
Sesudah sarapan, tidak banyak kegiatan yang Anyelir lakukan. Ia lebih memilih menikmati fasilitas yang disediakan oleh resort mewah itu. Seperti berenang dan spa. Tadinya Elena dan Vio juga ikut berenang bersamanya, tapi tak lama Vio mengajak Elena pergi jalan-jalan bersama Dafa. Sedangkan Ken juga pergi katanya ada urusan yang harus ia selesaikan.
Kalau untuk Carol dan Danial sudah pasti kedua pasangan paruh baya itu sedang mempersiapkan acara yang akan mereka lakukan malam nanti. Namun, hingga hampir sore hari Elena belum juga kembali. Saat baru saja akan menghubungi Vio untuk menanyakan keberadaannya, Elena datang dengan membawa satu kotak besar berisi buah strawberry.
"Mama!" Sapa Elena dengan senyum lebar hingga menimbulkan lesung di dagu sebelah kanannya.
"Dari mana saja Sayang? Lama banget. Mama sampai bosan menunggu," ucap Anyelir meraih tangan Elena dan membimbingnya untuk duduk di sofa.
"Elena dari kebun strawberry Ma. Lihat nih, Elena bawa buat Mama," ucap gadis cilik itu dengan menunjukan kotak berisi strawberry.
"Ke kebun strawberry kok enggak bilang-bilang Mama." Anyelir lalu menempatkan strawberry ke dalam wadah lalu mencucinya.
"Mama tadi enggak mau diajak jalan-jalan. Katanya capek, mau spa aja."
Anyelir tersenyum. Benar juga apa kata Elena. Tadi Vio sudah mengajaknya, tetapi Anyelir menolak dengan alasan capek dan ingin melakukan spa. Tapi memang itu kenyataan, karena kegiatannya kini makin padat, semenjak rumah belajar sudah resmi dibuka dua bulan lalu.
"Mandi dulu ya Sayang. Nanti kita turun untuk makan malam bersama."
"Oma, ulang tahunnya malam ini?" tanya Elena penasaran. Karena setahunya, ia ke Bali selain untuk ikut pameran seni lukis juga untuk merayakan ulang tahun Oma Carol.
"Iya Sayang."
"Tapi Elena belum siapin kado untuk Oma," ucapnya dengan wajah menyesal. Kenapa tadi sewaktu jalan-jalan ia tidak meminta Aunty Vio dan Om Dafa untuk membantu mencarikan kado untuk Oma Carol.
"Elena cukup jadi anak yang baik, penurut, sayang sama Oma dan yang lainnya, juga rajin belajar itu sudah menjadi kado yang spesial untuk Oma," jawab Anyelir.
"Tapi kan, Elena juga ingin kasih hadiah buat Oma." Tiba-tiba, seolah ada lampu berpijar di atas kepalanya. Ya, dia menemukan ide kado apa yang akan ia berikan untuk omanya. "Ah ... Elena mau membuat lukisan wajah Oma. Pasti Oma suka kan Ma?"
"Iya boleh."
Setelah mandi Elena langsung mengerjakan lukisan untuk dihadiahkan kepada omanya.
"Nanti-nanti kan bisa Sayang kerjainnya," ucap Anyelir yang melihat Elena belum sempat menyisir rambutnya setelah mandi.
"Aku enggak punya banyak waktu Mama. Malam ini harus aku kasihkan hadiahnya untuk Oma."
Anyelir mengambil sisir lalu mulai menyisir rambut panjang buah hatinya. Ia jadi teringat saat masih kecil. Nenek Tari sering menyisir rambutnya. Dihiasi dengan berbagai macam jepit rambut atau pita warna-warni. Bahkan ia sering menjadi pusat perhatian teman-teman sekolahnya karena model ikatan rambutnya yang berganti-ganti setiap hari. Terkadang rambutnya dikepang kecil-kecil atau juga diikat tinggi seperti pohon kelapa. Tanpa sadar Anyelir melengkungkan bibirnya saat mengingat masa kecilnya yang cukup bahagia meski hanya tinggal berdua dengan sang nenek.
"Mama kenapa senyum-senyum sendiri," tanya Elena yang memperhatikan ibunya tersenyum sendiri.
"Mama teringat saat kecil dulu. Rambut Mama selalu diikat macam-macam, kadang dikepang, kadang diikat tinggi."
"Aku tidak suka diikat atau dikepang nanti rambutku rusak," ucap Elena mengingat dulu rambutnya pernah dikepang seharian sampai tidur tidak dilepas. Paginya saat dilepas rambutnya jadi mengembang dan ia pun menangis minta rambutnya kembali lurus. Padahal hanya dengan keramas rambutnya akan kembali seperti sebelumnya. Tapi semenjak itu ia tidak mau rambutnya diikat atau dikepang lagi, dan lebih suka dibiarkan tergerai.
***
Malam harinya mereka berkumpul di taman dekat kolam renang hotel yang telah orang tua Ken sewa. Carol mengundang cukup banyak rekan bisnisnya, hingga pesta yang dilaksanakan dengan tema pool party itu cukup meriah.
"Kalau pestanya cuma di dekat kolam renang, kenapa mesti jauh-jauh ke Bali, ngabisin duit doang," ucap Vio tiba-tiba.
Anyelir yang duduk di dekatnya hanya merespon dengan mengangkat kedua bahunya.
"Eh, tapi gak masalah. Gue jadi bisa ke Bali dengan gratis. Nginep di hotel mewah juga, kapan lagi coba," ujar Vio yang nyengir lebar memainkan kedua alisnya pada Anyelir.
"Ma, Ayo kita ke sana, Oma udah mau tiup lilin," ucap Elena yang datang bersama Ken. Anak itu menunjuk dimana Carol dan Danial berada.
"Mama liat dari sini aja ya," ucap Anyelir. Ia melirik ke arah Ken untuk meminta persetujuannya.
"Ih, gimana si, calon mantu masa liatnya dari jauh," ledek Vio yang sudah bergelayut pada lengan Dafa.
"Ayolah," ajak Ken. "Mami sama Papi sudah pastikan, tidak akan ada yang bertanya," imbuh Ken yang mengetahui kegelisahan Anyelir.
"Tanya apa Pa?" tanya Elena.
"Sebaiknya kita ke sana sekarang. Mami pasti nyariin kita." Ken membimbing jalan dengan menggandeng Elena. Sedangkan Anyelir jalan di samping Elena. Vio dan Dafa berjalan dibelakangnya.
Acara dimulai dengan ucapan terima kasih Danial kepada rekan dan sahabat yang hadir di ulang tahun istri tercintanya dilanjut dengan pembacaan doa lalu tiup lilin kemudian pemotongan kue.
Potongan kue pertama Carol berikan kepada Anyelir. Tentu saja semua orang yang hadir bertanya-tanya siapa Anyelir. Kenapa bukan Danial yang mendapatkannya. Hal ini membuat Anyelir makin gelisah. Dengan canggung ia menerima kue itu. Lain halnya dengan Carol yang dengan santai menjawab. "Namanya Anyelir, dia wanita yang spesial, karena bisa memberikan apa yang saya inginkan sejak lama. Kalau suami kan sudah setiap tahun mendapat potongan kue pertama." Dan ditanggapi dengan anggukan dan senyuman yang penuh tanda tanya bagi tamu undangan.
"Happy Birthday Mi, wish you all the best. Maaf, kadonya nyusul aja ya," ucap Ken yang langsung dihadiahi tepukan di pundak oleh sang ibu.
"Berikan Mami cucu yang banyak," bisik Carol. Keduanya tergelak bersama sehingga memancing Danial untuk menoleh dan bertanya. "Ada apa?"
"Rahasia," jawab Ken dan Carol kompak.
Dafa dan Vio pun mengucapkan selamat dan mendoakan yang terbaik untuk Carol. Kini tiba giliran Anyelir. Ia meraih tangan Carol untuk dicium lalu dibalas dengan pelukan.
"Maaf Mi, kadonya nyusul ya. Ken kasih taunya mendadak, jadi enggak sempat beli," ucap Anyelir sambil tersenyum canggung.
"Wah! Jodoh nih. Sama-sama enggak bawa kado," celetuk Vio disambut tawa oleh yang lain kecuali Anyelir.
"Enggak apa-apa. Mami enggak butuh kado berupa barang__"
"Kadonya nambah cucu aja ya Tante," sela Vio lagi.
"Iya kalau boleh," jawab Carol. Ken hanya bisa menggaruk keningnya, sedangkan Anyelir menunduk sambil memainkan jarinya salah tingkah.
"Ini kado untuk Oma," ucap Elena menyerahkan kadonya.
"Wah ... Oma dapet kado kok Opa enggak?"
"Kan yang ulang tahun Oma bukan Opa," jawab Elena.
"Pinter, cucu Oma. Oma buka ya?" tanya Carol. Elena mengangguk dan ikut membuka bungkus kadonya.
"Terima kasih Sayang. Oma suka kadonya. Kapan kamu bikinnya?"
"Sama-sama. Tadi malam Oma."
"Terima kasih," ucap Carol lagi lalu memeluk Elena dan memberikan Elena dengan banyak ciuman.
***
Sudah empat hari mereka di Bali. Elena juga sudah mengikuti pameran seninya. Selebihnya waktu yang tersisa dimanfaatkan dengan jalan-jalan.
Seharian mereka menghabiskan waktunya di luar dengan mengunjungi Tanjung Benoa, Ubud dan Seminyak. Kini jam sudah menunjukan pukul sembilan malam, sehingga mereka telah berada di kamar masing-masing setelah sebelumnya maka malam sambil berbincang-bincang.
Jam empat dini hari, Anyelir terbangun karena merasakan haus. Ia meraih gelas yang telah disediakannya di atas nakas lalu meminumnya. Tapi ada yang janggal saat ia akan kembali berbaring untuk tidur. Ia menoleh ke samping ternyata Elena tidak ada ditempatnya. Ia berjalan ke kamar mandi untuk mengeceknya. Namun Elena tidak ada, Ia pun segera berteriak memanggil Elena.
"Elena! Elena kamu di mana Sayang?"
Tidak ada sahutan dari buah hatinya seperti apa yang ia harapkan.
"Elena! Jangan bercanda Nak!" Anyelir mencari di bawah tempat tidur, di dalam lemari, tapi tidak ada hasilnya, Ia pun mulai panik. Lalu mulai menelpon Ken untuk menanyakan apakah Elena bersamanya.
Sudah dua kali Anyelir menelponnya, tapi tidak ada jawaban. Anyelir kalut, Ia menyambar jaketnya untuk dipakai, karena ia berniat untuk mendatangi kamar Ken langsung.
❤️❤️❤️
Hai...hai....Elena kembali
Kira-kira Elena ada dimana ya?
Penasaran?
Lanjut besok ya ✌️🤭😉
Terima kasih bagi pembaca setia Elena
Tidak pernah bosan aku ingatkan untuk tinggalkan jejak berupa like, komen, vote dan juga hadiah sebanyak-banyaknya
Mohon maaf atas segala kekurangan
Terima kasih 😘😍