
Happy reading
Di sinilah mereka sekarang, Tamara dan Bella Juda sudah ada disana. Lucas menatap Bella dengan sendunya, rasanya ia ingin menangis saat ini.
"Bella," panggil Kenzie pada Bella.
"Kenapa? Kenapa kalian jadi serius gini? Kamu juga kenapa sedih gini?" tanya Bella menatap mereka yang ada disana.
"Ada satu rahasia yang belum kamu ketahui selama ini," ucap Kenzie menatap mata Bella dengan lembut.
"Apa? Oh aku tahu pasti kamu mau bilang kalau udah hamilin Tamara kan. Iya gue udah tahu, tadi Tamara yang bilang," balas Bella dengan santainya.
Tamara yang mendengar itu hanya menggeleng ia menatap Kenzie dan mengangguk.
"Bel, sebenarnya lu itu bukan Bella," ucap Tamara memegang tangan Bella.
"Bukan Bella gimana? Aku Bella, Ra. Kalian kenapa sih?"
Jujur Bella bingung saat ini begitupun dengan Kenzie. Ia bingung untuk menjelaskan ini pada Bella.
Lucas tak bisa lagi menahan air matanya, ia sudah lama menyimpan rasa penasaran yang ada pada diri Bella. Dan hari ini terjawab sudah semua yang menjadi perasaan.
"Kamu bukan Bella tapi Laura. Kamu istri saya, Mommy kandung dari Laura," ucap Lucas yang angkat bicara.
Bella yang mendengar itu tertawa, tidak mungkin kan orang yang sudah meninggal itu hidup lagi. Atau mungkin transformasi? Hahaha membayangkan hal itu membuat Bella ingin tertawa.
Mereka yang melihat Bella tertawa itu bingung, tidak ada yang lucu yang membuat mereka tertawa.
"Kenapa? Gak mungkin aku ini Laura. Jelas kelas aku Bella. Kalian itu ada ada aja," ujar Bella menatap mereka.
"Bell, gue mau cerita boleh?" tanya Tamara pada Bella yang masih tak percaya akan apa yang ia dengar.
"Cerita aja, gue gak percaya kalau gue ini Laura."
Akhirnya Bella duduk dengan tenang mendengarkan apa yang akan di ceritakan oleh Tamara dan Kenzie.
Flashback on
Setelah Laura melahirkan saat itu, tanpa diketahui Lucas dan Laura saat itu Kenzie dan Tamara juga ikut senang karena adik sekaligus orang yang mereka jaga bisa melahirkan dengan normal.
Tapi setelah mendengar apa yang dibicarakan dokter saat itu. Kenzie dan Tamara tak terima dengan semua ini.
Malam hari saat Lucas sedang keluar, Kenzie dan Tamara datang ke kamar Laura.
"Laura," panggil Kenzie dengan pelan.
Laura yang sedang menahan rasa sakit sekujur badannya itu mulai membuka matanya pelan.
"Kalian kapan datang? Gimana kalau Lucas melihat kalian dengan pakaian seperti ini, pasti dia mikir yang tidak tidak," tanya Laura dengan lemas.
Kenzie dan Tamara sedang memakai pakaian serba hitam, seperti saat mereka menjalankan tugas.
"Suami lu sudah aman kok sama putri kalian," jawab Tamara mengelus rambut sahabatnya dengan lembut.
"Selamat ya adik gue. Udah resmi jadi Mommy," ucap Kenzie dengan lembut. Ia menatap Laura dengan lembut.
"Makasih Ken, Mar. Makasih buat semuanya, aku cuma mau bilang titip anak dan suami aku ya. Aku tak bisa lebih lama menahan racun yang ada di dalam tubuh ini, aku terlalu lemah untuk melawannya."
Kenzie dan Tamara yang mendengar itu hanya bisa menggeleng. Ia tak rela ditinggal oleh adik mereka ini
"Gue yakin lu akan sembuh sayang. Aku dan Mara akan mengusahakan hal yang terbaik buat kaku. Kamu tak mau kan meninggalkan suami dan putri cantik kamu?" tanya Kenzie seraya mengusap air matanya dengan cepat.
Kenzie sudah berjanji pada orang tua Laura untuk terus melindungi Laura apapun yang terjadi.
"Kami ada penawar racun yang ada di tubuh kamu, Ra. Setidaknya kamu bisa bertahan walau memerlukan waktu. Mengingat kondisi kamu yang sudah cukup parah," ujar Tamara mengeluarkan obat yang ia bawa.
Laura yang melihat betapa khawatirnya para sahabat sekaligus orang yang sudah ia anggap kakak itu hanya bisa mengulas senyum manisnya.
"Tapi aku tak bisa meninggalkan suami dan putriku. Aku tak mau memberi harapan untuk mereka. Kalau aku bisa sembuh itu adalah hal yang sangat menggembirakan tapi jika semua gagal aku hanya akan membuat mereka sedih," jawab Laura menatap tangannya yang mulai keriput.
"Aku memiliki rencana agar mereka semua bisa tenang."
"Bagaimana?" tanya Laura.
Tamara langsung menceritakan apa yang sudah ia rencanakan. Walau sedikit menyakiti Lucas diawal tapi ini adalah cara terbaik untuk mereka.
"Bagaimana? Aku bahkan sudah menyiapkan orang yang sama persis dengan kamu."
"Tapi aku tak bisa melihat suamiku begitu sedih, aku tak mau dia sedih dengan adanya kabar ini."
"Percayalah Laura, ini hanya sementara. Saat kamu sembuh nanti kamu bisa kembali lagi dengan keluarga kamu. Percayalah Laura," jawab Tamara dengan lembut. Kenzie pun menganggukkan kepalanya.
Akhirnya dengan berat hati Laura mengiyakan ide dari sahabatnya. Walau ini berat tapi ia berharap masih bisa bertahan.
Di malam itu mereka merencanakan semua yang akan mereka lakukan besok hingga seterusnya. Walau Laura tak tega membayangkan sang suami yang nanti akan sedihnya.
"Semoga kamu mau menunggu aku, walau nanti harus merasakan sakit terlebih dahulu," batin Laura mengusap air matanya.
Keesokan harinya, Lucas dibuat menangis dengan keadaan istrinya yang semakin memburuk. Apalagi saat ini wajah pucat istrinya sangat nampak terlihat.
Dan hari itu Laura dinyatakan meninggal oleh dokter yang Kenzie sewa. Walau sebenarnya saat ini Laura sedang dibawa Kenzie dan Tamara berobat ke luar negeri. Sedangkan yang dimakamkan itu adalah orang yang mirip dengan Laura.
Kondisi Laura sangat memburuk walau sudah diberi obat penawar racun oleh Kenzie dan Tamara.
Dalam proses penyembuhan tiba tiba Laura kritis hingga menyebabkannya koma. Kenzie dan Tamara tentu saja sedih tapi ia tak tahu bagaimana lagi saat itum
Setelah tiga tahun berlalu akhirnya Laura bangun dari komanya, wanita itu sudah tak mengingat apapun hingga membuat Kenzie dan Tamara memberikan nama Bella yang diambil dari nama tengah Laura Isabella.
Flashback Off
Bella yang mendengar cerita dari Tamara dan Kenzie itu hanya diam. Ia mulai memikirkan berberapa bulan yang lalu dimana ia bangun dan tak mengingat siapapun bahkan dirinya sendiri.
"Aku tak percaya semua ini."
"Percaya tidak percaya kamu tetaplah istri saya. Kamu adalah Laura, istriku," ujar Lucas dengan tegasnya.
Jujur ia marah akan apa yang diambil orang orang dihadapannya ini. Tapi ia juga tak bisa menyalahkan mereka.
"Aku gak percaya, enggak. Kalian pasti cuma ngarang kan?" tanya Bella dengan mata yang sudah berkaca kaca.
"Kita gak bercanda Bella, kamu juga sudah menyetujui semua rencana kita dulu. Demi kesembuhan kamu!!"
Kepala Bella berusaha mengingat semua yang telah terjadi hingga membuat kepalanya sangat pusing apalagi sakit yang sangat menusuk kepalanya saat ini.
"Arrhgg sakit!" teriak Bella sebelum akhirnya ia tumbang di dekapan Tamara.
Lucas yang melihat itu langsung bangkit dan menggendong tubuh Bella menuju kamarnya dan menyuruh Kenzie memanggil dokter.
Bersambung
Tungguin terus yak. Maaf suka telat up nya. Sekolah udah mulai aktif lagi apalagi sekarang jamnya sampai sore.
Sekali lagi maaf.