
Hari-hari Elena dan Luciano berjalan seperti biasanya, terkadang mereka menghabiskan waktu bersama saat akhir pekan atau sekedar pulang bersama seusai latihan. Semuanya nampak indah bagi pasangan yang sedang jatuh cinta ini. Elena pun lupa akan beban yang selama ini Ia pikirkan, kehadiran Luciano sangat berarti di hidup Elena. Rasa khawatir, sedih dan takutnya seketika hilang saat bertemu dengan laki-laki itu, melihat senyumnya saja hati Elena menghangat.
"Jadi hari ini kita mau kemana?" tanya Luciano kepada gadis si sebelahnya.
Elena memegang dagu dan kepalanya ya sambil berpikir. Terlihat sangat lucu di mata Luciano, Ia pun menggoda Elena dengan mengacak-acak rambutnya karena Ia tahu pasti Elena butuh waktu lama untuk menata rambutnya.
"YAAAA!!!! Kenapa malah mengacak-acak rambutku?" ucap gadis itu sebal sembari menata rambutnya kembali.
"Kau sangat lucu."
Hal itu membuat wajah Elena memanas dan pipinya memerah karena malu.
"Masih saja malu." ucap Luciano kepada Elena.
"Siapa yang malu."
"Itu pipimu merah."
Dengan secepat kilat dia segera memegang pipinya dan berbalik menjauhi Luciano.
"Tunggu aku." teriak Luciano sambil menyusul langkah Elena.
Setelah berjalan dan saling diam cukup lama, Luciano bertanya kembali kepada Elena.
"Kita akan kemana?"
"Aku ingin berkuda." jawabnya dengan mata berbinar.
"Tapi a-aku."
"Tenang, aku bisa mengajarimu."
"Bukan itu."
Elena menunggu jawaban Luciano dengan sabar.
"Aku tidak punya uang cukup untuk menyewa." ucapnya kikuk.
Elena tersenyum menanggapi ucapan Luciano, "Tenang saja, keluargaku sudah akrab dengan pemiliknya. Jadi aku dan Eleanor bisa bebas kalau ingin berlatih."
"Tidak apa?"
"Ya tentu. Ayo!!" ajak Elena.
Mereka berdua berjalan cukup jauh menuju tempat berkuda, Elena tidak pernah berjalan kaki kalau kesana, jadi Ia tidak tahu kalau sebenarnya cukup jauh jika ditempuh dengan jalan kaki.
Elena menarik nafasnya kasar dan menghembuskannya.
"Sebentar, aku ingin istirahat." ucapnya sambil bersandar dibawah pohon apel.
"Memang masih jauh?" tanya Luciano.
Ia mengambil duduk tepat di sebelah Elena.
"Kurasa iya." Elena terlihat mengatur nafasnya.
"Kau lelah ya?"
Elena memutar bola matanya jengah, sudah tahu Elena terlihat kelelahan masih saja ditanya seperti itu.
"Iya." jawabnya singkat.
"Kau tidak terbiasa berjalan kaki jauh ya?"
"Iya, aku tidak pernah berjalan kaki kalau berkuda."
"Pantas." ucap Luciano sambil tertawa kecil.
"Memang tidak boleh kelelahan?" tanya Elena sedikit jengkel.
Hal itu malah mengundang gelak tawa Luciano, baginya saat Elena marah Ia terlihat sangat cantik dan lucu.
"Mau kucari kan air?" tanya Luciano.
"Boleh. Dari tadi memang aku sangat haus." jawab Elena antusias.
"Baiklah, tunggu sebentar." Luciano beranjak pergi dari hadapan Elena.
Elena tersenyum melihat kearah hilangnya Luciano, dia masih tidak menyangka bahwa akhirnya mereka menjadi cukup dekat.
Ditengah kesendiriannya Elena terkejut dengan buah apel yang jatuh tepat di atas kepalanya.
"Aww." Elena meringis kesakitan.
Bagaimana tidak, sebuah apel mendarat mulus diatas kepalanya. Luciano yang sudah mendapatkan air melihat kearah Elena yang sedang meringis kesakitan. Ia segera berlari menghampiri gadis itu.
"Elena ada apa?" tanyanya khawatir.
"Apel ini jatuh menimpa kepalaku." sambil terus memegangi bagian kepalanya yang sakit.
Luciano segera menarik tubuh Elena dan mengelus kepala Elena. Tak hanya itu Ia sesekali meniup bagian kepala Elena yang terkena buah apel.
"Sudah tidak sakit?" tanyanya dengan wajah cemas.
Elena tak bergeming, dia hanya diam dan masih menutup matanya.
"Hei." ucap Luciano memastikan.
Elena segera tersadar dari lamunannya, "Kau memanggilku?"
"Apa kepalamu susah tidak sakit?" tanya nya sekali lagi.
"Sudah." Elena segera menjauhkan badannya dari Luciano.
"Syukurlah, ini minum mu." Luciano menyerahkan air minum kepada Elena.
Elena langsung meneguk air yang diberikan Luciano sampai habis. Luciano hanya melihat Elena menghabiskan air minumnya dengan tersenyum.
"Mau lanjut berjalan?" tanyanya memastikan.
"Kita sudah sejauh ini, mana mungkin kita kembali." Elena segera bangkit dari duduknya sambil membersihkan bajunya yang sedikit kotor.
"Kau masih kuat?"
"Tentu, jangan remehkan aku. Ayo!!"
Lagi-lagi Luciano dibuat tersenyum oleh tingkah Elena.
"Tidak kau minum?" tanya Elena melihat botol minum yang dibuat Luciano belum dibuka.
"Tidak, ini buatmu nanti kalau haus lagi."
Elena hanya mengangguk kepala menanggapinya. Sebenarnya dalam hatinya Ia sudah ingin terbang mendengar ucapan Luciano, bahkan jantungnya saat ini berdetak kencang.
****
Setelah perjalan cukup lama, akhirnya Elena dan Luciano sampai ditempat mereka akan berkuda. Luciano baru mendatangi tempat seperti ini, Ia cukup terkejut melihat lapangan yang cukup luas dan peternakan kuda disebelahnya.
"Ayo kita temui pemiliknya." ucap Elena bersemangat.
Mereka segera berjalan masuk dan mencari James-pemilik peternakan.
"Paman James, apa kabar?" Ucap Elena sambil memeluk James.
"Elena, kabar paman baik. Kau sendiri bagaimana?" tanya nya kembali sambil menerima pelukan Elena.
"Aku juga baik."
James melirik kearah Luciano dan tersenyum.
"Siapa ini?" tanya nya pada Elena.
"Temanku, dia ingin mencoba berlatih kuda."
Luciano segera memperkenalkan dirinya dan disambut baik oleh James.
"Halo paman, aku Luciano teman Elena." Luciano mengulurkan tangannya untuk menjabat tangan James.
"Halo, aku James."
Paras wajah James yang tampan dan terlihat masih muda membuat Luciano terkejut saat mengetahui bahwa Elena memanggilnya paman. Ia tidak terlihat seperti berumur 20 an.
"Tidak usah melihatku seperti itu, aku memang tampan." ucapnya setelah menyadari bahwa Luciano tak henti menatap kearahnya.
Luciano segera mengalihkan pandangannya dan tertawa canggung.
"Maaf paman, aku tidak mengira paman yang Elena maksud terlihat sangat muda."
Elena dan James tertawa mendengar pengakuan jujur Luciano.
"Aku memang masih muda, umurku saja masih 28 tahun."
"Benarkah? Lalu mengapa Elena memanggilmu paman."
"Karena aku teman ayahnya. Mungkin sudah kebiasaan dari kecil Ia memanggilku paman dan sampai sekarang."
Luciano mengangguk mengerti, "Kalau begitu biar aku panggil Kak saja. Agar terlihat lebih muda."
Mereka menyudahi obrolan basa basi ini. Elena segera menuju ke kandang kuda kesayangannya, Ia sudah lama tidak pernah bertemu Lily-kuda kesayangannya.
Luciano terlihat sedang memilih-milih kuda untuk dia naiki bersama James.
Setelah memilih kuda yang cocok, pilihannya jatuh kepada kuda berwarna coklat terang. Tak butuh waktu lama Ia sudah lancar berkuda tanpa didampingi James. Elena ikut tersenyum melihat Luciano yang tersenyum lebar sambil menunggangi kudanya.
"Terima kasih Luciano sudah mau menemaniku." ucap Elena pelan sambil menatap Luciano.
Terima kasih sudah merelakan waktumu untuk tetap bersamaku.
...****************...