
Pagi ini Luciano pertama kali berlatih dengan opera La Monnaie, perasaannya sangat tak karuan dan berdebar. Dia masih tidak percaya bisa berlatih bersama grup opera terbesar di negeri nya.
"Ini benar-benar seperti mimpi, sebulan lalu aku disini untuk berkompetisi yang diikuti oleh ratusan orang dan sekarang aku berhasil mengalahkan ratusan orang itu." ucap nya dengan mata berbinar-binar, dia berjalan mengelilingi gedung sambil melihat langit-langit gedung.
Saat mengelilingi gedung matanya tak sengaja melihat Elena dengan calon tunangannya, entah kenapa hatinya sedikit sakit saat melihat Elena bersama dengan laki-laki lain.
"Cantik." ucapnya pelan.
Sesaat kemudian mata mereka bertemu cukup lama, hingga akhirnya Elena memutuskan kontak mata.
"Mereka pasangan yang serasi, semoga engkau selalu bahagia."
Luciano melanjutkan langkahnya untuk berkumpul dengan yang lain. Saat itu juga Elena hanya melihat punggung Luciano yang berjalan semakin menjauh.
"Kenapa aku harus bertemu Luciano saat bersama dengan Harry." ucap Elena lemah.
Luciano berjalan kearah aula untuk berkumpul. Saat baru sampai pun semua mata tertuju kearahnya, hal itu sedikit membuatnya salah tingkah. Dia hanya menundukkan kepalanya dan sesekali tersenyum. Dari tempatnya berdiri ia sedikit mendengar banyak yang membicarakannya.
"Siapa dia?"
"Tampan sekali."
"Apa dia sudah punya kekasih?"
"Masih tampan aku."
Dan masih banyak lagi, mereka baru berhenti saat Maestro Philip Morris datang dan menyuruh mereka mendengarkan pengumuman yang maestro bawa.
Setelah mendengar pengumuman yang dibawakan maestro Philip, semua kembali seperti semula berbicara satu sama lain. Luciano cukup terkejut saat seorang laki-laki datang mendekatinya.
"Frank." ucap laki-laki itu sambil mengulurkan tangannya.
Luciano menerima dengan senang hati, "Luciano."
"Orang Brussel?"
"Bukan, aku dari Hasselt."
"Jauh juga ya." ucap Frank sambil terkekeh.
"Jadi memutuskan untuk menetap disini?" lanjutnya.
"Iya. kau sendiri dari mana?"
"Aku dari Brussel, tapi cukup jauh dari sini."
"Senang bertemu denganmu." Frank tersenyum kepada Luciano.
"Senang juga bertemu denganmu, terimakasih sudah mengajakku berbicara. Aku tidak tahu bagaimana kalau kau tidak mengajakku berbicara." ucap Luciano tulus.
Frank hanya tertawa mendengarnya, menurutnya Luciano cukup unik padahal parasnya cukup tampan dan pasti bisa mempunyai banyak teman tetapi ternyata dia sangat pemalu.
"Iya. aku juga cukup kasihan melihatmu, dari pertama datang saja semua sudah melihat ke arahmu." ucap Frank dengan nada dibuat-buat.
Mereka berdua tertawa. Tanpa sadar ada yang memperhatikan mereka dari jauh.
"Iya, aku datang dari jauh sendirian dan memutuskan untuk hidup dan bekerja di daerah ini, agar tidak terlalu jauh." Frank menjelaskan dengan penjelasan cukup panjang dan hanya diberi anggukan oleh Luciano.
"Kau ada saudara atau teman atau kenalan yang mencari membutuhkan pekerja tidak?" tanyanya.
"Nanti kalau ada yang mencari biar aku memberitahumu."
Frank memberikan dua jempolnya tanda setuju.
"Kurasa sedari tadi gadis itu memperhatikanmu." tunjuk nya dengan dagu, dan diikuti oleh Luciano.
Luciano tersenyum melihat siapa yang memperhatikannya. Dia memberikan senyuman manisnya kepada gadis yang katanya memperhatikannya. Gadis itu segera membuang wajahnya dan berbalik untuk pergi dari sana. Iya yang memperhatikannya sedari tadi adalah Elena, gadis manis dengan mata biru, rambutnya berwarna merah kecoklatan, kulitnya yang putih dan memakai gaun berwarna putih pula. Sungguh perpaduan yang sempurna.
Saat hendak pergi dari ruangan aula, Elena tak sengaja melihat Luciano yang sedang berdiri sendiri disana. Laki-laki itu terus menundukkan kepalanya, terkadang dia tersenyum kepada para gadis yang menyapanya. Dia juga bisa melihat banyak gadis yang diam-diam mencuri pandang kearah Luciano. Saat hendak datang menghampiri, langkahnya terhenti saat melihat seorang laki-laki datang menghampiri Luciano dan berbicara dengannya, mereka seperti membicarakan banyak hal sambil sesekali sama-sama tertawa. Saat sedang asyik melihat Luciano dari jauh Elena terkejut saat laki-laki itu berbalik dan melihat kearahnya sambil tersenyum. Ia menjadi cukup salah tingkah dan akhirnya memilih untuk berbalik pergi dari aula.
"Bodoh bodoh kenapa harus ketahuan." gerutunya pada diri sendiri.
"Dan Luciano juga kenapa harus tersenyum dan menatapku seperti itu."
Runtuh sudah pertahanannya untuk berusaha menjauhi laki-laki itu.
Tanpa sadar Luciano sedari tadi berjalan di belakangnya. Sesekali dia tertawa melihat Elena berbicara sendiri dan memarahi dirinya sendiri. Luciano mempercepat langkahnya agar sejajar dengan langkah Elena, gadis itu terlihat tidak menyadari keberadaannya. Luciano hanya menunggu gerutuan Elena selesai dan terus berjalan disebelah gadis itu.
Elena terlonjak kaget saat sadar bahwa orang yang akhir-akhir ini menganggu pikirannya ternyata ada di sebelahnya. Buru-buru Elena berjalan cepat dan meninggalkan Luciano. Tetapi dengan cepat ia menghentikan langkah Elena.
"Ada apa?" tanyanya dengan halus.
"Apanya?"
"Kenapa berusaha menjauhiku?" ucap Luciano ke intinya.
Benar-benar runtuh sudah pertahanan Elena saat ini. Jantungnya berdegup dengan kencang, seolah suara yang tadinya bising mendadak menjadi hening. Bagaimana tidak? Ditatap laki-laki yang selama ini ia rindukan. Netra matanya berwarna biru bening dan bentuk rahangnya yang tegas menambah ketampanan Luciano.
"Kenapa diam saja?" tanyanya lagi.
"Bisa lepaskan aku dulu?" pinta Elena dengan pelan. Sebenarnya ia ingin menetralkan detak jantungnya dulu, tidak baik jika terus dibiarkan seperti itu, bisa-bisa jantungnya meledak.
Luciano segera melepaskan tangan Elena dan bersiap mendengar penjelasan dari gadis itu.
"Aku akan bertunangan dalam waktu dekat ini. Jadi aku tidak bisa lagi bertemu denganmu."
Bagaikan petir di siang bolong, hati Luciano sangat hancur mendengar penjelasan Elena. Sangat singkat dan menyakitkan.
"Kau mencintainya?" tanya Luciano sekali lagi.
Sesaat Elena terdiam sebentar sebelum menjawabnya, "Kalau aku tidak mencintainya bagaimana aku bisa mau menjadi tunangannya."
Bohong dia berkata bohong. Elena berharap Luciano mengerti bahwa kata-kata yang baru saja dia ucapkan semua bohong. Tubuh Elena sedikit bergetar usai mengatakannya, sangat berat mengatakan hal itu kepada Luciano. Elena hanya menundukkan kepalanya dan segera pergi dari hadapan Luciano, saat ini ia hanya ingin pulang dan menangis dengan keras.
Luciano hanya terdiam mendengar penjelasan Elena, ia pun tidak bisa menahan kepergian Elena. Hatinya benar-benar hancur mendengar ucapan langsung dari gadis yang selama ini ia cintai. Akhirnya semua terjawab sudah, dan tidak menjadi abu-abu lagi baginya. Ia merasa sudah cukup berharap Elena akan bersamanya. Ia sadar betul akan status sosial yang berbeda dengan Elena.
Terima kasih sudah menjadi bagian dari kisah yang singkat ini.
...****************...