
Happy reading
Setelah mereka menyelesaikan mandi pl*s pl*s, karena tak mungkin jika Kenzie akan diam saat melihat tubuh Tamara yang polos bak bayi ingin mandi.
"Kamu di kamar aja ya, aku gak akan lama kok," ujar Kenzie seraya mengeringkan rambut basah Tamara.
"Gak mau, aku mau ikut dan lihat kamu nyiksa tuh cewek."
"Aku gak akan nyiksa dia sayang, tapi sedikit memberikan pelajaran sebelum Bella yang turun tangan sendiri," ucap Kenzie dengan lembut.
"Pokoknya ikut!!"
Kenzie yang mendengar itu hanya menggeleng, kekasihnya ini memang sangat keras kepala. Tapi entah kenapa ia malah suka dengan semua ini, apalagi jika keras kepalanya ke arah sana.
Setelah selesai mengeringkan rambut dan berganti pakaian, Kenzie menggendong tubuh Tamara menuju ruang bawah tanah yang dijadikan ruangan ekseskusi untuk para tahanan yang masuk ke mafia mereka.
Para Mafioso yang melihat kaki tangan sekaligus ketua mereka itu hanya bisa menundukkan kepalanya hormat walau itu tak dibutuhkan oleh Kenzie dan Tamara.
Bagi Bella, Tamara, dan Kenzie kesetiaan mereka pada Mafia Drak Rose peninggalan Daddy Bella yang sudah meninggal karena pembunuhan dari musuh mereka.
Para Mafioso tahu ketua mereka semua tak gila akan hormat, dan memperlakukan mereka dengan baik. Walau pekerjaan mereka ini tergolong haram tapi disini semua bisa merasakan kebersamaan dan keluarga yang sebenarnya.
"Honey, kamu makin berat saja makan apa sih?" tanya Kenzie menempelkan hidung mancungnya di hidung Tamara yang sama mancungnya entah bagaimana nanti anak mereka.
Para Mafioso yang melihat kemesraan mereka itu hanya bisa menggeleng dan maklum karena kedua atasannya itu sangatlah mesra dimanapun dan kapanpun.
"Makan nasi sama kamu juga, emm dan ketambahan lagi benih benih kamu yang kamu tanam. Belum lagi hari ini kamu tambah asupan gizi aku berberapa kali," jawab Tamara sedikit kesal tapi malah membuat Kenzie gemas dengan jawaban Tamara.
"Nanti aku tambah lagi," jawabnya dengan senyum manisnya yang membuat Tamara tambah kesal.
"Terserah kamu aja, asal jangan menyakiti anak kita," ujar Tamara menyembunyikan wajahnya di dada Kenzie.
Dan sampailah mereka diruang bawah tanah, ruangan yang juga terdapat banyak kamar dengan nuansan alami dan juga cantik. Di bawah tanah mansion itu juga ada kamar Bella dan kamar orang tua mereka.
Dan yang di datangi Kenzie dan Tamara adalah ruang bawah tanah yang sangat dalam dengan ruangan yang sangat menyeramkan karena ruangan itu di cat hitam dengan lampu yang minim apalagi ada miniatur dan patung patung, tengkorak dan lainnya membuat siapa pun orang baru yang ada disana takut. Tapi mereka sudah terbiasa akan hal ini.
"Dia di dalam Tuan," ucap salah satu penjaga membuka pintu besi itu dengan hormat.
Kenzie mengangguk dan mulai memasuki ruangan itu kemudian mendudukkan tubuh Tamara di sofa empuk itu.
"Kamu disini aja hmm, aku mau urus wanita yang sudah berani mengganggu rumah tangga Bella bahkan ingin membunuh Bella."
"Kiss dulu."
Kenzie mengecup singkat bibir sang kekasih dan hal itu disaksikan semua orang yang ada disana termasuk Nessa yang sudah bangun dari pingsannya karena tadi sudah sedikit disiksa oleh Mafioso disana.
"Hai."
"Hai, siapa kamu? Entah siapapun kamu tolong bantu aku untuk keluar dari sini. Aku akan membayar berapun yang kamu mau tapi tolong lepaskan aku," pinta Nessa dengan nada melasnya.
Tamara yang duduk disana itu sedikit geram karena nada Nessa seperti orang yang sedang menggoda Kenzie.
"Oh ya dengan apa kaku membayar? Tubuh kamu yang jelek ini? Hah bahkan tubuh kekasihku lebih indah daripada tubuhmu ini. Pasti banyak yang sudah mencobanya kan?" tanya Kenzie dengan nada mengejek.
Kenzie menatap kekasihnya dengan lembut yang malah di balas tatapan tajam dari Tamara.
"A-aku masih perawan Tuan, kalau Anda mau aku bisa memberikan keperawanan saya. Tapi tolong lepaskan sayang," jawab Nessa dengan tak tahu malunya dan tentunya berbohong.
Tamara yang sudah geram dengan Nessa yang mencoba menggoda kekasihnya itu langsung bangun dari duduknya kemudian berlalu menuju tempat dimana Nessa dan Kenzie berada.
"Oh Honey, aku hanya mengajukan pertanyaan pada dia tadi," jawab Kenzie mengecup pipi Tamara yang langsung diusap oleh Tamara.
"Sekarang pada intinya, aku tidak suka dengan tubuhmu. Lihatlah kekasihku yang sangat cantik dan juga memiliki tubuh indah, sedangkan kamu. Bahkan seujung kuku pun tak ada apa apanya," ujar Kenzie merengkuh tubuh Tamara.
Nessa yang mendapat sindiran keras itu tak terima dan bertanya siapa kedua orang yang ada di depannya ini. Ia tak suka di rendahkan seperti ini, terakhir kali Lucas yang merendahkannya kini malah orang asing ini.
"Sebenarnya siapa kalian?" tanya Nessa yang tak tahan dengan semua ini.
"Cuma seorang kakak yang ingin membela adiknya dari wanita terkutuk seperti kamu."
"Siapa?"
"Apa kamu kenal dengan Laura Isabella?" tanya Kenzie yang membuat Nessa mati kutu dibuatnya.
"Laura?" batin Nessa dengan wajah pucatnya.
"Kenal."
"Hmm orang yang berusaha kau bunuh itu adalah adikku, adik angkatku. Jangan kamu pikir kita tidak tahu apa yang terjadi padanya, Nona Nessa."
"Owhh jadi kalian adalah kakak wanita sialan itu? Asal kalian tahu, adik kalian itu sangat memuakkan buatku. Dia merebut apa yang seharusnya menjadi milikku, mulai dari status hingga lelaki yang aku cintai. Aku muak dengan semua yang ia milikku."
PLAK
"Jaga bicaramu itu, dasar jalan* sialan. Kamu yang tak tahu malu, kamu yang terlalu tamak dengan apa yang kamu punya dan selalu iri dengan milik orang lain. Adikku hampir meregang nyawa karena racun sialanmu itu, dan kini kamu juga harus merasakan hal yang lebih perih daripada racun," ucap Tamara dengan nada tinggi miliknya yang membuat Mafioso disana menutup telinganya.
"Bahkan kamu akan lebih memilih mati daripada hidup," tambah Kenzie dengan dingin.
Aura keduanya kini beradu membuat suasana dingin lebih dominan disana. Hal itu juga dirasakan oleh Nessa yang ada di depan mereka.
Kenzie meminta bawahannya untuk membawakan apa yang ia minta dan tak berapa lama ada empat laki laki asing datang bersamaan dengan bawahan Kenzie tadi.
"Silahkan Tuan."
Mafioso itu memberikan apa yang diinginkan Kenzie, kemudian Kenzie menerimanya.
Tamara yang melihat itu langsung merebut benda yang ada ditangan kekasihnya.
"Biar aku yang memberikannya," ujar Tamara menatap tajam kekasihnya.
"Iya Honey."
Tamara berjalan mendekat yang membuat Nessa takut, ingin lari tapi ia tak bisa karena kaki dan tangannya trikat dengan kuat.
"Ini belum seberapa daripada apa yang lu lakukan sama Bella."
Tamara membuka bungkus benda itu lalu mencengkram pipi Nessa yang membuat wanita itu mau tak mau membuka mulutnya. Tak tanggung tanggung Tamara memberikan semua obat itu ke mulut Nessa. Dan memberikan air putih pada Nessa agar obat itu tertelan semua.
Kenzie yang melihat kesadisan kekasihnya itu hanya bisa menggeleng, bukan apa apa. Kenzie hanya takut anaknya kenapa napa hanya karena apa yang dilakukan ibunya.
"Sadis sekali," begitulah batin mereka.
"Kerjakan tugas kalian tapi awas jangan sampai wanita ini kabur," titah Kenzie menarik tangan Tamara agar keluar dari ruangan itu.
Bersambung