
"Kenapa kau menghindari ku lagi?" tanya Luciano sedih.
"Tidak."
"Iya."
"Tidak."
Begitulah perdebatan Elena dan Luciano saat bertemu. Hingga akhirnya salah satu dari mereka memutuskan untuk pergi dan mengakhiri perdebatan yang tiada akhir.
Setelah hari itu Elena memang sedang tidak ingin bertemu dengan Luciano. Sebenarnya dia hanya malu jika bertemu dengan laki-laki itu. Bagaimana kalau Luciano menyadari laki-laki yang ia tulis di buku itu adalah dirinya.
...----------------...
"Kalau dipikir-pikir apa dia benar mengira kalau aku menulis cerita tentangnya ya?" tanya Elena pelan.
"Kak?" tiba-tiba Elena dikejutkan suara Eleanor yang memanggilnya.
"kau memikirkan apa?" lanjutnya.
Elena gelagapan menanggapi pertanyaan Eleanor yang secara tiba-tiba, ah tidak mungkin sebenarnya Eleanor sudah memanggilnya sedari tadi tetapi dia yang tidak mendengarkan karena terlalu fokus memikirkan Luciano.
"Ada apa kau memanggilku?"
"Apa yang kau pikirkan? dari tadi aku memanggilmu tapi kau tidak mendengarkannya."
"Ah, Maafkan aku Aku sedang memikirkan sesuatu."
"Siapa?"
"Tidak ada hanya memikirkan-." Elena terdiam, bingung menjawabnya.
"Apa?"
"Kau ingat tidak laki-laki yang pernah kita temui?"
"Laki-laki yang mana, Aku tidak mengingatnya?"
Elena hanya menghela nafas dan ingin pergi meninggalkan Eleanor.
"Luciano maksudmu?"
Elena membeku ditempat untuk beberapa menit dan akhirnya membalikkan badannya menghadap Eleanor.
Eleanor menantikan jawaban dari sang kakak.
"Iya." ucap Elena pelan.
"Dia dan temannya merepotkan mu?" tanya Eleanor menggebu-gebu.
"Tidak,"
"Lalu?"
"Aku hanya tidak bisa berhenti memikirkannya, walaupun aku sudah menjauhinya. Tapi aku tetap tidak bisa berhenti memikirkannya." ucap Elena sambil menundukkan kepala dan berjalan kembali ke ranjangnya.
"Itu berarti kau mencintainya."
"Benarkah?" jawab Elena sambil menatap adiknya dengan ragu.
Eleanor menghela nafas sebentar sebelum mengarahkan pandangannya menghadap sang kakak.
"Kurasa kau yang tahu sendiri apa jawabannya." ucapnya sambil tersenyum.
"Tapi aku tidak bisa."
"Karena ayah ya?"
Elena lalu menganggukkan kepalanya dengan lesu.
"Seumur hidup itu lama kak, kau harus pikirkan baik-baik."
"Kalau kau ingin bersama dengan laki-laki pilihanmu, kau harus membuat pilihan dan menentukan jalanmu."
Elena tersenyum kearah Eleanor, "Adik kecilku ternyata sudah besar." ia segera memeluk Eleanor dengan erat.
Baginya tidak ada tempat bercerita lagi selain saudaranya.
...----------------...
Saat ini Luciano hanya menatap kosong kearah depan. Bahkan dia bekerja dengan tidak fokus.
"Luciano kalau kau tidak ingin bekerja pulang saja." ucap keras paman Sam.
Alfred bertanya kepada Luciano dengan tanpa suara. tetapi Luciano hanya menggeleng dan segera menyelesaikan pekerjaannya.
...----------------...
Setelah selesai bekerja mereka berdua pulang kerumah. Di jalan pun mereka hanya saling diam, Alfred tidak ingin bertanya-tanya sebelum Luciano yang menjelaskan.
Beberapa kali Luciano menghembuskan nafasnya kasar.
"Lelah aku mendengar mu terus menghembuskan nafas."
"Maaf, aku hanya lelah."
Alfred berjalan cepat dan meninggalkan Luciano. Dan dengan cepat Luciano segera menyusul langkah Alfred.
"Menurut mu kenapa Elena menjauhiku lagi?" tanyanya di memecah keheningan.
"Mungkin kau sudah berbuat salah."
"Tidak ada, seingat ku aku tidak melakukan apapun."
"Mungkin kau menyebalkan,"
"Atau mungkin kau bukan laki-laki idamannya." lanjutnya.
Luciano hanya mendengus kesal mendengar jawaban Alfred.
"Dia menjauhi mu?" tanya Alfred serius.
"Iya, 3 hari ini aku juga tidak melihatnya berlatih."
"Mungkin dia sedang sakit."
Luciano langsung menghentikan langkahnya.
"Kenapa aku tidak memikirkan hal itu, padahal sudah jelas dia tidak hadir selama 3 hari." ucapnya sambil sedikit memukul kepalanya.
"Bagaimana bisa berfikir. Otakmu kan setengah." ejek Alfred sambil tertawa dengan keras.
Luciano yang mendengarnya langsung memukul pundak Alfred, "Sialan."
"Terima kasih, si paling pintar." ejeknya sambil berlari meninggalkan Alfred sendiri.
"Lagi dan lagi aku ditinggal sendiri." ucap Alfred lemas.
...----------------...
Saat ini Alfred sedang berada di depan gerbang rumah Elena. Dia celingak-celinguk melihat kedalam rumah besar itu. Tidak terlihat tanda ada seseorang di dalam.
"Cari siapa?" Luciano dikejutkan suara yang berasal dari belakang nya.
Luciano tersenyum kikuk menjawab pertanyaan wanita itu, "Elena apa ada?"
"Nona Elena tidak ada di rumah. Dia sedang di rumah sakit."
Luciano terkejut mendengar jawaban wanita paruh baya ini, apa benar Elena sakit selama 3 hari ini? Apa ucapan Alfred benar? Tapi kalau bena, bagaimana mungkin Alfred yang tahu sedangkan dia tidak.
"Apa dia sakit?" tanya nya cemas.
"Tidak, hari ini memang jadwal keluarga nya untuk memeriksa kesehatan."
Luciano menghela nafas lega mendengar hal itu. Berarti perkataan Alfred tidak benar, bagaimana mungkin dia berkata bahwa Elena sakit. Bagaimana kalau itu sungguh terjadi.
"Baiklah, terima kasih nyoya sudah memberi tahu ku." ucapnya sambil tersenyum.
"Tuan muda ini siapa memang?"
"Aku teman Elena, aku hanya ingin memastikan keadaan Elena. Karena beberapa hari ini dia tidak mengikuti latihan."
Bibi Beatrice hanya mengangguk mengerti. Memang benar beberapa hari ini majikannya tidak terlihat keluar rumah sama sekali.
"Memang beberapa hari ini Nona Elena tidak terlihat keluar rumah."
"Mau ku sampaikan salam kepada Nona Elena, tuan?"
"Tidak usah nyonya, namaku Luciano. Tidak perlu memanggil ku tuan." ucapnya sambil menundukkan badannya dan berpamitan pergi.
"Anak baik dan tampan." ucap Bibi Beatrice saat melihat Luciano pergi menjauhi nya.
Seumur hidup itu memang lama. Jadi pastikan kalian memilih pasangan yang tepat dan yang mencintai kalian dengan tulus.
...****************...