
Hari ini rumah Anyelir terlihat ramai. Tentu saja, karena biasanya hanya Anyelir dan Elena saja yang berada di rumah itu atau ditambah dengan Ken yang singgah saat pagi hari untuk ikut sarapan bersama lalu mengantarkan Elena ke sekolah.
Sedangkan sekarang, ada Enyak, Vio, Sania, Fortuna, dan Melisa yang membuat suasana rumah Anyelir menjadi ramai sejak pagi tadi. Khusus hari ini ER Bakery tutup, karena seluruh karyawannya ingin ikut menyemarakan atau andil dalam menyambut hari bahagia sang pemilik toko.
Sebenarnya Anyelir memberitahu mereka untuk datang ke rumahnya hari ini supaya bisa menyaksikan dirinya dilamar secara resmi dan juga ingin berbagi kebahagiaan, tetapi mereka ingin bantu-bantu di rumah. Padahal Anyelir hanya akan menyiapkan makan malam saja untuk menyambut keluarga Ken, tidak ada dekor atau apalah sejenisnya, tetapi mereka tetap ingin membuat suasana baru untuk acara nanti malam.
Begitu juga dengan Enyak. Ia sibuk di dapur sejak datang tadi pagi. Padahal Anyelir sudah melarang supaya tidak perlu repot-repot untuk memasak karena Anyelir akan memesan saja untuk menu makan malam dan juga berbagai kudapan. Enyak, babeh, dan yang lainnya hanya perlu datang menemani dan menyaksikan saja proses acara lamaran. Namun, Enyak memaksa untuk membatalkan pesanan makanan dan yang lainnya. Enyak bilang Enyak yang akan turun tangan langsung dalam hal menyuguhi keluarga Ken. Memang sih, Enyak sudah terbiasa menerima pesanan memasak untuk acara aqiqah, hajatan, dan acara lainnya, tetap saja Anyelir merasa sungkan, karena acara malam ini , Enyak jadi membatalkan dengan orang lain.
"Lu udah Enyak anggep anak Enyak sendiri. Jadi kagak perlu kagak enak gitu. Itung-itung Enyak latihan kalau Vio ntar dilamar," ucap Enyak saat Anyelir menyampaikan keberatannya.
"Nyak, Babeh mana?" tanya Elena saat membantu para gadis-gadis membuat kudapan yang akan disuguhkan nanti.
"Babeh masih di pasar. Ntar palingan habis Dzuhur kemari," jawab Enyak sambil memotong daging kambing yang masih segar yang akan dibuat sate.
Daging kambing yang masih segar itu dibawa oleh Enyak dari pasar sebelum datang ke rumah Anyelir. Babeh yang memang seorang tukang jagal sekaligus penjual daging kambing, menyuruh istrinya untuk mengambil daging yang masih segar di pasar untuk acara Anyelir.
"Elena mau bantu tusuk dagingnya boleh?" tanya Elena yang melihat Enyak sedang menusuk daging menggunakan tusukan sate.
"Neng cantik mending cicipin puding aja nih di kulkas, udah dingin apa belum."
"Enggak mau! Yaudah Elena mau bantu Aunty For aja ya?" tawar Elena pada Fortuna yang sedang membuat bulatan-bulatan seperti bakso.
"Nanti aja deh, Elena bagian icip-icip aja . Okay cantik?"
Elena cemberut karena dilarang semua orang untuk membantu mereka yang sedang di dapur. Ia pun akhirnya membawa peralatan lukisnya ke ruang keluarga. Ia lalu mengeluarkan satu foto dimana foto itu diambil tadi saat semuanya baru datang sebelum memulai acara memasak. Elena tersenyum memandangi foto tersebut, kemudian mulai mengoleskan kuas pada cat air dan digoreskannya pada selembar canvas yang lumayan besar
***
Di kediaman orang tua Ken.
"Kenapa mukanya tegang gitu?" tanya Danial pada putranya.
"Ken sedikit gugup Pi. Walaupun Anyelir sudah menerima Ken saat Ken melamarnya di Bali, tetap saja malam nanti suasananya berbeda."
"Wajar kalau kamu gugup, apalagi nanti menjelang hari pernikahan pastinya akan lebih gugup. Dan jangan kaget apabila ada sedikit masalah atau gangguan antara kamu dan Anyelir itu wajar dialami oleh calon pengantin menjelang hari pernikahan."
"Iya Pi. Ken hanya bisa berdoa semoga semua dilancarkan sampai hari H nanti."
"Ayok, Mami sudah siap," ajak Carol yang baru saja menuruni tangga.
"Ayok, semakin malam pasti semakin macet," ajak Danial yang memimpin jalan menuju mobil.
Danial dan Carol duduk di dalam satu mobil yang dikendarai oleh supir. Sedangkan Ken satu mobil dengan Daffa. Sang asisten sekaligus sahabatnya itu juga ingin menyaksikan acara lamaran bos sekaligus sahabatnya itu.
Kedua mobil itu melaju pelan membelah jalanan ibu kota. Ken duduk di samping Daffa yang sedang mengemudi.
"Ini mau lamaran apa mau seserahan? Banyak banget yang dibawa," ucap Daffa sambil melirik bangku belakang yang penuh dengan barang-barang yang Carol beli untuk Anyelir. Ada sepatu, tas, peralatan makeup, baju, dan semua itu tidak hanya satu tapi lebih dari dua. Belum lagi parsel berisi buah, bunga dan coklat.
"Heemm. Mami sangat cerewet saat tau aku hanya membawa cincin malam ini."
Dafa tergelak. "Jadi ini semua ide Mami boss?"
"Siapa lagi. Enggak mungkin 'kan Papi yang menyiapkan semua ini."
Dua buah mobil masuk ke halaman rumah Anyelir. Elena serta enyak dan babeh tengah berdiri di depan pintu guna menyambut kedatangan Ken dan keluarga. Carol dan Danial berjalan menghampiri ketiganya.
"Selamat malam," sapa Carol yang langsung dengan senyuman dari sang cucu tercinta.
"Selamat malam juga Oma dan Opa." Elena mencium punggung tangan wanita dan pria paruh baya itu. Kemudian Carol memeluk Enyak sambil bertanya kabar. Mereka lalu masuk dan langsung digiring untuk menuju meja makan.
Ken yang baru saja akan masuk mengikuti kedua orang tuannya berhenti karena panggilan dari Dafa.
"Ken! Bawa masuk semua?" tanya Dafa sambil menunjuk barang-barang yang mereka bawa. Ken menjawab dengan anggukan.
"Jadi biasanya Papa enggak ganteng?"
"Ganteng dong. Kalau malam ini tambah ganteng."
Mereka semua makan malam terlebih dahulu. Kalau kata Enyak, yang penting perut kenyang, supaya obrolan nantinya lancar. Padahal yang ada perut kenyang kantuk pun datang. Namun namanya orang tua, pamali untuk dibantah.
Setelah makan malam barulah mereka duduk di ruang keluarga, agar suasana lebih santai. Setelah diselingi dengan obrolan ringan, kini saatnya Danial selaku papi dari Ken mulai berbicara serius.
"Jadi, kami rasa baik Anyelir, Babeh, Enyak dan semua pihak yang ada di sini sudah mengetahui tujuan kami datang ke sini. Kami hanya ingin meneruskan dan meresmikan lamaran anak kami yang bernama Kenneth Piera Kaswel untuk menawarkan diri mendampingi Nak Anyelir mengarungi hidup bersama dalam satu ikatan rumah tangga yang bernama pernikahan. Apakah Nak Anyelir bersedia menerima anak kami untuk bersama-sama saling menjaga dan mengasihi serta mendidik anak-anak kalian nantinya."
Anyelir yang ditatap oleh semua mata yang
ada di ruangan itu menjadi gugup. Kedua tangannya saling merem@s, ia menoleh pada Babeh kemudian mengangguk.
Babeh yang mewakili Anyelir pun mulai berbicara. "Di sini saya mewakili Anyelir, yang sudah saya anggap seperti anak saya sendiri menerima daripada lamaran putra Bapak untuk anak saya Anyelir."
"Alhamdulillah." Serempak semua orang mengucap syukur atas jawaban Babeh.
"Di sini saya ingin berpesan pada Nak Ken maupun Anyelir, dalam rumah tangga itu yang terpenting saling terbuka dan saling melengkapi. Sesungguhnya manusia itu tidak ada yang sempurna, pasti ada ada khilafnya. Nah apabila salah satu dari kalian ada yang khilaf diusahakan agar yang satunya bisa menjadi air penyejuk, jangan menjadi bensin yang akan memperparah keadaan. Dan kalau ada masalah diusahakan dibicarakan berdua, jangan berbicara dengan orang luar baik itu sahabat, orang tua maupun saudara kita sendiri. Dikhawatirkan bukannya mencarikan solusi malah menambah polusi, yah itu saja yang mungkin bisa saya sampaikan selebihnya saya mohon maaf, apabila ada salah kata itu datangnya dari diri saya pribadi, apabila ada benarnya itu mutlak datangnya dari Allah , lho kok saya kaya lagi ceramah gini ya," ucap Babeh yang mengundang gelak tawa semua orang.
Semua sudah pulang ke rumah masing-masing termasuk orang tua Ken. Enyak dan Babeh padahal diminta untuk menginap oleh Anyelir, tapi mereka menolak dengan alasan besok pagi babeh harus ke pasar. Sedangkan jarak pasar dengan rumah Anyelir jauh.
Sekarang tinggal mereka bertiga Ken, Anyelir dan Elena. Elena sudah terlelap sejak satu jam yang lalu. Kini Anyelir dan Ken sedang duduk di sofa kamar Elena.
"Kalau sudah menikah nanti, aku maunya kita tinggal di rumah ini," ujar Anyelir memecah kesunyian, sambil bersandar di dada bidang Ken sambil memeluknya.
"Tapi rumah ini kurang besar apabila Mami Papi atau kerabat kita ingin menginap," protes Ken.
"Itu tugas kamu membuat rumah ini menjadi luas."
"Siap Nyonya!"
"Aku rasa, aku perlu menginap malam ini."
"Enggak usah macam-macam ya, mentang-mentang sudah aku terima."
"Gimana mau macam-macam, kan cuma tidur."
"Udah sana pulang," usir Anyelir pada Ken, dan segera bangkit dari duduknya kemudian menarik tangan Ken supaya ikut berdiri.
"Ok, aku akan pulang, tapi ...."
"Apa?" tanya Anyelir.
Ken memajukan bibirnya sambil memejam. Anyelir tersenyum lalu menempelkan telapak tangannya di bibir Ken. Seketika Ken membuka matanya ingin protes, tapi sebelum ia sempat protes bibirnya sudah lebih dulu dibungkam oleh bibir Anyelir.
TBC
Denger Babeh ceramah jadinya ngantuk 😴😴
Jangan lupa tinggalkan jejak kalian berupa like, komen, vote dan hadiah sebanyak-banyaknya
Klik favorit supaya kalian tau kalau novel ini update
Mohon maaf atas segala kekurangan 🙏 🙏 🙏
Sampai jumpa di part selanjutnya
Terima kasih 😍 😘 😘