Daddy Lucas

Daddy Lucas
Tahanan



Happy reading


Akhirnya di malam itu mereka melakukan hubungan badan setelah tiga tahun lebih mereka tak melakukannya karena suatu insiden itu.


Ahh


Keduanya sampai pada pelepasan mereka, Lucas akhirnya bisa menyalurkan has*at yang selama ini ia pendam. Bersama istrinya kembali ia bisa merasakan nikmatnya kembali bercinta seperti dulu.


"Wangi, sempit dan sangat enak. Terima kasih sudah mau menjaganya lagi," ujar Lucas mengecup seluruh wajah istrinya dengan lembut tak lupa bibir yang sedikit membengkak karena ulahnya itu.


"Jangan di perjelas aku malu," ujar Bella membuang mukanya. Saat merasa batang sang suami itu mulai bereaksi kembali seperti tadi. Terasa besar dan penuh di miliknya.


"Aku hanya mengatakan yang sejujurnya sayang," jawab Lucas dengan lembut membalik posisi mereka hingga Bella berada di atas.


Bella yang merasa milik suaminya semakin dalam menusuk itu mulai menggerakkan pinggulnya dengan lembut. Hal itu cukup membuat Lucas merem melek dibuatnya.


Setelah berberapa menit, Lucas mengalami pelepasan keduanya sedangkan Bella sudah tak terhitung berapa kali datang pelepasan itu.


Nafas mereka terengah dan juga peluh yang membasahi tubuh mereka membuat keduanya saling melempar senyum. Inti mereka masih menyatu dengan eratnya, Lucas tak akan membiarkan calon kecebong miliknya terbuang sia sia begitu saja.


"Penuh dan sesak, sayang luber," ujar Bella merasa ada yang keluar dari miliknya dengan pelan.


Lucas juga merasakan hal itu, bahkan ia sangat senang ternyata miliknya keluar dengan cukup banyak.


"Aku cinta kamu," ujar Lucas memeluk tubuh Bella yang ada di atasnya. Hingga membuat keduanya semakin dalam.


"Udah jangan peluk gitu, lihat makin dalam gini."


"Hangat sayang, aku suka," jawab Lucas dengan jujur. Miliknya seperti dijepit oleh dinding sang istri.


"Tapi aku gak nyaman."


Mendengar hal itu membuat Lucas tersadar dan melepaskan pelukan erat itu kemudian perlahan melepaskan penyatuan mereka yang membuat Bella meringis saat benda besar itu di cabut dari miliknya.


"Capek hmm?"


"Iya," jawabnya dengan mata terpejam. Entah kenapa intinya merasa sesakit ini, padahal ini bukan pertama kali mereka melakukan hubungan badan.


"Ya sudah kita tidur ya. Maaf jika aku meminta lebih tadi, maklum lah sudah 3 tahun nganggur."


Bella membuka matanya kemudian tersenyum, malu ia mengakui tapi memang Lucas masih sangat hot dan gagah saat di ranjang.


"Untung gak karatan ya sayang," ujarnya dengan senyum manisnya.


"Heem, masih tajam ini."


Keduanya tertawa dengan obrolan random ini, kemudian mereka saling berpelukan sebelum akhirnya mereka berdua terlelap.


***


Sedangkan disisi lain, anak buah Kenzie sudah membawa Nessa ke ruang eksekusi mafia mereka.


Tok! Tok! Tok!


"Ahh shitt siapa sih yang ganggu," geram Kenzie karena saat ini dia masih menunggangi kudanya yang sedang hamil itu.


"Udah tenang kamu lihat dulu siapa tahu penting."


Dengan sangat terpaksa Kenzie melepas penyatuan itu kemudian memakai celananya dan berjalan menuju pintu.


"Kenapa?" tanya Kenzie dengan dingin.


Orang yang merasakan itu hanya diam dengan tubuh yang berkeringat, entah kenapa aura yang dikeluarkan kaki tangan Bos Besarnya itu sangat mencekam. Bahkan untuk bernafas saja sudah sangat sulit.


"Tahanan sudah ada di ruang eksekusi Tuan."


"Hm, jaga dia jangan sampai kabur."


"Baik Tuan."


, menutup pintu kamar itu dengan kesal, tapi seketika kesal itu hilang saat Tamara memeluknya dengan tubuh polosnya.


"Kenapa?"


"Cewek sialan itu sudah ada di ruang bawah tanah."


"Terus kenapa kamu kesal seperti ini?" tanya Tamara mengelus dada bidang Kenzie yang masih polos karena tadi memang tak memakai baju.


"Cuma mau bilang itu, kita sampai gak jadi melakukannya."


"Bukan tidak jadi tapi belum selesai," jawab Tamara dilembut. Tangan tangan lincah itu mulai melepaskan celana yang menutupi senjata pamungkas sang suami itu.


Dan akhirnya mereka kembali ke ranjang dan melanjutkan aktivitas mereka yang sempat tertunda tadi.


Keduanya saling menyalurkan has*at dalam diri mereka masing-masing. Tamara dan Kenzie yang dasarnya pro dalam urusan ranjang itu tak ada yang mau mengalah hingga mereka sampai ke puncak nirwana masing-masing.


"Kita kapan ke bawah?" tanya Tamara pada Kenzie yang ada di atasnya.


"Kenapa memangnya?" tanya balik Kenzie yang kembali mengulum buah dada Tamara yang semakin montok.


"Anak kita juga pingin lihat Papanya nyiksa orang," jawab Tamara menggoyangkan bawahnya hingga membuat Kenzie menggeram kesal karena pusakanya sudah kembali terbangun.


"Baby atau Mamanya?" tanya Kenzie masih menikmati dada sang istri.


"Dua duanya."


"Tapi aku gak mau sampai anak kita ngikuti jejak hitam kita," jawab Kenzie dengan lembut menghujam lembut pula milik Tamara.


"Aku juga gak mau anak kita ikut sesat seperti kita. Tapi saat ini aku benar benar ingin melihat wanita tak tahu diri itu," ucap Tamara mengalungkan tangannya di leher Kenzie.


"Oke demi anak kita, tapi kita selesaikan ini dulu. Aku ingin menyelesaikan aktivitas ini."


Tamara mengangguk dengan senyum, ia sangat menikmati hujaman dari Kenzie yang membuat ia mabuk kepayang.


Ahh


Ouhh


Kenzie ambruk di atas tubuh Tamara seraya mengecup kening Tamara tak lupa ia mengucapkam terima kasih pada Tamara.


"Udah sampai berapa persen persiapan pernikahan kita?" tanya Tamara yang ingin segera di halalkan.


"80% sayang, mungkin lusa kita akan menikah."


Tamara yang mendengar itu merasa senang, inilah yang selalu ia tunggu dari dulu dan hal itu diketahui oleh Kenzie. Bukan ia tak mau menikahi wanita yang paling ia cintai ini, tapi kewajibannya untuk menjaga Bella membuat Kenzie belum bisa menikahi Tamara dengan pasti. Tapi yang perlu diingat jika Kenzie sangat mencintai kekasihnya ini.


"Love you."


"Love you more."


Tak mau membuat ronde ke 4, akhirnya Kenzie melepas penyatuan itu. Kenzie lupa jika ia tak boleh terlalu sering mengeluarkan cairnya di dalam rahim sang istri.


Mereka berdua berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan diri mereka yang penuh akan kerungat dan yang lain.


Keduanya saling berendam di bathtub besar berwarna putih tulang itu. Dengan tangan Kenzie yang tak bisa untuk tak menjelajahi tubuh Tamara yang sangat menggoda imannya itu. Apalagi bagian tubuh tertentu yang makin terisi dan sangat seksi di mata Kenzie.


"Aku gak sabar perut kamu ini makin besar dan besar, hingga kamu gak bisa ngapa ngapain tanpa aku," ujar Kenzie yang membuat Tamara menggeleng. Tak bisa ia bayangkan jika nanti ia akan selalu bergantung dengan Kenzie.


"Kalau aku gak bisa ngapa ngapain kamu bakal bosan dan merasa aku ini istri yang tidak berguna," ujar Tamara menumpuk tangannya ke atas tangan sang kekasih yang sedang mengelus perutnya itu.


"Aku gak akan pernah bosan dengan apa yang ada pada kamu. Aku mencintai kamu sayang, dan aku juga sudah meminta kamu pada orang tua kamu," ujar Kenzie mengecup pundak polos Tamara dengan lembut meninggalkan gelenyar aneh dalam diri Tamara.


"Aku harap kamu selalu begitu, jangan tinggalkan aku hmm."


"Pasti."


Bersambung