
Anyelir sedang menyisir rambutnya di dalam sebuah rumah panggung yang tidak menyentuh tanah yang terbuat dari bahan yang ramah lingkungan dengan bahan dasar bambu. Beratapkan kerangka bambu dan ijuk. Ia dan Ken baru saja mandi di kali yang berada di daerah yang menjadi tujuan bulan madu yang Anyelir impikan.
Sedangkan Ken kini tengah menatap istrinya dengan nelangsa. Bulan madu yang ia impikan buyar sudah dengan keinginan Anyelir yang tidak bisa dinego. Siang tadi ia dan Anyelir berangkat ke daerah Lebak, Banten. Tepatnya di kaki pegunungan Kendeng di desa Kanekes, Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten Lebak, Rangkasbitung, Banten. Sudah bisa ditebak bukan sekarang mereka berada dimana?
Ken tidak habis pikir dengan keinginan Anyelir yang ingin berbulan madu berbaur dengan suku anak Dalam, Baduy. Kalau begini namanya bukan madu tapi bulan empedu. Berada di daerah terasing, tidak ada teknologi yang masuk di dalamnya. Tidur di sebuah rumah yang menurut Ken tidak layak disebut dengan rumah. Mungkin kandang kambing milik Mang Asep lebih bagus dibandingkan dengan hunian yang kini tengah ia tempati.
Namun, saat Ken berkata demikian, Anyelir mengingatkannya.
"Jangan begitu. Kita itu harus bersyukur dan merasa bangga karena di Indonesia masih ada sekelompok orang yang sangat menjaga kearifan lokal serta adat istiadatnya menjaga kelestarian alam Indonesia hingga mampu terjaga dengan baik dan bersinergi dengan alam," ucap Anyelir.
Mereka tinggal di sana dengan tidak membawa ponsel ataupun alat elektronik yang lainnya. Mereka juga memakai pakaian adat sesuai dengan pakaian adat suku Badui. Karena mereka tinggal di Badui dalam maka Ken memakai Kutung atau Jambang Sangsang yang merupakan baju atasan yang berwarna hitam atau putih serta pakaian bawahan berupa sarung. Bawahan sejenis sarung disebut Aros, biasa dikenakan dengan cara dililitkan di pinggang kemudian diikat memakai tali dari kain, mirip ikat pinggang. Aros dengan ukuran sampai lutut. Tak lupa mengenakan ikat kepala atau telekung berwarna putih kecoklatan.
Adapun pakaian perempuan Baduy Dalam terdiri dari kemben sejenis selendang yang digunakan untuk menutup tubuh bagian atas atau baju kaos dan Lunas atau kain untuk menutupi tubuh bagian bawah. Perlu dingat, mereka disana pergi kemanapun berjalan tanpa alas kaki. Benar-benar bulan empedu bukan?
"Aku siapkan makan malam dulu," ucap Anyelir beranjak dari duduknya lalu menuju halaman belakang rumah yang dijadikan dapur hanya dengan di pagar anyaman bambu tanpa atap.
"Ya Tuhan! rasanya ingin cepat berlalu. Dua hari berasa dua tahun!" Ken menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya untuk menenangkan pikiran yang sangat kacau ini. Beberapa menit berlalu namun, pikirannya masih belum baik-baik saja.
Ken membaringkan tubuhnya dengan beralaskan tikar. Saat itu juga ia teringat akan impiannya yang menghabiskan bulan madunya dengan memadu kasih dengan sang istri. Namun bagaimana bisa dibilang memadu kasih, kalau alasnya saja keras begini. Yang ada pulang-pulang punggung istrinya akan banyak kapalnya dimana-mana. Namun, kalau ia mengalah dan ia memilih di posisi bawah tentu saja itu pun tidak akan membuat nyaman. Apalagi backsound yang meriah mengiringi malamnya. Sepertinya berbagai macam hewan sedang mentertawai hidupnya. Buktinya ramai sekali para katak, cicak, jangkrik, tenggeret bernyanyi bersautan. Belum lagi di dong yang terbuat dari anyaman bambu. Siapa yang bisa menjamin tidak akan ada orang yang mengintip. Sungguh sepahit empedu.
Mengingat kegiatan sore tadi bersama sang istri rasanya Ken ingin berteriak memanggil sang ibu untuk menjemputnya kembali ke ibu kota. Bagaimana tidak, Saat perutnya terasa lapar ia harus bersusah payah terlebih dahulu menangkap ikan di sungai. Sedangkan Anyelir, harus memetik sayuran yang telah ditanam oleh warga setempat. Untungnya untuk masalah beras sudah disediakan oleh kepala suku setempat.
Sepulang dari menangkap ikan yang membuat bajunya basah kuyup sehingga ia putuskan untuk mandi sekalian di sungai, ia pikir ujian hidupnya akan berakhir sampai disitu. Namun justru ujian yang lain telah menantinya. Untuk menanak nasi Ken harus membelah kayu terlebih dahulu sebagai bahan bakar. Karena disini memasak tidak menggunakan kompor gas seperti di rumahnya melainkan menggunakan tungku yang terbuat dari tanah liat. Belum lagi ia harus menyalakan api tersebut dan meniup-niupnya supaya apinya berhasil menyala. Tugasnya telah selesai, kini ia sedang menanti bidadari ya yang sedang menyiapkan makan malam berupa ikan bakar dan lalapan serta sambal terasi.
"Ken, ayo makan dulu," ajak Anyelir sambil mengguncang pelan tangan suaminya.
"Hem."
Ken bangun dari berbaringnya lalu mengikuti Anyelir duduk di dekat pintu untuk memulai makan malam mereka. Anyelir menyiapkan makanan dalam satu piring yang terbuat dari kayu dan ada juga yang terbuat dari tanah liat lalu menyerahkannya pada sang suami.
"Makanlah yang banyak, supaya besok ada tenaga untuk menangkap ikan lagi," ucap Anyelir sambil mengedipkan sebelah matanya.
"Jangan menggodaku sekarang Hun. Aku sedang lapar. Ijinkan aku memulihkan tenaga baru nanti malam siapkan tenagamu untuk melawan pertempuran ku," ucap Ken lalu memulai makan dengan lahap.
Meskipun makanannya sangat sederhana, selagi Anyelir yang memasak untuknya, itu akan terlihat mewah. Namun memang rasanya tidak kalah dengan restoran-restoran mewah yang ada di Jakarta. Apalagi sambal terasinya, rasanya Ken ingin nambah terus.
"Yakin bisa melakukannya di sini? Jangan lupa ya, rumah ini tidak ada kuncinya sama sekali," bisik Anyelir di telinga Ken.
"Tidak masalah kalau mereka ingin menonton," jawab Ken cuek.
"Yakin? rela, kalau tubuhku dilihat oleh banyak orang?"
Ken menghentikan kegiatan mengunyahnya. "Makanya kita cepat pulang dari sini. Aku sudah gak betah Hun. Ini bukan bulan madu tapi bulan empedu."
"Jangan bercanda Hun. Aku tinggal kamu sendiri."
"Baiklah, hanya dua hari kita menikmati udara yang sejuk ini," jawab Anyelir.
Mereka lalu melanjutkan makan malam mereka. Setelah selesai mereka kini duduk santai. Kalau Anyelir membaca novel roman yang ia bawa dari rumah. Sedangkan Ken ia tak tahu harus melakukan apa.
"Hun, katanya bulan madu tapi aku dicuekin," keluh Ken karena tidak tahu harus melakukan apa.
Anyelir menutup bukunya lalu menyimpannya ke dalam tas. Ia lalu memanggil suaminya untuk mendekat. Ken langsung berbaring dengan kepala di pangkuan Anyelir.
Anyelir langsung menyambutnya dengan senyuman. Dielus-elus nya rambut sang suami dengan lembut. Ken tidur menyamping lalu memeluk perut Anyelir dengan menenggelamkan wajahnya pada perut Anyelir. Diciuminya perut rata istrinya hingga Anyelir tertawa kegelian.
"Ken, stop! geli tau."
Ken menyudahi aksinya. Ia menatap istrinya dengan tatapan sendu. "Sekarang boleh?"
Anyelir memberi jawaban dengan anggukan dan senyuman. "Padamkan dulu obornya."
Ken beranjak untuk memadamkan obor. "Gelap banget Hun. Nanti salah masukin. Aku nyalain lagi aja ya?"
"Kalau di dalam terang, aku takut ada yang ngintip."
"Aku bilang juga apa Hun. Kamu sih minta bulan madunya ke sini. Ini sih bukan bulan madu tapi bulan empedu," keluh Ken.
"Mau lanjut apa mau ngomel nih?" ancam Anyelir.
"Lanjut dong Hun. Tetap gelap aja nih? ok lah instingku kuat kok. Aku datang Honey."
"Awsh! Ken, pelan-pelan. Ini bukan di kasur."
"Ok aku yang di bawah Hun."
TBC
Wkwkwkwkk maaf 🙏 ya kalau malam pertama mereka tidak sesuai ekspektasi 🤭, nanti deh nunggu tempat yang tepat 😂
Jangan lupa dukung aku terus ya dengan cara like, komen, vote, dan beri hadiah sebanyak-banyaknya ya, jadikan novel ini favorit kalian
Mohon maaf atas segala kekurangan 🙏 sampai jumpa di part selanjutnya 👉 Terima kasih 😍 😍 😘