Daddy Lucas

Daddy Lucas
Kangen



Happy reading


"Aden!"


Sontak saja mereka menatap ke arah sumber suara. Ternyata itu adalah suster Gavin yang sedang panik mencari anak majikannya.


"Duh Gusti ternyata Aden ada disini. Matur suwun ya Gusti," ucap Suster itu dengan senyum cerahnya. Suster dengan logat Jawa itu membuatnya sangat natural.


"Aden kenapa pergi begitu saja? Nanti kalau Aden Gavin hilang, suster dan Aden juga yang akan dimarahi Tuan dan Nyonya di rumah," tanya Suster dengan khawatir.


"Nyonya nyonya terima kasih ya sudah menjaga Aden saya," ujar Suster itu dengan sopan.


"Iya sama sama lagipula Gavin anak yang sangat baik dan penurut," jawab Bella dengan senyum.


"Mbak Asih kan?" tanya Nia yang mengenal Asih. Gadis muda berusia 24 tahun itu.


"Siapa ya?" tanya Asih menatap Nia. Dia memang masih 1 tahun bekerja di kota ini, dan tak hapal orang orang baru disekitarnya.


"Aku Nia teman kamu dari kampung," ujar Nia dengan senyum. Akhirnya ia bisa bertemu lagi dengan temannya dari kampung selain Asep sang pujaan hati.


"Kamu Nia? Pacarnya kang Asep?" tanya Asih menatap Nia yang sudah jauh berbeda daripada dulu.


Memang dulu Nia dan Asep merantau ke kota berdua, dan dia masih sekolah di bangku SMA, setelah berberapa saat menganggur akhirnya Asih mengikuti jejak kedua temannya ke kota untuk merantau. Hanya modal nekat saat itu ia lakukan, tanpa sanak saudara. Bahkan Asih sudah tak memiliki kontak teman temannya yang ada di kota.


"Iya aku pacarnya Asep, gak nyangka kita bakal ketemu disini," jawab Nia memeluk teman kampungnya dengan erat.


"Iya gak nyangka, kamu kerja sama Nyonya ini?" tanya Asih menatap Bella dengan senyum.


"Aku sudah lama bekerja sama Nyonya Bella, dan juga Tuan Lucas."


Mereka berbincang layaknya saudara yang sudah lama tidak bertemu, tak melihat Bella dan anak anak disana.


"Kangen kangennya sudah dulu, anak anak ini mau main lagi. Jangan sampai kalian Lalay sama tugas tugas kalian," ujar Bella mengelus lembut rambut kedua anak anaknya.


Mereka hanya tersenyum dan mengangguk, merasa malu dengan Bella yang menegur mereka hingga lupa waktu.


"Kalian main dulu ya sama suster, Mommy mau ke kamar mandi dulu," ucap Bella pada Gavin dan Laura yang mengangguk patuh.


Kedua bocah itu juga sudah akrab terbukti dari mereka yang sudah mau saling bicara dan bergandengan tangan.


"Saya titip anak anak ya," ucap Bella.


"Iya Nyonya."


Setelah itu Bella berjalan menuju kamar mandi umum yang ada disana, walaupun ia termasuk golongan orang kaya di Indonesia ini tapi tak membuat ia jijik untuk memasuki kamar mandi umum itu.


Setelah ia menyelesaikan urusan alamnya, Bella keluar dengan lega di perutnya.


Tanpa Bella sadari jika ada seseorang yang melihatnya dengan raut yang tak bisa di baca. Bagaimana orang mati bisa hidup kembali? Bukankah Laura sudah meninggal kenapa ada wanita yang mirip dengan Laura disana.


"Itu Laura atau bukan? Atau mataku ini buram tak bisa melihat mana yang asli dan mana yang palsu," gumamnya menatap Bella yang mulai menjauh.


"Apa gue ikutin aja ya."


Nessa yang baru pulang dari apotik itu langsung mengikuti Bella. Meninggalkan mobilnya disana, tanpa di kunci dan parahnya kunci mobil itu masih ada di dalam mobil.


Drrttt drrtt


"Siapa lagi sih nih?" tanya Nessa saat merasa ponselnya berdering.


"Kelvin."


Nessa langsung mengangkat panggilan telepon dari patner ranjangnya. Sudah berberapa bulan ini ia berhubungan dengan Kelvin dan sebagian kemewahan yang ada pada Nessa berasal dari Kelvin.


"Halo."


"Kamu dimana Baby?"


"Aku masih di luar, beli vitamin buat kita," jawab Nessa melupakan Bella yang sudah pergi entah kemana.


"Aku sudah ada di rumah kamu, cepatlah pulang. Aku butuh vitamin," ucapnya dari seberang.


"Oke oke aku akan segera pulang."


Akhirnya Nessa berlalu menuju mobilnya, melupakan Bella yang sudah pergi. Tapi saat ia sampai di tempat ia memarkirkan mobilnya tadi, mobil berwarna putih itu sudah tak ada di sana.


"Astaga, kenapa aku bisa seceroboh ini sih. Maling itu juga kenapa gak bilang bilang sih kalau mau ambil mobil. Tahu gitu aku gak ikutin wanita yang hampir sama dengan Laura," gerutunya.


"Arghhh sial sial sial. Maling sialan!"


Inilah namanya karma ia real.


Akhirnya mau tak mau Nessa menghentikan taksi untuk pulang ke rumah.


***


Drrttt drrtt


Bella yang merasa ponselnya berbunyi itu langsung mengambilnya di dalam tas kecil itu. Ternyata yang telepon adalah Daddy Laura yang berarti adalah suaminya.


"Halo?"


"Ganti video call ya. Kangen nih sama kamu," ujarnya yang membuat Bella terkekeh geli saat mendengar hal itu.


"Oke ganti video call ya."


Bella menghidupkan data internet miliknya dan benar saja tak lama setelahnya Lucas melakukan panggilan Video.


"Sayang."


"Iya yank, ada apa?"


"Kamu udah berapa lama di taman, kok tempatnya masih sama. Udah panas loh yank," omel Lucas yang membuat Bella mengganti kamera belakang.


"Tuh lihat, masih adem tahu gak. Gak kayak di rumah hawanya panas terus."


"Disana ada banyak pria gak yank?"


"Kenapa emang?"


"Aku gak mau mereka sampai terpesona sama kecantikan kamu ini, aku cuma mau kamu memperlihatkan kecantikan kamu buat aku."


"Gak sekalian aku pakai cadar?" tanya Bella yang sedikit kesal dengan tingkah posesif Lucas.


"Ide bagus, lain kali kamu harus pakai cadar," jawab Lucas dengan canda.


"Anak kita mana yank" tanya Lucas yang tak melihat putrinya.


"Ada di taman bermain sama teman barunya, kalau aku ini lagi jalan ke sana soalnya aku baru saja keluar dari kamar mandi," ujar Bella dengan senyum manisnya. Memperlihatkan kamar mandi umum yang tadi ia gunakan.


"Kamar mandi umum?"


"Heem, yang ada cuma itu yank. Aku gak mau cuma buang air aja harus pual g ke rumah," jawab Bella dengan senyum manisnya.


"Aku gak larang kamu yank. Tapi perhatikan kebersihannya ya," ujar Lucas dan dianggukkan oleh Bella.


"Oke."


Bella terus berjalan hingga sampailah ia di tempat dimana Laura dan Gavin bermain.


"Yang laki laki itu siapa yank?"


"Anak aku," jawab Bella dengan senyum manisnya.


"Anak kamu? Sama siapa? Anak kita kan gak kembar masa kamu punya anak lain dari laki laki lain? Tapi kapan kan dulu kita selalu bersama?"


"Hahahaha enggak kok yank, itu tadi bocah laki laki yang datang ke aku sambil nangis. Nanti deh aku ceritakan," jawab Bella duduk di kursi tapi tatapannya tetap pada anak anak dan kadang pada suaminya yang terlihat sangat sibuk itu.


"Oke."


Akhirnya setelah lama berbincang bincang, panggilan video itu terputus.


Bersambung