah dari putri cantiknya ini dalam hitungan jam.


Dulu, sewaktu Anyelir mengetahui bahwa di dalam rahimnya ada nyawa lain yang merupakan hasil dari perbuatan keji seseorang, ia merasa sangat terpukul dan hancur. Ia ingin melenyapkan kehidupan yang baru hadir di dalam rahimnya.


Beruntung, ia mempunyai sahabat yang mengingatkannya sehingga Anyelir mengurungkan niatnya. Anyelir juga merasa dilindungi dan di support oleh sahabatnya itu. Mungkin, kalau tidak ada Kayla, entah apa yang akan terjadi pada dirinya. Berkat sahabatnya, Anyelir mampu melewati kehamilannya tanpa ada suami di sisinya sampai ia melahirkan seorang putri yang sangat cantik dan pintar hingga merubah kehidupan Anyelir menjadi jauh lebih baik. Tidak pernah terlintas sedikitpun di dalam benaknya kalau ia akan seperti orang-orang yang mempunyai keluarga yang utuh dengan hadirnya seorang suami. Namun, kini semua itu akan terwujud dalam hitungan jam.


***


Anyelir melihat tampilan dirinya di cermin. Kebaya putih gading membalut tubuhnya dengan hiasan bordiran bunga dan aksen-aksen mutiara serta kristal itu melengkapi penampilannya sebagai pengantin yang menerapkan riasan adat Sunda. Sementara itu kainnya menggunakan batik klasik bernuansa cokelat.


Siger terpasang sempurna sebagai mahkota memberikan kesan anggun pada sang pemilik bola mata bulat itu. Tak lupa roncean atau hiasan bunga melati turut mempercantik tampilannya. Roncean tersebut terdiri atas tiga untaian melati yang berbentuk bawang sebangkul. Ronce tersebut menjulur dari kepala hingga menyentuh satu sisi dada.


"Nye." Anyelir menoleh ke arah sumber suara yang mana disambut dengan senyum lembut dari sahabatnya yang rela datang dari benua lain dengan perut yang terlihat membuncit.


Anyelir ikut tersenyum dan mengulurkan tangannya guna meraih tangan sahabatnya itu.


"Apa tidak lelah, mengingat semalam kamu baru saja sampai. Apa tidak sebaiknya kamu istirahat saja," ucap Anyelir sambil menggiring sahabatnya duduk di sofa.


Orang tua Kayla berhalangan hadir karena ayah Kayla sedang dalam kondisi kurang sehat. Anyelir memaklumi dan ia pun mendoakan semoga lekas sembuh.


Kayla tersenyum. "Untuk apa aku datang jauh-jauh kalau sampai sini cuma buat tidur," ucap Kayla.


"Tapi kamu sedang hamil Kay."


"Itu kamu tau kalau aku sedang hamil bukan sedang sakit jadi tidak perlu istirahat."


***


Di ballroom hotel Semeru yang telah di sulap menjadi tempat untuk akad nikah dan juga resepsi, Ken nampak gagah, tegas dan bersahaja mengenakan beskap berpayet putih yang menjulur dari bahu ke dada, dipadu dengan kalung yang senada dengan detail payet nan sederhana. Tak lupa untaian bunga melati mengalunginya.


Ken duduk dengan diapit oleh Danial dan sahabatnya. Di depannya Babeh sebagai saksi dan wali dari Anyelir duduk berdampingan dengan penghulu.


"Siap Nak?" tanya penghulu pada mempelai pria.


"Siap!" jawab Ken dengan tegas.


Pak penghulu memegang tangan Ken lalu memulai prosesi akad dengan diawali dengan bismillah. Ketika penghulu memberi kode untuk menjawab dengan menyentak sedikit tangannya, Ken segera mengikrarkan janji sumpahnya dengan lantang tegas dan lancar dihadapan sang ayah dan tamu undangan.


Ketika kalimat sah meluncur dari mulut kedua orang saksi seketika suasana menjadi haru biru. Hatinya lega bercampur senang. Namun detik itu juga ia menyadari bahwa ada tanggung jawab yang lebih besar yang harus dipikulnya setelah menyandang status sebagai seorang suami. Karena pernikahan tidak hanya sekedar dua orang yang saling mencintai lalu berkembangbiak untuk melestarikan keturunan.


Ken segera memeluk sang ayah, tak terasa kedua sudut matanya basah ketika sang ayah mengelus punggungnya dan membisikan kalimat-kalimat yang menggetarkan hatinya.


Tak lama, mempelai wanita datang dengan diiringi oleh ibu mertua, Enyak, serta kedua sahabatnya. Sang buah hati memimpin di depan dengan menaburkan kelopak bunga mawar putih disepanjang ia melangkah.


Anyelir segera mencium tangan sang suami ketika sudah duduk bersebelahan. Tak lupa Elena menyerahkan cincin pada kedua orangtuanya untuk dipakaikan di jari manis masing-masing. Anyelir mengambil cincin emas putih polos lalu menyematkannya ke jari manis pria tampan di hadapannya. Sekarang giliran Ken yang mengambil cincin dari tangan sang buah hati lalu menyematkan di jari manis wanita yang telah menjadi istrinya.


Setelah itu keduanya kompak mencium pipi putrinya yang langsung diabadikan dengan jepretan dari fotografer dan juga para tamu undangan.


Acara dilanjut dengan prosesi sungkeman oleh kedua pengantin kepada kedua orang tua. Enyak dan Babeh menjadi wali dari Anyelir. Prosesi sungkeman pun tak luput dari tangis kebahagiaan.


Setelahnya pengantin undur diri untuk berganti pakaian dengan pakaian pesta resepsi hingga sore hari. Sementara pengantin berganti pakaian, para tamu undangan dipersilahkan mencicipi hidangan yang telah disediakan.


Alhamdulillah.... akhirnya sah juga


Happy Ending


eh salah


Happy reading 🤭