ELENA

ELENA
Fakta dibalik Hilangnya Elena



"Bagaimana rencana kamu Ken? Papi enggak mau kalian enggak ada kejelasan hubungan. Sebagai laki-laki kamu harus cepat bertindak dan menyakinkan kalau kalian layak bersama untuk kebahagiaan kalian juga nantinya," ucap pria paruh baya yang sedang duduk di gazebo dekat kolam renang sambil menghisap cerutunya.


"Benar apa yang papi kamu katakan. Meskipun waktu pesta teman-teman Mami enggak secara langsung menanyakan hubungan Mami dengan Anyelir dan Elena, tapi Mami yakin mereka pasti tahu kalau Elena itu anak kamu. Wajah kalian kan sangat mirip," imbuh Carol.


"Ken juga sudah memikirkannya Mi, Pi. Makanya Ken minta tolong bantuannya. Malam ini, Ken berniat untuk melamar Anyelir."


"Dengan senang hati Mami akan bantu," jawab Carol semangat.


"Bantuan seperti apa yang kamu inginkan?" tanya Danial.


Ken menceritakan rencananya. Konsep seperti apa yang akan ia lakukan untuk melamar ibu dari putrinya itu. Carol dan Danial pun setuju dan berharap berjalan sesuai apa yang mereka inginkan. Tak lupa Ken juga meminta bantuan pada Dafa dan Vio. Jangan ditanya, seheboh apa Vio saat tau rencana Ken akan melamar Anyelir.


***


"Kenapa kita semua kumpul di sini tapi Mama enggak diajak Pa?" tanya Elena bingung.


"Elena ingin lihat Papa dan Mama bisa tinggal satu rumah, bisa tidur satu kamar kan?"


Bocah cilik yang masih mengenakan piyama tidur dengan memeluk boneka kelincinya itu mengangguk.


"Papa sedang menyiapkan agar semua itu bisa terwujud," jawab Ken.


"Papa mau menikah dengan Mama?" Ken langsung terkejut mendengar pertanyaan Elena. Tanpa ditanya, Elena menjelaskan apa yang jadi pertanyaan Ken.


"Kata Aunty Vio, kalau ingin Papa dan Mama tinggal bareng, Papa sama Mama harus menikah dulu.


Sebelumnya, setelah makan malam Ken bicara dengan Elena bahwa ia akan memberikan kejutan untuk mamanya. Sehingga Ken meminta Elena untuk keluar dari kamar sekitar jam tiga pagi. Elena mengangguk dan menuruti rencana papanya, meskipun ia sendiri tidak begitu paham dengan perkataan papanya itu.


Elena terbangun lewat dari jam yang telah ia dan Ken sepakati. Jam tiga lewat tiga puluh menit ia baru terbangun kemudian langsung keluar dari kamar yang langsung disambut oleh Vio dan Dafa yang secara bersamaan bernapas dengan lega.


"Lama banget sih Elena. Aunty sama Om Dafa udah pegel tau sampai mau ketiduran, gara-gara lama nungguin Elena enggak keluar kamar," Kesal Vio.


"Heheeee. Maaf Aunty, Elena sengaja enggak pasang alarm. Jadi telat deh. Kalau pasang alarm nanti Mama yang bangun," jawab Elena.


"Huh! Ya sudah, ayo! Papa, oma sama opa kamu sudah nungguin. Eh, tunggu dulu." Vio mengeluarkan sebuah kertas dari dalam saku jaket yang ia pakai.


"Yang, tempel ini dulu di pintu kamar," perintah Vio pada sang kekasih sambil menyodorkan kertas yang tadi ia ambil.


Dafa menerima kertas itu dengan mata yang sayu. Terlihat jelas sekali kalau ia masih mengantuk. Dafa lalu berjalan ke depan pintu kamar lalu memasang kertas tersebut.


"Ck!" Vio berdecak. "Aduh, Yang. Kamu itu sekretaris yang merangkap asisten lho, tapi kok ya enggak cerdas sih," omel Vio.


"Tadi suruh ditempel di pintu kan?"


"Ya tapi enggak di depan dong. Gimana Anye mau baca kalau nempelnya disitu. Di dalam dong Yang."


Dafa lalu melepas kembali kertas yang sudah ia tempel, lalu mendorong pintu kamar yang kebetulan belum tertutup rapat. Memastikan gerakan serta langkahnya tidak menimbulkan suara yang bisa menyebabkan Anyelir terbangun. Menempel kertas yang ada di tangannya ke pintu. Setelahnya ia keluar dan menutup rapat pintu kamar.


"Sudah Yang?" tanya Vio.


"Beres."


Mereka bertiga kemudian berjalan menuju tempat dimana Ken dan juga kedua orang tuanya telah menunggu.


***


"Elena! Jangan bercanda Nak!" Anyelir mencari di bawah tempat tidur, di dalam lemari, tapi tidak ada hasilnya, Ia pun mulai panik. Lalu mulai menelpon Ken untuk menanyakan apakah Elena bersamanya.


Sudah dua kali Anyelir menelponnya, tapi tidak ada jawaban. Anyelir kalut, Ia menyambar jaketnya untuk dipakai, karena ia berniat untuk mendatangi kamar Ken langsung.


Saat akan membuka pintu, ia melihat kertas yang menempel. Ia melepas kertas itu lalu membaca tulisan yang tertera.


Pergilah menuju meja resepsionis.


Anyelir meremas kertas itu lalu membuangnya asal. Lalu ia mencoba sekali lagi menghubungi Ken. Beberapa detik kemudian Anyelir agak sedikit lega, karena Ken akhirnya menjawab panggilan telponnya.


"Ken, apa Elena bersama denganmu? Dia tidak ada di kamar."


"Sudah baca tulisan yang ada di kertas yang menempel di pintu?"


"Ck." Anyelir berdecak. "Ken aku serius!"


"Tenanglah. Ikuti apa yang aku perintahkan. Elena berada di tempat yang aman. Jangan matikan telponnya."


Dengan berat hati Anyelir mengikuti ucapan Ken. Ia berjalan menuju meja resepsionis. Suasana di hotel tidak terlalu sepi. Masih ada beberapa orang yang terlihat di lobi.


"Dengan Ibu Anyelir?" tanya seorang wanita yang berada di meja resepsionis saat Anyelir menghampirinya.


Anyelir mengangguk. Wanita itu lalu menyerahkan sebuah kotak dan satu buket bunga mawar merah. Anyelir menerimanya lalu ia menempelkan ponselnya ke telinga.


"Ken ...."


"Ya."


"Buka kotaknya lalu pakai apa yang ada di dalamnya."


Anyelir membuka kotak yang diterimanya tadi. Di dalam kotak itu ada sebuah bando mahkota berbentuk daun. Anyelir lalu memakai bando itu di atas kepalanya dengan rambut yang digelung asal.



Ternyata di dalam kotak itu tidak hanya ada bando tapi juga ada sebuah kertas yang bertuliskan berjalanlah ke arah Utara dekat dengan sungai.


Saat akan menanyakan pada Ken untuk apa semua ini harus ia lakukan, ternyata sambungan telponnya sudah terputus. Tidak ingin mengukur waktu, ia pun bergegas menuju tempat yang telah ditunjukan.


Saat ia sampai di dekat sungai, ada sebuah gapura bunga yang terpasang. beberapa lilin yang menyala di sekitar gapura sampai di tempat Anyelir berdiri juga di tengah tenangnya air yang mengalir di sungai di belakang gapura itu. Ah, jangan lupakan lilin yang membentuk hati di bawah gapura itu.


Anyelir masih belum mengerti mengapa Ken menyuruhnya ke tempat yang mungkin akan dijadikan sebagai tempat perayaan atau apalah Anyelir tidak tau. Ia mengedarkan pandangannya ke segala penjuru tapi Ken tidak nampak di sana. Ia berbalik ingin pergi dari sana, berpikir kalau ia salah tempat. Saat mulai berjalan satu langkah, terdengar suara bariton yang ia kenal dari arah belakangnya.


"Bisakah berhenti sebentar? Berbaliklah."


Anyelir berbalik. Ken ada di hadapannya. Berpakaian rapi, dengan memakai setelan jas. Ken meminta Anyelir untuk mendekat. Anyelir pun mendekat setengah berlari.


"Ken, dimana Elena?" ucapnya saat sudah berada di depan Ken dengan jarak yang sangat dekat.


"Ada sama Mami dan Vio. Kamu tidak perlu cemas."


"Tapi dimana? di kamar?" tanya Anyelir sambil melihat ke sekitarnya.


Ken menahan wajah Anyelir dengan satu tangannya supaya fokus menatap dirinya.


"Menua bersamaku mau?" ucapnya sambil menyodorkan cincin yang terbuat dari emas putih dengan bermatakan berlian yang cantik.



Anyelir menutup mulutnya dengan satu tangannya. Ia tidak pernah menyangka akan dilamar oleh ayah dari anaknya. Bahkan dengan memakai piyama tidur?


"Aku tidak bisa menjanjikan kebahagiaan yang selamanya, ataupun menjanjikan untuk tidak membuatmu menangis. Tapi aku berjanji akan terus belajar dan berusaha menjadi laki-laki yang selalu kamu butuhkan, menjadi ayah yang bisa membuat bangga Elena dan adik-adiknya kelak. Mau?"


Anyelir mengangguk sambil menangis lalu memeluk Ken dengan erat. Ken tersenyum lega tanpa sadar ada genangan air di sudut matanya.


"Kamu menangis pasti karna terharu kan aku bisa seromantis ini?" tanya Ken sambil mengusap punggung Anyelir.


"Aku menangis karena kamu jahat," jawab Anyelir sambil mengurai pelukannya.


"Jahat?" tanya Ken bingung.


"Iya kamu jahat. Melamar aku dengan aku memakai piyama seperti ini, sedangkan kamu sendiri berpakaian rapi."


Ken terkekeh. "Kamu tetap cantik pakai apapun Honey. Aku pasangkan cincinnya ya."


Anyelir mengangguk, kemudian menyerahkan tangan kirinya pada Ken agar dipasangkan cincin itu.


Ken menyematkan cincin bermata berlian itu di jari manis Anyelir. Setelahnya ia membawa tangan itu ke mulutnya untuk dikecup.


Pandangan mereka bertemu. Seperti dikomando wajah mereka pun saling mendekat.


Vio yang ada di belakang gazebo pun langsung menutup mata Elena.


"Anak kecil dilarang melihat," bisiknya.


Pertemuan dua bibir itu masih berlangsung. Bahkan seperti berlomba untuk saling memuaskan. Decakan tercipta diantar keduanya. Anyelir sampai menjatuhkan buket bunga yang ia pegang sedari tadi. Kedua tangannya pindah mengalung di leher Ken.


"Belum selesai juga ya?" tanya Carol yang membuat Anyelir reflek melepaskan tautan bibirnya lalu mendorong Ken, hingga Ken terjatuh ke sungai.


❤️❤️❤️


Bagaimana dengan part ini?


Semoga suka ya....


Maafkan updatenya sangat larut 🙏🙏🙏


Jangan lupa tinggalkan jejak kalian berupa like, komen, vote dan hadiah yang banyak ya 🤭🤭🤭😉


Mohon maaf atas segala kekurangan


Sampai jumpa di part selanjutnya


Terima kasih 😍😍😍😘