
Happy reading
Mereka bertiga keluar dari ruangan kepala sekolah, dengan sedih. Tapi tidak dengan Leo yang berusaha tegar di depan putranya.
"Arka sudah makan sayang?" tanya Caramel dan dijawab gelengan oleh Arka.
"Kenapa nak? Bukannya Bibi sudah memberikan kamu bekal dan Papa sudah memberi kamu uang saku."
Tampak sekali Arka sedang menyembunyikan sesuatu hingga membuat kedua orang tuanya tahu ada yang disembunyikan oleh putra pertama mereka ini.
"Jawab jujur Arka!"
Suara tegas sang Papa membuat Arka menatap Mama, tapi Caramel malah mengelus rambut sang putra.
"Jawab jujur hmm, Mama dan Papa tidak akan marah sama Arka," ujarnya dengan senyum manisnya.
"Bekal sama uang yang Papa kasih, di ambil semua sama Dito," jawab Arka dengan jujur.
"Dari kapan kamu di bully?" tanya Leo pada Putranya. Sebagai seorang ayah ia tak akan pernah rela jika putranya di bully seperti ini.
"Sudah lama, tapi Arka gak apa-apa. Lagipula aku sudah terbiasa. Mama sama Papa gak usah khawatir sama Arka," jawab Arka dengan senyum paksa, tapi hal itu membuat Leo dan Caramel sedih.
"Kenapa Arka gak bilang sama Mama dan Papa?" tanya Caramel dengan sedih.
"Arka gak mau buat kalian khawatir."
"Dengar ya sayang, kamu anak Mama dan Papa. Harusnya kamu cerita masalah kamu sama kami, kami orang tua kamu. Sesibuk apapun kami, kamu adalah prioritas utama kami sayang."
"Maaf Ma, Pa."
"Kamu gak boleh lagi pendam masalah kamu sendiri ya. Ada Mama dan Papa, walaupun kami sibuk."
"Iya Ma."
Leo yang melihat istrinya sedih itu hanya bisa mengelus punggung sang istri kemudian ia mengajak anak dan istrinya untuk makan di kantin sekolah SD itu.
Sampainya di kantin, mereka mengambil kursi yang ada di sana.
"Setelah ini, Arka gak harus sekolah lagi disini."
Mendengar hal itu tentu saja membuat Arka terkejut, pasalnya ia masih kelas 3 SD. Walau ia sangat ingin pindah tapi ia tak mau membuat orang tuanya makin khawatir.
"Arka baik baik aja kok disini. Gak perlu pindah Ma, Pa," jawabnya dengan senyum manisnya menutupi kesedihannya selama ini.
Caramel dan Leo menggeleng, karena keputusan untuk memindahkan Arka dari sekolah ini sudah tepat untuk mereka. Leo dan Caramel tak mau membuat Arka makin terbully agi di sekolah ini.
Akhirnya Arka hanya bisa mengangguk pasrah. Kemudian mereka memesan makan untuk putra mereka, mereka sadar jika selama ini mereka jarang ada untuk Arka.
Setelah makan dan sedikit berbuncang, teman baik Arka mengambilkan tas Arka yang ada di kelas.
"Selamat tinggal semuanya," batin Arka.
Sedikit Arka tak rela pergi dari sekolah ini, karena ada seorang gadis yang membuat dirinya semangat untuk bersekolah disini. Dia adalah teman Arka yang sangat baik dengan dia.
Ketiganya masuk ke dalam mobil, Caramel dan Arka di belakang sedangkan Leo berada di depan.
"Sayang," panggil Caramel pada putranya.
"Ya Ma."
"Maafin Mama dan Papa ya jika selama ini kamu jarang ada waktu untuk kamu. Maaf kami terlalu sibuk dengan pekerjaan kami yang membuat kamu jadi kekurangan perhatian," ujar Caramel mengelus rambut anaknya yang lebat itu. Persis seperti Papanya.
Arka menikmati elusan tangan dari Mama seraya meneteskan air matanya. Mendengar ucapan Mamanya yang ternyata juga paham jika ia sangat kesepian saat ini.
"Maaf ya sayang, kita seperti orang tua yang lupa akan anaknya. Tapi percayalah jika kamu sangat menyayangi kamu. Bahkan tanpa kamu tahu, Papa dan Mama selalu datang ke kamar kamu hanya untuk memastikan kamu tidur dengan nyenyak atau tidak. Mama yang menyelimuti kamu saat selimut kamu jatuh, Papa yang angkat kamu saat kamu tertidur di meja belajar."
"Maafkan kami ya nak, maafkan Mama."
Arka menatap Mamanya dengan mata berkaca-kaca, air mata yang sedikit jatuh tadi kini sudah mengalir.
"Arka sayang Mama dan Papa. Maafin Arka juga belum bisa jadi anak yang membanggakan buat Mama dan Papa."
Arka memeluk tubuh Mamanya dengan erat begitupun dengan Caramel yang membalas pelukan sang putra.
Leo yang melihat hal itu masih diam, dan menatap kedua orang yang ia sayangi itu dari kaca depan. Caramel yang tahu sifat suaminya itu hanya bisa tersenyum, Leo akan mengungkapan apa yang ada di pikirannya di rumah.
Leo menghentikan mobilnya di supermarket, untuk membeli sesuatu yang dibutuhkan di rumah. Dan tak lupa juga susu hamil untuk Caramel yang saat ini sedang mengandung.
"Arka mau es krim?" tanya Caramel yang dijawab gelengan oleh Arka. Pria kecil itu tak suka yang manis, walaupun anak seusianya lebih suka makanan manis tapi beda dengan Arka.
"Kalau begitu Arka mau apa? Kita masuk dan ambil snack buat Arka mau?"
"Arka tunggu disini saja Ma."
Caramel yang mendengar itu langsung menatap suaminya.
"Arka gak apa apa Mama tinggal?"
"Gak apa apa kan masih ada Papa."
"Arka kayak gak tahu Papa aja sih Nak?"
Arka yang mendengar itu hanya tersenyum degan tipis, Arka memang tahu sifat bapaknya itu. Tapi percayalah Leo adalah ayah yang sangat Arka sayangi.
"Sayang cepat belanja dan jangan sampai kamu kelelahan."
"Iya Mas. Jaga anak kita, awas aja kalau enggak."
Bukan Leo takau menemani istrinya belanja, tapi karena Leo tak bisa meninggalkan anaknya sendiri di mobil. Karena jika dia yang belanja pasti tak akan kebeli apa yang mau dibeli.
Caramel keluar dari mobil hingga menyisakan dua orang yaitu Ayah dan Anak di mobil itu.
Mereka diam tapi percayalah detak jantung Arka jauh lebih cepat daripada tadi.
"Arka."
"Iya Pa."
"Maaf untuk semuanya nak. Papa tahu papa banyak waktu dengan pekerjaan Papa daripada kamu. Papa harap kamu mau memaafkan Papa."
Arka yang mendengar hal itu langsung menatap Papanya yang mengucapkan kata maaf itu.
"Papa sama Mama itu gak salah kok, Arka tahu kalian juga kerja buat aku juga. Kenapa pada minta maaf sih?" tanya Arka seperti orang yang kesal tapi percayalah Arka sangat bahagia sekarang.
"Papa juga berharap kamu mulai bisa terbuka kepada Mama dan Papa. Papa gak mau kamu sampai di bully lagi, Mama kamu sedih melihatnya. Papa juga gak mau kamu selalu di bully. Jadilah anak yang kuat hmm, jangan mau di bully kalau kamu gak salah. Kamu laki laki nak, kamu calon Papa masa depan. Kamu yang nanti akan menjaga dan menyayangi anak dan istri kamu kelak."
Arka mengangguk dan mulai bangkit lalu memeluk ayahnya yang ada di depan.
"Arka sayang Papa dan Mama."
"Kami juga sayang sama Arka."
Seusai mereka berpelukan Caramel datang dengan dua kresek penuh bahan makan dan juga jajan serta susu hamil.
"Ayo pulang, Mama udah beli udang dan ayam. Khusus hari ini Mama yang akan masak buat dua laki laki paling Mama sayang ini."
"Serius Ma?"
"Heem."
"Tumben kenapa tiba tiba Mama mah masak?"
"Emm."
Caramel menatap Leo yang hanya menganggukkan kepalanya.
"Karena Mama punya hadiah kecil buat kamu."
"Apa?"
"Arka kepingin banget punya Adik kan?" tanya Caramel dan dianggukkan oleh Arka.
"Saat ini adik Arka sudah ada di dalam perut Mama. Arka akan jadi seorang kakak," ucap Caramel mengelus perutnya.
Arka yang mendengar itu tak bisa berkata kata. Ia senang karena harapannya terwujud. Ia akan menjadi seorang kakak.
"Arka akan jadi kakak."
"Iya sayang kamu suka?"
"Hmm. Terima kasih Ma sudah mengabulkan keinginan Arka."
Caramel memeluk putranya dengan lembut, tangan kecil Arka mengelus perut Caramel dengan lembut.
Bersambung