
Pagi ini Elena hanya berguling-guling di kasurnya, ia merasa sangat bahagia. Tak henti-henti dia tersenyum.
"Untung saja hari ini tidak ada jadwal latihan, kalau tidak pasti wajahku sudah memerah karna malu saat bertemu dengannya." ucapnya sambil tersenyum lebar.
****
Hal yang sama dirasakan Luciano, Ia masih membayangkan bagaimana kemarin mereka menjadi sangat dekat.
“Luciano kau sudah gila ya?” bisik Alfred tepat di telinga Luciano.
Luciano segera tersadar dan melihat kearah Alfred dengan wajah bertanya-tanya.
“Dari tadi kau terus tersenyum.”
“Benarkah aku begitu?”
“Cepat kerjakan saja tugasmu sebelum Paman Sam melihat dan memarahi mu karna pekerjaanmu belum selesai.”
Luciano menganggukkan kepalanya dan segera menyelesaikan tugasnya.
****
“Jadi ada apa kau dari tadi tersenyum?” tanya Alfred setelah mereka selesai bekerja.
“Rahasia. Aku tidak ingin memberitahumu.” ucap Luciano sambil tersenyum jahil.
“Baiklah, kalau ada masalah jangan mencari ku.”
“Ya kan memang kau yang membuat masalahnya.” tawa Luciano meledak saat itu juga, puas sekali Ia mengejek Alfred.
“Aku bertanya serius, ada apa?”
Melihat wajah Alfred yang serius Ia merasa tidak enak jika terus menerus menyembunyikan hal ini. Luciano segera menarik nafas dan bersiap untuk mengatakan kepada Alfred.
“Jadi-“ Alfred menyimak dengan serius perkataan Luciano.
“Lucy berhasil mendapat beasiswa untuk bersekolah di Universitas Brussel.”
Alfred sangat terkejut dan tidak menyangka bahwa Lucy berhasil mengalahkan ratusan siswa dan berhasil melanjutkan sekolahnya.
“Benarkah?”
Luciano menganggukkan kepalanya berulang kali dan tersenyum.
“Aku sangat senang mendengarnya. Jadi paman dan Bibi akan tinggal berdua?”
Ucapan Alfred membuat Luciano terdiam sebentar dan wajahnya berubah menjadi sedikit sedih. Melihat hal itu Alfred segera menepuk bahu Luciano dan wajahnya seperti mengatakan semuanya akan baik-baik saja.
“Aku merasa bersalah.” Ucap Luciano sambil menundukkan kepalanya.
“Tidak usah merasa bersalah, mereka pasti juga ingin yang terbaik untuk kalian berdua.”
Benar menyesali semua yang terjadi saat ini tidak berguna, yang harus dia lakukan adalah menjadi sukses agar bisa tinggal bersama Paman dan Bibinya disini.
“Lucy tinggal dimana?” tanya Alfred memecah lamunan Luciano.
“Masih belum tahu.”
“Kenapa tidak tinggal bersama kita?” usul Alfred.
“Tidak, nanti malah merepotkan Bibi Anne.”
“Tapi pasti Bibi akan senang kalau ada anak perempuan dirumah. Lucy juga bisa membantunya memasak kan. Kita tanyakan saja pada Bibi.”
“Aku merasa tidak enak.”
“Biar aku yang berbicara.”
Luciano menganggukkan kepalanya dengan ragu.
****
“Bibi kita pulang.” Teriak mereka berdua bersamaan.
Terlihat wanita paruh baya keluar dari kamarnya sambil tersenyum kearah mereka berdua.
“Bibi sudah menyiapkan makanan untuk nanti malam, cepatlah membersihkan diri.”
“Baik Bi.” Ucap mereka kompak.
****
“Bibi maaf sebelumya boleh aku bertanya sesuatu?” Luciano segera menghadap kearah Bibi Anne.
“Jadi, apa boleh adikku tinggal disini untuk sementara? Sampai aku punya uang cukup aku akan membawanya untuk pindah.”
“Ya tentu saja boleh.” Ucap Bibi Anne senang, “Malah lebih bagus kalau semakin ramai.”
“Syukurlah terima kasih Bi, Dia bisa membantu Bibi memasak.”
“Dia seorang gadis?” tanya Bibi Anne antusias.
“Iya Bi, Dia akan melanjutkan sekolahnya disini.”
“Wah senangnya Bibi tidak cantik sendiri disini.”
Luciano dan Alfred tertawa mendengar ucapan Bibi Anne.
“Jadi boleh ya Bi? Dia juga bisa membantu Bibi berjualan.”
“Tentu saja boleh. Dia bisa tidur bersama Bibi.”
“Tidak usah Bi, biar dia tidur di kamar kita saja dan kita tidur disini.” Ucap Luciano tidak enak.
“Biarkan dengan Bibi saja. Selama ini Bibi juga sendirian, akan menyenangkan kalau ada yang menemani.”
“Terima kasih banyak Bi. Bibi sudah banyak membantuku.” Ucap Luciano bersyukur.
“Iya Luciano senang bisa membantumu. Sudah kita selesaikan makan dulu.” Bibi Anne menyudahi percakapan mereka.
Saat ini Luciano dan Alfred sedang menikmati langit malam yang angat indah, gemerlap bintang dan sinar bulan menambah keindahan langit pada malam ini. Mereka berdua hanya diam sambil mengagumi keindahan langit malam. Tidak ada obrolan yang tercipta hanya suara binatang di malam hari yang terdengar.
“Bagaimana hubunganmu dengan Elena?” tanya Alfred memecah keheningan.
“Baik, kami sudah berbaikan.”
“Jdi itu alasanmu tersenyum sejak pagi.”
Luciano menoleh kearah Alfred terkejut, bagaimana mungkin temannya ini sangat pandai menebak.
“Tidak usah terkejut seperti itu.” Lanjutnya, “Kita berteman sudah lama bagaimana mungkin aku percaya alasanmu bahagia hanya karena Lucy.”
“Dan tebakanmu selalu benar. Kemarin terjadi sesuatu kepadaku dan Elena.”
Alfred tertarik mendengar jawaban Luciano, dia segera menghadap kearah Luciano dan merapatkan duduknya.
“Ada apa?”
“Entah bagaimana bisa aku memeluknya kemarin.”
Jawaban Luciano sangat tidak tertebak oleh pikiran Alfred. Dia cukup terkejut mendengarnya.
“Bagaimana rasanya? Bukan maksudku bagaimana kau melakukan itu saat kau tahu Elena sudah mempunyai calon tunangan.”
Luciano menggelengkan kepalanya tidak tahu, dia juga bingung alasan dia memeluk Elena hingga tak ingin dilepaskannya.
“Apa ada yang tahu?”
“Kurasa tidak, saat itu sedang sepi.”
“Bagaimana kalau calon Elena mengetahuinya. Aku tidak yakin Elena akan baik-baik saja.”
“Kau jangan berbicara seperti itu.” Ucap Luciano sedikit panik.
“Aku hanya mengatakan kemungkinan yang akan terjadi.”
“Sudahlah aku juga tidak tahu. Aku masuk dulu.” Ucapnya berpamitan sambil berjalan masuk ke dalam rumah.
“Sangat tidak terduga.”
Memang berpelukan antara lawan jenis adalah hal yang wajar terjadi, tetapi masalah yang akan dihadapi Luciano dan Elena saat ini berbeda. Dan jelas berawal dari latar keluarga mereka yang berbeda. Elena seorang gadis bangsawan dan mempunyai keluarga yang kaya raya, sedangkan Luciano adalah orang biasa dan seorang anak yatim dari keluarga miskin. Apalagi saat ini Elena sudah mempunyai calon tunangan. Alfred hanya mengkhawatirkan kalau ada yang melihat mereka berdua dan keluarga Elena tahu, habislah Luciano.
Mencintai seseorang memang tidaklah salah, yang salah adalah orang-orang yang mempermasalahkan hal itu.
...****************...