
Happy reading
Hari demi hari berlalu, kini usia kandungan Bella sudah berjalan 9 Minggu. Selama kehamilannya Bella tak pernah ngidam yang aneh aneh ya masih dalam batas wajar jika untuk makanan.
Tapi sepertinya berbeda untuk malam ini, Bella tampak gelisah. Padahal jam sudah menujukkan pukul 12 malam, Bella bergerak ke kanan dan ke kiri membuat Lucas yang memeluk tubuh Bella itu sedikit terganggu hingga akhirnya terbangun dan menatap istrinya yang sedang gelisah itu. Matanya memang tertutup tapi tidak dengan tubuhnya.
"Ssttt."
Lucas menaikkan selimut yang melorot ke bawah itu, kemudian memeluk tubuh Bella dengan lembut.
"Emhhh."
Lucas bisa melihat raut wajah Bella yang sepertinya tak nyaman. Hingga akhirnya Lucas menyingkap sedikit baju tidur Bella dan menampakkan perut yang mulai berisi itu.
"Sayang, jangan membuat Mommy gelisah ya. Kasihan Mommy, siang harus jaga Kakak kamu di malamnya jangan membuat Mommy tambat capek," bisik Lucas mengelus perut sang istri. Tak lupa kecupan singkat yang membuat Bella mengerjabkan matanya.
"Sayang."
Lucas mendongakkan pandangannya dengan pelan, ia menatap manik biru yang sangat indah itu.
"Kenapa bangun? Kamu butuh sesuatu atau mau sesuatu biar aku carikan?" tanya Lucas. Inilah sifat baru laki laki ini, ia akan lebih siap jika sewaktu-waktu Bella ngidam sesuatu. Lucas tak mau sampai anaknya nanti ileran.
"Pengen buah surga."
Lucas bingung. Buah surga apa buah itu berasal dari surga? Tapi bagaimana bisa?
"Itu buah apa sayang?" tanya Lucas dengan wajah bingungnya.
"Buah Tin, sayang. Anak kita lagi pingin makan buah itu," ujarnya dengan senyum manisnya. Setelah menonton video yang menampilkan buah Tin yang dimakan salah satu youtuber itu.
"Oke baiklah, besok ya sayang. Ini udah malam, pasti anak kita gak mau lihat Daddynya cari buah malam malam."
Yah karena selama kehamilan yang kedua ini Bella jarang ngidam malam hari, kalau gak pagi ya paling sore.
"Emm anak kita maunya sekarang, karena selama ini aku gak pernah makan buah tin Sayang. Mau ya, carikan buah itu untuk aku," pinta Bella dengan melas.
Pupus sudah harapan Lucas untuk tak keluar malam, bukan masalah takut tapi ia terlalu mager untuk jalan saja. Ia hanya ingin memeluk tubuh hangat istrinya itu dengan lembut.
"Sayang."
"Ku mohon, nanti kalau adik Laura ileran yang tanggung kamu ya."
"Huffttt kalau nanti aku diculik Tante girang gimana yank?" tanya Lucas masih mencoba negosiasi.
"Gak akan kok, Tante girangnya udah ada di kamar jam segini."
Ada saja jawaban Bella yang membuat Lucas menghela nafasnya kasar. Malam malam begini dimana ia mendapatkan buah Tin. Ini masalahnya sudah pukul 12 lebih, supermarket kebanyakan juga sudah tutup.
"Ya sudah, kamu tunggu di rumah ya. Aku mau keluar cari buah yang kamu mau itu. Mau ditambah apa lagi biar sekalian?" tanya Lucas mengelus perut Bella yang sedikit terlihat menonjol.
"Siap Daddy."
"Jaga mommy boy, Daddy gak akan lama kok."
Cup
"Kok boy?"
"Kalau perempuan gimana?" tanya Bella yang tak mau suaminya terlalu banyak berharap. Jika nanti anaknya bukan laki laki dan suaminya tak bisa menyayangi anak kedua mereka.
"Ya kalau anak kedua kita perempuan ya gak apa apa sayang. Karena mau itu cewek atau cowok sama aja, mereka tetap anak anak aku. Kalau di beri anak kembar oleh Author juga aku siap siap aja. Karena mereka adalah anugrah terindah buat kita," ujar Lucas dengan lembut.
Ia tak mempermasalahkan apapun nanti jenis kelamin anak keduanya. Karena itu adalah buah cinta mereka.
Bella yang mendengar itu tersenyum dan mengangguk.
"Cepat cari buahnya, aku lagi ngidam loh."
"Ya sudah iya, Daddy pergi dulu hmm."
"Hati hati ya sayang, jangan lama."
Lucas mengangguk, pria itu mengambil kunci mobil dan jaketnya. Pria itu keluar dari kamar itu menuju mobilnya yang ada di garasi.
***
Setelah lama berkeliling mencari buah yang diminta istrinya itu, akhirnya Lucas menemukan buahnya di jual dipinggir jalan. Entah keberuntungan atau bukan, tapi disaat banyak supermarket yang sudah tutup, bahkan yang harusnya buka 24 jam juga tutup hari ini.
Lucas pulang dengan sekeresek buah tin yang ia beli tadi, jam sudah menujukkan pukul 1 lebih 25 malam yang berberapa jam lagi akan masuk pagi.
Mobil Lucas sampai di rumah megah itu, Lucas masuk ke dalam rumah membawa buah tin yang sudah ia beli tadi. Tak lupa ia mencuci dulu buah yang ia bawa tadi, siapa tahu istrinya ingin langsung memakan buah itu.
Ceklek
"Sayang."
Lucas berhenti di depan pintu saat melihat sesuatu yang ada di depannya.
Bersambung
Hai hai, mampir ke novel teman Tya yuk judulnya Surga Di Atas Lara, karya Ika Oktafia
SURGA DI ATAS LARA
(Ika Oktafiana)
Pernikahan Zoya dan Zada yang sudah berjalan tiga tahun ini tampak rukun dan bahagia.
Namun siapa sangka, Zada yang tipekal suami setia tiba-tiba membawa pulang wanita lain ke rumah Zoya dan Zada.
Bagai tertusuk seribu sembilu, Zoya begitu kecewa dengan Zada yang diam-diam sudah menikah lagi tanpa persetujuan darinya. Zoya meminta talak, namun Zada menolaknya.
"Aku tidak akan pernah menjatuhkan talak untukmu. aku masih mencintaimu, Zoya." Begitulah alasan yang selalu terucap dari bibir suaminya.
"Tidak masalah aku di madu asalkan, aku tidak tinggal satu atap dengan maduku," lirih Zoya penuh luka dan nyeri di hatinya.
Biarlah Zoya menerima semuanya. Karena tanpa Zada ketahui, Zoya sedang mengandung anak yang selama ini di nanti-nantikan. Biarlah Zoya menerima surganya, walau surga itu telah menorehkan luka dan lara yang mendalam.
Mampukah Zoya tetap bertahan ketika melihat suaminya bersanding dengan wanita lain?