
"Kasihan sekali dirimu belum juga mengungkapkan perasaan sudah ditolak." Alfred tertawa puas melihat Luciano,
"Sialan."
Setelah pulang dari rumah Paman Sam Alfred menagih janji cerita kepada Luciano. Luciano hanya pasrah dan menceritakan semuanya dari awal sedangkan Alfred hanya fokus menyimak sambil sesekali menggelengkan kepala atau menganggukkan kepalanya.
"Jadi hubungan kalian sudah berakhir begitu saja?"
"Kita saja belum memulai hubungan bagaimana bisa berakhir."
Alfred hanya menganggukkan kepalanya berulang, "Berarti masih ada kesempatan untuk coba memulai,"
"Mana bisa, dia kan sudah mempunyai kekasih."
"Iya juga ya, tapi kan belum tentu menikah. Bisa saja nanti Elena cinta kepadamu." Saran Alfred dengan ide gila nya,
"Kau ini sudah gila?" Luciano bergegas pergi meninggalkan Alfred yang masih berteriak memanggil namanya,
"LUCIANOO... kau bisa mencobanya."
"Orang gila," Luciano sudah tak tahu lagi bagaimana menghadapi Alfred setiap hari dengan tingkah dan ide gilanya. Bisa ikut gila dia lama-lama.
Elena menghembuskan nafasnya berulang dengan kasar, dia lelah bersikap tidak perduli kepada laki-laki yang ia cintai. Dia ingin bertemu dengan Luciano, dia ingin membicarakan hal yang seru. Dia sangat merindukan laki-laki itu. Tapi bagaimana dan sampai kapanpun ia tak akan bisa lagi, karena Harry selalu menyuruh orang untuk mengikutinya. Elena juga tidak mengerti mengapa Harry sampai melakukan itu, padahal sebelumnya dia sangat benci dijodohkan dengan dirinya.
Semakin dipikirkan semakin Elena tidak mengerti, yang jelas dia hanya membutuhkan Luciano saat ini.
"Elena kau di dalam?" panggil ibunya dari luar kamar,
"Iya ibu, ada apa?"
"Boleh ibu masuk?"
Elena segera membukakan pintu untuk ibunya,
"Apa yang anak ibu lakukan? Ibu lihat putri ibu ini setelah pulang kuliah jarang sekali keluar rumah." ucap sang ibu dengan mengelus rambut Elena.
"Tidak melakukan apa-apa ibu hanya menjahit ini." sambil menunjuk hasil baju buatannya.
"Wah bagus sekali nak." ucap ibunya tersenyum,
"Ibu dan Ayah hanya ingin meminta maaf, ibu tahu engkau sudah mengetahui apa yang terjadi antara keluarga kita dan keluarga Harry."
Ya benar saja, setelah Eleanor mendengar percakapan Ayah dan Ibu nya di malam setelah kepulangan mereka dari rumah saudaranya. Eleanor langsung menceritakan masalah itu kepada sang kakak. Elena tidak tahu seberapa banyak hutang ayahnya sampai ayahnya rela mengorbankan pendidikan putrinya.
"Ibu maaf saat ini aku sedang tidak ingin membicarakan hal itu." ucapnya seraya tersenyum kepada ibu nya.
Melihat hal itu ibunya hanya menghela nafas dan meminta maaf sekali lagi kepada Elena sebelum akhirnya beliau meninggalkan kamar Elena.
"Ibu maafkan aku, aku tidak bermaksud menyakitimu. Tapi aku benar-benar tidak ingin membahasnya." Ucap Elena sambil menahan tangisnya.
"Cepat sekali waktunya, aku merasa baru kemarin kita berpamitan ingin pergi ke Brussel dan sekarang sudah dua minggu kita disini." ucapnya kepada Alfred,
Saat ini mereka berdua sedang duduk bersantai diluar rumah dan menikmati suasana malam yang penuh bintang. Dengan segelas teh hangat dan kue buatan Bibi Anne.
"Cukup berat ternyata kehidupan di kota yang jauh dari keluarga dan bertemu orang baru yang sebelumnya tidak kita kenal."
"Benar, aku sangat merindukan omelan ibuku setiap hari." jawab Alfred sambil membayangkan pelukan ibunya yang begitu nyaman.
Mereka bersua lalu menghembuskan nafas dan tersenyum kecut,
"Tapi mau bagaimana lagi, kita bukan berasal dari orang bangsawan yang sudah mendapatkan kekayaan secara langsung."
"Jadi mulai besok kau akan bertemu Elena lagi?" tanya Alfred mengalihkan pembicaraan.
"Pastinya, kita akan sering bertemu. Karena bulan depan kita ada pertunjukan."
"Awas jangan terlalu dekat nanti kau bisa dihabisi oleh kekasihnya."
"Kemarin kau bilang aku masih bisa mendekatinya, kenapa sekarang berubah pikiran?" tanya Luciano curiga.
"Aku sudah berpikir kembali, mungkin kau memang tidak pantas dengan Elena."
"Tapi kalau kau masih mencintainya, ya dekati lagi saja dia."
"Memang bisa?" tanya Luciano
"Kau harus mencobanya. Tapi kau juga harus siap menerima konsekuensinya nanti. Kau bilang Elena dari keluarga bangsawan kan? Berarti secara tidak langsung calon suami pasti dari kalangan yang sama."
Ucapan Alfred membuat Luciano berpikir. Dia ingat waktu pertama Elena bertemu dengannya di malam festival itu Elena terlihat baik-baik saja sebelum calon tunangannya menghampirinya. Dan sejak saat itu setiap dia bertemu dengan Elena, pasti Elena selalu menghindarinya.
"Kurasa ada sesuatu yang terjadi kepada Elena." ucap Luciano serius,
"Apa?"
"Entahlah, aku harus menanyakan langsung kepadanya saat bertemu."
"Bagus itu baru sahabatku, mau berusaha demi sang pujaan hati." ucap Alfred berbangga diri,
"Siapa juga yang mau jadi sahabatmu." Luciano segera bangkit dari duduknya dan melempar Alfred dengan benda yang ada didekatnya, lalu dia pergi masuk kedalam rumah.
"Terimakasih Alfred kau memang sahabat terbaikku, saranmu akan selalu aku ingat." ucap Alfred pada diri sendiri dengan keras agar didengar Luciano.
Hal itu membuat Luciano tertawa mendengarnya.
"Benar aku harus mencari tahu."
...****************...