
Happy reading
Sedangkan disisi lain, Leo dan Caramel kini sedang berada di rumah sakit. Berberapa hari ini Caramel mengeluh sakit kepala dan mual.
Leo dan Caramel tak bodoh akan hal ini, ia tahu tanda apa ini.
"Selamat Dokter dan Tuan, Nyonya hamil. Perkiraan usia kandungan Dokter Caramel sekitar 4 atau 5 minggu. Lihat masih sangat kecil, jadi tolong dijaga kandungannya ya Dokter, Tuan."
"Terima kasih dok," ujar Caramel yang sangat bahagia mendengar jika ia hamil.
"Sana sama dok."
Dokter itu membersihkan gel yang ada di perut Caramel kemudian menyuruh suster membawa foto hasil USG tadi dan memberikannya pada mereka.
***
"Apa kamu senang dengan kabar bahagia ini, Mas?" tanya Caramel mengelus perutnya yang masih datar.
"Sangat sayang, aku mohon segeralah mengurus pengajuan pengunduran diri kamu di tempat kerja. Aku masih sanggup untuk membiayai kehidupan kalian," ujar Leo menatap lembut istrinya.
"Aku masih mengusahakan Mas. Habis ini kita jemput Arka ya, aku ingin membuat syukuran kecil kecillan untuk kehamilanku yang ke dua ini," ajak Caramel dan dianggukkan oleh Leo.
Tangan kekar itu mengelus perut sang istri dengan lembut, tak lupa juga sedikit ucapan yang membuat Caramel tersenyum. Walau dulu Leo adalah pria yang sangat dingin dan sangat susah untuk disentuh, siapa sangka jika pria yang dulu sangat ia hindari malah menjadi suaminya dan ia sangat bahagia atas apa yang terjadi pada dirinya saat ini begitupun dengan sang suami.
Mobil berwarna putih itu melaju, membelah jalanan ibu kota dengan cepat. Leo sudah lebih dari 8 tahun menetap di Indonesia, karena Caramel adalah warga asli Indonesia.
Dan sampailah mereka di sekolah Arka, Caramel dan Leo tak sabar untuk memberitahu tentang kehamilannya ini.
Caramel dan Leo keluar dari mobil dan masuk ke dalam sekolah mewah itu. Sengaja Caramel memasukkan Arka di sekolah terbaik agar ia mendapatkan pelajaran yang baik.
"Mas bukannya itu Arka?" tanya Caramel menujuk seorang anak laki laki yang duduk sendiri di lantai dengan pakaian yang tak layak.
"Kamu tidak salah lihat sayang, itu emang Arka," jawab Leo.
Darah Leo mendidih saat melihat kondisi putranya yang sangat ia sayangi walaupun jarang mendapat kasih sayang darinya. Bisa jelas terlihat jika putranya itu baru saja di bully, terlihat dari lengan putranya yang sudar robek. Tapi kenapa putranya itu tidak menangis.
Caramel berlari kearah Arka begitupun dengan Leo, Arka yang melihat kedua orang tuanya itu terkejut tapi juga membuat ia bahagia karena ini kali pertama orang tuanya datang ke sekolah tanpa diminta.
"Mama, Papa," cicitnya yang seketika takut dengan apa yang terjadi. Ia takut Papa nya marah karena bajunya sobek.
Grep
"Arka sayang kamu kenapa sampai seperti ini? Siapa yang melakukan ini pada kamu sayang?" tanya Caramel memeluk putranya. Ia sedih melihat keadaan putranya yang sangat menyedihkan.
"Bilang sama Papa siapa yang melakukan ini sama kamu?" tanya Leo menatap putranya yang masih takut dalam pelukan Caramel.
"Jawab sayang jangan takut," ujar Caramel menghapus air matanya yang sempat turun.
"Teman Arka Ma, Pa."
"Apa kamu sering mendapat perlakuan seperti ini sayang? Kenapa kamu tak bilang sama Mama dan Papa?" tanya Caramel pada putranya yang langsung menangis.
Leo yang tak tahan putranya diginikan langsung pergi ke ruang kepala sekolah. Ia menitipkan putranya untuk dibimbing bukan untuk di bully. Jelas saja Leo tak terima akan apa yang terjadi pada putranya.
"Mas!!!"
"Ma, Arka takut Papa berbuat yang tidak tidak. Ini bukan masalah besar kok Ma," ujar Arka takut jika Papanya marah marah dan berbuat yang tidak tidak.
Caramel yang mendengar hanya bisa menggeleng, seraya menghapus air mata Putranya.
"Papa hanya ingin bertanya pada kepala sekolah kok sayang," jawabnya seraya memeluk tubuh Arka yang masih menangis.
Tadi sebelum mereka datang, Arka hanya termenung tanpa tangis tapi saat itu pria kecil itu tak lagi bisa menyembunyikan rasa sedihnya. Tak peduli sekarang ia dan ibunya menjadi tontonan satu sekolah.
"Ayo sayang, mommy khawatir sama Papa."
Akhirnya Caramel dan Arka berjalan cepat menuju ruang kepala sekolah, Caramel berharap suaminya melakukan hal yang benar. Karena tatapan Leo saat ini berbeda, tatapan membunuh itu dominan karena marah.
"Ya Tuhan tolong hambamu ini," batin Caramel yang sudah berada di ruang kepala sekolah.
"Ayo Ma, kita masuk."
Dengan pelan Caramel membuka pintu ruangan itu dan terlihat banyak guru dan juga suaminya yang ada disana.
"Arka sini nak. Ada yang ingin kami tanyakan," ucap Kepala sekolah pada Arka.
Arka menatap Mamanya dan dianggukkan oleh Caramel, membuat Arka berjalan kearah kepala sekolah itu.
"Apa benar jika Arka selama ini dibully di sekolah nak?" tanya Kepala sekolah itu dengan lembut.
"Jawab jujur sayang, Mama gak pernah ngajarin Arka bohong loh."
"Iya Nak Arka, jawablah dengan jujur."
Arka menatap Papanya yang masih berwajah datar tapi juga menahan kepalan tangannya hingga membuat urat urat tangannya terlihat.
"Iya pak, saya selalu dibully di perpus kosong sekolah kita. Mereka selalu bilang jika Arka ini pembawa sial dan tak diharapkan Mama dan Papa. Karena Mama dan Papa tak pernah datang menjemput bahkan mengantarkan sekolah."
"Arka tahu jika Mama dan Papa sibuk untuk Arka, mereka mencari uang untuk Arka tapi kenapa teman teman tak tahu. Bahkan mereka mengatakan jika Arka anak haram yang tak memiliki orang tua."
Caramel yang mendengar jawaban dari sang putra itu langsung memeluknya erat, sakit itulah yang dirasakan Caramel. Sebagai seorang ibu dan juga anak dulunya ia selalu dipaksa kuat oleh keadaan tapi ia juga janji tak akan membiarkan air mata keluar dari mata Putranya. Tapi sekarang apa, bahkan dia sendiri yang membuat air mata itu jatuh.
"Maafkan Mama dan Papa sayang, bukan Mama dan Papa tak mau mengantar dan menjemput Arka, bukan."
Caramel menangis di dalam pelukan sang putri, Leo yang masih menahan air matanya itu langsung berucap tegas kepada kepala sekolah.
"Saya berharap pembully anak saya bisa mendapat hukuman yang tepat. Tak peduli mereka anak siapa tapi saya mau dan saya tekankan keadilan di sekolah ini bisa terlaksana," ucap Leo dengan penuh ketegasan.
"Baik Tuan. Kami akan memberikan hukuman yang tepat untuk mereka."
"Dan satu lagi, aku akan memindahkan sekolah putraku ke SD lain."
Kepala sekolah yang mendengar itu hanya bisa menghela nafas ya, ia harus kehilangan siswa cerdas mereka karena pembully an. Sangat disayangkan karena Arka tergolong siswa yang cerdas bahkan rencananya para guru akan mengirim Arka untuk olimpiade bulan depan.
Bersambung
Sangat disayangkan.