ELENA

ELENA
30. Luciano



Setelah kepergian Elena kemarin, Harry semakin yakin kalau Elena sudah jatuh cinta kepada laki-laki lain, dan hal itu justru membuatnya marah. Dia ingat beberapa waktu lalu anak buahnya mengabari bahwa Elena bersama seorang laki-laki dan mereka terlihat sangat akrab, Ia yakin bahwa laki-laki yang dimaksud adalah laki-laki itu.


"Aku tidak bisa diam saja, aku harus mencari tahu siapa laki-laki itu." ucapnya dengan sedikit marah.


****


"Apa yang terjadi kemarin? Kau tidak apa?" tanya Luciano kepada Elena.


Saat ini mereka tengah berlatih bersama. Setelah adegan Elena ditarik oleh laki-laki yang Luciano yakini sebagai calon tunangannya, sebenarnya ia ingin menyusul tetapi Alfred menahannya. Ia berkata bahwa Elena akan baik-baik saja. Akhirnya Luciano hanya menurut saat Alfred juga yang mengajak mereka kembali ke rumah.


"Aku tidak apa-apa." jawab Elena tenang.


"Dia tidak menyakitimu kan?"


"Tidak Luciano, aku baik-baik saja. Lihatlah tidak ada yang terluka."


Luciano segera mendekat dan melihat dengan seksama wajah Elena, bahkan jarak mereka sangat dekat. Bahkan suara nafas Luciano bisa terdengar Elena. Hingga mata mereka bertemu, cukup lama mereka saling memandang hingga akhirnya Elena mengalihkan pandangannya dan memundurkan badannya.


Mereka berdua saling berdehem dan terlihat salah tingkah.


"Aku pergi dulu, sampai jumpa Luciano." Elena mengangkat suaranya dan segera berlalu meninggalkan Luciano.


Dadanya berdebar kencang, Ia salah tingkah ditatap Luciano seperti itu. Elena tersenyum membayangkannya.


"Elena?"


Suara Harry membuyarkan lamunannya, Ia segera menoleh ke sumber suara. Terlihat Harry berlari ke arahnya.


"Ada apa?" tanya Elena. Ia tidak ingin memperpanjang percakapannya dengan Harry.


"Nanti malam, apa kau bisa makan malam denganku?"


Elena diam sebentar, berpikir alasan apa untuk menolak. Sebelum Ia sempat berbicara, Harry sudah lebih dulu memotong ucapannya.


"Kau tidak bisa menolak, aku akan datang ke rumahmu pukul 7. Aku harap kau sudah siap."


"Kau tidak bisa memaksaku." jawab Elena ketus.


"Elena, kenapa kau terlihat berbeda. Aku merasa kau bukan seperti Elena yang ku kenal. Kau sekarang menjadi gadis yang kasar."


Mendengar hal itu membuat Elena sedikit marah, dia merasa apa peduli Harry tentang dirinya. Selama ini Ia sudah mencoba bersikap baik kepada Harry tetapi laki-laki itu tidak peduli padanya, justru Ia yang kasar. Pernah waktu itu mereka sedang makan malam berdua, tetapi Harry justru meninggalkannya sendiri di restoran, sedangkan dia pergi dengan kekasihnya.


"Apa maksudmu berbicara seperti itu? Ini kan yang kau inginkan."


"Aku menginginkan apa?" Harry bertanya balik.


"Kau yang lebih dulu acuh terhadapku, bahkan kau meninggalkanku waktu kita makan malam."


"Maafkan aku, saat itu aku-" ucap Harry sambil menundukkan kepalanya tidak enak.


Elena menunggu lanjutan dari ucapan Harry. Setelah cukup menunggu lama, ternyata Harry tidak melanjutkan ucapannya.


"Aku tidak mau dan aku tidak ingin." ucap Elena, kemudian berjalan menjauh dari Harry.


Belum sempat Ia berjalan jauh Harry menarik tangannya dengan kasar, membuat Elena berteriak kesakitan.


"Maaf aku tidak sengaja. Aku tahu kenapa kau seperti ini padaku, pasti gara-gara laki-laki itu kan?" ucap Harry kesal.


Elena bertanya-tanya apa maksud Harry, dan siapa yang Harry maksud.


"Laki-laki yang selalu bersamamu." lanjutnya.


"Dia tidak ada hubungannya dengan ini, ini semua kan salahmu." ucap Elena membela diri. Memang benar Luciano tidak ada hubungannya dengan ini.


"Tidak mungkin, kau jatuh cinta kan dengan laki-laki itu."


"Cukup Harry, kalau kau tidak suka denganku putuskan saja pertunangan kita."


"Tidak bisa dan tidak mungkin, Kau harus ikut dan aku akan menjemputmu tepat waktu."


"Tetap tidak mau."


Mereka berdua terlihat cukup lama beradu argumen.


"Atau aku akan cari tahu siapa laki-laki itu." Harry terlihat tersenyum miring kearah Elena.


"Dia tidak ada hubungannya. Tidak usah melibatkan dia." ucap Elena dengan penekanan.


"Jadi kau terima tawaranku?"


"Baiklah pukul 7 kan."


Harry tersenyum senang mendengar Elena menyetujui tawarannya, Ia mengangguk-anggukkan kepalanya.


"Aku akan menjemputmu tepat waktu, sampai jumpa."


Harry berlari menjauh dari Elena, saat ini Ia sedang tersenyum-senyum sendiri. Dia terlihat sangat bahagia. Sampai senyumnya menghilang karena melihat Luciano. Ia segera berjalan mendekati Luciano, Luciano menyadari kehadiran seseorang Ia segera membalikkan badannya.


"Ingat, kau bukan siapa-siapa. Jadi berhenti mendekati Elena." Harry memperingatkan Luciano.


Luciano yang awalnya bingung siapa laki-laki ini, saat Ia berbicara tentang Elena, Luciano baru menyadari bahwa dia adalah calon tunangan Elena. Wajahnya menegang dan memerah tanda dia sedang menahan amarahnya. Sebenarnya Luciano juga sudah mengetahui hal jahat apa yang dilakukan Harry terhadap Elena.


"Elena calon tunanganku." tegasnya kepada Luciano.


"Kalau kau tidak mencintainya lepaskan dia." giliran Luciano menjawab.


"Tidak usah ikut campur urusanku. Aku tahu kau hanya rakyat biasa, jadi tidak usah terlalu jauh."


Harry segera berlalu meninggalkan Luciano yang masih berdiri menatapnya.


****


Elena bergegas merapikan penampilannya sebelum pukul 7 malam, dia tidak ingin berlama-lama bersama Harry. Sebenarnya Ia ingin tampil biasa saja di depan Harry tetapi karena ayahnya tahu bahwa dia akan pergi makan malam bersama Harry, ayahnya memerintahkannya agar tampil cantik malam ini, bahkan baju yang dia pakai pun ayah dan ibunya yang memilihkannya.


Elena menatap dirinya lewat pantulan cermin, rambutnya yang sengaja ia biarkan terurai menambah kecantikannya, gaunnya berwarna putih yang simple dengan ditambah heels yang cocok saat ia pakai.



Derum suara mobil di pekarangan rumahnya terdengar, Harry sudah sampai dan siap untuk mengajaknya makan malam. Elena segera menghembuskan nafasnya dan bersiap untuk turun.


Terlihat Harry sudah menunggunya sambil berbicara kepada orang tuanya, laki-laki itu terlihat sangat tampan, rahangnya yang tegas dan senyuman nya yang sangat manis membuat perempuan mana saja yang melihat pasti langsung jatuh cinta. Tetapi tidak dengan Elena, entahlah perasaannya seperti sudah habis dan sekarang tidak ada yang tersisa. Saat langkahnya sudah sampai di tangga terakhir Harry termasuk kedua orangtuanya melihat kearahnya sembari tersenyum.


"Cantik sekali putri ayah." puji ayahnya.


"Tentu saja, putri siapa dulu." lanjut sang ibu.


Elena hanya tersenyum canggung.


"Kalau begitu, boleh saya ajak Elena dulu paman, bibi?"


"Silahkan nak. Hati-hati ya." pesan ayahnya kepada Harry.


Mereka berdua segera berpamitan dan meninggalkan rumah Elena.


Hening ketika mereka berdua di dalam mobil, tidak ada yang memulai percakapan atau sekedar basa-basi. Elena menikmati pemandangan malam lewat kaca mobil, sebelum Harry memecah keheningan.


"Kau cantik." pujinya.


Elena menoleh kearah Harry, "Terima kasih."


"Kau tidak nyaman?" tanya Harry.


"Biasa saja."


"Biasanya kau akan terlihat gugup dan terus menerus menoleh ke arahku."


"Sekarang sudah tidak lagi." jawab Elena seadanya.


memang benar dulu dia sangat canggung ketika berada di samping Harry, tetapi sekarang sudah tidak. Bahkan perasaannya sudah biasa saja saat bertemu dengan laki-laki ini.


"Maafkan aku, kalau dulu aku banyak salah kepada mu." ucap Harry ditengah lamunan Elena.


"Iya, tidak apa."


Keheningan kembali terjadi diantara mereka, Harry sudah tidak melanjutkan ucapannya Ia hanya fokus menyetir sampai mereka sudah sampai di sebuah restoran klasik yang terlihat sangat mewah. Mereka masuk dan disambut oleh para pelayan.


Saat menelusuri meja mata Elena tak sengaja melihat seorang laki-laki yang Ia kenal juga menatap kearahnya. Tatapan laki-laki itu tidak biasanya, laki-laki itu hanya menatap dingin kearahnya hal itu membuat Elena tidak mengerti apa maksudnya.


"Elena, kau mau berdiri disitu?" Elena menoleh ke sumber suara ternyata Harry sudah duduk di meja mereka.


Elena segera mengangguk dan mulai berjalan kearah meja, saat menoleh kearah ia melihat Luciano, laki-laki itu sudah tidak ada di tempatnya.


Bukannya aku sudah tidak perduli, tetapi terkadang keadaan yang memaksaku melakukannya.


...****************...