
Elena dan empat orang teman lainnya masih menunggu orang tua mereka menjemput. Ke empat temannya itu bernama Alesha, Donela, Arabel, dan Shakila.
Alesha menghampiri Elena yang sedang berkutat dengan buku gambarnya. Alesha memilih duduk di sebelah Elena.
"Elena, aku mau minta maaf karena sudah ikut-ikutan enggak percaya sama kamu," tutur Alesha tulus.
Elena menoleh lalu tersenyum. "Udah aku maafin kok."
"Jadi sekarang kita berteman kan?" tanya Alesha.
"Berteman," jawab Elena sambil mengangguk.
"Jangan mau temenan sama Elena Don," bisik Shakila tapi, masih terdengar oleh Elena.
"Iyalah males banget, walaupun kamu sudah punya papa, tapi papa kamu enggak tinggal bareng kamu kan?" ucap Donela lantang.
Sedangkan Arabel yang duduk diantara Donela dan Shakila melemparkan kertas yang telah diremas-remas olehnya ke arah Elena sambil bersorak, " Huuuuu."
"Iya, paling juga nanti ditinggal pergi lagi sama papanya," sahut Shakila.
"Kalian bicara seperti itu karena iri kan papa aku lebih keren dibanding papa kalian?" jawab Elena yang seketika membuat Donela dan Shakila bungkam.
Elena lalu merapikan buku gambar dan pensil warna yang tadi dipakainya. Semuanya ia masukan ke tas sekolahnya. Lalu menggendong tas di punggungnya.
" Elena, Alesha, mama kalian sudah menunggu," ucap bu Safa dari arah pintu.
Elena dan Alesha kemudian bergandengan tangan keluar dari ruang tunggu untuk segera menemui mama mereka.
***
Anyelir heran mendapati sikap Elena yang semenjak keluar dari kelasnya tampak tidak seperti biasanya. Elena kebanyakan diam, berbicara apabila Anyelir bertanya, itu pun jawabnya hanya singkat.
"Elena kenapa si Sayang?" tanya Anyelir.
"Kenapa apanya Ma?" tanya Elena balik.
"Dari tadi Mama perhatiin kamu banyak diam enggak seperti biasanya. Jawab pertanyaan Mama juga singkat-singkat."
Elena tersenyum ke arah Anyelir lalu menggeleng. " Enggak apa-apa kok Ma. Oh iya, malam ini Elena boleh tidur di rumah papa?"
Anyelir terdiam, entah kenapa ia merasa tak rela jika berbagi Elena dengan orang lain. Anyelir tau orang lain di sini papa kandung Elena tapi, terasa ada yang kurang kalau Elena membagi perhatian dan kasih sayangnya buat Ken.
"Boleh kan Ma?" tanya Elena sekali lagi.
"Kalau kamu tidur di rumah papa, nanti kamu repot Sayang. Bangun tidur harus ke rumah Mama dulu buat mandi, ganti baju dan sarapan."
"Nanti Elena bawa baju ganti dan seragam juga. Kalau untuk sarapan mungkin papa bisa buatin Elena roti panggang atau Elena bawa roti dari toko saja buat nanti sarapan," ucap Elena.
Anyelir menarik napas dalam-dalam lalu menghembuskannya secara perlahan. Tak lama ia mengangguk meski belum sepenuhnya setuju dengan perkataan Elena.
***
Kini Anyelir berbaring terlentang di ranjangnya. Matanya memandang langit-langit kamar namun pikirannya tertuju pada Elena yang entah sudah tertidur atau mungkin sedang mendengarkan dibacakan buku cerita oleh Ken. Malam ini Anyelir tidur sendiri, walaupun malam-malam sebelumnya pun sama, tapi setidaknya ia akan melakukan aktivitas yang menyenangkan sebelum tidur.
Biasanya Anyelir akan membacakan buku cerita untuk Elena, atau mereka bermain tebak-tebakan, kalau sudah mengantuk, Anyelir akan menyuruh Elena berbaring di tempat tidur lalu Anyelir akan mengusap-usap kepala Elena dengan menyanyikan lagu pengantar tidur.
Anyelir masih merasa belum sepenuhnya rela jika Elena dekat dengan Ken.
Aku tidak boleh egois. Ingat Nye, salah satu tujuan kamu balik ke Jakarta kan supaya Elena bahagia bisa dekat dengan papanya.
Ya, meskipun Elena terlihat baik-baik saja meski hanya tinggal berdua dengannya, tapi Anyelir tau, Elena juga membutuhkan sosok ayah untuknya. Apalagi tadi saat ia dijemput oleh Ken untuk menginap di rumahnya, Anyelir melihat senyuman lebar dan bahagia Elena. Ia juga sangat antusias, sepulang sekolah Elena segera menyiapkan baju ganti dan seragam untuk dibawa menginap.
Baru beberapa jam yang lalu berpisah dengan Elena tapi, seperti sudah lama berpisah, hingga hati ini terasa kosong.
Anyelir mencoba memejamkan matanya, ia berharap pagi segera menyapa, supaya ia bisa bertemu kembali dengan sang buah hati.
***
Selang beberapa detik pintu itu terbuka, terlihat wajah cantik putrinya yang keluar dari balik pintu.
"Mama?"
Anyelir tersenyum lalu memperlihatkan tentengan di kedua tangannya.
"Siapa Sayang?!" teriak Ken dari arah dapur.
"Mama Pa!" jawab Elena. "Ayok masuk Ma," ajaknya.
"Ajak masuk Sayang."
"Sudah Pa. Mama bawa sarapan untuk kita jadi, lebih baik sekarang Papa mandi," ucap Elena.
Anyelir terlihat menghampiri Ken dan Elena di dapur. Anyelir tampak membulatkan kedua matanya saat melihat keadaan dapur yang seperti telah terjadi pertempuran hebat.
"Apa yang terjadi?" tanya Anyelir. Ia melihat lantai dapur yang licin karena minyak goreng yang tumpah dan juga beberapa telor yang pecah menghiasinya. Belum lagi nasib roti tawar yang berwarna hitam karena lupa diangkat dari alat pemanggang.
Ken menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. "Maaf, tadinya mau buatkan Elena sarapan tapi, malah kacau seperti ini."
Anyelir geleng-geleng kepala. Merasa kesal karena mengijinkan anaknya menginap dan hampir saja anaknya harus sarapan dengan roti gosong. Untung saja feeling-nya tepat dan ia juga merasa lega karena tidak mengikuti rasa gengsinya untuk tidak menemui mereka di pagi ini dengan membawakan sarapan.
"Biar saya yang bereskan! Silahkan pergi mandi," ucap Anyelir datar.
"Maaf karena merepotkan dan terima kasih sudah membawakan sarapan. Tunggu aku, kita sarapan bersama," ujar Ken lalu segera pergi ke kamarnya untuk membersihkan diri.
Anyelir memutar bola matanya. "Berasa jadi pembantunya," gumam Anyelir dalam hati. Ia lalu segera membersihkan kekacauan di sekitarnya.
"Elena bantu ya Ma."
"Tidak perlu Sayang. Lebih baik sekarang Elena sarapan dulu. Mama sudah siapkan di meja makan."
"Elena tunggu Papa sama Mama, kita sarapan sama-sama," ujarnya.
"Ya sudah sekarang Elena duduk saja, sambil tunggu Papa mandi, Mama bersihkan ini semua dulu."
Kini mereka tengah menikmati sarapan yang di siapkan oleh Anyelir. Sarapan kali ini Anyelir membuat avocado toast dan oatmeal. Cara membuat avocado toast sangat mudah, hanya perlu menghaluskan alpukat hingga menjadi seperti bubur. Lalu panggang roti hingga kecoklatan dan oleskan bubur alpukat ke permukaan roti. Anyelir menambahkan potongan buah lain seperti pisang dan strawberry agar lebih terasa segar. Sedangkan untuk oatmeal, Anyelir memasaknya dengan susu rendah lemak dan topping buah di atasnya.
Ken sudah selesai dengan sarapannya. Ia merasa sangat kenyang karena menghabiskan dua potong avocado toast dan satu mangkuk oatmeal lengkap dengan topping buah diatasnya.
"Terima kasih Anye, perutku kenyang sekali. Andai setiap hari bisa merasakan seperti ini, pasti dalam satu bulan perutku sudah membuncit," ucap Ken melihat ke arah Anyelir yang terlihat salah tingkah.
"Kalau Papa mau, Mama bisa kok siapin sarapan setiap hari untuk kita. Elena juga mau setiap hari kita seperti ini," ungkap Elena.
Anyelir yang merasa dirinya tengah ditatap oleh dua pasang mata tak bisa menyembunyikan rasa gugupnya.
❤️❤️❤️
Inginnya up dua bab sehari tapi apalah daya otak, jari dan kemauan yang tidak sinkron
Semoga suka ya...😘😘😘
Jangan lupa like, komen, hadiah, dan votenya ya
Thank you