ELENA

ELENA
Hadiah Spesial (TAMAT)



Dua bulan telah berlalu dari bulan madu di sebuah perkampungan yang tidak tersentuh oleh teknologi. Ken selalu mewanti-wanti Anyelir untuk tidak meminta yang aneh-aneh lagi. Lebih baik mereka pergi ke Korea Utara dari pada harus tinggal di tempat yang tidak terjamah oleh internet bahkan listrik. Eh, tapi di Korea Utara juga sama saja sih, tidak sebebas di Indonesia. Lho? bukannya Baduy termasuk suku di Indonesia? Ah sudahlah. Yang pasti kalau mau pergi ke suatu tempat itu mencari tempat yang normal untuk dikunjungi.


"Kalau nanti aku hamil terus ngidamnya pengen ke sana lagi gimana?" tanya Anyelir sambil memotong wortel. Sore ini ia berniat untuk membuat sop iga.


Ken yang mendengar ucapan istrinya seketika bangkit dari duduknya lalu menghampiri sang istri. Melingkarkan kedua tangan di perut Anyelir.


"Kalau kamu hamil terus ngidam mau ke sana lagi aku turutin deh," ucap Ken yang sibuk menciumi ceruk leher istrinya.


"Ken! Aku mau masak dulu. Sebentar lagi Elena pulang dari lesnya."


"Kalau udah selesai masak, boleh ya?"


"Heemm, tetep enggak boleh," jawab Anyelir mengingkirkan kepala Ken yang berada di lehernya.


"Pelit banget kamu Hun. Udah satu Minggu lho aku nahan" protes Ken dengan wajah sendu.


"Ada Elena, nanti dia tanya kenapa mama sama papanya masih sore udah pergi tidur," elak Anyelir.


"Alesan aja kamu Hun. Ya sudah nanti malem bisa ya?" tanya Ken penuh harap.


Anyelir tampak berpikir. "Boleh," jawabnya sambil mengangguk.


"Yes!" ucap Ken dengan melompat semangat.


"Tapi liat nanti deh," sambung Anyelir kemudian.


"Yaahh." Wajah Ken yang tadinya berbinar akhirnya meredup lagi.


Anyelir yang melihat perubahan wajah dan sikap pada suaminya hanya bisa tertawa sambil menggelengkan kepala.


"Assalamualaikum, Elena pulang!" teriak Elena dari pintu depan.


"Wa'alaikumsalam."


"Wa'alaikumsalam."


Anyelir dan Ken menjawab salam secara bersamaan. Namun, tampak jelas perbedaannya. Kalau Anyelir menjawab dengan tersenyum senang. Lain halnya dengan Ken yang tampak lesu.


"Anak Mama udah pulang? Gimana tadi di tempat les? Senang?" tanya Anyelir pada Elena yang sedang mencium tangannya.


"Senang dong Ma."


"Ganti baju dulu Sayang. Mama lagi buat sop iga buat makan malam."


"Ok Ma." Elena berbalik, kemudian berjalan meninggalkan dapur, namun beberapa detik ia kembali menghampiri Anyelir.


"Ada apa Sayang," tanya Anyelir yang sepertinya tau anaknya ingin menanyakan sesuatu.


"Papa kanapa Ma? kok mukanya cemberut gitu? Jawab salam dari Elena aja enggak semangat? tanya Elena sambil berbisik.


"Papa kamu lagi kelaperan. Makanya, setelah ini kita langsung makan aja ya?"


Elena mengangguk mengerti lalu menunjukkan dua jempolnya pada sang ibu. Setelah itu ia segera menuju kamarnya untuk berganti pakaian.


"Biar saya saja yang teruskan," pinta Bibi Mary.


"Ya sudah, tinggal masukin wortelnya Bi. Aku mau mandi dulu, gerah banget," ucap Anyelir sambil mengipas-ngipasi tangannya ke depan wajahnya.


Ya, Bibi Mary kini sedang berada di Jakarta. Sudah tiga hari ia berada di negara Indonesia. Karena rasa rindunya pada Anyelir dan juga Elena yang sudah dianggapnya sebagai anak dan cucunya, maka ia pun meminta izin pada sang suami untuk berkunjung ke Indonesia menemui Anyelir. Rencananya ia akan menginap sekitar satu bulan. Supaya puas katanya untuk mengobati rasa rindunya.


Bibi Mary mengerutkan dahinya. Sudah satu Minggu lebih Jakarta diguyur hujan. Baru hari ini hujan tidak turun. Namun, meskipun tidak turun hujan, namun kabut mendung menyelimuti langit kota Jakarta. Sehingga membuat cuaca terasa seperti di Puncak. Tapi kenapa beberapa hari ini Anyelir selalu bilang kalau dia kepanasan. Saat tidur pun ia hanya memakai pakaian tipis tanpa dal@man, padahal pendingin ruangan sudah dinyalakan di suhu paling dong menurut Ken.


Bagaimana Ken tidak uring-uringan, sudahlah ia tidak bisa menyentuh istrinya, tetapi Anyelir seolah menggodanya dengan berpakaian seperti itu. Setiap kali Ken ingin menyentuhnya, Anyelir selalu menolak dengan alasan gerah atau risih. Sungguh membingungkan dan Ken mencoba untuk memahami kondisi istrinya, meskipun ia tak tau alasan pastinya.


Anyelir pergi ke kamar untuk mandi. Ken yang melihat istrinya meninggalkan dapur, segera mengikutinya ke kamar.


"Mau mandi?" tanya Ken pada Anyelir yang akan beranjak ke kamar mandi.


"Iya, panas dan lengket rasanya badan ku," jawab Anyelir berlalu, namun tangannya dicekal oleh Ken.


"Mandi bersama?"


"Enggak mau. Kalau kamu ikut yang ada bukannya mandi," jawab Anyelir.


"Hun, kamu kenapa sih?" tanya Ken yang tampak frustasi karena sudah satu minggu ini Anyelir seperti menghindarinya dan juga jaga jarak.


"Ken, please. Aku janji nanti malam ya?"


Ken menghembuskan nafasnya panjang. Lalu melepaskan tangan Anyelir.


Kini Mereka sedang menikmati makan malam dengan menu sop iga. Namun, ada yang berbeda dengan makan malam kali ini. Di meja makan hanya ada Ken, Elena serta Bibi Mary yang sedang makan malam sambil menatap heran Anyelir yang berada di ruang keluarga.


Setelah makan malam, mereka berempat berbincang-bincang sambil menonton televisi. Elena pun ikut, namun ia tetap dengan hobinya yaitu melukis.


Tanpa terasa jam sudah menunjukan pukul sepuluh malam. Ken segera menyuruh anaknya untuk segera tidur. Bibi Mary pun pamit untuk pergi ke kamarnya karena sudah merasa mengantuk.


"Mama temani Elena sampai tidur. Nanti kalau Elena sudah tidur, Mama boleh tinggalin Elena," pinta Elena pada sang ibu.


Anyelir dan Elena pun segera ke kamar Elena. Sedangkan Ken langsung menuju kamarnya setelah memberikan kecupan selamat tidur pada sang buah hati.


Ken memilih menunggu istrinya di kamar sambil membuka tabletnya mengecek pekerjaannya. Tak terasa jam sudah menunjukan setengah dua belas malam, namun istrinya belum masuk ke kamarnya juga.


Apa dia ketiduran?


Ken berniat untuk mengecek Anyelir di kamar Elena, namun saat ia akan beranjak untuk membuka pintu, Anyelir sudah lebih dulu masuk ke kamar.


"Kenapa lama sekali Sayang?" ucap Ken yang sudah tidak sabar lalu memeluk istrinya dengan mengecup seluruh wajah Anyelir. Jangan ditanya tangannya sudah menjelajah ke seluruh tubuh Anyelir.


Anyelir menghentikan kegiatan Ken. "Aku ke kamar mandi dulu," ucap Anyelir lalu masuk ke kamar mandi tanpa menunggu jawaban Ken.


"Jangan lama-lama Hun."


Ken menunggu istrinya dengan duduk di tempat tidur. Anyelir keluar kamar mandi dengan menggunakan piyama atasan yang tidak sampai menutupi lututnya. Berjalan ke arah suaminya dengan gerakan perlahan dan dibuat menggoda. Jangan ditanya ekspresi Ken melihat istrinya yang berperilaku tidak seperti biasanya, tetapi Ken sangat menyukainya. Ken bahkan sampai tidak berkedip melihat Anyelir memakai piyama dress yang panjangnya hanya sebatas di atas lutut. Bibirnya terbuka melihat rambut panjang istrinya yang terurai sedikit berantakan namun membuatkan terlihat s3ksi.


Ken segera menarik tangan Anyelir hingga Anyelir jatuh di atas badannya. Dilahapnya bibir mungil berwarna merah jambu milik istrinya. Satu tangannya segera dibawa ketempat dimana terdapat dua buah bukit kembar yang seperti menantangnya. Sedangkan tangan yang lain sudah berjalan-jalan kemana saja yang ia sukai.


Anyelir memukul-mukul dada Ken, karena sudah mulai kehabisan oksigen akibat serangan yang dilakukan tanpa aba-aba dan terkesan kasar dan terburu-buru oleh sang suami.


Ken melepaskan bibirnya dari mulut istrinya saat Anyelir mencubit perutnya. Mereka berdua terengah-engah. Saat Ken akan melanjutkan aksinya, Anyelir menahan dada Ken dengan kedua tangannya.


"Sebentar Ken." Ia melirik ke arah jam dinding.


"Aku hitung sampe sepuluh ya," ucapnya lagi.


Meskipun bingung, Ken tetap menuruti keinginan istrinya.


Saat hitungan ke sepuluh, jam tepat menunjukan angka 00.00.


"Happy Birthday my lovely husband," ucap Anyelir sambil menangkup kedua pipi Ken.


Ken sedikit terkejut, karena ia bahkan lupa dengan hari ulang tahunnya. Anyelir memberi kecupan ringan di bibir Ken.


"Terima kasih Hun," ucap Ken lalu memeluk istrinya dengan erat.


"Semoga Papa panjang umur, bahagia, sehat serta makin sayang sama kita. Kita bertiga juga sayang Papa," ucap Anyelir sambil mengelus punggung suaminya.


"Bertiga?" tanya Ken mengernyit lalu mengurai pelukannya.


Anyelir mengangguk lalu ia merogoh saku piyamanya kemudian mengeluarkan benda


kecil berbentuk persegi panjang. Ia memberikan benda itu kepada Ken.


"Hadiah spesial untuk orang spesial," ucap Anyelir.


Ken meraih benda tersebut yang tertera dua garis merah yang agak samar. Tanpa sadar Ken meneteskan air matanya. "Terima kasih Hun."


"Sejak kapan?" tanya Ken.


Anyelir menelengkan kepalanya.


"Sejak kapan kamu tahu kalau dia sudah hadir?" tanya Ken lagi sambil mengelus perut Anyelir yang masih rata.


"Sekitar satu minggu yang lalu."


"Jadi ini yang membuat kamu menghindari aku selama ini Hun?"


Anyelir memeluk suaminya. "Maafkan aku. Aku ingin membuat kejutan di hari ulang tahunmu. Dan waktu itu aku belum berkonsultasi dengan dokter. Kemarin saat kamu pergi ke Bandung aku pergi ke rumah sakit untuk berkonsultasi."


"Lalu apa yang dokter katakan? Apakah boleh melakukannya disaat seperti sekarang?" tanya Ken penasaran.


Anyelir memberi jawaban dengan anggukan.


Ken pun dengan tidak sabar langsung menggendong Anyelir ala bridal style.


"Udah enggak sabar buat nengokin utun."


TAMAT


Akhirnya cerita Ken-Anyelir-Elena tamat hari ini, tapi tenang aja gaes, walopun sudah tamat, aku akan kasih beberapa ekstra part, tungguin aja ya 😀


Sampai jumpa di ekstra part 👉 👉 👉