
Happy reading
Bella, Nia dan Laura berjalan beriringan menuju taman kota yang disana juga di bangun taman bermain untuk anak anak.
Tujuan Bella mengajak putrinya ke sini adalah supaya Laura bisa banyak berinteraksi dengan anak anak seusianya disini. Bella tak mau putrinya menjadi anak yang introvert karena terlalu sering di rumah.
"Mommy kita mau ke mana sih, dali tadi gak nyampe nyampe?" rengek Laura yang berada di gendongan Bella itu. Gadis itu tak mau jalan sendiri ataupun di taruh di troli.
Laura sekarang sangat manja dengan Bella, tapi Bella selalu menerima kemanjaan Laura dengan senang hati. Laura adalah buah hatinya, mana mungkin ia memarahi Laura hanya karena kemanjaan Laura saja.
Bella memang sengaja tak membawa mobil, karena jarak dari mansion Lucas dengan taman bermain itu tidak terlalu jauh. Maka dari itu demi mengurangi polusi kendaraan di era metropolitan ini, mereka memutuskan untuk berjalan kaki.
"Kita mau ke taman sayang. Nanti kamu bisa bermain sepuasnya disana. Kamu mau kan bisa bermain dengan teman teman sebaya kamu? Nanti Laura punya banyak teman disana," ujar Bella dengan senyum manisnya.
"Mau Mom."
Akhirnya mereka bertiga sampai di taman bermain itu, disana cukup banyak orang karena cuacanya juga masih sedikit mendung.
"Wah kenapa Laula balu tahu jika ada tempat ini ya Mom."
"Karena anak Mommy yang cantik ini jarang keluar rumah. Paling mentoknya juga di taman rumah," jawabnya seraya menurunkan Laura di sana.
"Nia tolong kamu beli susu dan air mineral disana ya," ucap Bella memberikan uang pada Nia.
"Siap, Nya."
Bella menatap Laura yang masih tanpa kagum dengan semua yang ada disini.
"Mommy, Laula mau itu boleh?" tanya Laura menatap ayunan yang digunakan untuk anak seusianya.
"Oh ayunan itu hmm? Boleh, tapi Mommy yang ayunkan ya," jawab Bella dengan senyum.
Dengan senang Laura berlari ke arah ayunan yang kosong, kemudian berusaha meraih tali ayunan itu.
"Anak mommy gak sampai hmm, sini nak biar mommy yang angkat Laura," ucapnya mulai mengangkat tubuh Laura dengan pelan.
Bella mendudukkan bokong Laura di ayunan itu.
"Laura sayang kamu pegang tali disisi kanan dan kiri ini ya. Nanti kalau pas Mommy dorong kamu gak jatuh," ucap Bella yang sudah berada di belakang Laura.
"Iya Mommy."
Laura adalah gadis yang sangat menurut pada Mommy ini. Daripada sang Daddy, Laura akan lebih manja dan menurut pada Bella. Entah sudah dari kapan tapi itulah yang terjadi.
"Siap sayang?" tanya Bella pada putrinya.
"Siap mommy."
Dengan pelan Bella mendorong ayunan itu yang membuat Laura yang awalnya takut kini menjadi bahagia.
Tanpa mereka tahu Nia diam diam memeotret kebersamaan ibu dan anak. Setelahnya ia mengirim foto itu pada Lucas.
Ting
Lucas yang mendapat kiriman foto dari Nia itutu menyinggungkan senyumnya. Saat melihat senyum cantik dari dua wanita yang paling ia cintai dan ia sayangi itu.
Lucas memperbesar foto itu tepat di tempat pada Bella yang sedang mengayunkan ayunan itu pada Laura.
"Jadi gak sabar buat pulang, tapi aku baru saja sampai di kantor masa iya harus pulang lagi?"
"Argghh tapi aku kangen sama mereka," kesal Lucas dengan pekerjaannya yang ia kira tak habis habis ini.
Sepertinya Lucas sudah gila karena istri cantiknya yang sedang tersenyum bersama orang lain yang tak lain adalah anaknya sendiri.
"Oke tunggulah sampai kertas ini selesai aku urus," gumamnya menatap tumpukan kertas kertas yang ada di depannya.
***
Setelah mengirimkan foto itu pada Tuannya. Nia berjalan menuju anak dan ibu yang sangat asik bercanda dengan ayunan pelan dari Bella.
"Nyonya, Nona kecil minumannya sudah datang," ucap Nia yang sudah duduk di kursi dekat mereka.
"Laura masih mau main lagi atau minum dulu?" tanya Bella pada putrinya.
"Minum," jawab Laura menatap Mommynya yang sudah berjalan ke depannya.
Bella mengangkat Laura dengan pelan lalu berjalan menuju kursi yang ada disana.
"Susu buat Laura mana Ni?" tanya Bella pada Nia.
Nia langsung mengambil susu dan air mineral serta roti yang tadi ia beli.
Dari kejauhan seorang anak kecil menatap Bella dan Laura dengan sedih. Andaikan keluarganya seperti mereka pasti akan bahagia.
Laura yang juga melihat laki laki itu, langsung menatap Mommynya yang sibuk membukakan minuman untuk dirinya.
"Mommy kakak itu kenapa ya?" tanya Laura pada Bella yang langsung menatap arah tunjukan Laura.
"Gak tahu sayang, kamu mau samperin? Sekalian kami bisa kenalan sama dia. Sepertinya dia sendiri disini," tanya Bella pada Laura yang mengangguk.
Bella dan Laura berjalan menuju laki laki yang tadi menatap mereka itu.
"Kamu kenapa?" tanya Laura dengan sedikit takut. Laura memang sangat jarang berinteraksi dengan dunia luar.
"Iya sayang kamu siapa? Nama kamu siapa?" tanya Bella menyentuh pundak anak sebaya putrinya itu.
"Gavin," jawab laki laki itu dengan suara pelan.
Laki laki itu takut jika orang orang ini akan menculiknya, apalagi suster sedang membeli makanan untuknya.
"Gavin sama siapa disini nak? Kenapa sendiri saja? Mama sama Papa kamu dimana?" tanya Bella mengajak Gavin untuk bergabung bersama mereka.
"Sini duduk sama Mommy, kamu kesini sama siapa?"
"Sama sustel," jawabnya jujur plus polos terlihat sekali dari mata anak itu.
"Terus susternya mana?" tanya Bella pada Gavin.
"Beli sesuatu," jawabnya.
Saat sesi tanya jawab itu, Laura meminta susunya. Bella memberikannya kemudian mengambil satu lagi susu itu untuk Gavin.
"Laura bolehkan berbagi sama Gavin?" tanya Bella pada Laura yang mengangguk dan tersenyum.
"Ini minumlah, kamu pasti haus."
Gavin menerima susu kotak itu dan meminumnya.
"Kenalin aku Laula, salam kenal Gapin," ucap Laura dengan riangnya menyodorkan tangan kecilnya.
"Salam kenal," jawab Gavin membalas uluran tangan Laura.
"Nama Mommy Bella, kamu bisa panggil Bella sama seperti Laura."
"Mommy?"
Ada rasa aneh dalam diri Gavin saat memanggil Bella dengan sebutan Mommy. Karena sedari dulu ia sama sekali tak bisa merasakan kasih sayang orang tua, walau mereka satu atap. Yang ia tahu adalah orang tuanya sibuk, itupun dari susternya.
"Iya sayang, kamu tunggu suster disini aja ya," ucap Bella dengan lembut mengelus rambut kedua anak anak itu.
"Makasih, apa Gavin boleh peluk Mommy?" tanya Gavin dengan takut. Ia takut akan dimarahi seperti orang tuanya yang selalu memarahinya.
"Mommy, Laula juga mau peluk Mommy."
Bella yang mendengar itu hanya tersenyum dan mulai merentangkan tangannya lalu memeluk keduanya.
Gavin dan Laura mulai memeluk Bella dengan erat, tanpa sadar air mata Gavin menetes. Pelukan hangat dari Bella membuat dirinya yang pertama di perlakukan seperti ini langsung menangis hingga membuat baju Bella basah.
"Gavin kenapa nangis?" tanya Laura dengan polos.
Bella juga merasa jika anak laki laki ini sedang tidak baik baik saja. Ia tak tega melihat punggung anak kecil ini sampai bergetar seperti ini.
"Mommy hiks, bolehkan Gavin memanggil Mommy dan juga memeluk Mommy terus hiks?" tanya Gavin dengan tangisnya tapi tak menutupi wajah tampannya. Kecil kecil aura ketampanannya sudah terlihat ya bund.
"Iya sayang boleh, kamu boleh peluk dan panggil Mommy. Sama seperti Laura," jawabnya yang cukup membuat senyum terbit dari bibir Gavin.
"Terima kasih."
Bersambung