Daddy Lucas

Daddy Lucas
Cerita Tentang Nessa



Happy reading


Bella yang menyadari jika ucapannya salah itu langsung meminta maaf pada Lucas. Tak ada niatan untuk membuat suaminya ini merasa sedih.


"Hei kenapa kamu menangis? Aku gak ada maksud kayak gitu loh sayang," ujar Bella mengelus rambut suaminya. Lucas menangis terbukti dari basahnya pundak Bella.


"Jangan ngomong gitu lagi," ucap Lucas dengan sendu, tatapannya sedih dengan mata yang sudah mengeluarkan air mata.


"Heem."


Tangan Bella menghapus air mata Lucas dengan lembut, kemudian mengecup pelan mata itu dengan lembut.


"Udah sih, aku gak akan kemana mana."


"Heem."


Lucas masih saja memeluk tubuh Bella dengan lembut, kemudian setelah berberapa menit berlalu Lucas sudah tak lagi sedih.


"Gimana tadi? Kamu masih berhubungan sama dia? Kamu masih mau menjadikan Nessa ibu sambung putriku?"


"Putri kita sayang."


"Iya."


"Aku sudah tak ada hubungan sama dia, bahkan aku berani mengirimkan video CCTV di kantor tadi sama kamu," jawab Lucas dengan sungguh sungguh.


"Iya aku percaya," jawabnya dengan senyum manisnya.


Entah siapa yang mulai Lucas dan Bella mulai saling mencium dan melu*at bibir masing masing dengan lembutnya.


"Eughh," leguh Bella saat tangan Lucas mulai tak bisa dikondisikan.


Untung saja pintu ruangan itu sudah dikunci, tangan nakal Lucas sudah mulai membuka resleting dress Bella yang ada di belakang dan meloloskannya dari tangan Bella.


"Kamu sengaja pakai yang merah hmm?" tanya Lucas mengekus bra Bella yang berwarna merah menyala.


"Gak tuh, aku gak tahu akan jadi seperti ini."


"Ingat ya aku belum selesai, aku gak mau kamu kelepasan," ujar Bella membuka sendiri pengait bra miliknya.


"Ugghh sayang kamu sangat sempurna, bahkan dari dulu."


"Buat kamu semuanya, sebelum ada anak anak kita nanti," jawab Bella memberikan apa yang dimau Bella.


Lucas tak langsung mengambil apa yang sudah ia mau, Lucas terlebih dahulu menggendong tubuh Bella menuju sofa panjang itu dan mendudukkan tubuh Bella di pangkuannya.


Dan saat ini Lucas mulai melakukan aktivitas kesukaannya yang sangat membuatnya candu. Bahkan 24 jam untuk selalu begini saja ia masih sanggup.


"Pelan pelan ya sayang, sambil aku mau cerita sedikit tentang Nessa."


Lucas yang mendengar nama yang ia benci itu mulai menghentikan aktivitasjya tapi tak mencabut apa yang sudah ada di mulutnya kemudian menatap Bella dengan tanya.


"Nessa dulu adalah kakak tingkat aku saat SMA. Cewek yang selalu membully anak anak yang tak mampu dan selama itu kami selalu menjadi rival. Nessa adalah wanita yang sangat kurang akan kasih sayang, sedangkan aku? Aku tak serapuh dia yang tak bisa merasakan kasih sayang irang tua dari kecil. Sedangkan aku masih bisa."


Lucas tetap mendengar cerita dari istrinya dengan menyu*u.


"Hingga saat dimana dia tahu aku sudah menikah dengan kamu dan sedang hamil. Dia selalu masuk kedalam hidup kita, walau kamu tidak tahu tapi aku selalu mengamati semua itu."


Lucas yang mendengar jika Nessa sudah lama kenal dengan mereka itu terkejut, pasalnya Nessa sempat bilang jika saat itu mereka baru pertama bertemu dan usia Laura masih 6 bulan.


"Sstt aku akan teruskan."


"Tiba tiba saja Nessa bersikap baik padaku karena dia berkata ingin pergi jauh."


"Aku yang bodoh hanya bisa memaafkan dan mengucapkan salam perpisahan."


"Kamu pasti tahu Wati yang aku ajak ke rumah saat itu kan? Itu adalah pelayan kesayangan Nessa yang sudah tak bekerja disana."


"Aku berinisiatif untuk membawanya dan menjadikan dia pelayan di rumah kita tapi aku juga baru tahu jika ada niat jahat diantara mereka berdua."


"Nessa menyuruh Wati untuk memberiku racun agar perlahan janin yang aku kandung dan aku meninggal. Tapi Tuhan masih baik pada anak kita, Putri kita masih bisa selamat walau aku harus koma 3 tahun. Aku tak masalah tapi aku juga sangat menyesal akan apa yang sudah aku lakukan di masa lalu. Andai saja aku tidak ceroboh mungkin kita tak akan berpisah."


Plup


"Tapi kenapa kamu bisa tahu?"


"Saat itu aku tak sengaja meminum jus jeruk yang sudah di beri racun, walau sedikit tapi tetap saja bersifat fatal."


"Satu kali saja?"


"Heem. Hanya satu kali aku meminum racun itu, setelah ya aku tak pernah makan makanan yang dibuat orang rumah, karena aku tahu semua bersekongkol untuk hal itu."


Lucas yang mendengar itu merasa bodoh, kenapa ia sampai tak tahu akan apa yang sudah terjadi pada istrinya.


"Maaf sayang."


"Gak apa apa sayang, ini salah satu ujian kita untuk bisa bersama kembali. Sekaligus menguji cinta kita yang sudah lama ada," jawab Bella.


"Intinya Nessa adalah dalang sebabnya aku koma seperti itu, dan Laura yang tak bisa merasakan kasih sayangku."


"Aku tahu kamu sudah membunuh dan memenjarakan banyak orang untuk aku kan? Kamu membunuh Wati kan? Tapi kenapa kamu tak membunuh Nessa? Padahal dia adalah dalang dari semua yang kita alami."


"Nessa hanya iri pada kita dan dia juga ingin memilikimu seutuhnya. Itu adalah janjinya dan Nessa akan melakukan apapun agar keinginannya tercapai."


"Aku akan membunuhnya sekarang."


Lucas yang sudah tersulut emosi itu langsung mengangkat tubuh Bella dan ingin pergi tapi Bella mencegahnya.


"Kamu mau meninggalkan aku disini?"


"Kamu menyuruh aku untuk disini dengan keadaan telanj*ang? Dasar suami tak peka," ujarnya dengan kesal.


"Pergi sana, aku tak butuh suami tidak peka," ujar Bella dengan kesal memakai kembali bra miliknya yang sudah dihempaskan Lucas tadi.


Lucas yang baru sadar istrinya merajuk itu mulai membujuk istrinya agar tak lagi marah.


"Kamu tuh ya, kebiasaan aku gak mau kamu tersulut emosi seperti ini. Kamu tahu aku kan? Siapapun yang bermain main denganku dan keluargaku akan berakhir di tangan mafia yang diturunkan pada kak Leo. Mati itu terlalu baik untuk Nessa, aku akan terlebih dahulu menyiksanya seperti dia yang sudah menyiksa aku selama berbulan bulan karena racun sialan itu."


Lucas yang mendengar sisi lain dari istrinya itu hanya bisa tersenyum dan mengangguk. Ia tak marah memiliki istri yang memiliki dua sisi baik dan jahat seperti ini. Karena pada dasarnya ia juga sama seperti Bella.


Bahkan Lucas tak tanggung tanggung membuat lawannya memilih mati daripada hidup.


"Aku mendukungmu sayang," jawab Lucas memakaikan bra Bella yang belum terpasang kemudian membuat tanda di leher putih Bella hingga membuat tanda itu sangat terlihat.


"Terima kasih sayang. Jangan buat tanda sembarangan, nanti saja di rumah."


"Oke."


Lucas memakaikan dress yang tadi sempat ia loloskan dari tubuh Bella dengan pelan, bagaikan tubuh Bella ini benda berharga yang akan lecet jika terlalu keras.


Bersambung